LOGINApa pun jawabannya tetap akan masuk ke dalam jebakan Reza. Sonia tidak akan masuk ke dalam jebakan Reza. Dia memutar bola matanya, lalu tiba-tiba bertanya, “Sudah jam berapa?”Ekspresi serius Sonia seolah-olah tidak seperti sedang mengalihkan perhatiannya.Reza membalas, “Jam delapan!”Sonia mendorong pundak Reza. “Aku mesti bangun. Aku mesti beri hormat kepada Ayah dan Ibu di pagi hari.”Mata Reza berkilauan. “Bagus, ternyata kamu masih ingat.”Sonia bertanya, “Apa sekarang sudah kesiangan?”“Tidak. Tadi aku sudah telepon, aku beri tahu mereka, kita akan pergi sekitar jam sembilan. Setelah memberi hormat, kita akan sarapan bersama.” Reza melihat jam sekilas. “Jadi, kamu bisa tidur sekitar setengah jam lagi.”Sonia menatap Reza dengan tatapan berkilauan. “Apa kamu suruh aku tidur?”Reza melihat Sonia beberapa detik, lalu mengesampingkan selimut. “Tidur sama-sama!”Sonia membalikkan tubuhnya. Dia menuruni ranjang, lalu berlari ke kamar mandi dengan mengenakan pakaian tidur sutra berwarn
Theresia menatap Morgan. Nada bicaranya malah terdengar serius. “Kamu melupakan satu hal.”“Apa?”“Kamu lupa mandiin aku!” Theresia mengerutkan sedikit keningnya. Dia kelihatan agak kesal. “Aku nggak bisa tidur kalau nggak mandi.”Pria itu mengenakan sepotong jubah mandi berwarna biru tua. Dia baru saja selesai membasuh tubuhnya. Rambutnya juga masih basah. Sepasang matanya kelihatan memesona karena terkena uap air. Dia menatap Theresia lekat-lekat tanpa berbicara.Sementara itu, tatapan Theresia kelihatan linglung. Ujung matanya kelihatan memerah lantaran merasa sedikit sedih. Dia yang kelihatan menggoda itu mulai mendebarkan hati Morgan.Theresia berjalan ke sana untuk memeluk pinggang Morgan. Dia bersandar di atas pelukan Morgan, lalu menggesekkan keningnya di atas dada Morgan.Morgan langsung menggendongnya, lalu berjalan maju dua langkah untuk menutup pintu. Setelah itu, Morgan menggendongnya ke dalam kamar mandi.Theresia menemukan bola mainan kucingnya lagi. Dia pun langsung men
Sonia berjalan ke sana. Dia melihat kembang api di luar sana sudah padam. Jamuan di dalam taman bunga juga sudah dibersihkan tanpa ada orang sama sekali.Sonia berjongkok perlahan di hadapan Reza. “Kenapa duduk di sini?”Jari tangan panjang Reza mengusap wajah Sonia. Dia tersenyum lembut. “Lihat kembang api!”“Lihat kembang api?” Kening indah Sonia mulai berkerut.Reza mencondongkan tubuhnya untuk mencium hidung mancung Sonia. “Coba berdiri, apa ada kembang api?”Sonia berdiri dan bersandar di atas pagar batu. Dia memandang ke luar kastil dan tidak menemukan kembang api, bahkan kebanyakan lampu di luar sana juga sudah dipadamkan. Hanya tersisa sedikit bayangan lampu yang kabur di tengah kegelapan. Di kejauhan, tampak pegunungan yang megah dan berlapis-lapis.Saat Sonia hendak bertanya pada Reza, tubuhnya tiba-tiba menegang. Tangan pria itu menyentuh pahanya, disusul dengan sedikit sentuhan dingin di bibir.Ada beberapa hal yang bisa dipahami tanpa perlu kata-kata, sehingga hanya dengan
Sonia berhitung sebentar. “Sudah sepuluh tahun!”Sepuluh tahun kedengarannya sangat jauh. Namun, ketika mengenang kembali, semuanya terasa seperti sesaat saja.Reza mengulurkan tangannya kepada Sonia. “Ayo, pergi, Nyonya Sonia. Kegilaan dan kehidupan khusus kita berdua baru saja resmi dimulai!”Sonia meletakkan tangannya di dalam telapak tangan Reza. Bola matanya terlihat berkilauan. “Asalkan kamu nggak merasa bosan, aku nggak akan meninggalkanmu sampai kapan pun!”Reza menggenggam tangan Sonia, lalu memeluk Sonia ke dalam pelukannya. “Tenang saja. Seumur hidup ini, kita berdua tidak akan berpisah lagi!”Sonia bersandar di atas pundak Reza, lalu mengangkat kepalanya untuk melihat kembang api di atas langit. “Terima kasih, Reza.”Terima kasih sudah membawa Sonia berjalan keluar dari kegelapan dan memiliki kehidupan yang berbeda!Reza menggendong Sonia berjalan ke dalam kastil. Lampu di seluruh kastil terang benderang. Akhirnya malam ini menyambut sang pemiliknya.Mereka terus naik hingg
