Share

Bab 3

Penulis: Soni
Besok paginya.

Tabib melaporkan kondisi luka Gofar kepadaku.

"Tuan Gofar punya fisik yang kuat. Kemarin para penjahat itu melumuri pedang mereka dengan obat bius, makanya Tuan sampai kehilangan tenaga."

"Sekarang sudah tidak ada masalah besar. Setelah beristirahat beberapa hari lagi, beliau bakal bugar kembali."

Aku mengangguk pelan.

Memberikan imbalan.

Namun, saat tabib itu hendak pamit pergi.

Dia menyadari raut wajahku dan mengingatkan agar aku lebih menjaga kesehatan.

Nelly masih menyuarakan kekesalannya demi membelaku.

"Orang lain saja bisa melihat betapa pucatnya wajah Nyonya, tapi Tuan dari kemarin sampai sekarang tidak menanyakan sepatah kata pun."

"Menurutku, pasti siluman rubah yang baru datang itu yang sudah memikat Tuan."

"Dulu beliau selalu ...."

"Nelly, jaga bicaramu."

Aku baru berucap.

Terdengar sebuah suara yang jernih dan renyah.

"Amel memberi salam kepada Kakak. Sudah beberapa hari masuk ke rumah ini, tapi aku belum pernah memberi salam, mohon Kakak menghukumku."

Aku menunduk menatap orang yang sedang membungkuk di pekarangan.

Di kehidupan lalu, aku hanya melihatnya sekilas secara terburu-buru.

Yang kuingat hanyalah wajahnya yang polos tanpa riasan.

Saat kulihat lagi sekarang, pipinya tampak merona dan matanya berbinar indah.

Ternyata jauh lebih hidup dibanding kehidupan sebelumnya.

Aku mengangguk tenang, memintanya berdiri dan membebaskannya dari tata krama.

Aku juga menyuruh Nelly mengambil sepasang gelang giok putih polos dari kotak perhiasanku.

Anggap saja sebagai hadiah pertemuan.

Setelah itu, aku bersiap untuk pergi.

Tapi, Amel mendadak memanggilku.

"Kakak, apa kita bisa bicara empat mata sebentar?"

Kami berdiri berdampingan di depan jembatan koridor.

"Aku merawat Gofar selama tiga bulan di Jakari. Awalnya dia ingin balas budi penyelamat nyawanya dengan uang."

Dia menoleh, sedikit mengamatiku.

Melihatku bergeming, dia kembali bersuara.

"Lalu ada orang yang menyerang, aku yang pasang badan untuknya."

"Waktu itu dia menjagaku semalaman, lalu besoknya bilang mau membawaku pulang ke rumah."

Suasana menjadi hening sejenak.

Aku mengangguk.

"Baguslah. Setelah kamu tinggal di rumah ini sebentar lagi, biarkan dia mengangkatmu jadi istri sejajar."

Dia mendadak bersuara.

"Kamu dingin sekali."

Saat aku menoleh menatapnya, sudut mata Amel tampak memerah penuh kekesalan.

"Buat apa kamu pura-pura dermawan? Gofar itu lelah sekali di luar sana, beberapa kali bertaruh nyawa, tapi begitu pulang masih harus melihat raut wajahmu."

"Laki-laki punya tiga istri empat selir itu hal yang lumrah. Lagi pula aku punya budi penyelamat nyawa padanya. Aku tidak pernah berpikir untuk menggeser posisimu, aku cuma mau berada di sisimu untuk melayanimu."

"Kenapa kamu selalu cari gara-gara dengannya? Kemarin waktu dia terluka, kamu bahkan tidak meliriknya sama sekali."

"Kamu tahu tidak, semalam dia menahan tubuhnya yang sakit sambil terus menatap ke luar pintu, berharap kamu mau datang? Tapi kamu? Jangankan datang, mengirim orang untuk menanyakan kabarnya saja tidak ada."

"Pagi ini dia masih menyalahkan dirinya sendiri, bilang kalau dia takut sudah membuatmu marah."

"Nyonya, kalau kamu benar-benar tidak bisa menahan amarahmu, aku bisa kembali ke Jakari dan tidak akan pernah muncul lagi di hadapanmu selamanya."

"Tapi aku mohon, sayangi dia, ya?"

Kata-katanya terdengar begitu mendalam penuh kesungguhan.

Kalau orang yang tidak tahu melihat adegan ini, mereka pasti mengira aku sedang menindasnya.

Aku menundukkan pandangan menatap orang yang berlutut di tanah.

Nadaku tetap tenang.

"Bukannya begini malah bagus?"

"Rasa teraniaya yang didapatnya dariku bisa mendapatkan balasan di sisimu. Kuharap sebentar lagi hatinya bakal sepenuhnya berada padamu."

