LOGINMalam semakin larut tanpa terasa. Hujan rintik yang sempat terdengar di luar jendela kini telah berhenti. Udara dingin menyusup perlahan ke dalam kamar, membuat Leo tanpa sadar menarik selimut lebih rapat. Tubuhnya akhirnya benar-benar terlelap, tenggelam dalam tidur yang tidak terlalu nyenyak.Namun sekitar pukul dua dini hari, Leo terbangun.Matanya terbuka perlahan, kepalanya masih terasa berat. Ia refleks menoleh ke samping, mencari keberadaan istrinya. Tetapi, Dinda tidak ada di sampingnya."Dinda?" gumamnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar.Tidak ada jawaban. Leo menghela napas kecil, mencoba berpikir positif. "Pasti ke kamar mandi," bisiknya pada diri sendiri.Ia memejamkan mata lagi sesaat, tapi rasa haus tiba-tiba menyerang. Tenggorokannya terasa kering. Akhirnya Leo bangkit perlahan dari kasur, berusaha tidak menimbulkan suara. Kakinya melangkah keluar kamar menuju dapur, menyalakan lampu kecil, lalu menuang air minum.Sambil minum, pikirannya masih setengah mengantuk. "
Dinda tertawa kecil, menepuk pelan lengan Leo. "Mas ini bisa aja ih....""Kenapa?" Leo tersenyum lebar. "Aku serius, Sayang. Aku siap bikin jalan buat si dedek, hehe....""Iya, iya," jawab Dinda sambil menggeleng. "Yang penting kita sama-sama sehat, Mas."Percakapan mereka terdengar ringan, nyaris tanpa beban. Keduanya sama-sama tertawa kecil, seolah semua kecemasan yang sempat muncul sepanjang hari tidak pernah ada. Namun mereka tidak menyadari satu hal, ada sepasang telinga lain yang mendengar percakapan itu.Dari arah dapur, Sindi muncul sambil membawa piring. Senyum di wajahnya terlihat nakal ketika ia melirik ke arah Leo dan Dinda.“Wah," ucap Sindi sambil mendekat. "Aku nggak sengaja dengar obrolannya."Dinda langsung menoleh. "Sindi!""Apa?" Sindi tertawa kecil. "Mbak Dinda sama Mas Leo santai banget bahasnya, hehe."Leo ikut tersenyum kaku. "Kamu denger dari mana?""Ya dari sana," jawab Sindi sambil menunjuk dapur. "Kupikir obrolannya serius, ternyata…" ia menggantung kalimatn
Ayu mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Apa Mbak Dinda bilang apa-apa?""Dia bilang sudah hubungi dokter. Katanya mau periksa kehamilan," jawab Leo. "Tapi aku nggak tahu siapa dokter itu. Kenapa yang datang dokternya cowok?"Ayu menghela napas. "Pak Leo, aku ngerti kekhawatiran Bapak. Tapi jangan langsung mengarah ke hal buruk."Leo tertawa kecil, pahit. "Aku juga berharap pikiranku salah."Ayu menatap Leo dengan sorot lembut. "Pak… Bapak sendiri lagi capek secara mental. Banyak tekanan. Wajar kalau jadi sensitif."Leo terdiam. "Mungkin."Ayu lalu bertanya pelan, "Terus… soal Rendi?"Leo menegakkan tubuhnya. "Aku masih nunggu kamu cari tahu."Ayu mengangguk. "Aku belum hubungi dia. Aku mau pilih waktu yang tepat. Jangan sampai terkesan mencurigakan.""Terima kasih," ucap Leo tulus.Ayu tersenyum tipis. "Aku cuma nggak mau Pak Leo terus tersiksa sama pikiran sendiri."Leo menatap Ayu cukup lama. Ada perasaan aneh yang muncul, perasaan dimengerti. Sesuatu yang belakangan ini jarang i
Leo pamit dari rumah dengan senyum yang ia paksakan. Dinda mengantarnya sampai ke pintu, seperti biasa lembut, penuh perhatian. Sindi berdiri tak jauh, ikut menyalami Leo dengan sikap yang terlihat wajar. Tidak ada yang aneh secara kasat mata. Namun justru itulah yang membuat hati Leo tidak benar-benar tenang."Mas hati-hati di jalan," ucap Dinda sambil merapikan kerah kemeja Leo."Iya, Sayang," jawab Leo pelan. Tangannya sempat menyentuh tangan Dinda, lalu ia melangkah keluar.Sebelum benar-benar pergi, Leo melirik ke arah Sindi. Tatapan mereka bertemu sesaat. Tidak ada kata-kata, hanya pemahaman diam-diam. Leo percaya, jika memang ada sesuatu yang tidak beres, Sindi akan memberitahunya. Kepercayaan itu satu-satunya pegangan Leo saat ini.Mobil melaju meninggalkan rumah. Begitu gerbang tertutup, wajah Leo berubah. Senyum yang tadi dipaksakan menghilang. Ia menghela napas panjang."Kenapa rasanya semua jadi rumit begini…" gumamnya sendiri.Sepanjang perjalanan ke kantor, nama itu teru
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah dari luar kamar. Pintu terbuka perlahan, dan Dinda masuk dengan senyum kecil di wajahnya. Tangannya memegang cangkir."Mas sudah bangun?" tanya Dinda lembut.Leo menoleh, berusaha menampilkan wajah biasa. "Iya, Sayang."Dinda mendekat, meletakkan cangkir di meja kecil. "Aku bikin susu hangat Mas. Diminum yah mumpung masih hangat."Leo mengangguk. "Iya, Sayang. Makasih...."Dinda duduk di sisi ranjang. "Mas kelihatan kurang bugar. Tidurnya nggak nyenyak ya?"Pertanyaan itu membuat Leo menelan ludah. Ia menatap wajah istrinya, wajah yang terlihat tulus, sedikit pucat karena kehamilan, namun tetap hangat seperti biasa."Lumayan tidur sih," jawab Leo singkat. "Kepikiran kerjaan aja.""Oh...." Dinda mengangguk pelan. "Jangan terlalu dipikirin. Kesehatan Mas juga penting."Leo mengiyakan, meski pikirannya melayang ke arah lain. Ia ingin bertanya. Ingin langsung menembakkan satu nama itu. "Rendi"Namun lidahnya terasa berat. Ia takut dengan jawabann
"Mas, kenapa sih?" tanya Dinda sambil menatap wajah suaminya. "Kok diam aja?"Leo tersentak dari lamunannya. Ia baru sadar bahwa tangannya masih menggenggam gagang pintu, dan matanya, tanpa sengaja sempat tertuju ke arah Sindi. Detik itu juga dadanya menghangat oleh rasa bersalah."Nggak apa-apa," jawab Leo cepat, berusaha tersenyum. "Sindi kayaknya mau begadang."Dinda mengerling, seolah mencoba membaca raut wajah Leo. Namun kemudian ia menghela napas kecil dan mendekat. "Ya sudah biarin lah, Mas. Ayo kita tidur aja. Dari tadi aku nungguin."Leo mengangguk. Ia melangkah ke dalam kamar, mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur dengan cahaya temaram. Saat ia berbaring, Dinda langsung mendekat dan menyelipkan tubuhnya ke dalam pelukan Leo, seperti kebiasaannya."Mas... Peluk aku," pinta Dinda manja, suaranya lirih. "Aku mau tidurnya di peluk."Leo terdiam sejenak, lalu mengangkat lengannya dan memeluk Dinda. Tubuh istrinya terasa hangat, familiar, dan seharusnya menenangkan. Namun







