MasukKlien menyapa Roger dengan sopan, lalu berjalan memasuki restoran.Roger berkata dengan kening berkerut, “Tiba-tiba ibuku telepon aku, katanya mau bahas masalah aku sama kamu. Aku kira dia juga panggil kamu kemari.”Theresia mengangkat alisnya dengan kaget. “Bukannya kamu sudah jelaskan masalah kita dengan Bu Jovita?”Roger juga merasa heran. “Iya, aku sudah beri tahu dia masalah kita sudah putus. Apa lagi yang ingin dia lakukan?”Theresia kepikiran kemungkinan Hallie sedang menghasut Jovita. Dia pun mengingatkan Roger. “Hallie, Bu Jovita … dan Agnes sangat dekat. Kamu … mesti lebih hati-hati.”Roger tersenyum getir. Dia memang sudah masuk jebakan ibu kandungnya dan Agnes. Hanya saja, tidaklah mungkin untuk menikahkannya dengan Hallie. Di dalam restoran.Melalui jendela, Hallie melihat mereka berdua sedang mengobrol di luar sana. Dia tidak tahu kenapa Theresia bisa kemari. Tiba-tiba dia mulai merasa cemas. Dia takut Theresia akan membongkar identitasnya di hadapan Roger. Saking gugupn
Hari ini, Theresia datang dengan persiapan. Roger pasti sudah membocorkan kabar kepada Theresia!Roger bukan hanya memecat Agnes dari perusahaan saja, dia bahkan bersekongkol dengan orang luar untuk menindas keluarga sendiri. Dalam sesaat, rasa benci Agnes terhadap Roger jauh lebih besar daripada terhadap Theresia!Agnes mesti balas dendam. Dia pasti akan balas dendam!…Saat bekerja, Hallie pun merasa tidak begitu fokus. Hari ulang tahun Jovita sudah berlalu belasan hari. Jovita memang masih bersikap sangat ramah terhadapnya, bahkan lebih ramah daripada sebelumnya, tetapi Roger tidak pernah mencarinya sama sekali.Ketika kepikiran dengan telepon tadi pagi, Hallie pun merasa semakin tidak tenang lagi. Dia berpikir sebentar, lalu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Jovita.Terdengar suara antusias Jovita dari ujung telepon. “Hallie, apa kamu sudah pergi kerja?”Hallie membalas dengan tersenyum, “Sudah.”Jovita bersikap semakin lembut dan hati-hati. “Ada urusan apa mencariku?”Halli
Saat pulang, waktu sudah larut malam. Ketika melihat lampu di dalam ruang tamu masih menyala, Theresia merasa seperti tertangkap melakukan kesalahan saja. Dia pun menoleh untuk bertanya pada Morgan, “Kalau Kakek tanya kenapa kita pulang semalam ini, gimana jelasinnya?”Apalagi mereka pulang bersama!Morgan menggandeng tangan Theresia. Tatapannya kelihatan gelap di bawah cahaya malam. “Apa masih perlu dijelaskan lagi?”Ujung bibir Theresia melengkung ke atas. Namun, saat memasuki rumah, dia meronta untuk melepaskan tangan Morgan. Aska dan Jemmy yang berada di dalam ruang tamu masih belum tidur. Mereka sedang menunggu kepulangan cucu mereka dengan bermain catur.Begitu Aska mendengar ucapan pelayan, dia pun berdiri dan berjalan kemari. Tatapannya penuh dengan rasa perhatian. “Jeje, apa kamu lembur lagi?”Theresia menyapa Jemmy, lalu mengangguk dengan tersenyum. “Iya, Kakek nggak usah tunggu aku.”“Aku tidak bisa tidur, makanya main catur sama Jemmy!” kata Aska dengan terkekeh, “Apa kamu
Theresia dan Morgan kembali ke dalam mobil, lalu menyalakan mesin mobil untuk meninggalkan tempat.Di bawah pencahayaan gelap, dagu pria itu kelihatan jelas. “Sepertinya Hallie sudah melakukan banyak hal di belakang!”Theresia menunjukkan ekspresi merenung. “Dia ingin mengandalkan kekuatan Keluarga Manthana.”Pada hari pernikahan Sonia waktu itu, Theresia menyadari bahwa anggota Keluarga Manthana sedang menjilat Hallie. Kebetulan Keluarga Manthana juga memiliki dendam terhadap Theresia, mereka pun bisa dimanfaatkan oleh Hallie. Tentu saja, masalah memanfaatkan ini terkadang juga dua arah.Morgan berkata, “Setelah pulang nanti, aku akan ngomong sama Kakek Aska untuk segera mempublikasi identitasmu, lalu mengusir Hallie.”Theresia memutar bola matanya, lalu menggeleng dengan tersenyum. “Jangan, jangan beri tahu Kakek.”“Emm?” Morgan merasa tidak puas.Sudut mata Theresia sedikit terangkat. Tatapannya yang berkilauan itu bagai sedang menyembunyikan ide buruk saja. “Keluarga Manthana ing