Tasya yang berada di samping bertanya dengan penasaran, “Gimana caranya buat onar di kamar pengantin? Aku juga mau bikin onar ….”Belum sempat Tasya menyelesaikan omongannya, dia pun menyadari tatapan sinis dari pamannya. Senyuman cerah di atas wajahnya seketika menghilang. Dia langsung mendekat ke sisi Yandi.Reza berkata, “Kak George dan Kak Diana juga sudah pergi istirahat. Yandi, kamu bantu aku jagain Tasya, suruh dia juga cepat istirahat.”Lantaran mendapat pesan langsung dari pengantin pria, tentu saja Yandi tidak bisa menolak. Dia mengangguk dengan perlahan. “Tenang saja!”Setelah mendengar ucapan Reza, hati Tasya langsung berbunga-bunga. Dia pun tidak peduli lagi dengan masalah kamar pengantin.Matias sudah berjalan ke sisi Ranty. Dia menggendong Ranty, lalu berkata, “Trik kamu dalam bikin onar di kamar pengantin juga tidak dianggap sulit bagi mempelai pria dan mempelai wanita. Kita jangan cari masalah, pergi tidur saja.”Setelah dipikir-pikir, Ranty merasa ucapan Matias benar
Sonia bertanya kepada Ranty dengan kaget, “Melvin juga bawa Kase pergi?”Ranty mengangkat alisnya. “Kase sudah mabuk dan terus ribut ingin tanding minum alkohol dengan Reza. Melvin pun bawa dia pergi, sepertinya dibawa pulang Kota Jembara, biar nggak tambah masalah.”Sonia mengangguk, lalu menyerahkan Kase kepada Melvin. Dia pun merasa tenang!Reza melihat kemari. “Apa yang diberikan Melvin kepadamu?”Sonia berterus terang. “Sebuah kastil!”Reza mengambil memo dari dalam kotak, lalu membacanya sekilas. Nada bicaranya terdengar dingin. “Dia memang pandai dalam cari muka!”Sonia mengangkat alisnya. “Kenapa? Dari maksudmu, Tuan Reza tahu masalah keluarganya Melvin?”“Tuan Reza?”Pria itu mengangkat kelopak matanya, lalu berkata dengan nada rendah dan magnetis.Sonia sudah mengerti dirinya telah salah bicara. Dia pun segera memperbaikinya, “Suamiku!”Kali ini, Reza baru menjelaskan dengan senyum lembut. “Sebelumnya ayahnya Melvin sudah berbicara seperti itu, kamu kira keluarganya Hana bakal
Keesokan harinya, saat Sonia keluar, Hemiko sedang joging. Hemiko menyapa, "Selamat pagi!""Pagi!" sahut Sonia yang tidak terlalu bersemangat."Semalam kamu nggak bisa tidur, ya?" tanya Hemiko dengan napas terengah-engah. Dia pun berhenti sejenak.Sonia menjawab dengan kesal, "Ini semua karena kamu. Ak
Raut wajah Stella menjadi sangat canggung.Teddy tersenyum sinis. “Kamu masih kalah dari Sonia. Seharusnya kamu fokus dalam meningkatkan kemampuanmu. Jangan melakukan siasat buruk seperti ini!”Stella menunduk. Dia sungguh merasa malu saat ini. Pada akhirnya, dia berkata dengan terisak-isak, “Semua in
Jason melihat ke sisi pintu kamar, lalu berkata dengan datar, “Tidak usah. Tidak apa-apa!”“Baik, kalau ada apa-apa, kamu bisa hubungi aku!”“Emm!”Panggilan diakhiri. Jason membuka pintu kamar, lalu melihat ke luar kamar.Tipe rumahnya adalah dua kamar tidur yang diapit oleh satu kamar mandi. Jadi pint
Di ruang santai, Bondan terus menang beberapa putaran. Hal ini membuat Yusa dan yang lainnya mengeluh tanpa henti. Melihat seorang pelayan datang membawa minuman, Bondan berkata, "Tolong bawakan dua botol Romanee Conti tahun 1990, masukkan ke tagihanku!"Yusa memuji sambil tersenyum, "Bondan memang m







