INICIAR SESIÓNJuned mengembuskan napas berat dari hidungnya, menatap layar ponsel itu dengan tatapan jengkel yang tak lagi bisa disembunyikan. Ibu jarinya bergerak dengan ketukan kasar di atas papan ketik virtual, mengetikkan balasan singkat tanpa basa-basi: Yaudah, Mas kirim sekarang.Tanpa menunggu balasan dari istrinya, Juned langsung menutup ruang obrolan WhatsApp dan beralih membuka aplikasi m-banking di gawainya. Setelah memasukkan kode akses, jarinya dengan cepat menekan menu transfer, memasukkan nominal sepuluh juta rupiah, dan menekan tombol konfirmasi hingga layar menampilkan resi transaksi sukses. Juned segera mengambil tangkapan layar bukti transfer tersebut, lalu mengirimkannya kembali ke nomor Desi.Tak butuh waktu lama bagi status pesan itu untuk berubah menjadi centang biru ganda, disusul sebuah balasan pendek dari seberang sana: Makasih banyak ya, Mas.Juned hanya melirik sekilas tanpa berniat membalasnya lagi. Ia melempar ponsel itu ke atas meja kerja dengan posisi tertelungkup, l
Tak berapa lama, sedan hitam milik Juned melambat dan berbelok masuk ke area parkir sebuah rumah makan. Tempat itu memang bertuliskan "Warteg" dengan papan nama yang cukup besar, namun tampilan bangunannya sangat mencolok karena terlihat cukup mewah, dan sangat bersih dengan dinding kaca transparan."Lho, Pak? Katanya tadi mau ngajak ke warteg?" tanya Caca sembari menoleh ke arah Juned yang sedang mematikan mesin mobil.Juned terkekeh pelan melihat ekspresi kebingungan di wajah asisten pribadinya itu. Ia melepaskan sabuk pengamannya, lalu menunjuk tepat pada papan nama yang terpasang di atas pintu masuk utama. "Lah, itu tulisan di depannya apa? Coba kamu baca sendiri yang jelas, Ca," ucap Juned dengan nada meledek.Caca memperhatikan tulisan tersebut sekali lagi, lalu menutup mulutnya yang sedikit terbuka karena takjub. "Oh iya, ya... kok ada ya warteg semewah dan sebersih ini, Pak? Modern banget," ucap Caca dengan nada suara yang berangsur takjub."Yaa namanya juga perkembangan zaman
"Oh iya, Bu Fitri, kenalin... ini asisten pribadi baru saya di kantor, namanya Caca," ucap Juned memperkenalkan Caca dengan nada suara yang lugas dan profesional.Seketika itu juga, ekspresi wajah Fitri yang tadinya tampak begitu manis dan menggoda langsung berubah sedikit kaku. Guratan kecewa tipis sempat terlintas di keningnya sebelum ia buru-buru menguasai diri. Ia menjabat tangan Caca dengan sangat singkat sembari memaksakan sebuah senyuman formal di bibirnya."Caca, Bu," ucap Caca mengenalkan diri dengan nada suara yang sengaja dibuat datar, tanpa ada riak kemanjaan seperti biasanya.Tepat di saat kecanggungan itu mulai terasa pekat, seorang asisten wanita yang berdiri di belakang Fitri melangkah maju. Ia membungkuk sedikit lalu berbisik pelan di dekat telinga Fitri, mengabarkan bahwa ruang rapat utama di lantai atas sudah siap sepenuhnya untuk digunakan. "Baik kalau begitu, Pak Juned dan juga... Caca, silakan lewat sini. Kita langsung menuju ke ruang rapat saja agar bisa menghe
"Eh, Na... ngagetin aja kamu," ucap Juned dengan nada suara yang sedikit gagap. Jempolnya dengan cekatan langsung mengetuk layar ponsel, menutup paksa gambar sekali lihat dari Caca hingga layarnya kembali ke halaman utama ruang obrolan."Lagi WA-an sama siapa sih, Ned? Sampai asyik banget nyengir-nyengir sendirian begitu?" tanya Ratna sembari melongokkan kepalanya, mencoba mengintip ke arah benda pipih di tangan Juned. "Ini, biasa... si Caca tadi ngirim gambar meme lucu di grup staf. Tapi aneh, disetelnya cuma sekali kirim doang. Baru aja mau aku save buat bikin status, malah udah gak bisa dibuka lagi," ucap Juned berbohong dengan lancar."Oalah... aku kira ada apa," Ratna mengangguk-angguk percaya tanpa curiga sedikit pun. Pandangannya kemudian berpindah ke arah panci di atas kompor gas yang sejak tadi sudah memunculkan letupan-letupan besar. "Eh, Ned, itu air udah mendidih," ucap Ratna sembari menunjuk panci. "Oh iya, ya. Hampir aja lupa," ucap Juned bergegas merobek bungkus mie i
"Nangis gimana, Nay?"Tak butuh waktu lama, layar ponselnya kembali berkedip menampilkan balasan dari adik iparnya. "Ya nangis gitu, Mas. Tapi aku gak tahu detailnya soalnya pas aku keluar dari kamar mandi tadi sore cuma denger sekilas aja," balas Nayla diakhiri emoji bingung.Juned mengembuskan napas pendek, mencoba meredam gejolak penasaran di dadanya. "Yaudah, tolong kamu pantau terus ya di sana.""Siap, Mas! Tenang aja," jawab Nayla cepat.Juned baru saja hendak meletakkan ponselnya ketika sepasang tangan lembut tiba-tiba melingkar di lehernya dari belakang. Aroma harum sabun dan esens bunga mawar langsung menyeruak, menandakan Ratna telah selesai dengan ritual membersihkan wajahnya. Wanita itu mencondongkan tubuh, menempelkan pipinya yang halus ke pelipis Juned."Mandi yuk, Ned?" bisik Ratna dengan nada suara yang teramat lembut, sembari memberikan tarikan manja pada lengan Juned.Juned menoleh, menatap binar mata Ratna yang tampak begitu memikat di bawah temaram lampu kamar. Ras
"Gimana kerjaan kamu hari ini, Ned? Semua lancar, kan?" tanya Ratna di sela-sela mengunyah makan siangnya, menatap Juned dengan binar mata yang penuh perhatian.Juned menyeka sudut bibirnya dengan tisu setelah menelan makanannya, lalu mengangguk kecil. "Lancar kok, Na. Alhamdulillah, aku juga udah mulai terbiasa sama ritme kerja dan alur dokumen di meja eksekutif sekarang," jawab Juned dengan nada suara baritonnya yang terdengar tenang.Ratna tersenyum tipis, meletakkan pisau dan garpunya sejenak di tepi piring porselen. "Baguslah kalau gitu. Apalagi dengan adanya Caca nanti yang resmi jadi asisten pribadi kamu, itu pasti bakal ngebantu banget meringankan beban tugas lapanganmu nantinya," ucap Ratna sembari membetulkan posisi duduknya menjadi lebih tegap. "Karena kan gak mungkin selamanya si Sinta yang terus-terusan bantu kamu di divisi itu. Kasihan juga dia kalau harus turun jabatan cuma buat jadi asisten pribadi kamu, kan?" "Iya juga sih, Na, apa kata kamu. Sinta emang posisinya ha







