تسجيل الدخولKeringatnya mengalir di pelipisnya, membuat rambutnya yang panjang harus digelung ke atas agar Agnes tidak tampak seperti kucing habis kecebur got. Mobil taksi besar yang membawa semua isi kosannya, baju, koper, bantal, dan berberapa buku psikologi penting yang dimiliknya, akhirnya tiba di depan rumah kontrakan milik Vivi.
Vivi berdiri di depan pagar dengan kedua tangan di pinggangnya, “Untung sahabat kamu ini hanya seorang sales asuransi. Jadi bisa ada keluar kanto
Hari Konferensi Pers.Pagi itu, atmosfer di dalam gedung tempat konferensi pers berlangsung terasa sangat pekat, berdenyut oleh ketegangan yang merayap hingga ke pori-pori. Ruang utama disulap menjadi panggung drama raksasa tempat masa depan Agnes dan Daniel dipertaruhkan. Puluhan wartawan dari berbagai media cetak, televisi, dan portal berita memadati barisan kursi. Kilatan lampu kilat kamera berkedip tak henti-hentinya, menciptakan pendar cahaya yang menyilaukan. Di atas meja panjang bertatap kain hitam, belasan mikrofon berdiri berderet menanti kalimat pertama yang akan terucap.Di sudut-sudut ruangan dan koridor, beberapa personel kepolisian berseragam lengkap berdiri siaga dengan wajah kaku. Kehadiran mereka dimaksudkan untuk mengantisipasi gejolak atau gangguan dari luar mengingat panasnya isu skandal yang membelit Daniel. Namun bagi Agnes, keberadaan seragam polisi itu justru makin mempertegas betapa mencekamnya situasi ini. Setiap ge
H-1 Konferensi Pers.Waktu melesat dengan kejam, membawa Agnes pada hari yang terasa seperti kutukan panjang yang menguras habis sisa-sisa kewarasannya. Jadwal hari ini di klinik amat sangat menyita tenaga. Dari pagi hingga sore menjelang, ia harus duduk diam, mengangguk, dan mengurai benang kusut keluhan jiwa para pasiennya, sementara jiwanya sendiri meronta dalam labirin ketakutan. Menjadi tempat sampah emosi orang lain di saat batinnya sendiri nyaris hancur berkeping-keping adalah sebuah ironi yang menyiksa. Psikolog baru, Lanang, pun tampak sangat sibuk beradaptasi dengan rentetan pasien pertamanya. Mereka berdua tidak sempat berbincang banyak, hanya saling melempar sapaan singkat dan senyum profesional di lorong yang dingin. Pikiran Agnes sama sekali tidak tertambat di klinik; fokusnya benar-benar tersita habis oleh ancaman gelap yang membayangi rencana pernikahannya.Malam harinya, di bawah pendar temaram lampu kristal penthouse
Agnes menarik pergelangan tangan Felix dengan cengkeraman keras, nyaris menyeret adiknya itu keluar dari pintu depan hingga ke halaman samping rumah yang temaram. Angin malam yang berembus pelan membawa aroma tanah kering dan keputusasaan, mengiringi langkah tergesa mereka agar percakapan mematikan ini tidak sampai terdengar oleh telinga rentan Elvira dan Namira.“Apa kamu bilang? Coba ulangi!” desis Agnes tertahan, suaranya bergetar hebat antara lonjakan amarah dan teror yang membekukan darah. Matanya membelalak lebar, masih menolak keras untuk mempercayai apa yang baru saja meluncur dari bibir adiknya.“Ada orang-orang bayaran yang melindungi Tora, Kak! Mereka menyekapku di jalan dan mengancam untuk memenjarakan aku. Awalnya aku sama sekali tidak peduli kalaupun harus dipenjara, asalkan Tora si brengsek itu juga ikut membusuk di sel yang sama. Tapi kemudian... mereka menempelkan pisau dingin ke leherku dan mengancam akan
H-2 Konferensi Pers. Waktu tak lagi terasa berdetak, melainkan menyeret Agnes secara paksa menuju tepi jurang yang tak berdasar.Agnes melangkah gontai ke dalam rumah, berharap menemukan sejenak suaka dari rentetan krisis yang mencekik kewarasannya. Namun, bukannya pelukan hangat atau kedamaian yang menyambut, ia justru langsung ditodong oleh Elvira, mamanya. Tanpa tedeng aling-aling, ibunya itu menuntut cerita detail mengenai rencana pernikahannya. Lebih menyesakkan lagi, Elvira ternyata tak sendirian; ia sengaja mengundang Tante Ayu dan Om Abdi untuk menggelar sebuah 'sidang keluarga' dadakan yang niatnya baik, namun terasa bagai jerat baru di leher Agnes.“Jadi, gimana rencana pasti pernikahan kamu, Nes?” tanya Tante Ayu, kakak Elvira, dengan raut wajah penuh ekspektasi kebahagiaan yang sangat kontras dengan kehampaan di dada Agnes.“Aku dan Daniel akan menikah tanggal tiga puluh, Tante
H-3 Konferensi Pers.Waktu tak lagi terasa seperti deret angka di layar ponsel, melainkan bagai paku tak kasatmata yang dipalu perlahan ke dalam tengkoraknya setiap kali detik berganti. Kepanikan yang merayap diam-diam di pembuluh darahnya membuat napas Agnes terasa selalu memburu, seolah oksigen di udara Jakarta telah tersedot habis oleh pusaran skandal yang menantinya.Agnes melangkahkan kakinya yang terasa seberat timah memasuki lobi klinik. Aroma khas antiseptik dan pengharum ruangan beraroma lavender yang biasanya menenangkan, pagi ini justru membuat lambungnya bergejolak mual. Baru saja ujung sepatunya menyentuh batas meja resepsionis, rentetan pertanyaan sudah
H-4 konferensi pers.Waktu terasa melesat begitu cepat bagai anak panah yang meluncur dari busurnya, namun di saat yang sama merayap lambat menyiksa layaknya eksekusi mati yang tertunda.Agnes dan Daniel duduk bersisian di sebuah ruang meeting eksklusif di firma hukum tempat Monik bernaung. Hawa dingin dari pendingin ruangan menusuk pori-pori, berpadu dengan ketegangan pekat yang mengendap di sudut-sudut ruangan. Monik, dengan raut wajah profesional yang tak tertembus dan aura ketegasan yang memancar dari posturnya, menggeser selembar kertas baru melintasi meja kaca yang memantulkan pendar lampu neon putih. Kertas itu berisi rentetan daftar pertanyaan yang kemungkinan besar akan ditembakkan tanpa ampun oleh para pemburu berita saat konferensi pers nanti. Di mata Agnes, deretan kalimat itu tak ubahnya ranjau darat yang siap meledakkan sisa-sisa kewarasannya kapan saja.“Kita akan memulai simulasi tanya jawa







