LOGINLastri,janda muda berusia 23 tahun, harus menjalani hidup yang keras setelah bercerai dari suaminya yang toksik. Demi mempertahankan warung kecilnya agar tidak digusur akibat utang sang mantan suami, Lastri terpaksa menuruti keinginan Pak Lurah, pria berkuasa di desa yang diam-diam menginginkannya. Di balik bantuan yang diberikan, Pak Lurah memiliki hasrat tersembunyi terhadap Lastri. Ia menjadikan utang dan kekuasaan sebagai alat untuk menekan perempuan muda itu agar tetap berada dalam genggamannya. Keadaan menjadi semakin rumit ketika Ali, putra Pak Lurah mengetahui hubungan Lastri dan ayahnya padahal dia sendiri telah alam jatuh cinta pada Lastri. Berbeda dengan ayahnya, Ali datang dengan ketulusan dan kasih sayang yang perlahan membuat hati Lastri yang penuh luka kembali hidup. Di tengah tekanan hidup dan masa lalu yang pahit, Lastri mulai menemukan harapan baru bersama Ali. Sayangnya, hubungan itu berubah menjadi konflik besar ketika Pak Lurah mengetahui bahwa putranya mencintai perempuan yang juga diinginkannya. Sejak saat itu, pertentangan antara ayah dan anak pun tak terhindarkan. Demi memisahkan mereka, Pak Lurah memaksa Ali pergi ke Jakarta agar mengikuti tes kedinasan dan tidak bisa lagi menemui Lastri. Sebelum pergi, Ali berjanji akan kembali untuk membawa Lastri pergi dari desa dan memulai hidup baru bersama. Akankah Ali benar-benar kembali menepati janjinya? Ataukah janji itu hanya akan menjadi luka baru yang menghancurkan sisa harapan dalam hidup Lastri?
View More"Aah… pelan, Pak Lurah…” desah Lastri lirih, matanya terpejam, jemarinya mencengkeram ranjang bambu yang berderit pelan di bawah tubuh mereka.
Napas perempuan itu memburu. Tubuhnya yang sudah lama kesepian akhirnya kembali merasakan sentuhan lelaki. Meski tak ada cinta di hatinya untuk Pak Lurah, kehangatan dan keberanian lelaki paruh baya itu mampu membangkitkan gairah yang selama dua tahun ia pendam sendirian sebagai janda. Pak Lurah bergerak tergesa namun rakus. Tangannya menjelajahi lekuk tubuh Lastri seolah perempuan itu adalah hidangan yang sudah lama ia inginkan. Sementara Lastri memejamkan mata, bibirnya sesekali mengeluarkan desahan tertahan yang membuat suasana warung bambu itu semakin panas. Namun kenikmatan itu tak berlangsung lama. Baru beberapa saat menikmati tubuh Lastri, napas Pak Lurah mendadak memburu. Gerakannya melemah, lalu berhenti bersama erangan puas yang keluar dari bibirnya. “Ah… Lastri… kamu memang nikmat... bikin laki-laki lupa diri…” gumamnya serak. Lastri membuka mata dengan wajah merah dan napas masih tak beraturan. Ia belum sempat menikmati sepenuhnya permainan itu ketika Pak Lurah justru buru-buru bangkit dari ranjang bambu, meraih celana dan mengenakannya dengan tergesa. “Pak… sudah?” tanya Lastri kecewa, bibirnya mengerucut manja. Pak Lurah terkekeh pendek sambil mengancingkan bajunya. “Maaf, Lastri. Bapak harus pergi. Bahaya kalau sampai ada yang lihat.” Tanpa menunggu jawaban, lelaki itu segera keluar dari warung. Lastri mendesah panjang. Tubuhnya masih terasa hangat, tetapi ada rasa menggantung yang membuat dadanya kesal. Ia merebahkan diri sejenak dalam keadaan setengah telanjang, mencoba menenangkan debar di tubuhnya. Namun ia tak sadar… Dari celah anyaman bambu warung itu, sepasang mata tengah memperhatikan sejak tadi. Ali Anggara. Rahang lelaki muda itu mengeras. Tangannya mengepal kuat hingga uratnya menonjol. Dadanya terasa terbakar melihat perempuan yang ia cintai justru berada dalam pelukan ayah kandungnya sendiri. Tatapan Ali penuh amarah… sekaligus cemburu yang menyesakkan. Setelah suara mesin sepeda motor Pak Lurah benar-benar menghilang di kejauhan, suasana warung kembali sunyi. Hanya suara napas Lastri yang masih belum teratur memenuhi ruangan sempit itu. Tiba-tiba… Brak! Pintu warung terbuka kasar. “Ah—Mas Ali?!” Lastri tersentak kaget. Matanya membelalak saat melihat Ali berdiri di ambang pintu dengan wajah tegang dan rahang mengeras. Perempuan