LOGINMorgan dan Julia sedang mengobrol dengan santai. Tatapannya terus tertuju pada diri Theresia, Sirla, dan yang lain.Ketika melihat Theresia minum segelas demi segelas, kening Morgan pun semakin berkerut. Beberapa saat kemudian, Morgan berdiri. “Sepertinya dia sudah minum kebanyakan. Aku pergi lihat dia dulu.”Julia melihat jam tangannya sekilas, lalu mengangguk. “Waktu sudah malam. Aku juga sudah harus beristirahat. Kamu jaga Theresia dengan baik.”“Aku akan melakukannya!”Morgan sedikit mengangguk. Dia berjalan ke sisi Sirla dan yang lain dengan langkah besar.Theresia sedang memegang segelas anggur. Dia sedang mendengar Sirla menceritakan masalah seru di Barkia. Saat seorang pria berjalan ke belakangnya, mengambil pergi gelas di tangannya, dan meletakkannya di atas meja, Theresia baru membalikkan kepalanya. Seketika, Theresia tersenyum tipis. “Tuan Morgan, apa mau minum alkohol bersama?”Morgan menatap Theresia sekilas. Dia tahu bahwa Theresia sudah mabuk. Saat Theresia mabuk, tatap
Dengan begitu, Morgan pun tidak akan kesal saat ini.“Sepertinya Roger masih sangat menyukai Theresia, ingin mengejarnya kembali!” kata Julia, “Gimana kalau aku panggil dia kemari?”“Tidak usah!” kata si pria, lalu menunduk untuk meminum alkohol. Dia tidak ingin melihat ke arah Theresia.Beberapa menit kemudian saat Julia mengangkat kepalanya kembali, dia melihat ada 5-6 pria sedang mengerumuni Theresia. Mereka sedang bersenda gurau, hanya saja Morgan tidak bisa mendengar dengan jelas.Julia berkata dengan gugup, “Apa ada orang yang cari masalah di saat mabuk?”Morgan menatap orang-orang yang mengerumuni Theresia, tetapi dia malah tersenyum. “Bukan, kamu tidak usah peduli.”….Orang-orang yang mengerumuni Theresia adalah Sirla, Solmi, dan yang lain. Mereka beranggotakan banyak orang. Dalam seketika, Roger pun terdesak ke samping.Roger ingin meluapkan amarahnya, tetapi Sirla malah langsung merangkul pundak Solmi, berkata dengan cengengesan, “Kami itu temannya Nona Theresia, teman yang
Morgan dan Julia duduk bersama. Ada beberapa orang juga datang untuk bersulang. Ketika melihat mereka berdua sedang mengobrol, mereka pun tidak enak hati untuk mengganggu.Morgan bersandar di bangku dengan pose duduk santai. “Kenapa kamu tidak menemani Kakek Aska?”Julia menggeleng dengan perlahan. “Sudah terlalu lama tidak bertemu. Begitu bertemu, tetap saja bertengkar. Kami berdua pasti bermusuhan pada kehidupan lampau, makanya dendam itu sampai terbawa di kehidupan sekarang!”Sudah bertahun-tahun mereka tidak bertemu, saat bertemu dengan sang ayah tadi pagi, hati Julia merasa sangat tersentuh. Ayahnya sudah tua, tidak kelihatan tegas seperti saat muda dulu. Mungkin Julia juga sudah seharusnya melepaskan masa lalu, lalu menemani di sisinya untuk beberapa waktu.Namun, pemikiran itu segera disingkirkan. Ayahnya memang sudah tua, tetapi wataknya tetap sangat keras dan egois. Sekarang, dia malah terus memanjakan Hallie. Seandainya Hallie bukanlah putrinya, Julia bahkan tidak tahu bagaim
Kenapa keluar satu lagi?Bahkan memanggilnya … Howie?Tiba-tiba Howard kepikiran dengan neneknya yang sudah meninggal dunia!Casa menatap Cindy dengan panik. “Kenapa aku mesti mencelakai Tuan Howard? Kamu jangan sembarangan bicara. Kamu itu orang yang dicari Howard, sengaja kemari untuk berakting, ‘kan?”“Berakting?” Cindy tersenyum dingin. “Sepertinya aktingku nggak sebagus kamu! Jelas-jelas kamu lagi membantu orang lain untuk menjebak Howie, malah berlagak sok sedih. Kalau aku nggak memahami Howie, aku pasti akan percaya sama kamu!”“Apa kamu memahaminya? Kalau dia juga bilang dia cinta sama kamu, itu hanya bisa membuktikan bahwa dia itu hidung belang!” jerit Casa dengan marah.“Dia nggak bilang dia cinta sama aku. Aku yang cinta sama dia!” kata Cindy. Dia pun mengangkat alisnya terhadap Howard. Ekspresinya juga semakin manis lagi. “Howie, kamu jangan takut. Aku punya bukti bisa membuktikan dia itu sengaja ingin menjebakmu. Kamu memang nggak kenal sama dia. Dia juga sama sekali nggak
