ホーム / Romansa / Janji Mas Ali / 3. Semalaman tak pulang

共有

3. Semalaman tak pulang

作者: Rinda
last update 公開日: 2026-05-17 15:22:26

Ali mendekat perlahan, memberi waktu bagi Lastri untuk menikmati setiap sentuhan dan debar yang memenuhi tubuhnya. Jemari lelaki itu menggenggam tangan Lastri erat, seolah menenangkan kegugupan yang sama-sama mereka rasakan.

“Kamu siap…?” bisik Ali dengan suara serak yang lembut.

Lastri membuka mata dan mendapati tatapan lelaki itu begitu penuh perasaan hingga membuat hatinya sesak sendiri. Lastri akhirnya mengangguk.

"Iya... Mas Ali..."

Ali perlahan memasukan miliknya ke dalam inti tubuh Lastri. Memberikan sensasi rasa nikmat tiada tara bagi keduanya.

Pinggul Lastri bergerak, bergoyang seirama dengan Ali. menciptakan bunyi derit ranjang bambu yang menjadi saksi malam panas mereka berdua.

Saat keduanya akhirnya larut dalam kedekatan yang tak lagi mampu dibendung, Lastri spontan memejamkan mata sambil menahan napas. Ada getaran hangat yang perlahan menjalari tubuhnya, membuat jemarinya tanpa sadar mencengkeram bahu Ali.

“Ah… Mas Ali… Ahh... aku mencintaimu..."

Desahan itu keluar begitu saja. Bukan hanya karena gairah, tetapi karena cara Ali memperlakukannya membuat Lastri merasa dicintai, dihargai, dan diinginkan sepenuh hati.

Setelah gejolak di antara mereka perlahan mereda, suasana warung bambu itu berubah menjadi begitu tenang.

Hanya suara jangkrik malam dan napas mereka yang masih belum sepenuhnya teratur terdengar samar di tengah dinginnya angin desa.

Ali tetap memeluk Lastri erat di atas ranjang bambu sederhana itu. Dada bidang lelaki muda itu menjadi sandaran hangat bagi tubuh Lastri yang sejak tadi menggigil pelan.

Tak ada tergesa-gesa. Tak ada sikap dingin setelah semuanya selesai.

Ali justru menarik kain tipis dan menyelimuti tubuh Lastri dengan hati-hati, seolah takut perempuan itu kedinginan.

Lastri menatap wajah Ali diam-diam. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasakan ketenangan yang aneh di dada. Perasaan aman yang perlahan membuat matanya menghangat.

“Mas… nggak pulang?” tanyanya lirih.

Ali menggeleng pelan sambil mengusap rambut Lastri yang berantakan.

“Aku mau nemenin kamu sampai pagi,” jawabnya tulus.

Kalimat sederhana itu membuat hati Lastri terasa penuh sekaligus hangat. Ia tak pernah menyangka lelaki yang selama ini diam-diam memperhatikannya bisa memberinya perhatian sekecil itu, hal yang justru terasa begitu berharga bagi perempuan yang terbiasa menghadapi semuanya sendirian.

Lastri menyandarkan kepalanya di dada Ali. Jemarinya memainkan ujung kain tipis yang menutupi tubuhnya sambil mendengarkan detak jantung Ali yang tenang.

Malam terus berjalan. Mereka berbincang pelan tentang banyak hal—tentang hidup Lastri yang keras setelah tahu mantan suaminya meninggalkan banyak utang yang harus Lastrj bayar dan tentang Ali yang selalu diam-diam memperhatikan perempuan itu sejak lama. Mereka juga membahsa tentang ketakutan mereka akan apa yang mungkin terjadi jika hubungan mereka sampai diketahui oleh Pak Lurah, ayah Ali.

Hingga tanpa sadar, langit yang awalnya gelap mulai berubah pucat. Suara ayam jantan mulai terdengar bersahutan dari kejauhan.

Tak lama kemudian, lantunan azan Subuh menggema dari surau kecil di ujung desa, memecah sunyi malam yang sejak tadi menyelimuti mereka.

Ali mengembuskan napas panjang sebelum perlahan bangkit dari ranjang bambu.

“Aku harus pulang sebelum Bapak sadar aku nggak ada di rumah,” ucapnya pelan.

Lastri ikut bangun dan meraih tangan Ali seolah enggan melepasnya pergi. Tatapan mereka bertemu beberapa saat dalam diam. Ali lalu mengecup kening Lastri lembut sebelum melangkah menuju pintu warung.

Ali melangkah pelan melewati halaman rumahnya yang masih gelap. Embun pagi terasa dingin di kulit, sementara suara azan Subuh masih samar terdengar dari kejauhan.

Ia menarik napas panjang sebelum membuka pintu rumah perlahan, berharap semua orang masih terlelap dan tak menyadari dirinya semalaman tidak pulang.

Krek…

Pintu rumah berbahan kayu jati berukir itu terbuka pelan, menimbulkan bunyi berderit kecil di tengah sunyi menjelang Subuh. Ali melangkah hati-hati, berharap bisa masuk ke kamar tanpa menarik perhatian siapa pun..

