Mag-log inTempat Yandi janjian untuk bertemu tepat di kedai teh seberang hotel. Mereka berdua menunggu beberapa menit sebelum orang itu tiba.Orang itu adalah pria berusia sekitar 30-an tahun. Dia mengenakan kacamata hitam dengan setelan olahraga berwarna biru tua.Saat melihat sosok Yandi dari kejauhan, pria itu pun menunjukkan ekspresi penuh antusias. Dia berjalan kemari sembari melebarkan lengannya.Yandi berjalan menghampirinya sembari bertos tangan dengan pria itu, kedua pundak saling ditabrakkan, kemudian mereka pun berpelukan. Dari interaksi mereka, sepertinya pria itu adalah teman baik Yandi yang sudah lama tidak bertemu.“Sudah bertahun-tahun tidak ketemu. Ketika kamu tiba-tiba mencariku, aku jadi merasa sedikit tidak percaya!” Pria itu melepaskan kacamata hitamnya, lalu menunjukkan wajahnya. Nada bicaranya terdengar sedikit emosional.Yandi tersenyum. “Iya, memang sudah bertahun-tahun tidak ketemu!”“Waktu itu, aku dengar-dengar misi kalian gagal. Aku kira kamu ….” Pria itu tidak melan
Ketika melihat Yandi sedang melihat kemari, Tasya segera mengeluarkan sebuah penutup mata dari dalam rak samping ranjang. Dia mengisyaratkan dirinya akan menutup matanya.“Aku sudah mandi!” balas Yandi dengan nada datar, lalu memalingkan kepalanya untuk bertanya, “Aku tutup lampu, ya?”Lampu dinding di samping Yandi masih menyala.Yandi memiringkan setengah badannya, lalu memalingkan kepalanya untuk melihat Tasya. Tasya juga sedang menatapnya. Kedua pasang mata saling bertemu. Udara seketika berubah hening.Mereka berdua saling menatap satu sama lain dalam waktu lima detik.Tatapan Tasya terlihat jernih dan dalam bagai air danau, dengan sedikit riak di atasnya. Di bawah pencahayaan gelap, air itu tidak berhenti bergejolak.Bagian kerah dari kaus lebar Tasya tertekan hingga memperlihatkan setengah pundaknya. Kulit putih dan lembut itu terlihat sangat mempesona.Beberapa saat kemudian, kamar menjadi gelap. Seluruh kemesraan dan kasmaran di antara mereka telah menghilang.Di dalam kegelap
Tasya tidak bertanya apa-apa. Dia kembali ke kamarnya untuk mengambil ponselnya. Tasya datang tanpa membawa apa-apa, hanya ponsel saja.Mereka berdua turun ke lantai bawah. Area tangga sangatlah gelap. Tasya spontan menggenggam tangan Yandi. Kali ini, Yandi tidak mendorongnya.Nyali Tasya pun semakin besar. Dia menggenggam erat jari-jari Yandi, lalu perlahan menggenggam seluruh telapak tangannya.Tangan Yandi lebar dengan ruas-ruas jari yang tegas. Telapak tangannya dipenuhi kapalan tipis. Namun bagi Tasya, tangan itu tidak terasa kasar sama sekali. Sebaliknya, dia justru menggenggamnya semakin erat.Di lorong yang gelap dan sunyi, Tasya seolah-olah bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri. “Deg! Deg!” Dia merasa sedikit gugup, canggung, dan juga gembira.Setelah meninggalkan penginapan, Yandi mengendarai mobil membawa Tasya ke kota bawah pegunungan.Yandi melempar jaketnya ke tubuh Tasya. Di dalam kegelapan, lekuk wajah pria itu kelihatan semakin dingin dan arogan saja. “Kamu tid
“Tasya!” Suara Yandi terdengar serak karena panik. Dia pun mengetuk pintu kamar sebelah.Pintu telah dibuka. Tasya langsung berlari ke dalam pelukan Yandi.Yandi melihat ke dalam kamar. Dia tidak menyadari ada yang aneh. Akhirnya dia pun merasa lega. Pada saat ini, Yandi bertanya, “Apa yang terjadi?”Suara Tasya terdengar gemetar. “Ada … ada tikus!”Yandi menghela napas panjang. Dia menjelaskan dengan nada menghibur, “Wajar sekali kalau ada tikus di tempat seperti ini. Tikus itu cuma numpang lewat kamarmu saja. Kamu tidak akan digigit. Malahan tikus takut sekali sama kamu!”Tasya menggeleng di dalam pelukan Yandi.Yandi menunduk. Dia menyadari Tasya hanya mengenakan kaus tanpa celana. Kedua paha putih dan kurus itu terpampang sangat jelas. Di bawah pencahayaan remang, warna putih itu kelihatan sangat mencolok.Di sisi lain, Yandi baru saja selesai mandi dan bersandar di atas ranjang. Dia mengenakan celana tanpa mengenakan pakaian.Tenggorokan Yandi terasa kering. Dia tanpa sadar melaku
