Accueil / Romansa / Janji Mas Ali / 2. Aku juga menginginkanmu, Mas Ali

Partager

2. Aku juga menginginkanmu, Mas Ali

Auteur: Rinda
last update Date de publication: 2026-05-17 11:49:45

Ali mengangkat dagu Lastri perlahan. Tatapan mereka bertemu dalam jarak yang begitu dekat hingga napas keduanya saling bersentuhan.

Tanpa banyak kata, Ali mengecup bibir Lastri pelan, seolah masih memberi kesempatan bagi perempuan itu untuk menolaknya. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Lastri meraih tengkuk Ali dan menariknya lebih dekat. Bibir mereka kembali bertemu, kali ini lebih dalam dan penuh luapan emosi yang sejak tadi tertahan.

Ada kecewa. Ada penyesalan. Ada kesepian yang terlalu lama dipendam. Tapi di balik semua itu, ada perasaan yang selama ini tak pernah benar-benar hilang dari hati Lastri terhadap lelaki muda di hadapannya.

Pak Lurah mungkin memiliki kuasa untuk melindungi hidupnya. Tetapi Ali… memiliki sesuatu yang jauh lebih berbahaya—cara membuat jantung Lastri berdebar hanya dengan sentuhan sederhana.

Melihat Lastri tak lagi menolak, Ali seakan kehilangan kendali. Ia memperdalam ciumannya, meluapkan cemburu dan hasrat yang sejak tadi ia pendam diam-diam.

Tangannya bergerak perlahan menyusuri punggung Lastri, membuat perempuan itu menggigil halus. Tubuh mereka semakin dekat, sementara suasana warung bambu yang sempit terasa dipenuhi hawa panas dan napas yang memburu.

“Ah… Mas Ali…” desah Lastri lirih di sela napasnya. Saat tangan Ali meremas gundukan indah di da da Lastri.

Suara itu membuat dada Ali semakin bergemuruh. Bagi Ali, perempuan di hadapannya bukan sekadar hasrat sesaat. Lastri adalah perempuan yang diam-diam selalu ia inginkan… bahkan sebelum malam ini menghancurkan batas benar dan salah di antara mereka.

Ali menempelkan keningnya pada dahi Lastri sesaat, mencoba mengatur napas yang kacau.

“Aku benci melihatmu bersama dia…” bisiknya serak. “Tapi aku lebih benci karena ternyata aku tak bisa berhenti menginginkanmu."

Kalimat itu membuat dada Lastri bergetar.

Perempuan itu memejamkan mata sesaat, lalu menatap Ali dengan sorot penuh kerinduan yang selama ini ia sembunyikan.

“Mas Ali…” suaranya lirih dan gemetar. “Aku juga sudah lama menginginkanmu…”

Ucapan itu seolah menjadi jawaban atas semua rasa yang selama ini tertahan di antara mereka.

Ali tak lagi mampu menahan dirinya. Ia kembali mendekatkan wajahnya pada Lastri, lalu mengecup bibir ranum Lastri dengan lebih dalam, lebih hangat, seakan meluapkan seluruh rasa cemburu, marah, dan cinta yang bercampur menjadi satu.

Lastri membalas ciuman itu tanpa ragu. Tangannya meremas pelan bahu Ali, sementara napas mereka mulai memburu dalam jarak yang nyaris tak menyisakan ruang.

Ketika ciuman mereka terlepas, Ali menatap wajah Lastri beberapa detik seolah tak percaya perempuan yang selama ini hanya berani ia kagumi diam-diam kini benar-benar berada dalam pelukannya.

Perlahan, Ali menundukkan wajahnya dan mengecup sisi leher Lastri dengan lembut. Sentuhan hangat itu membuat tubuh perempuan tersebut merinding halus. Napasnya mulai tak teratur ketika bibir Ali bergerak semakin turun, menghadirkan kecupan-kecupan penuh rasa rindu yang selama ini tertahan.

Lastri memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya pelan, saat Ali memghisap satu puting buah dadanya. Ia berusaha menahan debar yang semakin liar di dadanya.

“Ah… Mas Ali… Enak Mas...”

Desahan lirih itu justru membuat Ali semakin sulit mengendalikan dirinya.

Tangannya meraih pinggang Lastri, menarik tubuh ramping itu semakin dekat hingga nyaris tak menyisakan jarak di antara mereka. Sementara itu, jemari Lastri bergerak pelan ke dada Ali. Dengan napas memburu, ia melepas satu per satu kancing kemeja lelaki muda itu. Kemeja itu jatuh begitu saja ke lantai tanah.

Pandangan Lastri terpaku sesaat pada tubuh Ali yang tegap dan kuat. Dada bidang lelaki itu naik turun menahan gejolak perasaan yang sama besarnya dengan dirinya. Dalam hati, Lastri tak bisa memungkiri bahwa sejak lama ia mengagumi Ali. Bukan hanya karena wajah tampannya, tetapi juga karena perhatian dan ketulusan yang selalu lelaki itu tunjukkan padanya.

Tatapan mereka bertemu. Ada rasa rindu yang selama ini dipendam diam-diam dan cinta yang tumbuh di waktu yang salah.

