Share

Bab 5

Penulis: Soni
Gofar memakai pakaian dinasnya, jubah hitam membuat tubuhnya tampak tegap.

Cahaya lilin yang bergoyang mengenai alis dan matanya, membuat wajah yang biasanya hangat itu terlihat dingin dan sulit ditebak.

Aku perlahan mendongak menatapnya, pikiranku mendadak terlempar kembali ke masa awal tiba di Kota Kana.

Waktu itu, para wanita dari keluarga bangsawan tidak menyukaiku dan menuduhku mencuri barang di pesta perjamuan.

Melihat mereka terus mendesak dan hampir merobek pakaianku.

Saat itu orang-orang berkuasa hanya menonton dengan dingin.

Cuma Gofar yang berdiri memegang pedang, tidak takut menyinggung para keluarga bangsawan itu.

Dia berdiri di sisiku dengan mantap.

Tapi sekarang, orang yang menyuruh prajurit mengurungku di penjara ini juga dirinya.

Tenggorokanku terasa perih dan sesak, tapi raut wajahku tetap dingin seperti es.

"Kamu juga berpikir kalau aku yang melakukannya?"

Tatapan Gofar tenang, tidak memperlihatkan emosi sedikit pun.

"Listya, orang-orang kaisar menemukan liontin giokmu. Aku tahu itu barang yang kamu kasih ke Rika dulu."

"Tapi bagaimanapun juga, Rika melakukan bencana besar ini demi kamu. Kaisar sedang marah sekali, aku harus memberi mereka kejelasan."

"Tapi kamu tenang saja, aku sudah mengurus semuanya di sini, tidak ada yang bakal menyulitkanmu."

"Tahan saja di penjara ini beberapa hari. Setelah suasananya tenang, aku bakal jemput kamu pulang."

Suaranya dingin dan terkesan asing.

Seolah tindakan ini sudah menjadi kemurahan hati yang sangat besar untukku.

Aku menatapnya lekat-lekat, mencoba mencari sedikit saja perasaan di matanya yang dingin itu.

Tapi, aku cuma melihat rasa merasa benar.

Hal itu benar-benar memutus sisa-sisa perasaan terakhir di hatiku.

Sebelum pergi, dia kembali bersuara dengan nada tinggi itu padaku.

"Listya, aku tahu kamu merasa teraniaya, tapi Amel jauh lebih tidak bersalah. Ini sudah hukuman paling ringan yang bisa kukasih setelah mempertimbangkan semuanya."

"Jangan merajuk lagi, beberapa hari lagi aku bakal datang menjemputmu."

Setelah itu Gofar masih bicara hal lain.

Tapi, aku tidak mendengarnya dengan jelas lagi.

Dadaku seperti tersumbat sesuatu, hidungku terasa perih dan sakit.

Pintu penjara kembali dikunci, aku duduk merangkul lutut di tanah.

Aku ingin tertawa.

Tapi begitu tertawa, air mataku justru menetes.

Tengah malam, pintu penjara didorong paksa dengan keras.

Beberapa sipir menyeruak masuk.

Mereka memegang pergelangan tanganku lalu menyeretku keluar.

"Kalian siapa? Kasusnya belum disidang dan belum ada keputusan, kalian mau apa?"

Aku berusaha keras berontak.

Tapi, pipiku malah kena tampar keras sekali.

"Sudah masuk penjara masih saja mau berlagak! Dikasih hati minta jantung ya!"

"Ikat dia, aku mau interogasi sendiri."

Sipir berwajah galak itu mencengkeram mukaku.

Tidak lama kemudian, tubuhku sudah diikat erat.

"Kalian pakai hukuman main hakim sendiri, Gofar tidak bakal melepaskan kalian!"

Sampai di titik ini, aku cuma bisa menyebut namanya.

Berharap orang-orang ini bisa sedikit menahan diri.

Tapi, begitu kata-kata itu keluar, para sipir malah tertawa duluan.