itu spontan bangkit dari ranjang bambu, buru-buru menarik kain untuk menutupi bagian dadanya yang terbuka. Namun Ali justru melangkah masuk tanpa berkata apa-apa. Tatapannya tajam menusuk wajah Lastri, penuh luka dan amarah yang bercampur jadi satu. Klik. Pintu warung dikuncinya dari dalam. Deg! Jantung Lastri berdebar keras. “Tega sekali kamu, Lastri…” suara Ali terdengar berat dan bergetar, seolah ia sedang menahan sesuatu yang meledak di dalam dadanya. Lastri menelan ludah gugup. “Mas Ali… dengarkan dulu—” “Aku lihat semuanya.” Ali memotong cepat. Napasnya memburu. “Aku lihat kamu sama bapakku di sini…” Ucapan itu membuat wajah Lastri pucat seketika. Ali tertawa miris sambil menggeleng pelan. “Aku pikir… selama ini kamu perempuan baik-baik. Aku pikir kamu berbeda.” Tatapannya turun sesaat pada bahu Lastri yang masih terbuka, lalu kembali menatap matanya dalam-dalam. “Tapi ternyata aku bodoh.” “Bukan begitu…” suara Lastri melemah. Ali melangkah semakin dekat hingga Lastri mundur pelan dan punggungnya membentur dinding bambu warung. Jarak mereka kini begitu dekat sampai Lastri bisa merasakan napas panas lelaki itu di wajahnya. “Aku mencintaimu, Lastri…” bisik Ali lirih namun penuh tekanan. “Dan yang kulihat barusan justru kamu bersama ayahku sendiri.” Kalimat itu menghantam dada Lastri lebih keras daripada bentakan apa pun. Perempuan itu menunduk, jemarinya gemetar mencengkeram kain penutup tubuhnya. Untuk pertama kalinya sejak tadi, ia melihat luka yang begitu nyata di mata Ali—luka karena cemburu, kecewa, dan cinta yang hancur dalam waktu bersamaan. "Apa yang dijanjikan bapakku sampai kamu rela menyerahkan dirimu pada laki-laki tua itu, hah?” suara Ali bergetar penuh emosi. Ia melangkah semakin dekat. Tatapannya tajam, penuh amarah sekaligus rasa sakit yang sulit disembunyikan. Lastri mundur perlahan hingga punggungnya kembali menyentuh dinding bambu warung. Jemarinya mencengkeram kain yang menutupi tubuhnya erat-erat. “Maafin aku, Mas Ali… aku cuma…” suaranya tercekat. Kalimat itu menggantung di tenggorokan. Ia ingin jujur. Ingin mengatakan bahwa Pak Lurah berjanji warung kecil miliknya tidak akan digusur asal ia mau menuruti keinginan lelaki itu. Tapi melihat sorot mata Ali yang dipenuhi kemarahan, bibir Lastri justru membeku. “Cuma apa?” Ali menekan. “Butuh uang? Butuh perlindungan? Atau…” ia tertawa pahit, “…butuh dipuaskan?” Lastri menitikkan air mata. “Mas Ali, jangan begitu…” “Aku bisa melakukannya jauh lebih baik daripada dia!” bentak Ali, emosinya meledak. “Aku lebih muda! Aku lebih kuat! Aku bahkan bisa membuatmu melupakan sentuhan bapakku!” Ucapan itu membuat Lastri menunduk semakin dalam. Air matanya jatuh satu per satu membasahi pipinya. Rasa malu, bersalah, dan penyesalan bercampur jadi satu di dadanya. Ali menatap perempuan itu lekat-lekat. Dadanya naik turun menahan gejolak emosi. Ia membenci apa yang baru saja dilihatnya… tetapi di saat yang sama, rasa cintanya pada Lastri justru membuat amarah itu semakin menyakitkan. Perlahan, Ali meraih kain yang menutupi tubuh Lastri. “Mas…” Lastri terkejut, refleks menahan kain itu. Namun Ali menggenggam pergelangan tangannya pelan, menurunkannya. Tatapannya berubah lebih dalam—bukan hanya marah, tetapi juga dipenuhi hasrat dan luka hati. “Aku ingin tahu…” bisiknya serak. “Apa dia benar-benar bisa membuatmu bahagia?” Lastri memejamkan mata. Tubuhnya gemetar saat Ali menarik kain itu perlahan hingga terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai tanah. Ruangan sempit itu mendadak terasa semakin panas. Ali menatap Lastri beberapa detik tanpa berkedip, seolah berusaha menahan dirinya sendiri. Jemarinya bergerak pelan menyentuh bahu perempuan itu, membuat Lastri menggigit bibir menahan debar yang tiba-tiba kacau. “Aku mencintaimu, Lastri…” suara Ali melemah. “Dan justru itu yang membuat aku sakit melihatmu bersama dia.”Mau tak mau, Ali akhirnya menuruti permintaan ibunya. Bukan karena ia takut pada Subrata. Tetapi