Share

Singgah Melepas Rindu

Author: NomNom69
last update publish date: 2026-02-28 03:04:27

Juned memacu mobilnya membelah kemacetan kota dengan satu tangan di setir, sementara tangan lainnya sesekali mengusap dahi yang masih agak berkeringat. "Di mana belinya, Des? Kamu tahu kan tempatnya?" tanya Juned sambil melirik Desi yang sedang asyik bercermin di sun visor.

Desi mengangguk kecil sambil merapikan lipstiknya. "Tahu Mas, lurus aja nanti di depan ada pertigaan belok kiri, nanti ku kasih tahu jalannya," ucap Desi dengan nada yang sudah jauh lebih manis dari sebelumnya.

Tak butuh
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Malam Hangat

    "Nangis gimana, Nay?"Tak butuh waktu lama, layar ponselnya kembali berkedip menampilkan balasan dari adik iparnya. "Ya nangis gitu, Mas. Tapi aku gak tahu detailnya soalnya pas aku keluar dari kamar mandi tadi sore cuma denger sekilas aja," balas Nayla diakhiri emoji bingung.Juned mengembuskan napas pendek, mencoba meredam gejolak penasaran di dadanya. "Yaudah, tolong kamu pantau terus ya di sana.""Siap, Mas! Tenang aja," jawab Nayla cepat.Juned baru saja hendak meletakkan ponselnya ketika sepasang tangan lembut tiba-tiba melingkar di lehernya dari belakang. Aroma harum sabun dan esens bunga mawar langsung menyeruak, menandakan Ratna telah selesai dengan ritual membersihkan wajahnya. Wanita itu mencondongkan tubuh, menempelkan pipinya yang halus ke pelipis Juned."Mandi yuk, Ned?" bisik Ratna dengan nada suara yang teramat lembut, sembari memberikan tarikan manja pada lengan Juned.Juned menoleh, menatap binar mata Ratna yang tampak begitu memikat di bawah temaram lampu kamar. Ras

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Kerinduan Menanti

    "Gimana kerjaan kamu hari ini, Ned? Semua lancar, kan?" tanya Ratna di sela-sela mengunyah makan siangnya, menatap Juned dengan binar mata yang penuh perhatian.Juned menyeka sudut bibirnya dengan tisu setelah menelan makanannya, lalu mengangguk kecil. "Lancar kok, Na. Alhamdulillah, aku juga udah mulai terbiasa sama ritme kerja dan alur dokumen di meja eksekutif sekarang," jawab Juned dengan nada suara baritonnya yang terdengar tenang.Ratna tersenyum tipis, meletakkan pisau dan garpunya sejenak di tepi piring porselen. "Baguslah kalau gitu. Apalagi dengan adanya Caca nanti yang resmi jadi asisten pribadi kamu, itu pasti bakal ngebantu banget meringankan beban tugas lapanganmu nantinya," ucap Ratna sembari membetulkan posisi duduknya menjadi lebih tegap. "Karena kan gak mungkin selamanya si Sinta yang terus-terusan bantu kamu di divisi itu. Kasihan juga dia kalau harus turun jabatan cuma buat jadi asisten pribadi kamu, kan?" "Iya juga sih, Na, apa kata kamu. Sinta emang posisinya ha

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Memata-matai

    "Ned! Nanti kita makan siang bareng, ya?" ucap Ratna tiba-tiba sembari melongokkan kepalanya ke dalam ruangan Juned, menyunggingkan senyum manis yang seketika memecah ketegangan di wajah pria itu.Juned tersentak kecil, buru-buru menurunkan ponselnya ke atas pangkuan agar tidak memancing kecurigaan. "Oke, siap, Na. Nanti kabari aja kalau kamu udah siap keluar," jawab Juned dengan nada suara baritonnya yang diatur selembut mungkin.Setelah Ratna kembali menutup pintu dan langkah kakinya terdengar menjauh, Juned mengembuskan napas panjang, bersandar lemas pada kursi kerjanya. Pandangannya kembali tertuju pada draf pesan kemarahan yang tadinya siap ia kirimkan kepada Desi.Ia terdiam beberapa saat, menimbang risiko yang ada. "Nantilah. Kasihan dia kalau diajak ribut sekarang, kondisinya kan lagi hamil muda, takutnya malah kenapa-kenapa di sana," gumam batin Juned mencoba menekan ego dan rasa cemburunya demi keselamatan janin tersebut.Juned langsung menghapus draf pesan untuk istrinya, l

