LOGINDesi mengernyitkan dahi melihat tingkah Juned yang tampak gelagapan. "Kenapa, Mas? Kok kaget gitu?" tanya Desi sambil berjalan mendekat dan membawa nampan berisi teh. "Nggak apa-apa, Des. Tadi lagi balas pesan dari Nayla," sahut Juned berusaha mengatur napasnya agar tidak terdengar memburu. Desi mengangguk pelan, lalu mengambil posisi duduk di kursi rotan tepat di samping Juned. Sambil menaruh teh di meja, ia melirik ponsel suaminya yang sudah tengkurap. "Emang Nayla chat apa siang-siang begini?" tanya Desi lagi dengan nada santai. "Cuma kirim foto laptopnya tadi, katanya ada yang rusak. Tapi gambarnya pakai mode sekali lihat gitu, aneh banget emang itu anak," jawab Juned berbohong, suaranya terdengar meyakinkan meski jemarinya masih sedikit gemetar. Desi hanya ber-oh ria sambil menyeruput tehnya, tampaknya tidak menaruh curiga lebih dalam pada alasan yang diberikan suaminya. "Terus nanti Mas jemput Nyon
Desi dengan gerakan kilat menyambar dasternya dan memakainya kembali, merapikan rambutnya yang berantakan dengan jari. Ia menoleh ke arah Juned yang masih mematung panik di atas kasur. "Gimana apanya? Ya nggak apa-apa, Mas! Santai aja," bisik Desi sambil memberikan isyarat agar Juned segera berpakaian. Desi langsung melangkah keluar kamar dengan wajah yang dibuat sealami mungkin untuk menyambut majikannya. Sementara itu, Juned bergerak seperti kilat mencar celana dan bajunya, memakainya dengan tangan gemetar hingga hampir salah memasukkan kancing. Tak lama kemudian, Desi muncul kembali di ambang pintu kamar dengan senyum kecil. "Mas, ayo keluar. Ibu mau ketemu," panggil Desi. Juned menarik napas dalam-dalam, merapikan kerah bajunya sekali lagi sebelum mengekor di belakang Desi menuju ruang tamu. Di sana, duduk seorang wanita paruh baya dengan pakaian elegan namun sederhana. Sosoknya terlihat sedikit lebih senior dibandi
Desi mengembuskan napas kasar sambil berkacak pinggang, menatap Juned dengan raut wajah yang benar-benar kesal. "Tuh, kan! Udah dibilang tunggu di belakang dulu, bandel banget sih jadi orang!" omel Desi sambil menghentakkan kakinya ke lantai. "Ya habisnya Mas udah nggak tahan, Des," gumam Juned yang suaranya menciut melihat kemarahan istrinya. Desi tidak menggubris, ia melangkah ke arah kasur dan meraih kotak bermotif emas itu dengan kasar. Tangannya dengan lincah menyobek penutupnya, lalu menarik keluar sehelai pakaian tipis berbahan transparan dengan aksen renda yang sangat minim—baju "dinas malam" yang sengaja ia siapkan. "Tadinya ini mau buat kejutan, Mas! Aku udah beli dari kemarin-kemarin biar nanti pas Mas masuk kamar aku sudah rapi," seru Desi sambil melemparkan kembali baju itu ke atas kasur dengan wajah cemberut. "Eh, Masnya malah maksa masuk, berantakan semua kan jadinya. Nggak jadi surprise!" Juned tertegun,
Juned tersedak butiran nasi sampai wajahnya memerah. Ia buru-buru meraih gelas dan meneguk airnya sampai habis, sementara mata Desi masih tertancap tajam pada layar ponsel yang mulai meredup itu. "Itu... itu Bu Melinda, Des," ucap Juned setelah berhasil menenangkan kerongkongannya yang perih. "Iya, aku juga baca namanya. Terus ngapain dia nungguin kamu malam-malam begitu?" Desi meletakkan sendoknya sampai beradu keras dengan piring, matanya menyipit penuh selidik. Juned mengusap tengkuknya yang mendadak terasa panas, ia mencoba tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang. "Dia itu teman akrab Nyonya Ratna, Des. Memang langganan tetap bisnis sampingan Nyonya." "Terus urusannya sama kamu apa? Kok sampai ditunggu segala?" cecar Desi lagi, kini tubuhnya condong ke arah Juned. "Mas cuma diminta antar barang pesanan dia, kayak biasanya aja kok," jelas Juned sambil meraih ponselnya, mencoba menjauhkan benda
"Aduh, ada-ada aja lagi Non Maudy..." gumam batin Juned sambil fokus memegang kemudi. Pikirannya masih sedikit melayang membayangkan kejadian di kamar tadi, namun ia segera menepisnya saat mobil mulai memasuki area perumahan majikan Desi.Tak berapa lama, Juned akhirnya tiba dan memarkirkan mobilnya tepat di depan pagar rumah yang tinggi itu. Ia segera mengambil ponsel dan mengirim pesan singkat ke Desi, memberitahu kalau dia sudah sampai dan menunggu di depan.Juned menunggu beberapa saat sambil sesekali melirik layar ponselnya. Lima menit berlalu, belum ada balasan. Sepuluh menit kemudian, tetap nihil. Ia mulai merasa gelisah dan memutuskan untuk keluar dari mobil, menyandarkan tubuhnya di kap mesin sambil mengamati kondisi rumah."Kok sepi ya?" gumam Juned heran. Gerbang tertutup rapat dan tidak terlihat ada aktivitas di halaman depan.Tak lama kemudian, ponsel di saku celananya bergetar kuat. Ada pesan masuk dari Desi."Mas, aku
Juned memutar kemudi, perlahan memasuki lobi kantor yang mulai ramai oleh karyawan yang baru tiba. Ia menghentikan mobil tepat di depan pintu masuk utama, lalu menoleh ke arah Ratna yang sedang merapikan tas kerjanya. "Kamu nanti ngomong saja sama Maudy, biar dia nggak nyariin. Lagian hari ini juga free, kamu bebas mau ketemu istrimu," ucap Ratna sambil memberikan senyum tipis. Juned tampak ragu, tangannya masih mencengkeram stir dengan kuat. "Tapi kalau Non Maudy melarang bagaimana?" tanya Juned dengan nada khawatir. "Dia nggak bakal melarang kok, dia tahu hari ini kamu free," sahut Ratna tenang sebelum membuka pintu mobil. "Baik, Nyo- sayang... makasih ya," ucap Juned, hampir saja salah sebut karena terbiasa dengan panggilan formal di tempat umum. Ratna mengangguk pelan sambil berdiri di pinggir jalan. "Ya sudah, nanti sore jemput jam 4 ya." "Siap," sahut Juned mantap. I