Ali mengusap lembut pipi Lastri, seolah ingin memastikan perempuan itu benar-benar ada di hadapannya malam ini.

“Kamu tahu betapa sulitnya menahan perasaan ini selama ini?” bisiknya serak.

Lastri hanya mampu menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

Malam terasa begitu sunyi, hanya diisi suara napas mereka yang saling bertabrakan di ruang sempit warung bambu itu.

Ali akhirnya tak mampu lagi menahan gejolak di dadanya. Dengan hati-hati ia mengangkat tubuh Lastri ke dalam pelukannya, lalu membaringkan perempuan itu di atas ranjang bambu beralaskan tikar sederhana.

Tatapan Ali tak pernah lepas dari wajah Lastri, seolah perempuan itu adalah sesuatu yang terlalu berharga untuk diperlakukan sembarangan.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Lastri merasa dirinya tidak hanya diinginkan… tetapi juga dicintai

Lastri menatap Ali dengan napas yang masih bergetar. Di bawah cahaya lampu temaram warung bambu itu, tatapan lelaki muda itu terasa begitu berbeda—bukan penuh tuntutan seperti yang ia terima dari Pak Lurah, melainkan dipenuhi keinginan untuk benar-benar memiliki dan menjaga dirinya.

Perlahan, Lastri meraih wajah Ali, mengusap pipinya lembut seolah ingin memastikan semua ini nyata.

“Mas Ali…” bisiknya lirih.

Ali mengecup keningnya singkat sebelum tangannya menyelip di pinggang Lastri. Sentuhan itu membuat tubuh perempuan tersebut kembali gemetar halus.

Untuk sesaat, Lastri hanya menatap lelaki di atasnya itu dalam diam. Lalu dengan malu-malu, ia membuka kedua pahanya, memberi jawaban tanpa kata atas perasaan yang sejak tadi memenuhi dadanya.

Ali terdiam sesaat. Sorot matanya melembut, seolah tersentuh oleh kepercayaan yang diberikan Lastri kepadanya.

“Aku nggak mau nyakitin kamu,” bisiknya serak.

Kalimat sederhana itu justru membuat dada Lastri terasa hangat.

"Lakukanlah Mas Ali... aku menginginkannya " bisik Lastri dengan suara serak dan mata sayu. Membuat hasrat Ali semakin membuncah.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Janji Mas Ali   12. Juragan Karta

    "Angga, habis ini kamu ada rencana ke mana?" tanya Nadine saat jam belajar usai. Langkahnya dipercepat demi bisa menyusul langkah Angga."Nggak ada. Paling balik ke kos, terus tidur," jawab Ali santai.Nadine langsung menghentikan langkahnya. Matanya membulat tak percaya. "Hah? Serius?"Ali menoleh heran. "Kenapa?""Ya ampun, Angga! Kamu lagi di Jakarta, lho. Kota sebesar ini, tapi habis kelas malah milih tidur di kos?"Ali terkekeh pelan. "Terus aku harus ngapain? Buatku nggak ada yang terlalu menarik."Ia kembali melangkah menuju gerbang gedung. Nadine buru-buru menyusul. Langkah Ali yang panjang membuat perempuan itu harus berjalan lebih cepat agar tidak tertinggal."Minimal kita nongkrong, lah. Di dekat sini ada kafe baru yang lagi ramai. Tempatnya enak buat santai."Ali menggeleng. "Kafe? Aku belum pernah ke kafe."Nadine menatapnya dengan ekspresi tak percaya."Jangan bercanda. Masa belum pernah?""Beneran.""Terus kamu kalau mau ngopi di mana?""Di warung kopi."Jawaban itu mem

  • Janji Mas Ali   11. Nadine

    Udara pagi yang dingin menusuk kulit membuat Lastri terbangun bahkan sebelum fajar benar-benar menyingsing. Dari kejauhan, suara ayam jantan bersahut-sahutan memecah sunyi, menandai dimulainya hari baru. Sebagai perempuan yang terbiasa bekerja keras, Lastri memang selalu bangun sebelum matahari menampakkan sinarnya.Ting...Bunyi notifikasi dari ponselnya memecah lamunannya. Dengan sedikit heran, Lastri segera meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal.Senyum tipis langsung merekah di bibirnya.Pesan itu berasal dari Ali.[Lastri, aku sedang dalam perjalanan menuju stasiun. Jaga dirimu baik-baik, ya. Aku mencintaimu.]Dada Lastri seketika menghangat. Berkali-kali ia membaca pesan singkat itu, seolah tak ingin melewatkan satu kata pun yang ditulis oleh lelaki pujaan hatinya.Jemarinya kemudian bergerak membalas.[Aku akan selalu menjaga diri untukmu, Mas Ali. Semoga perjalananmu lancar dan kamu selalu baik-baik di kota.]Setelah menekan tombol kirim, Lastri kembali menatap layar

  • Janji Mas Ali   10. Akankah Ali menepati janjinya?