Namun harapan itu langsung hancur.

“Bagus…” Suara berat penuh tekanan tiba-tiba terdengar dari ruang tengah.

“…jam segini baru ingat pulang.”

Tubuh Ali seketika menegang.

Di kursi ruang tamu, Pak Lurah Subrata duduk bersandar dengan wajah gelap dan tatapan tajam yang langsung menusuk ke arah putranya. Lelaki paruh baya itu tampak belum tidur sama sekali. Sebatang rokok di tangannya tinggal separuh, asapnya memenuhi ruangan dan membuat suasana terasa semakin sesak.

Sorot matanya dingin dan mengintimidasi. Tatapan yang sejak kecil selalu membuat Ali merasa kecil dan salah.

“Semalaman kamu nggak pulang,” ucap Subrata lagi, suaranya rendah namun justru lebih menakutkan. “Dari mana saja kamu?”

Ali menelan ludah pelan. Telapak tangannya terasa dingin. Sejak kecil, ayahnya memang tak pernah perlu berteriak untuk membuatnya takut. Cara lelaki itu menatap saja sudah cukup membuat nyali orang menciut.

“Aku…” Ali mencoba menjaga suaranya tetap stabil. “Aku dari rumah Devan. Ketiduran… terus nginap di sana.”

Subrata memiringkan bibirnya tipis. Kumis tebalnya tampak terangkat sebelah, membentuk senyum meremehkan yang sangat dikenali Ali. Senyum yang selalu muncul setiap kali ayahnya menganggap dirinya lemah atau tidak berguna.

“Bohong.”

Satu kata itu menghantam ruangan seperti cambuk.

Ali refleks mengepalkan tangan.

Jantungnya berdetak keras, tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda di dalam dirinya. Ketakutan itu masih ada… namun bercampur dengan bara pemberontakan yang sejak tadi malam terus tumbuh di dadanya.

Orang Bapak lihat kamu keluar dari warungnya Lastri…” suaranya rendah, namun justru terdengar jauh lebih mengancam.

Ali langsung menegang.

Jantungnya seperti berhenti berdetak sesaat.

Dan sebelum Ali sempat membuka mulut, Subrata kembali melangkah mendekat sambil menatap putranya penuh tekanan.

“Kamu…” rahangnya mengeras. “Menginap di sana?”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Janji Mas Ali   12. Juragan Karta

    "Angga, habis ini kamu ada rencana ke mana?" tanya Nadine saat jam belajar usai. Langkahnya dipercepat demi bisa menyusul langkah Angga."Nggak ada. Paling balik ke kos, terus tidur," jawab Ali santai.Nadine langsung menghentikan langkahnya. Matanya membulat tak percaya. "Hah? Serius?"Ali menoleh heran. "Kenapa?""Ya ampun, Angga! Kamu lagi di Jakarta, lho. Kota sebesar ini, tapi habis kelas malah milih tidur di kos?"Ali terkekeh pelan. "Terus aku harus ngapain? Buatku nggak ada yang terlalu menarik."Ia kembali melangkah menuju gerbang gedung. Nadine buru-buru menyusul. Langkah Ali yang panjang membuat perempuan itu harus berjalan lebih cepat agar tidak tertinggal."Minimal kita nongkrong, lah. Di dekat sini ada kafe baru yang lagi ramai. Tempatnya enak buat santai."Ali menggeleng. "Kafe? Aku belum pernah ke kafe."Nadine menatapnya dengan ekspresi tak percaya."Jangan bercanda. Masa belum pernah?""Beneran.""Terus kamu kalau mau ngopi di mana?""Di warung kopi."Jawaban itu mem

  • Janji Mas Ali   11. Nadine

    Udara pagi yang dingin menusuk kulit membuat Lastri terbangun bahkan sebelum fajar benar-benar menyingsing. Dari kejauhan, suara ayam jantan bersahut-sahutan memecah sunyi, menandai dimulainya hari baru. Sebagai perempuan yang terbiasa bekerja keras, Lastri memang selalu bangun sebelum matahari menampakkan sinarnya.Ting...Bunyi notifikasi dari ponselnya memecah lamunannya. Dengan sedikit heran, Lastri segera meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal.Senyum tipis langsung merekah di bibirnya.Pesan itu berasal dari Ali.[Lastri, aku sedang dalam perjalanan menuju stasiun. Jaga dirimu baik-baik, ya. Aku mencintaimu.]Dada Lastri seketika menghangat. Berkali-kali ia membaca pesan singkat itu, seolah tak ingin melewatkan satu kata pun yang ditulis oleh lelaki pujaan hatinya.Jemarinya kemudian bergerak membalas.[Aku akan selalu menjaga diri untukmu, Mas Ali. Semoga perjalananmu lancar dan kamu selalu baik-baik di kota.]Setelah menekan tombol kirim, Lastri kembali menatap layar

  • Janji Mas Ali   10. Akankah Ali menepati janjinya?