"Tuan Gofar tidak bakal melepaskan kami? Hahaha, kamu tahu tidak siapa yang menyuruh pemeriksaan tengah malam begini?"

Jantungku serasa berhenti berdetak.

"Tentu saja Tuan Gofar sendiri."

Begitu kata-kata itu diucapkan, suasana sekitar seketika menjadi hening. Aku melongo.

Tapi, rasanya sulit sekali untuk bernapas.

"Nyonya Kasira, kalau kamu mengaku dosa ini, kamu tidak perlu merasakan sakitnya siksaan. Tapi, kalau tidak mau mengaku, kulit dan dagingmu yang halus ini tidak tahu sanggup tahan berapa putaran?"

Sebuah surat pengakuan dosa disodorkan ke hadapanku.

Aku menatap mereka mati-matian.

"Aku mau ketemu Gofar."

Padahal dia sudah bilang kalau semuanya sudah diurus dan tidak akan biarkan aku terluka.

"Tuan Gofar lagi sibuk menyiapkan acara bahagianya, mana ada waktu ketemu kamu!"

Usai bicara, sipir di hadapanku langsung menyambar cambuk kulit di sampingnya.

Suara cambukan membelah udara terdengar.

Satu kali, dua kali, tiga kali ....

Entah sudah berapa lama berlalu, tubuhku rasanya bukan milikku lagi.

Aku terengah-engah, rasanya bernapas saja sakit sekali.

Dua hari penuh, berbagai jenis hukuman sudah dicoba di tubuhku.

Sipir yang menyiksaku bahkan sudah berganti beberapa kali.

Aku terbaring di atas jerami, menatap kosong ke arah malam yang gelap ini.

Di depan mataku, kenangan masa lalu berputar seperti bayangan lampu.

Malam itu, sepertinya ada orang yang menangis di telingaku.

Aku berusaha keras membuka mata.

Itu Rika, matanya merah sekali karena menangis.

"Bajingan, mereka semua bajingan! Berani-beraninya bikin kamu terluka parah begini?"

Aku ingin menenangankannya, tapi baru saja mengeluarkan suara, darah segar dalam jumlah banyak keluar dari tenggorokanku.

Wajah Rika pucat pasi karena ketakutan. Dia memelukku sambil gemetaran.

"Listya, jangan menakutiku! Tahan sedikit lagi, aku mohon tahan sedikit lagi! Ayahmu sudah datang dan ada di depan pintu, malam ini juga kami bakal bawa kamu pergi."

Suara tangisnya terasa makin jauh dariku. Saat kesadaranku makin kabur.

Aku melihat beberapa bayangan orang yang kukenal menerobos masuk dengan panik.

Ada ayah, kakak ....

Kesadaranku tidak sanggup bertahan lagi.

Sebelum benar-benar jatuh ke dalam kegelapan tanpa batas.

Di dalam hatiku cuma tersisa satu pemikiran.

Gofar, mulai sekarang kita tidak usah ketemu lagi selamanya.

....

Saat fajar pertama menyingsing di langit.

Kediaman Kasira mulai ramai.

Kain merah digantung tinggi-tinggi, terlihat jauh lebih ramai daripada pernikahan orang lain.

"Pantas saja Tuan Gofar ini jadi orang kesayangan kaisar. Cuma mengangkat selir saja megah sekali kemewahannya."

"Bahkan sepertinya waktu menikah dulu tidak seheboh ini."

Orang-orang yang menonton saling berbisik.

Mata Rika merah sekali, dia menatap mati-matian ke arah Gofar yang duduk di atas kuda dengan wajah penuh kebahagiaan.

Dengan satu lambaian tangan, kertas sembahyang warna putih beterbangan di udara, terlihat seperti kapuk berterbangan.

"Ayo, tiup musiknya yang keras!"

