LOGINPria itu membungkukkan tubuhnya untuk mencium kepala Theresia. Suaranya berubah menjadi serak. Dia pun berkata dengan suara berat, “Sebelum kamu datang, aku tidak bisa tidur semalaman.”Theresia menurunkan bulu matanya. “Aku juga.”Mungkin karena merasa terlalu bahagia sekarang. Ketika mengingat kembali cobaan di malam itu, dia juga sudah tidak merasa sedih lagi.Morgan menyembunyikan sikap murungnya. Nada bicaranya malah terdengar serius. “Kalaupun kamu sudah pergi, aku juga akan menunggumu. Kamu sudah menungguku selama ini. Aku juga bisa menunggumu.”Hati Theresia bagai digerogoti semut saja, rasanya sakit dan gatal. Dia menggigit bibir bawahnya. “Jadi, kenapa kamu nggak suruh aku tinggal?”Morgan menunduk dan mencium pipi samping Theresia. Nada bicaranya terdengar manja. “Kalau kamu ingin kehidupan yang menarik, aku bisa memberikannya kepadamu. Aku bisa beri semua yang kamu inginkan.”Theresia memiringkan sedikit kepalanya. Dia menatap mata Morgan. “Aku cuma mau kamu saja!”Tatapan
Sederetan orang di luar berdiri hormat dengan rapi sembari mendengar omongan Jemmy.Jemmy memperkenalkan kepada semua orang dengan serius, “Dulu, Theresia pernah datang ke rumah. Kalian semua juga sudah pernah bertemu dengannya. Hari ini, aku perkenalkan secara resmi. Dia adalah istrinya Morgan, calon nyonya rumah dari Keluarga Bina, Theresia.”Indra merasa paling gembira. Dia duluan memberi selamat. “Selamat, Tuan. Selamat, Nyonya!”Yang lain juga baru tersadar dari rasa kaget mereka. Semuanya mulai memberi selamat.“Nyonya!”“Selamat atas pernikahan Tuan dan Nyonya!”“Tuan dan Nyonya langgeng selalu dan segera dianugerahi momongan!”…Theresia berterima kasih dengan tersenyum lembut. Dia tetap kelihatan tenang dan ramah, tetapi sebenarnya dia sungguh merasa canggung. Semuanya memang terlalu mendadak. Dia bahkan tidak mempersiapkan apa-apa, bahkan tidak membawa hadiah sama sekali.Sepertinya Morgan tahu apa yang sedang dipikirkan Theresia. Dia menggandeng tangan Theresia, lalu berkata
Setelah kembali ke Kediaman Keluarga Bina, Indra melihat Morgan menggandeng Theresia untuk memasuki rumah. Setelah merasa terkejut sejenak, mereka bergegas menyambut kepulangan mereka berdua. Dia sungguh merasa takjub. Ternyata dugaan Jemmy memang benar.Bukannya “kesempatan" sudah datang?Indra membawa mereka berdua ke rumah baca untuk menemui Jemmy.Begitu mereka berdua memasuki ruangan, Theresia pun berkata dengan lembut dan tersenyum, “Kakek!”Jemmy juga tersenyum. Nada bicaranya terdengar ramah. Dia berkata dengan makna tersirat, “Sudah datang, ya. Tidak pergi lagi?”Penerbangan dijadwalkan berangkat pukul sebelas. Jika Theresia kembali ke Kota Jembara sekarang, semuanya juga sudah tidak sempat. Apalagi, mereka berdua sama-sama memasuki ruangan. Jemmy juga sekiranya sudah mengerti.Tatapan Theresia terlihat elegan. “Nggak pergi lagi!”Morgan tersenyum tipis. “Dia mau pergi ke mana lagi?” Selesai berbicara, Morgan meletakkan akta nikah di hadapan Jemmy. “Kakek, kami sudah menikah!”