Casa mengerutkan keningnya. “Apa bagus seperti ini? Apa dia bakalan percaya?”“Terserah dia percaya atau nggak. Yang penting kita kacaukan perjodohannya saja!” Cindel tersenyum licik. “Aku bukan hanya ingin mencemarkan namanya di kalangan atas. Aku juga ingin menghancurkan Gunawan Group, demi balas dendam kepada keluarga kami!”Seandainya reputasi dari wakil direktur perusahaan tercemar, Gunawan Group pasti akan terkena imbasnya. Bisa jadi akan ada pergerakan dengan harga saham di bursa pasar besok.Ketika kepikiran dirinya bisa balas dendam kepada Howard sekaligus Gunawan Group, Cindel pun merasa semakin gembira saja.Mereka berbisik-bisik sejenak, seolah-olah sedang membahas detailnya. Setelah itu, mereka pun sama-sama meninggalkan tempat.Kali ini, Cindy baru mengangkat kepalanya. Dia sedang mengemut kue tar rasa yoghurt. Ketika melihat kepergian mereka, tiba-tiba muncul pemikiran menjadi “pahlawan" di benaknya.Cindy menelan kue tar, lalu minum segelas jus buah. Dia pun berdiri un
“Tadi Kak Leon saja nggak mengenaliku!”“Tapi, aku mengenalimu dalam sekali tatap!”Tiba-tiba mata Tasya berkilauan. Dia membalas dengan lantang, “Itu karena hanya ada kamu di mataku. Kamu melihatnya, makanya kamu bisa mengenaliku!”Jantung Yandi berdegup kencang.“Ayo, kemari!” Tasya menggenggam tangan Yandi yang satu lagi, kemudian meletakkannya di atas pinggangnya sendiri. “Cuma berdansa saja, nggak akan lebih sulit daripada menembak. Kalau kamu nggak turuti kemauanku, kita berdua akan bertengkar di sini, nantinya malah menarik perhatian orang lain.”Terkadang Yandi benar-benar kehabisan akal terhadap gadis ini. “Aku benar-benar tidak bisa berdansa.”“Aku sudah bilang, aku akan ajari kamu. Aku akan lebih lambat. Kamu cukup ikuti aku saja!” Jari tangan kiri Tasya saling bertautan dengan jari tangan Yandi. Dia mengangkat kelopak matanya menatap si pria dengan tatapan membara. “Apa kamu sudah siap sedia? Apa sudah bisa dimulai?”Mungkin karena tertular oleh suasana gembira hari ini, sa
Reza mengemut bibirnya dan hanya tersenyum saja. Bagaimana menurutnya?Diana berkata, “Pokoknya aku suka sama Sonia.”Reza mengenakan jas berwarna abu-abu. Salah satu tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Dia pun berkata, “Apa kamu seharusnya menanyakan pendapat Sonia?”“Tentu saja, aku sudah meng
“Masa lalu sudah berlalu. Sekarang bukannya kamu sudah kembali?” hibur Johan.Gina mengangguk dengan tersenyum. “Iya, aku sudah kembali. Aku pulang untuk menebus semua kesalahanku.”Kemudian, Gina berpesan, “Jangan beri tahu siapa pun mengenai masalah aku dengan Reza. Oh ya, jangan ungkit masalah ini
Sonia mengerutkan keningnya, langsung berjalan menghampiri si wanita dan bertanya, “Memangnya kamu lihat kami berdua lagi peluk-pelukan?”Si wanita terkejut refleks memalingkan kepalanya. Ketika melihat tatapan sinis Sonia, dia pun tersenyum lalu berkata, “Aku cuma bercanda … bercanda, doang!”Selesai
Langit sudah gelap. Reza melihat jam tangannya, lalu berkata, “Sudah main berapa kali? Apa kalian nggak capek? Istirahat dulu!”Jason meregangkan pinggangnya. “Jujur saja, main kartu lebih melelahkan daripada senangin cewek semalaman!”Wajah Kelly spontan merona. Gina berkata dengan tersenyum, “Di sin







