LOGINDinding kamar yang temaram menyambut kehadiran mereka, diiringi harum lembut aroma vanilla yang menenangkan.Juned meletakkan tubuh Fitri secara perlahan di atas ranjang empuk berbalut sprei sutra tebal.Fitri langsung menarik tengkuk Juned, enggan memberi jarak sedikit pun di antara mereka.Ciuman lembut yang semula tenang berproses cepat menjadi lebih intens, menyatukan napas mereka yang makin memburu.Jemari Juned bergerak cekatan melepaskan kancing kemejanya sendiri, lalu membiarkan pakaian itu jatuh ke lantai.Fitri mendesah halus saat tangan hangat Juned merayap menyusuri pinggangnya, meloloskan gaun ketat yang dikenakannya hingga terlepas sempurna."Kamu selalu tahu cara bikin aku lupa sama semua masalah kantor, Jun..." bisik Fitri terbata-bata di celah bibir pria itu.Juned tidak membalas dengan kata-kata, ia menatap dalam mata Fitri sebelum kembali melumat bibir manis wanita di bawahnya.Sentuhan demi sentuhan terjalin hangat di tengah kesunyian kamar, membangun irama gairah
Sedan hitam itu melaju memotong jalur cepat, menderu halus membelah arus lalu lintas kota yang mulai padat. Di dalam kabin yang sejuk dan temaram, suasana terasa kian memanas oleh gestur berani Fitri. Jemari lentik wanita itu makin lancang merayap, mengusap perlahan pangkal paha Juned dari balik celana kainnya. "Aku udah nggak sabar, Jun?" bisik Fitri dengan napas yang mulai tak teratur, menatap samping wajah Juned dari balik bulu matanya. Juned menyunggingkan senyum miring, membiarkan jemari Fitri menjelajah tanpa niat sedikit pun untuk menghentikannya. Tangan kirinya yang bebas sengaja diturunkan dari kemudi, mendarat tepat di atas paha mulus Fitri yang terekspos akibat gaun ketatnya yang makin tersingkap. Ia meremas lembut daging empuk itu dengan cengkeraman penuh dominasi, membuat Fitri terperanjat kecil lalu mendesah halus. "Sebentar lagi sampai," sahut Juned santai, nada suaranya berat dan tenang tanpa ada riak kegugupan sama sekali. Mobil berbelok mulus memasuki area ba
Caca berusaha mendorong dada Juned, namun tenaganya seolah menguap saat bibir pria itu mulai melumat ceruk lehernya dengan panas."Jangan... di sini, Pak," bisik Caca terbata-bata, desahan halus lolos dari tenggorokannya saat jemari Juned makin berani merayap masuk ke balik kemejanya."Kenapa? Bukannya kemarin kamu ngambek mau minta imbalan?" goda Juned rendah.Suara beratnya berbisik tepat di depan bibir Caca, membuat wanita itu makin tak berdaya.Napas Caca kian memburu, matanya meredup diliputi gairah. Tangannya yang semula menolak kini justru meremas balik bahu kekar Juned, melilitkan leher pria itu dengan erat."Mas Juned parah banget sih..." keluh Caca pasrah, membiarkan tubuhnya diangkat dan didudukkan di atas meja kerja yang berantakan oleh tumpukan berkas.Tanpa membuang waktu, Juned membungkam bibir Caca dengan ciuman liar yang mengunci seluruh penolakan.Suara decakan halus dan deru napas bersahutan memenuhui ruangan kedap suara itu.Sentuhan Juned yang tegas dan dominan de
Juned menggeser layar ponsel, lalu menempelkan benda tipis itu ke telinganya dengan gerakan teratur. "Halo, Fit?" sapa Juned lembut, nada suaranya berubah berat dan teratur. "Halo, Jun..." suara Fitri terdengar mendayu-dayu dari seberang telepon, diselingi tawa kecil yang sarat godaan. "Nanti siang sibuk gak? Makan siang bareng yuk di kantorku, sekalian ada yang mau aku omongin... berdua aja." Jemari Juned mengetuk-ngetuk permukaan meja makan, menyunggingkan senyum tipis yang langsung ia sembunyikan di balik cangkir kopi. "Sebentar ya, Fit..." potong Juned halus. Pria itu menurunkan ponselnya sedikit, membiarkan layar tetap menyala sebelum beralih menatap wanita di hadapannya. "Na, nanti siang kita ada agenda keluar gak?" tanya Juned tenang, menatap mata Ratna tanpa ada keraguan. Ratna yang sedang memotong buah pisang menghentikan gerak pisunya, menatap Juned seraya menggeleng pelan. "Gak ada kok, Ned, bebas aja hari ini. Emang kenapa?" sahut Ratna seraya menyuapkan potongan p
Malam perlahan merayap, membawa kesunyian pekat yang menyelimuti seluruh sudut rumah.Lampu kamar utama di lantai atas sudah dipadamkan, menandakan Ratna telah lelap dalam tidur pulasnya.Di kamar belakang, Nayla duduk gelisah di tepi ranjang dengan napas memburu dan debar jantung yang tak karuan.Pintu kamar perlahan terbuka tanpa suara, menampakkan sosok Juned yang melangkah masuk sambil mengunci pintu rapat-rapat."Udah tidur semua di atas, kan?" bisik Nayla pelan dengan binar mata yang kian menggelap penuh gairah.Juned menyunggingkan senyum miring, melangkah mendekati ranjang dengan sorot mata penuh dominasi."Udah pulas, gak usah khawatir," jawab Juned rendah seraya menghempaskan tubuhnya ke atas kasur.Tanpa basa-basi, Juned langsung menarik tubuh Nayla ke dalam dekapannya, melumat bibir manis gadis itu dengan liar.Nayla mendesah nikmat, membalas ciuman tersebut sambil mencengkeram erat pundak Juned tanpa ampun.Tangan Juned bergerak cepat menyingkirkan piyama tipis yang memba
Juned menyunggingkan senyum tenang tanpa ada keraguan sedikit pun di raut wajahnya."Paling cuma nanyain jadwal meeting buat hari Senin nanti, Ra," sahut Juned santai seraya meraih ponselnya dan mengantonginya."Oalah... kirain ada masalah pekerjaan yang darurat di kantor," balas Ratna mengangguk-angguk percaya tanpa rasa curiga.Juned memutar kunci kontak, menyalakan mesin mobil yang langsung berderum halus di area parkiran."Enggak kok, aman. Yaudah, kita langsung pulang yuk sebelum makin macet," ujar Juned lembut pada kakak iparnya itu.Mobil hitam itu perlahan bergerak memotong arus lalu lintas, meninggalkan halaman toko kue menuju rumah.Di sepanjang perjalanan, Ratna bersandar nyaman di kursinya seraya mengobrol ringan tentang acara arisannya tadi.Juned merespons setiap cerita Ratna dengan senyuman dan anggukan santai, tetap memegang kendali penuh atas suasana.Dalam benaknya, Juned menyeringai tipis merencanakan langkah berikutnya saat sampai di rumah nanti.Mobil hitam Juned