"Angkat peti matinya, kita pergi ke Kediaman Gofar untuk memberi selamat!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Janji Lama yang Tertiup Angin   Bab 17

    Kalimat yang diucapkannya ini bukanlah pertanyaan, melainkan sebuah kepastian.Seolah seluruh tenaganya sudah terkuras habis.Aku juga terkulai lemas di atas tempat tidur.Sinar lilin di kamar sudah padam.Kami saling bertatap mata.Begitu dekat hingga bisa melihat bayangan diri sendiri di mata masing-masing.Dia tidak salah ucap.Sebenarnya sejak awal, aku sudah tahu Gofar berpura-pura gila.Sewaktu muda dia sudah ikut ayah dan kakaknya ke medan perang.Adegan yang jauh lebih berdarah pun sudah pernah dia lihat.Umur sepuluh tahun, kepala ayah dan kakaknya dipenggal musuh di hadapan matanya.Esok harinya dia sudah bisa menyuruh orang membakar lumbung pangan musuh tanpa mengubah raut wajah.Dia pernah melihat adegan semengerikan itu.Bagaimana mungkin cuma karena Amel membohonginya, lalu dia bisa gangguan jiwa?Dia meraih kejayaan sewaktu muda, menanggung banyak penderitaan.Mengalami banyak kepahitan yang jarang dilihat orang lain.Kalau dihitung-hitung, aku seharusnya menjadi saksi s

  • Janji Lama yang Tertiup Angin   Bab 16

    Aku tidak pernah mengira masalah ini akan sampai seperti ini.Semua orang bilang Gofar gangguan jiwa.Bahkan tabib istana utusan Kaisar sudah datang memeriksanya beberapa kali.Mereka hanya bilang, emosinya jangan dipancing dulu sekarang.Kalau didampingi orang dekat, masih ada kemungkinan untuk pulih.Tapi sewaktu dia masih muda, ayah dan kakaknya sudah gugur di medan perang.Ibunya bahkan sudah masuk ke kuil, sejak saat itu memutuskan hubungan duniawi sepenuhnya.Seketika itu juga, di dunia ini ternyata cuma aku yang paling dekat dengannya.Kaisar selalu mengingat jasa dan kontribusi Keluarga Gofar bagi negara.Sekarang kaisar hanya bisa memintaku mengalah untuk mendampingi di sisinya.Berputar-putar kembali, Kota Kana ini benar-benar menjadi sangkar yang mengurungku.Hanya saja, kali ini aku tidak menghadapinya seorang diri lagi.Reno dan Ibu yang mendengar kabar ini langsung bergegas menuju ke Kota Kana.Aku tidak menahannya.Gofar sebenarnya tidak gila sepenuhnya.Dia cuma tidak b

  • Janji Lama yang Tertiup Angin   Bab 15

    Gofar terbangun di tengah malam.Di sisinya tidak ada bayanganku.Dia agak linglung. Semalam dia ingat betul dirinya memelukku.Tapi, sesaat kemudian dia mendadak sadar sepenuhnya.Dia ternyata salah mengenali orang.Rasa penyesalan menyelimutinya berlapis-lapis.Dia tidak sanggup menahan diri untuk menampar mukanya sendiri.Tapi, begitu teringat pada Amel, dia merasa agak bersalah.Makanya dia bangun hendak mencari Amel.Baru saja sampai di pekarangan, dia melihat Amel berdiri di sudut ruangan.Sebelum dia sempat bersuara.Suara lain terdengar dari balik bayangan."Sudah dicari tahu belum, apa Listya benar-benar sudah kembali?"Cahaya bulan yang terang memancarkan bayangan di wajah Amel.Membuat separuh wajahnya tenggelam dalam kegelapan.Malam makin pekat, dirinya juga tampak sedikit mengerikan seperti iblis."Sudah kembali dari dulu! Bagaimana sih caramu bekerja? Bukannya dulu kamu bilang dia sudah mati, kok bisa-bisanya sekarang pulang dengan baik-baik saja?"Bayangan hitam menekan