Mendengar itu, dia mendongak tidak percaya, matanya dipenuhi rasa gusar.

"Bisa-bisanya kamu berpikir begitu tentangku? Aku tidak pernah berniat berebut kasih sayang, aku cuma mau dia hidup sedikit lebih tenang!"

"Kenapa kamu selalu sedingin ini?"

"Kamu ...."

"Amel!"

Begitu Gofar datang dan melihat Amel berlutut di tanah, alisnya langsung menyatu ketat.

Dia melangkah cepat untuk memapahnya berdiri.

"Ada apa ini?"

Amel menggelengkan kepala, lalu tersenyum padanya.

"Aku cuma sedang bicara sebentar dengan kakak."

Gofar jelas tidak percaya.

Tatapannya menyapu wajahku, penuh dengan kecurigaan.

"Listya, kalau ada masalah, lampiaskan saja padaku."

Aku tidak bicara, hanya menatapnya balik.

Batukku yang belum sembuh mendadak menyeruak dari tenggorokan.

Aku menahannya, tapi dadaku terasa panas menyengat hingga seluruh tubuhku ikut sakit.

Pada akhirnya, akulah yang mengalah terlebih dahulu.

"Undangan dan pesta perjamuan pernikahan sudah aku atur semuanya dengan baik, kamu periksa saja sekali lagi."

Usai bicara, tanpa menunggu dia bersuara, aku berbalik dan pergi.

Suara amarahnya terdengar bergema di belakangku.

"Listya!"

Kali ini, aku tidak menoleh lagi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Janji Lama yang Tertiup Angin   Bab 17

    Kalimat yang diucapkannya ini bukanlah pertanyaan, melainkan sebuah kepastian.Seolah seluruh tenaganya sudah terkuras habis.Aku juga terkulai lemas di atas tempat tidur.Sinar lilin di kamar sudah padam.Kami saling bertatap mata.Begitu dekat hingga bisa melihat bayangan diri sendiri di mata masing-masing.Dia tidak salah ucap.Sebenarnya sejak awal, aku sudah tahu Gofar berpura-pura gila.Sewaktu muda dia sudah ikut ayah dan kakaknya ke medan perang.Adegan yang jauh lebih berdarah pun sudah pernah dia lihat.Umur sepuluh tahun, kepala ayah dan kakaknya dipenggal musuh di hadapan matanya.Esok harinya dia sudah bisa menyuruh orang membakar lumbung pangan musuh tanpa mengubah raut wajah.Dia pernah melihat adegan semengerikan itu.Bagaimana mungkin cuma karena Amel membohonginya, lalu dia bisa gangguan jiwa?Dia meraih kejayaan sewaktu muda, menanggung banyak penderitaan.Mengalami banyak kepahitan yang jarang dilihat orang lain.Kalau dihitung-hitung, aku seharusnya menjadi saksi s

  • Janji Lama yang Tertiup Angin   Bab 16

    Aku tidak pernah mengira masalah ini akan sampai seperti ini.Semua orang bilang Gofar gangguan jiwa.Bahkan tabib istana utusan Kaisar sudah datang memeriksanya beberapa kali.Mereka hanya bilang, emosinya jangan dipancing dulu sekarang.Kalau didampingi orang dekat, masih ada kemungkinan untuk pulih.Tapi sewaktu dia masih muda, ayah dan kakaknya sudah gugur di medan perang.Ibunya bahkan sudah masuk ke kuil, sejak saat itu memutuskan hubungan duniawi sepenuhnya.Seketika itu juga, di dunia ini ternyata cuma aku yang paling dekat dengannya.Kaisar selalu mengingat jasa dan kontribusi Keluarga Gofar bagi negara.Sekarang kaisar hanya bisa memintaku mengalah untuk mendampingi di sisinya.Berputar-putar kembali, Kota Kana ini benar-benar menjadi sangkar yang mengurungku.Hanya saja, kali ini aku tidak menghadapinya seorang diri lagi.Reno dan Ibu yang mendengar kabar ini langsung bergegas menuju ke Kota Kana.Aku tidak menahannya.Gofar sebenarnya tidak gila sepenuhnya.Dia cuma tidak b