Tora memperlihatkan luka di tubuhnya kepada Yandi, lalu berkata dengan gusar, “Semua prosedur untuk membuka penginapan milik orang tuaku di sini lengkap. Tempat ini juga tidak termasuk ke dalam area proyek hotel. Mereka malah seenaknya menyuruh kami membongkarnya, atas dasar apa?”“Uang kompensasi yang mereka berikan juga sangat sedikit. Jadi, bagaimana orang tuaku bisa menjalani sisa hidup mereka? Tapi orang-orang di balik hotel itu punya kekuasaan dan pengaruh besar. Sama sekali tidak ada yang mau membela atau menegakkan keadilan untuk kami.”Tasya juga ikut merasa gusar. “Mereka ini sama saja dengan merampas. Kita bisa menggugatnya!”Tora tersenyum getir. “Tidak ada gunanya.”Lecy yang berada di samping berkata dengan suara kecil, “Sebenarnya, seandainya uang kompensasi yang mereka berikan cukup banyak, sebenarnya bukannya nggak boleh ….”Tora segera memotong omongan Lecy, “Tidak peduli berapa pun yang mereka berikan, penginapan ini tidak boleh dibongkar. Rumah di kampung halaman ka
Tasya teringat sesuatu. Dia pun mengangguk tanda setuju. “Setelah dengar ucapanmu, memang nggak mahal, sih!”Bisa memeluk seseorang, harga dua juta juga tidak mahal!Sebenarnya Yandi ingin menghibur Tasya, tetapi ketika melihat ekspresi Tasya, sepertinya dia sudah berpikir kebanyakan. Raut wajahnya pun seketika berubah murung.Suasana hati Tasya menjadi membaik. Dia berkata dengan tersenyum, “Apel juga sudah dibeli, jadi dimakan saja, jangan disia-siakan!”Tasya mengambil tisu untuk membersihkan apel, kemudian memberikan satu buah apel kepada Yandi.Yandi menolak untuk makan.“Kalau begitu, aku makan sendiri saja!” Tasya langsung menggigit buah apel. Suara renyah buah apel yang meledak mengeluarkan sari buah di dalam mulut memenuhi seluruh ruangan mobil.Jakun Yandi tanpa sadar ikut bergerak naik turun.Dalam waktu singkat, Tasya sudah mengunyah setengah buah apel. Dia memalingkan kepalanya dan berkata, “Apa benar kamu nggak mau makan? Rasanya manis sekali!”Apel ini memang pantas diha
“Ada apa?” tanya Juno dengan mengerutkan keningnya.“Bukan!” Rose merasa dirinya sudah berpikir kebanyakan. Dia pun segera melarikan diri. Setelah kembali ke kamar utama dan menutup pintu, Rose mengambil piama dan pergi ke kamar mandi. Dia juga menutup pintu kamar mandi dengan rapat.Meskipun demiki
Rose memeluk pundak Juno dengan erat sembari menggigit bibirnya dengan erat.Juno berbisik di samping telinga Rose, “Sekarang kamu sudah percaya, ‘kan? Kamu memang seharusnya menjadi milikku!”Rose memang ditakdirkan untuk menjadi milik Juno. Setelah melalui banyak hal, pada akhirnya Rose sepenuhnya
Jedar mengambil selembar kartu remi dan menempelkannya di bibir, lalu menoleh ke arah Rossa. Siapa sangka, pria bernama Mark tadi tiba-tiba memotongnya, langsung mencondongkan wajah dan menempelkan bibirnya ke kartu di bibir Jedar. Tanpa perlu diragukan lagi, kartu itu jatuh, keduanya pun langsung b
Si pria melangkah maju dengan tersenyum. “Rose, apa kamu tidak kenal dengan teman sekolahmu lagi? Ini aku Matthew!”Kali ini, Rose baru kepikiran. “Kak Matthew!”Matthew adalah teman sekelas Devin dulu. Mereka berdua juga kenal saat kegiatan acara amal waktu itu. Setelah itu, dia pun sudah tamat dul







