LOGINEntah sudah suara petir ke berapa, Theresia bersandar di atas pundak Morgan. Dia memejamkan matanya dan tubuhnya sedikit gemetar.Bola mata hitam pria itu semakin gelap lagi. Dia menunduk mencium pipi samping Theresia dengan membara.Ketika Theresia mendengar suara buka tali pinggang, dia mengedipkan matanya, lalu berdiri dari tubuh si pria. Theresia memutar bola matanya menunjukkan senyuman menggoda. Dia membalikkan tubuhnya, lalu berjalan ke kamarnya sendiri.“Bamm.” Suara pintu kamar ditutup. Theresia mengunci pintu, lalu menunjukkan senyuman puas. Dia pun bersandar di sisi pintu dan tersenyum lebar. Setelah tersenyum sejenak, dia baru menutupi kemejanya, lalu berjalan ke sisi kamar mandi.Di dalam ruang tamu, si pria sedang berdiri di luar pintu kamar utama yang tertutup rapat. Terlihat sedikit sindiran dan rasa tidak berdaya dari ekspresinya. Dia pun berdiri, lalu pergi mencuci tangannya di kamar mandi.Setelah Morgan kembali, ponsel bergetar dan masuk sebuah pesan. Dia mengambil
“Kalau begitu, aku tidak ganggu kamu lagi. Selesai kerja, ingat pulang ke rumah,” pesan Aska.Theresia mengiakan dengan tersenyum. Setelah mengakhiri panggilan, dia pun menyimpan nomor kontak Aska. Setelah meletakkan ponselnya, Theresia melanjutkan pekerjaannya. Tidak berhenti terlintas kata “pulang ke rumah" yang diucapkan Aska tadi di benaknya. Akhirnya Theresia memiliki rumah.Tak lama kemudian, pelayan Kediaman Keluarga Angsara datang mengantarkan makan siang. Rantang itu terdiri dari lima tingkat, dengan empat jenis lauk dan satu jenis sup. Selain itu, semuanya adalah beberapa jenis lauk yang lebih banyak dicicipi Theresia saat makan malam semalam.Aska mengingat selera makannya. Hati Theresia mulai terasa hangat. Dia merasakan rasa kekeluargaan yang begitu kental.Sore harinya, Theresia menerima panggilan dari Julia. Dia memberi tahu Theresia bahwa akan turun hujan malam ini. Theresia disuruh untuk mempersiapkan payung, lalu mengakhiri acara kumpul bersama klien, dan segera pulan
Julia berkata, “Mau bawa apa di rumah? Aku beresin sama-sama kamu.”Theresia membalas dengan tersenyum, “Nggak apa-apa. Biar aku sendiri saja. Nggak banyak juga!”Nada bicara Aska terdengar ramah. “Kalau begitu, kamu mesti pulang setelah pulang. Ada yang ingin Kakek diskusikan sama kamu.”Theresia membalas, “Oke.”Hallie berkata dengan tersenyum, “Setelah Theresia pulang ke rumah, dia tinggal di sebelah kamarku saja. Jadi, kita juga bisa jadi teman ngobrol.”Julia menolak dengan tersenyum datar, “Nggak usah. Aku sudah suruh pelayan untuk bereskan kamar di sampingku. Aku ingin lebih dekat sama Jeje.”Hallie tersenyum cerah. “Bagus juga.”Selesai sarapan, Morgan mengantar Theresia ke perusahaan. Aska juga mengantar mereka ke depan pintu gerbang halaman.Hallie duduk di mobil yang dikendarai sopir Keluarga Angsara. Ketika melihat Aska tidak merelakan mobil Morgan, hatinya pun terasa dingin. Ternyata memiliki hubungan darah memang berbeda. Padahal Hallie sudah tinggal berbulan-bulan di sin
“Memangnya kenapa kalau bermarga Bina? Theresia sendiri yang bersedia.” Jemmy pantang menyerah.“Itu karena dulu dia belum kembali ke Keluarga Angsara. Sekarang, dia sudah kembali, tentu saja marganya juga mesti diubah.” Aska kelihatan keras kepala, tidak berniat untuk mengalah.Jemmy bertanya, “Jeje itu nama panggilannya. Dulu, kalian beri dia nama apa?”Begitu Aska mendengar pertanyaan itu, raut wajahnya menjadi suram. “Begitu Jeje lahir, aku dan Julia mulai bertengkar. Tidak lama kemudian, dia bawa Jeje meninggalkan Kota Kembara, lalu memberinya nama panggilan ‘Jeje’. Setelah pulang ke rumah, aku juga terus mengusulkan untuk memberi nama kepada Jeje. Tapi setiap kalinya, pendapatku selalu bentrok dengan Julia. Jadi, namanya masih belum dipilih.”Jemmy berkata dengan gembira, “Itu berarti Jeje memang ditakdirkan untuk diberi nama Theresia Bina. Aku rasa tidak perlu diubah lagi!”Aska mendengus dingin. “Tidak mungkin. Besok, aku akan diskusikan masalah ini dengan Julia. Kemudian, mena