  • Janji Lama yang Tertiup Angin   Bab 14

    Aku tersenyum."Gofar, di dunia ini tidak ada orang yang tidak bisa hidup kalau kehilangan orang lain, tiga tahun ini bukannya sudah jadi bukti nyata?"Gofar tertegun."Kamu bilang tidak bisa hidup tanpa aku, bukan karena kamu sangat mencintaiku, tapi cuma karena aku bukan milikmu lagi.""Sikapmu padaku begini, pada Amel juga sama saja."Aku berhenti sejenak lalu kembali bersuara."Dulu kamu bilang cuma bakal mencintai aku seorang, lalu waktu pergi ke Jakari kamu bawa pulang Amel. Saat itu, matamu juga memancarkan rasa cinta padanya, jelas-jelas kami berdua ada di hadapanmu, tapi hatimu selalu condong padanya.""Soal masalah penjara waktu itu, apa kamu benar-benar tidak punya niat pribadi sama sekali? Kamu cuma ingin melihatku tunduk dan mengaku salah, cuma tidak menyangka aku bakal hampir kehilangan separuh nyawaku gara-gara itu."Wajah Gofar makin pucat.Dia ingin mengatakan sesuatu, bibirnya terbuka, tapi pada akhirnya tidak ada satu kata pun yang terucap."Kamu terus-menerus menemp

  • Janji Lama yang Tertiup Angin   Bab 13

    Gofar mengenakan jubah panjang warna biru tua.Tubuhnya jauh lebih kurus dibanding sebelumnya.Begitu melihatku, sudut matanya seketika memerah.Rika pernah memberitahuku, setelah aku pergi, Gofar berubah seperti orang yang berbeda, dia tidak pernah menunjukkan wajah ramah pada siapa pun, alhasil bertahun-tahun ini sudah menyinggung banyak orang.Berhubung keberadaanku sudah ketahuan, aku tidak perlu bersembunyi lagi.Pandangan kami bertabrakan, aku bersuara pelan."Sudah lama tidak bertemu."Suaranya sangat serak, seluruh tubuhnya gemetaran karena terlalu emosional."Aku sudah tahu, kamu tidak mati! Maafkan aku, waktu itu aku salah sangka, aku tidak seharusnya ambil keputusan secara gegabah hanya karena melihat liontin giok itu.""Listya, apa kamu masih benci aku? Waktu itu aku benar-benar tidak tahu kalau mereka bakal lancang menyiksamu."Aku pernah memikirkan masalah ini sebelumnya.Soal apakah aku membenci Gofar atau tidak.Kalau bilang tidak benci itu terlalu munafik.Dua kehidupa

  • Janji Lama yang Tertiup Angin   Bab 12

    Setelah tubuhku pulih total.Aku mulai membantu adikku, Reno Sukowati mengurus bisnis.Perbatasan terletak dekat dengan Barata, orang-orang di sana sangat menyukai rempah-rempah.Sejak kecil adikku tidak suka berlatih pedang atau tombak.Dia cuma tertarik pada uang.Keluarga kami tidak pernah mewajibkan semua anak laki-laki harus pergi ke medan perang.Makanya bisnis yang dijalankannya terbilang lumayan besar.Hanya saja, sewaktu awal aku mengusulkan untuk membantu mengurus bisnis Reno, ibu menentang keras.Hanya karena bisnis Reno menuntut untuk bepergian jauh ke utara dan selatan, Ibu mengkhawatirkan kondisi tubuhku.Belakangan setelah kakakku, Dimas, dan Reno membujuknya berulang kali.Barulah ibu menyetujuinya dengan berat hati.Hari saat berangkat.Ibu memasangkan jubah tebal warna merah padaku, matanya berkaca-kaca penuh air mata."Listya, kalau kamu lelah, kirim saja surat ke rumah, ibu akan suruh Dimas untuk jemput kamu."Melihatnya bicara sambil mau menangis lagi.Reno memasan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status