Teilen

Bab 66

last update Veröffentlichungsdatum: 03.09.2026 04:32:52

“Sabina siapa?” tanya Felix bingung. Tiba-tiba ia merasa seperti anak kecil yang baru pertama kali masuk ke sekolahan yang baru. Di mana teman-temannya sudah saling kenal, sedangkan hanya ia yang tidak punya teman.

“Kenapa dia bisa setega itu?” tanya Agnes dengan dahi berkerut.

“Oh, dia bisa lebih tega dari ini,” jawab Monik yang ketika Agnes bicara dengan Felix, Daniel menceritakan apa yang dilakukan Sabina pada Agnes, tiba-tiba

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 120

    Hening yang membekukan melapisi seluruh kabin mobil yang dikemudikan oleh Deri. Sepanjang perjalanan membelah riuhnya lalu lintas kota menuju penthouse, tak ada satu pun patah kata yang terucap dari bibir Daniel maupun Agnes. Lidah mereka seolah terkelu oleh krisis emosional yang teramat dahsyat, meninggalkan atmosfer berat yang menyesakkan dada. Deri yang mengemudi di depan pun hanya bisa melirik dari kaca spion dengan raut prihatin yang amat dalam, tak berani memecah keheningan yang sarat akan duka tersebut.Bayangan kejadian beberapa puluh menit lalu masih berputar liar di kepala Agnes, menggeledah sisa-sisa kewarasannya. Tepat setelah Sabina mengambil alih podium dan dengan nada penuh kebanggaan mengumumkan pernikahan dirinya dengan Daniel—pada tanggal dan lokasi yang sama persis dengan yang telah direncanakan Daniel untuk Agnes—dunia Agnes rasanya runtuh seketika. Dengan sisa tenaga yang hampir habis, Agnes melangkah kaku melarikan diri ke dalam ruang tunggu.

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 119

    Agnes terpaku kaku di balik meja panggung, menjadi pusat gravitasi dari pusaran teror yang melumpuhkan jiwanya. Di hadapannya, puluhan wartawan menatapnya dengan binar lapar akan sensasi, sementara tim Daniel—Celsi, Monik, dan Jemima—menanti pernyataan resminya dengan napas tertahan. Namun, pusat penderitaan Agnes sesungguhnya tertambat pada dua sosok di barisan paling belakang: Rudi Baskara yang berdiri dengan raut angkuh bak algojo, serta Sabina yang menyunggingkan senyum kemenangan yang memuakkan. Di antara lautan manusia itu, mata Agnes tak sengaja menangkap sosok Vivi. Sahabatnya itu menatapnya dengan dahi berkerut dalam, ratusan kerutan kecemasan terpatri jelas di wajahnya.“Ada apa?” bibir Vivi bergerak pelan tanpa suara dari kejauhan, menyuarakan firasat buruk yang mendadak mencengkeram dadanya.Agnes tidak sanggup membalas isyarat itu. Ia terkunci dalam tatapan mata Rudi yang tampak sangat tajam menembus sukma—sebuah tatapan yang membawa ancaman impli

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 118

    Hari Konferensi Pers.Pagi itu, atmosfer di dalam gedung tempat konferensi pers berlangsung terasa sangat pekat, berdenyut oleh ketegangan yang merayap hingga ke pori-pori. Ruang utama disulap menjadi panggung drama raksasa tempat masa depan Agnes dan Daniel dipertaruhkan. Puluhan wartawan dari berbagai media cetak, televisi, dan portal berita memadati barisan kursi. Kilatan lampu kilat kamera berkedip tak henti-hentinya, menciptakan pendar cahaya yang menyilaukan. Di atas meja panjang bertatap kain hitam, belasan mikrofon berdiri berderet menanti kalimat pertama yang akan terucap.Di sudut-sudut ruangan dan koridor, beberapa personel kepolisian berseragam lengkap berdiri siaga dengan wajah kaku. Kehadiran mereka dimaksudkan untuk mengantisipasi gejolak atau gangguan dari luar mengingat panasnya isu skandal yang membelit Daniel. Namun bagi Agnes, keberadaan seragam polisi itu justru makin mempertegas betapa mencekamnya situasi ini. Setiap ge

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 117

    H-1 Konferensi Pers.Waktu melesat dengan kejam, membawa Agnes pada hari yang terasa seperti kutukan panjang yang menguras habis sisa-sisa kewarasannya. Jadwal hari ini di klinik amat sangat menyita tenaga. Dari pagi hingga sore menjelang, ia harus duduk diam, mengangguk, dan mengurai benang kusut keluhan jiwa para pasiennya, sementara jiwanya sendiri meronta dalam labirin ketakutan. Menjadi tempat sampah emosi orang lain di saat batinnya sendiri nyaris hancur berkeping-keping adalah sebuah ironi yang menyiksa. Psikolog baru, Lanang, pun tampak sangat sibuk beradaptasi dengan rentetan pasien pertamanya. Mereka berdua tidak sempat berbincang banyak, hanya saling melempar sapaan singkat dan senyum profesional di lorong yang dingin. Pikiran Agnes sama sekali tidak tertambat di klinik; fokusnya benar-benar tersita habis oleh ancaman gelap yang membayangi rencana pernikahannya.Malam harinya, di bawah pendar temaram lampu kristal penthouse

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 116

    Agnes menarik pergelangan tangan Felix dengan cengkeraman keras, nyaris menyeret adiknya itu keluar dari pintu depan hingga ke halaman samping rumah yang temaram. Angin malam yang berembus pelan membawa aroma tanah kering dan keputusasaan, mengiringi langkah tergesa mereka agar percakapan mematikan ini tidak sampai terdengar oleh telinga rentan Elvira dan Namira.“Apa kamu bilang? Coba ulangi!” desis Agnes tertahan, suaranya bergetar hebat antara lonjakan amarah dan teror yang membekukan darah. Matanya membelalak lebar, masih menolak keras untuk mempercayai apa yang baru saja meluncur dari bibir adiknya.“Ada orang-orang bayaran yang melindungi Tora, Kak! Mereka menyekapku di jalan dan mengancam untuk memenjarakan aku. Awalnya aku sama sekali tidak peduli kalaupun harus dipenjara, asalkan Tora si brengsek itu juga ikut membusuk di sel yang sama. Tapi kemudian... mereka menempelkan pisau dingin ke leherku dan mengancam akan

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 115

    H-2 Konferensi Pers. Waktu tak lagi terasa berdetak, melainkan menyeret Agnes secara paksa menuju tepi jurang yang tak berdasar.Agnes melangkah gontai ke dalam rumah, berharap menemukan sejenak suaka dari rentetan krisis yang mencekik kewarasannya. Namun, bukannya pelukan hangat atau kedamaian yang menyambut, ia justru langsung ditodong oleh Elvira, mamanya. Tanpa tedeng aling-aling, ibunya itu menuntut cerita detail mengenai rencana pernikahannya. Lebih menyesakkan lagi, Elvira ternyata tak sendirian; ia sengaja mengundang Tante Ayu dan Om Abdi untuk menggelar sebuah 'sidang keluarga' dadakan yang niatnya baik, namun terasa bagai jerat baru di leher Agnes.“Jadi, gimana rencana pasti pernikahan kamu, Nes?” tanya Tante Ayu, kakak Elvira, dengan raut wajah penuh ekspektasi kebahagiaan yang sangat kontras dengan kehampaan di dada Agnes.“Aku dan Daniel akan menikah tanggal tiga puluh, Tante

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status