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Keputusan Yang Dewasa

    "Terus kamu gimana, Ned? Mau langsung nurutin begitu aja permintaan istrimu ini?" tanya Ratna, meminta kepastian dengan nada suara yang sedikit tertahan.Juned tidak langsung menjawab. "Na, kalau boleh tahu... total bersih pendapatan yang saya terima tiap bulan dari posisiku di kantor sekarang berapa ya?" tanya Juned, mencoba menghitung kalkulasi finansialnya terlebih dahulu.Ratna mengulas senyum tipis, meletakkan kembali ponsel Juned ke atas kasur dengan gerakan anggun. "Kalau untuk sekadar gaji pokok dari posisi eksekutifmu sekarang, kamu dapat lima belas juta per bulan, Ned," jawab Ratna dengan artikulasi yang jelas.Ia menjeda kalimatnya sejenak, lalu mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah Juned sebelum melanjutkan rinciannya. "Tapi itu kan belum termasuk bonus dari setiap proyek yang kamu selesaikan, plus keuntungan bersih dari pembagian aset perusahaan kontraktor baru yang kemarin sudah sah jadi milikmu. Jadi, kalau semuanya berjalan lancar tanpa hambatan, secara kasar kamu

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Tuntutan Tak Masuk Akal

    "Itu dia, Na. Aku juga sampai sekarang masih bingung banget," ucap Juned sembari mengusap wajahnya yang tampak semakin kusut. Ia mengembuskan napas berat, menatap lurus ke dalam manik mata Ratna yang masih membelalak. "Sampai sekarang... aku masih berusaha keras buat tetap percaya sama Desi, walaupun hasil tes medis aku kemarin jelas-jelas bilang begitu."Dengan gerakan lambat yang penuh kelembutan, Ratna menggeser tubuhnya lalu mendekap erat tubuh tegap Juned yang terasa tegang. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Juned, membiarkan kehangatan tubuhnya menyalurkan ketenangan. "Selama kamu memilih buat tetap percaya sama istrimu itu, ya gak apa-apa, Ned. Aku bakal selalu dukung kamu terus di sini," bisik Ratna dengan nada suara yang teramat lembut di dekat telinga Juned.Juned membalas pelukan itu pelan, merasakan sedikit beban di pundaknya terangkat. "Makasih banyak ya, Na," ucap Juned lirih."Sama-sama, Ned," sahut Ratna sembari merenggangkan pelukannya sedikit, lalu menatap wajah June

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Pengakuan Tak Terduga

    "Ayo masuk, Des," ucap Juned sedikit terengah, sembari membantu Desi membawakan tas-tasnya yang tergeletak di bawah kakinya untuk dimasukkan ke bagasi belakang mobil."Makasih ya, Mas," ucap Desi lirih sambil melangkah masuk ke dalam pintu penumpang depan yang sudah dibukakan."Kamu kenapa kok mendadak banget pulang ke desa, Des? Bawa tas mana banyak banget lagi kayak orang mau pindahan. Kamu... kamu udah gak kerja lagi di sana?" tanya Juned bertubi-tubi dengan nada suara yang menuntut penjelasan.Desi yang duduk di sampingnya seketika meremas kedua telapak tangannya sendiri di atas pangkuan. Wajahnya tertunduk dalam, menghindari tatapan mata Juned. "I-iya, Mas... aku... aku sebenarnya udah berhenti kerja dari rumah majikanku. Maaf ya, aku gak ngabarin kamu dulu soal keputusan ini," ucap Desi memelas dengan nada suara yang bergetar bersalah.Juned menghela napas panjang, membuang pandangannya sejenak ke arah jendela luar sebelum kembali fokus pada marka jalan di depannya. "Untung aja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status