Sonia membalikkan tangannya untuk menggenggam tangan Reza. Terlihat senyuman di atas wajah indahnya. “Sekarang, kita bisa pikir mau bulan madu di mana.”Tatapan Reza kelihatan lembut. “Kamu mau ke mana?”Tiba-tiba Sonia kepikiran sesuatu. “Sebenarnya aku agak khawatir sama Hallie.”“Tenang saja. Ada Morgan!” Reza tersenyum. “Dia tidak akan biarkan siapa pun melukai Theresia!”“Emm!” Terlihat tatapan penuh penantian di dalam mata Sonia. “Semoga saat kita pulang, Kak Morgan dan Theresia sudah jadian.”“Pasti!”…Malam hari.Julia membawa Theresia ke kamarnya sendiri. “Malam ini, kita tidur satu kamar saja. Masih ada banyak hal yang ingin aku obrolkan sama kamu.”Theresia tersenyum lembut. “Oke!”Pelayan sudah mempersiapkan keperluan mandi dan piama baru untuk Theresia. Setelah Theresia selesai mandi, Julia masih sedang duduk di atas ranjang sembari melihat foto masa kecil Theresia. Dia mengangkat kepalanya dan melambaikan tangan kepada Theresia. “Ayo, ke atas ranjang.”Theresia melepaska
Jemmy berkata, “Setelah mengucapkan semua isi hati, semuanya pun sudah berlalu. Jeje sudah kembali. Itu adalah hal yang gembira. Kalau kamu seperti ini, Jeje juga akan merasa tidak nyaman.”“Oke!” Aska menyeka air matanya, lalu berkata pada Theresia, “Hidup masih panjang. Kita cari kembali 20 tahun itu lagi!”Theresia mengangguk dengan tersenyum lembut. “Oke!”…Selesai makan, semua orang duduk di ruang tamu untuk mengobrol bersama. Jemmy berkata pada Sonia, “Bukannya kamu dan Reza mau pergi bulan madu? Sekarang, Jeje juga sudah ditemukan. Kalian bisa pergi besok.”Wajah Sonia terlihat indah. Dia berkata dengan tersenyum, “Aku merasa terlalu gembira, aku jadi nggak mau pergi.”Morgan berkata dengan tersenyum, “Reza sudah mengesampingkan masalah pekerjaan untuk menemanimu bersenang-senang. Kalian bisa lakukan apa yang ingin kalian lakukan sekarang. Kelak, waktu untuk berkumpul masih sangat banyak. Jangan sampai kami mengganggu waktu bulan madu kalian berdua.”Reza melirik Sonia sekilas,
Tatapan Kelly kelihatan bingung. Dia terdiam beberapa saat, lalu bertanya, “Maksudmu, aku seharusnya menerima Derrick?”Ekspresi di wajah Jason terkaku. Dia pun berkata dengan geram, “Waktu itu tidak seharusnya aku melindungimu, kamu seharusnya dipukul Deli sampai mati!” Jason sungguh penat saat ini.
Yana menatap Jason dengan bingung. “Ayah? Kata mereka, Yana nggak punya ayah.”“Kata siapa?” Kening Jason berkerut.“Kata teman-teman Yana. Mereka semua bilang Yana nggak punya ayah,” balas Yana dengan sedikit sedih.Jason sungguh kasihan dengan si kecil. “Kalau begitu, hari ini Paman jadi ayahmu, ya?
Amelia berkata dengan galau, “Tapi kekasihku nggak suka. Kalau aku minum pil KB, malah akan ada efek samping.”Sonia kepikiran dengan obat yang biasanya diberikan Reza kepadanya. Dia pun berkata, “Aku ada satu jenis obat. Katanya nggak ada efek sampingnya. Kamu bisa mencobanya.”“Benarkah? Merek apa?”
“Siapa kamu?” tanya Pretty dengan mengerutkan keningnya.Stella melihat Welly di hadapannya. Raut wajahnya lebih muram daripada wajah Pretty.“Aku itu adiknya Stella. Dia itu kakakku. Atas dasar apa kamu marahi kakakku? Jangan sampai aku menamparmu!” Welly menunjuk Pretty dengan galak.Kedua mata Prett