karena ia terlalu menyayangi Ratih hingga tak sanggup lagi melihat perempuan itu menangis karenanya.Setelah percakapan itu selesai, Ali masuk ke kamarnya dengan langkah berat. Ruangan yang biasanya terasa nyaman mendadak terasa sempit dan menyesakkan. Ia membuka lemari lalu mulai memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas ransel hitam miliknya. Di atas meja belajar, map berisi berkas-berkas pendaftaran tes kedinasan sudah tersusun rapi.Semua sudah dipersiapkan oleh Subrata. Tempat pelatihan, penginapan di Jakarta, hingga koneksi orang-orang yang akan membantu Ali selama proses tes. Ali hanya tinggal menjalani semuanya, seperti jalan hidup yang sejak awal sudah ditentukan untuknya.Rencananya, Ali akan satu bulan di Jakarta, namun jika ia lolos tes maka dia akan bekerja di sana. Artinya, ia akan jauh dari desa dan jauh dari Lastri. Pikiran itu membuat tangan Ali terhenti sesaat saat melipat
"Ibu..." suara Ali melemah, penuh rasa bersalah.Ali berjalan mendekati Ratih, namun Ratih hanya mundur satu langkah. Air matanya jatuh tanpa suara, membasahi pipi yang mulai dipenuhi garis-garis usia. Tatapan perempuan itu berpindah perlahan dari Ali… lalu kepada Subrata yang masih berdiri dengan wajah keras penuh amarah.Ali memberanikan diri melangkah mendekati ibunya.“Ibu, dengar dulu”Namun Ratih justru membalikkan badan.Perempuan paruh baya itu berjalan cepat menuju kamar tanpa mengatakan apa pun. Bahunya bergetar pelan menahan tangis yang sejak tadi ia tahan di depan suami dan anaknya.“Ibu, tunggu!” Ali segera mengejar dari belakang. “Maafin Ali, Bu…”Tetapi Ratih seolah tak mendengar. Ia masuk ke kamar dengan langkah tergesa, lalu menutup pintu kamar cukup keras.Brak!Ali berhenti di depan pintu dengan napas memburu. Dadanya terasa sesak melihat keadaan ibunya. Seumur hidup, Ratih memang sudah terlalu sering disakiti oleh Subrata. Jabatan, uang, dan kuasa membuat lelaki it
Ali terdiam. Rahangnya mengeras, sementara pikirannya berputar kacau mencari jawaban yang terdengar masuk akal tentang alasan dirinya menginap di warung Lastri. Namun semakin ia mencoba menyusun kebohongan, semakin dadanya terasa sesak. Ali akhirnya sadar bahwa semua itu akan percuma. Subrata bukan sekadar ayahnya. Lelaki itu adalah orang paling berkuasa di desa, seseorang yang memiliki banyak kaki tangan dan mata-mata di hampir setiap sudut Kalipura. Kalau ayahnya sudah bertanya sejauh ini, berarti kemungkinan besar lelaki itu memang sudah mengetahui sesuatu. Bahkan mungkin bukan hanya melihat dirinya keluar dari warung Lastri saat Subuh tadi. Melainkan juga mengetahui apa yang terjadi di dalamnya. Ali mengangkat wajahnya perlahan, berusaha mengumpulkan keberanian yang sejak tadi terasa menciut di dalam dada. “Iya,” jawabnya akhirnya. Suaranya terdengar lebih mantap dari yang ia kira. “Aku menginap di warung Lastri.” Untuk pertama kalinya, Ali berani menatap langsung ke
Ali mendekat perlahan, memberi waktu bagi Lastri untuk menikmati setiap sentuhan dan debar yang memenuhi tubuhnya. Jemari lelaki itu menggenggam tangan Lastri erat, seolah menenangkan kegugupan yang sama-sama mereka rasakan. “Kamu siap…?” bisik Ali dengan suara serak yang lembut. Lastri membuka mata dan mendapati tatapan lelaki itu begitu penuh perasaan hingga membuat hatinya sesak sendiri. Lastri akhirnya mengangguk. "Iya... Mas Ali..." Ali perlahan memasukan miliknya ke dalam inti tubuh Lastri. Memberikan sensasi rasa nikmat tiada tara bagi keduanya. Pinggul Lastri bergerak, bergoyang seirama dengan Ali. menciptakan bunyi derit ranjang bambu yang menjadi saksi malam panas mereka berdua. Saat keduanya akhirnya larut dalam kedekatan yang tak lagi mampu dibendung, Lastri spontan memejamkan mata sambil menahan napas. Ada getaran hangat yang perlahan menjalari tubuhnya, membuat jemarinya tanpa sadar mencengkeram bahu Ali. “Ah… Mas Ali… Ahh... aku mencintaimu..." Desahan i






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.