Theresia terbengong sembari mengangguk. “Sudah.”Pria itu menggandeng tangan Theresia, lalu membawanya berjalan ke dalam kamar. “Kalau begitu, hari ini saja. Kita mandi dulu, lalu makan sarapan. Setelah itu, kita akan pergi urus prosedur!”…Satu jam kemudian, Theresia mengisi dokumen, kemudian staf yang bertugas membawanya pergi melakukan foto pernikahan. Saat duduk di tempat, Theresia masih merasa sedikit terbengong.Pantas saja Theresia merasa terbengong, perubahan emosi selama dua hari ini terlalu drastis. Semua yang terjadi di luar dugaannya.Contoh, semalam Theresia sebenarnya datang untuk berpamitan. Setelah dipikir dengan saksama, dia memutuskan untuk menunggu Morgan di Kota Jembara. Sekarang, Morgan malah memberitahunya bahwa dia tidak mungkin akan meninggalkan Theresia.Kejutan itu membuat Theresia mulai merasa pusing.Pagi harinya setelah Theresia membaca memo itu, dia memang merasa sedikit gegabah. Hanya saja, lantaran dia berinisiatif mengungkit masalah pernikahan, Theresi
Ujung mata Theresia memerah. Dia tersenyum sembari mengangguk. “Tolong bantu aku sampaikan kepada Kakek juga.”“Aku akan membatalkan tiket pesawatnya. Kami akan menunggumu di rumah. Kita baru akan pergi setelah kamu kembali,” kata Julia, “Aku sudah bilang sama Vans. Dia sangat memahamiku dan juga memahamimu.”Theresia berkata, “Aku usahakan akan segera kembali.”“Tidak usah buru-buru. Aku akan suruh Vans untuk pergi dulu. Kami juga tidak buru-buru,” kata Julia dengan tersenyum, “Kebahagiaanmu dan Morgan yang paling penting.”Saat ini, Theresia benar-benar merasa sangat gembira. Dia merasa gembira karena dirinya memiliki keluarga, sementara keluarganya juga begitu mencintainya dan toleransi terhadapnya.Setelah selesai berbicara dengan Julia, Theresia meletakkan ponselnya, lalu pergi membasuh tubuhnya di kamar mandi.Saat melewati rak buku, sebuah laci di bagian kiri sedikit terbuka. Sesuatu di dalam sana seolah-olah pernah terlihat sebelumnya. Theresia sudah berjalan ke pergi, tetapi d
“Iya, gadis itu bilang, kamu baru saja pergi.”“Sekarang, kita mau ke mana?”“Sudah terlalu malam. Kita tidak pulang ke rumah, ke vila sebelumnya saja.”Theresia melirik waktu sekilas. Sekarang sudah pukul sembilan malam, memang sudah terlalu malam ….…Setelah kembali ke vila, Morgan memeluk Theresia menciumnya sembari berjalan ke lantai atas. Lampu pintar di kamar lantai atas menyala, lalu refleks ditutup oleh Theresia.Ruang kamar yang luas terpancar pantulan cahaya lampu dari halaman. Bayangan gelap saling bertumpang tindih. Suhu di dalam ruangan tidak berhenti meningkat seiring dengan ciuman penuh kasmaran itu.Kancing pakaian Theresia dibuka. Tulang selangkanya kelihatan indah. Kulit putih bersihnya membuat Morgan tidak ingin melepaskannya.Sepasang kaki Theresia mengapit pinggang bertenaga dan kurus di pria. Suaranya terdengar suram. “Aku mau mandi!”“Emm,” balas si pria dengan nada rendah.Setelah memasuki kamar mandi, Morgan mengangkat tangannya untuk melepaskan kancing kemeja
Malam hari, di Imperial Garden.Reza sedang membasuh tubuhnya, sedangkan Sonia sedang berbaring di sofa sembari bertelepon dengan Ranty. Sonia kelihatan letih. Semuanya bisa terlihat dari wajah indahnya itu. Saat ini, dia sedang mendengar usulan dari Ranty.Ranty sedang berbicara dengan semangat tin
Suara Yandi memang pada dasarnya serak. Di dalam ruangan yang sunyi, nada bicaranya terasa semakin rendah, setiap kata seolah-olah menghantam hati Tasya.Wajah putih Tasya seketika merona. Mata bulatnya berkilau. Bibir merah mudanya digigit ringan saat dia berkata dengan suara rendah, “Aku menciummu
Di Kediaman Keluarga Bina.Jemmy dan Morgan sedang berdiri di luar pintu untuk menunggu kepulangan Sonia.Ketika melihat mobil berwarna hitam melaju ke dalam yang masih berjarak sangat jauh, Jemmy pun tersenyum. “Dia sudah kembali.”Tampak sedikit rasa nostalgia yang dalam di mata yang sudah tampak
“Nggak.”“Coba kamu nangis malam ini.”…Langit di malam hari semakin gelap. Kesadaran kembali jernih. Langit di ujung sana juga sudah mulai terang.Setelah Sonia tertidur, Reza keluar kamar. Dia menutup rapat pintu kamar, lalu berjalan hingga ke balkon ruang tamu sebelum menelepon Robi.Setelah pan