  • Janji Lama yang Tertiup Angin   Bab 15

    Gofar terbangun di tengah malam.Di sisinya tidak ada bayanganku.Dia agak linglung. Semalam dia ingat betul dirinya memelukku.Tapi, sesaat kemudian dia mendadak sadar sepenuhnya.Dia ternyata salah mengenali orang.Rasa penyesalan menyelimutinya berlapis-lapis.Dia tidak sanggup menahan diri untuk menampar mukanya sendiri.Tapi, begitu teringat pada Amel, dia merasa agak bersalah.Makanya dia bangun hendak mencari Amel.Baru saja sampai di pekarangan, dia melihat Amel berdiri di sudut ruangan.Sebelum dia sempat bersuara.Suara lain terdengar dari balik bayangan."Sudah dicari tahu belum, apa Listya benar-benar sudah kembali?"Cahaya bulan yang terang memancarkan bayangan di wajah Amel.Membuat separuh wajahnya tenggelam dalam kegelapan.Malam makin pekat, dirinya juga tampak sedikit mengerikan seperti iblis."Sudah kembali dari dulu! Bagaimana sih caramu bekerja? Bukannya dulu kamu bilang dia sudah mati, kok bisa-bisanya sekarang pulang dengan baik-baik saja?"Bayangan hitam menekan

  • Janji Lama yang Tertiup Angin   Bab 14

    Aku tersenyum."Gofar, di dunia ini tidak ada orang yang tidak bisa hidup kalau kehilangan orang lain, tiga tahun ini bukannya sudah jadi bukti nyata?"Gofar tertegun."Kamu bilang tidak bisa hidup tanpa aku, bukan karena kamu sangat mencintaiku, tapi cuma karena aku bukan milikmu lagi.""Sikapmu padaku begini, pada Amel juga sama saja."Aku berhenti sejenak lalu kembali bersuara."Dulu kamu bilang cuma bakal mencintai aku seorang, lalu waktu pergi ke Jakari kamu bawa pulang Amel. Saat itu, matamu juga memancarkan rasa cinta padanya, jelas-jelas kami berdua ada di hadapanmu, tapi hatimu selalu condong padanya.""Soal masalah penjara waktu itu, apa kamu benar-benar tidak punya niat pribadi sama sekali? Kamu cuma ingin melihatku tunduk dan mengaku salah, cuma tidak menyangka aku bakal hampir kehilangan separuh nyawaku gara-gara itu."Wajah Gofar makin pucat.Dia ingin mengatakan sesuatu, bibirnya terbuka, tapi pada akhirnya tidak ada satu kata pun yang terucap."Kamu terus-menerus menemp

  • Janji Lama yang Tertiup Angin   Bab 13

    Gofar mengenakan jubah panjang warna biru tua.Tubuhnya jauh lebih kurus dibanding sebelumnya.Begitu melihatku, sudut matanya seketika memerah.Rika pernah memberitahuku, setelah aku pergi, Gofar berubah seperti orang yang berbeda, dia tidak pernah menunjukkan wajah ramah pada siapa pun, alhasil bertahun-tahun ini sudah menyinggung banyak orang.Berhubung keberadaanku sudah ketahuan, aku tidak perlu bersembunyi lagi.Pandangan kami bertabrakan, aku bersuara pelan."Sudah lama tidak bertemu."Suaranya sangat serak, seluruh tubuhnya gemetaran karena terlalu emosional."Aku sudah tahu, kamu tidak mati! Maafkan aku, waktu itu aku salah sangka, aku tidak seharusnya ambil keputusan secara gegabah hanya karena melihat liontin giok itu.""Listya, apa kamu masih benci aku? Waktu itu aku benar-benar tidak tahu kalau mereka bakal lancang menyiksamu."Aku pernah memikirkan masalah ini sebelumnya.Soal apakah aku membenci Gofar atau tidak.Kalau bilang tidak benci itu terlalu munafik.Dua kehidupa

  • Janji Lama yang Tertiup Angin   Bab 12

    Setelah tubuhku pulih total.Aku mulai membantu adikku, Reno Sukowati mengurus bisnis.Perbatasan terletak dekat dengan Barata, orang-orang di sana sangat menyukai rempah-rempah.Sejak kecil adikku tidak suka berlatih pedang atau tombak.Dia cuma tertarik pada uang.Keluarga kami tidak pernah mewajibkan semua anak laki-laki harus pergi ke medan perang.Makanya bisnis yang dijalankannya terbilang lumayan besar.Hanya saja, sewaktu awal aku mengusulkan untuk membantu mengurus bisnis Reno, ibu menentang keras.Hanya karena bisnis Reno menuntut untuk bepergian jauh ke utara dan selatan, Ibu mengkhawatirkan kondisi tubuhku.Belakangan setelah kakakku, Dimas, dan Reno membujuknya berulang kali.Barulah ibu menyetujuinya dengan berat hati.Hari saat berangkat.Ibu memasangkan jubah tebal warna merah padaku, matanya berkaca-kaca penuh air mata."Listya, kalau kamu lelah, kirim saja surat ke rumah, ibu akan suruh Dimas untuk jemput kamu."Melihatnya bicara sambil mau menangis lagi.Reno memasan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status