Theresia melihat wajah samping tegas Morgan dengan mengangkat sedikit ujung matanya. Dia pun ikut menuruni mobil.Mereka berdua sama-sama naik ke lantai atas. Setibanya di luar ruang VIP yang dipesan asisten Roger, Theresia pun mengetuk pintu, membukanya, lalu memasuki ruangan.Pencahayaan di dalam ruangan terlihat gelap. Terdapat 5-6 orang sedang duduk di dalam sana. Dalam sekilas, Theresia bisa melihat Agnes yang duduk di paling dalam.Agnes datang bersama asistennya Roger, ada juga “Tuan Ethan" dan “Tuan Brevi" yang menghina Ingga tadi siang. Selain itu, ada juga tiga orang pria lainnya. Mereka semua sedang duduk di sofa, menatap dua orang yang berjalan memasuki ruangan dengan penuh waspada.Ketika melihat Theresia datang dengan membawa seorang pria, Agnes juga tidak merasa takut. Dia memberi isyarat mata kepada orang di sampingnya. Orang itu segera berdiri dan menjaga di depan pintu. Mereka kelihatan arogan, seolah-olah akan membuat Theresia tidak bisa pulang lagi!Agnes berkata de
Pelayan bertanya, “Apa perlu bantu kamu untuk menyimpan bunganya dulu?”Theresia menggeleng. “Nggak usah. Terima kasih.”Pelayan berjalan pergi, lalu segera kembali dengan mengambil sepotong selimut tipis. “AC restoran kami agak dingin. Kekasihmu suruh aku bawa selimut buat kamu.”Theresia mengangkat kepalanya melihat orang yang sedang menelepon. Kelembutan terlintas di dalam tatapannya. Dia mengambil selimut untuk ditutup di atas kakinya, lalu berterima kasih dengan suara lembut, “Terima kasih.”“Kekasihmu baik sekali!” puji pelayan dengan tersenyum, lalu menuangkan segelas air lemon untuk Theresia. “Kalau kamu butuh sesuatu, kamu bisa panggil aku setiap saat.”“Oke!” Theresia sedang menunggu kepulangan Morgan. Dia mengambil gelas air, lalu menoleh untuk melihat ke luar jendela. Saat ini, matahari telah terbenam. Lampu jalan telah dinyalakan. Pejalan kaki berjalan hilir mudik di jalan. Angin di awal musim panas ini mulai berembus membuat orang merasa segar.Cahaya lampu memancar ke a
Entah berapa lama kemudian, pintu bel berbunyi. Rose pergi membuka pintu dan dia pun terkejut ketika melihat orang di depan sana.Juno mengenakan mantel model panjang dengan aura dingin di tubuhnya. Sepasang mata tersembunyi di balik kacamatanya. Rose tidak bisa membaca sikapnya dengan jelas, sepert
Sonia makan siang bersama Ranty.Saat makan, mereka berdua terus membahas soal Morgan dan Theresia. Satunya tampan dan satunya cantik. Ranty merasa sangat percaya diri terhadap perjodohannya kali ini.Di satu sisi, Sonia berharap semua bisa berjalan sesuai dengan kemauan Ranty. Namun di sisi lain, ak
Johan berkata, “Aku sudah persiapkan ungkapan perasaanku yang begitu panjang kepada Frida-ku. Aku takut aku akan melupakannya gara-gara gugup.”Matias tersenyum lembut. “Kalau kamu sudah persiapkan kata-kata dari lubuk hatimu, gimana kamu bisa melupakannya?”“Belum pasti. Bisa jadi nantinya aku gugu
Pada ronde sebelumnya, Theresia mendapat kartu terendah, kali ini justru mendapat yang tertinggi. Dia menoleh dan bertanya pada Morgan, “Kali ini ketiganya beda semua, masih mau taruhan?”Morgan menatapnya. “Apanya yang beda?”Theresia berbisik, “Lambangnya beda semua.”Morgan menarik napas dalam-da