    Lastri tertegun. Matanya membelalak saat melihat sosok yang berdiri di balik pintu."Mas Ali...?"Dadanya seolah berhenti berdetak sesaat. Lelaki yang sejak tadi ia tunggu akhirnya benar-benar datang."Lastri... maafkan aku. Aku datang terlambat," ucap Ali dengan napas yang masih memburu. Wajahnya dipenuhi rasa bersalah.Lastri menatapnya lekat. Sudut matanya mulai memanas, menahan air mata yang nyaris tumpah."Mas Ali... aku pikir... Mas tidak akan datang lagi," bisiknya lirih. Ada kelegaan dalam suaranya, tetapi juga sisa keputusasaan yang belum sepenuhnya hilang.Ali menggeleng pelan."Bapak mengawasi aku dengan sangat ketat. Bahkan beliau menyuruh beberapa pegawai berjaga di depan kamarku supaya aku tidak bisa keluar."Lastri mengerutkan kening."Lalu... bagaimana Mas bisa sampai ke sini?"Ali tersenyum tipis, meski napasnya masih belum benar-benar teratur."Aku melompat dari jendela kamarku."Mata Lastri membulat."Mas... melompat dari jendela?"Ali mengangguk mantap."Iya. Aku t

  • Janji Mas Ali   9. Kedatangan Ratih

    "Bu Ratih...?" bisik Lastri lirih. Matanya membulat, wajahnya seketika pucat. Ia sama sekali tak menyangka orang yang datang bukanlah Ali, lelaki yang sejak tadi ia tunggu. Justru Ratih, perempuan yang paling ingin ia hindari.Ratih berdiri tegak di hadapannya. Tatapannya dingin dan tajam, menyapu tubuh Lastri dari ujung kepala hingga kaki, seolah sedang menilai sesuatu yang menjijikkan. Sorot mata itu membuat jantung Lastri berdegup semakin kencang dan tubuhnya gemetar. "Sepertinya... kamu sedang menunggu seseorang?" ujar Ratih pelan. Nada bicaranya terdengar tenang, tetapi setiap katanya dipenuhi sindiran yang menusuk. Lastri memilih diam. Bibirnya terasa kelu, sementara kepalanya semakin tertunduk. Ia tahu betul alasan Ratih begitu membencinya. Bagaimanapun juga, suami dan anak lelaki Ratih sama-sama menaruh hati kepadanya. Perempuan mana yang bisa menerima kenyataan sekejam itu? "Suamiku... atau putraku?" tanya Ratih lagi. Tatapannya semakin tajam, seolah ingin menembus perta

  • Janji Mas Ali   8. Menunggu kedatangan Ali

    "Dari mana?" Suara dingin Subrata menghentikan langkah Ali yang baru saja mengendap-endap memasuki rumah. Pria itu berdiri di ruang tengah dengan sorot mata tajam, seolah sudah menunggu kepulangannya sejak tadi. Ali mengembuskan napas pelan. Rasa lelah bercampur kesal membuatnya tak lagi ingin berbasa-basi. "Apa peduli Bapak?" balasnya datar. "Aku sudah menuruti perintah Bapak untuk pergi ke Jakarta. Apa itu masih belum cukup?" Nada suaranya terdengar tenang, tetapi menyimpan perlawanan yang selama ini ia pendam. Ali berdiri di hadapan ayahnya tanpa sedikit pun memperlihatkan rasa gentar. Rahang Subrata mengeras. "Kamu habis menemui janda itu lagi?" geramnya. Ali menatap ayahnya lurus. "Kenapa? Karena Bapak sendiri juga menginginkannya?" Ucapan itu menghantam Subrata seperti tamparan keras. "Lancang sekali ucapanmu, Ali!" bentaknya. "Bapak hanya ingin yang terbaik untukmu! Bapak ingin kamu mendapatkan perempuan yang terhormat dan setara, bukan janda kampung seperti Lastri!" Dad

  • Janji Mas Ali   7. Janji Ali

    "Satu bulan?" suara Lastri nyaris hanya berupa bisikan. Wajahnya mendongak, menatap Ali, seolah berharap pemuda itu berkata bahwa semua ini hanyalah gurauan.Ali mengangguk pelan. Ada sorot tak berdaya di matanya. "Bisa jadi lebih lama... kalau aku lolos tes."Kalimat itu membuat dada Lastri terasa sesak. Satu bulan saja sudah terdengar begitu panjang, apalagi jika ternyata harus lebih lama lagi."Lalu... bagaimana denganku, Mas?" tanyanya lirih. Ada ketakutan yang tak mampu lagi ia sembunyikan.Ali meraih kedua tangan Lastri, menggenggamnya erat seolah ingin menyalurkan keyakinan yang bahkan ia sendiri sedang berusaha kumpulkan."Kamu... mau kan menjaga diri demi aku?" ucapnya penuh harap. "Aku janji, begitu urusan tes kedinasan selesai, aku akan segera kembali. Kalau aku berhasil lolos, aku akan menjemputmu. Kita akan tinggal bersama di Jakarta."Lastri menundukkan kepala. Kata-kata itu terdengar begitu indah, seperti mimpi yang selama ini tak pernah berani ia bayangkan. Namun, di b

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status