    Lastri tertegun. Matanya membelalak saat melihat sosok yang berdiri di balik pintu."Mas Ali...?"Dadanya seolah berhenti berdetak sesaat. Lelaki yang sejak tadi ia tunggu akhirnya benar-benar datang."Lastri... maafkan aku. Aku datang terlambat," ucap Ali dengan napas yang masih memburu. Wajahnya dipenuhi rasa bersalah.Lastri menatapnya lekat. Sudut matanya mulai memanas, menahan air mata yang nyaris tumpah."Mas Ali... aku pikir... Mas tidak akan datang lagi," bisiknya lirih. Ada kelegaan dalam suaranya, tetapi juga sisa keputusasaan yang belum sepenuhnya hilang.Ali menggeleng pelan."Bapak mengawasi aku dengan sangat ketat. Bahkan beliau menyuruh beberapa pegawai berjaga di depan kamarku supaya aku tidak bisa keluar."Lastri mengerutkan kening."Lalu... bagaimana Mas bisa sampai ke sini?"Ali tersenyum tipis, meski napasnya masih belum benar-benar teratur."Aku melompat dari jendela kamarku."Mata Lastri membulat."Mas... melompat dari jendela?"Ali mengangguk mantap."Iya. Aku t

  • Janji Mas Ali   9. Kedatangan Ratih

    "Bu Ratih...?" bisik Lastri lirih. Matanya membulat, wajahnya seketika pucat. Ia sama sekali tak menyangka orang yang datang bukanlah Ali, lelaki yang sejak tadi ia tunggu. Justru Ratih, perempuan yang paling ingin ia hindari.Ratih berdiri tegak di hadapannya. Tatapannya dingin dan tajam, menyapu tubuh Lastri dari ujung kepala hingga kaki, seolah sedang menilai sesuatu yang menjijikkan. Sorot mata itu membuat jantung Lastri berdegup semakin kencang dan tubuhnya gemetar. "Sepertinya... kamu sedang menunggu seseorang?" ujar Ratih pelan. Nada bicaranya terdengar tenang, tetapi setiap katanya dipenuhi sindiran yang menusuk. Lastri memilih diam. Bibirnya terasa kelu, sementara kepalanya semakin tertunduk. Ia tahu betul alasan Ratih begitu membencinya. Bagaimanapun juga, suami dan anak lelaki Ratih sama-sama menaruh hati kepadanya. Perempuan mana yang bisa menerima kenyataan sekejam itu? "Suamiku... atau putraku?" tanya Ratih lagi. Tatapannya semakin tajam, seolah ingin menembus perta

  • Janji Mas Ali   8. Menunggu kedatangan Ali

    "Dari mana?" Suara dingin Subrata menghentikan langkah Ali yang baru saja mengendap-endap memasuki rumah. Pria itu berdiri di ruang tengah dengan sorot mata tajam, seolah sudah menunggu kepulangannya sejak tadi. Ali mengembuskan napas pelan. Rasa lelah bercampur kesal membuatnya tak lagi ingin berbasa-basi. "Apa peduli Bapak?" balasnya datar. "Aku sudah menuruti perintah Bapak untuk pergi ke Jakarta. Apa itu masih belum cukup?" Nada suaranya terdengar tenang, tetapi menyimpan perlawanan yang selama ini ia pendam. Ali berdiri di hadapan ayahnya tanpa sedikit pun memperlihatkan rasa gentar. Rahang Subrata mengeras. "Kamu habis menemui janda itu lagi?" geramnya. Ali menatap ayahnya lurus. "Kenapa? Karena Bapak sendiri juga menginginkannya?" Ucapan itu menghantam Subrata seperti tamparan keras. "Lancang sekali ucapanmu, Ali!" bentaknya. "Bapak hanya ingin yang terbaik untukmu! Bapak ingin kamu mendapatkan perempuan yang terhormat dan setara, bukan janda kampung seperti Lastri!" Dad

  • Janji Mas Ali   7. Janji Ali

    "Satu bulan?" suara Lastri nyaris hanya berupa bisikan. Wajahnya mendongak, menatap Ali, seolah berharap pemuda itu berkata bahwa semua ini hanyalah gurauan.Ali mengangguk pelan. Ada sorot tak berdaya di matanya. "Bisa jadi lebih lama... kalau aku lolos tes."Kalimat itu membuat dada Lastri terasa sesak. Satu bulan saja sudah terdengar begitu panjang, apalagi jika ternyata harus lebih lama lagi."Lalu... bagaimana denganku, Mas?" tanyanya lirih. Ada ketakutan yang tak mampu lagi ia sembunyikan.Ali meraih kedua tangan Lastri, menggenggamnya erat seolah ingin menyalurkan keyakinan yang bahkan ia sendiri sedang berusaha kumpulkan."Kamu... mau kan menjaga diri demi aku?" ucapnya penuh harap. "Aku janji, begitu urusan tes kedinasan selesai, aku akan segera kembali. Kalau aku berhasil lolos, aku akan menjemputmu. Kita akan tinggal bersama di Jakarta."Lastri menundukkan kepala. Kata-kata itu terdengar begitu indah, seperti mimpi yang selama ini tak pernah berani ia bayangkan. Namun, di b

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status