LOGINJulian, seorang pemuda yatim piatu yang mendapat beasiswa pendidikan kedokteran, mendapat tugas untuk mengabdi kepada masyarakat di desa terpencil tempat pamannya tinggal. di sana, dia malah terlibat cinta segitiga dengan istri pamannya. kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya?
View MoreSeorang pemuda tampan baru saja turun dari pick up yang terjebak jalanan berlumpur tepat di gerbang masuk desa Ambarawa, kabupaten Bandung.
"Mas...... Artis Korea ya?” tanya salah seorang anak kecil kepada pemuda yang tampak kesulitan membawa dua tas cukup besar. “Ehh... Bocil, bukan dong, aku bukan artis Korea. Kamu ada-ada saja.” jawab pemuda itu. Pemuda itu tampak bingung. Sejak tadi ia berjumpa banyak orang yang melihatnya bukan hanya sekilas, tapi lebih ke memperhatikan. “Permisi, boleh numpang nanya kak, rumah pak Kades mana ya?” tanya pemuda itu pada seorang wanita berusia 20 tahunan yang sedang menjemur singkong. “Rumah pak kades ya.....” Wanita itu tak bisa melanjutkan kata-katanya, ia merasa dirinya sedang berdiri di hadapan seorang artis Korea. “Ganteng banget sihh.... Ya ampun!” gumam wanita itu. “Astaga” pemuda itu menepuk jidatnya. “Kak, saya nanya, rumah pak kades mana? Malah ngelantur!" Kata pemuda itu kesal, karena juga kecapekan membawa dua tas besar. “Duh Gusti, ma.... Maaf mas, sampean lurus aja nanti ketemu satu-satunya rumah yang ada gerbangnya, nah itu rumah pak kades mas!” jawab wanita tadi dengan suara gemetar. “Syukurlah, makasih ya kak!” kata Julian sembari menyimpulkan senyum kecilnya. “Sa...ma sama mas” jawab wanita tadi yang masih terpaku menatap Julian yang pergi. “Arrrggghhh..... Ganteng banget sihhhh, bisa pingsan aku kalau lama di tatap kayak gitu." Kata perempuan tadi yang langsung terduduk lemas. “Sumi, kamu itu lho ngapain, di suruh jemur singkong malah semedi!” teriak wanita yang tampak lebih dewasa darinya. Namanya Ratih, kakak kandung Sumi. Umur mereka terpaut tiga tahun. Tapi Ratih seorang janda tanpa anak. Suaminya meninggal di perantauan. Wati termasuk janda kembang. Bagaimana tidak, dirinya cantik dengan kulit sawo matang, dan tubuh sintalnya sering kali membuat pria hidung belang tergila-gila. Termasuk pak Kades. “Mbakk....tadi ada cowok gaaannnteeengg banget. Sumpah, meleleh aku. Langsung gugup aku pas di ajak ngobrol.” jawab Sumi. “Halah, kamu ini mengada-ada aja. Buruan jemur itu!” ketus Ratih lagi. “Mbakk” Sumi kini berjalan mendekat ke arah kakaknya, “Aku serius lho. Gantengnya itu yang ganteng banget, pasti kalau mbak Ratih lihat juga klepek-klepek.” “Halah, orang kambing di kasih sarung aja bagimu ya ganteng. Sudah sana, sebelum aku teriak lagi.” omel Ratih lagi. Di tempat lain, pemuda tadi sudah berdiri di depan rumah berpagar. Rumah paling besar di antara rumah lainnya. “Pasti ini rumah pak Kades.” gumam Pemuda itu lirih. Ia melangkah, tapi keadaan di sana sepi. Meski di depan terjejer 4 pasang sendal. “Permisi!” seru pemuda itu. “Permisi!” serunya lagi. Di dalam rumah, seorang wanita tiga puluh tahunan sedang membaca sebuah tabloid kecantikan. Di depannya, seorang wanita paruh baya sedang menyapu. Dia adalah pembantu pak kades yang bernama Lastri, perempuan berusia 36 tahun. “Loh, kayak ada orang di depan?” gumamnya. “Bi, tolong kayaknya di depan ada orang deh!” kata wanita muda tadi. “Iya nyonya!” jawab wanita yang di panggil bibi itu. “Mas...nyari siapa?” tanya pembantu pak Kades yang bernama Lastri. Saat itu, pemuda tadi sedang menghadap ke arah lain. Karena mendengar suara dari arah rumah, ia membalikan badan. “Eh permisi Bu, apa benar ini rumah pak kades?” tanya pemuda itu. “Duh Gusti, in....ini manusia apa bidadari laki-laki. Gan....ganteng banget.” kata Lastri dalam hati. Tubuh Lastri kaku. Tak bergerak sama sekali, matanya layu menatap pemuda di depannya. Tiba-tiba matanya berkunang-kunang, dan beberapa detik kemudian tubuhnya ambruk ke lantai. “Astagaa,” Pemuda itu cepat-cepat berusaha menangkap tubuh wanita yang pingsan tadi. Tapi karena tubuh wanita itu cukup berisi, ia tak mampu dan malah tangannya yang mencengkeram pinggang perempuan itu ikut tertarik dan jatuh tepat di atas wanita tadi. Di dalam rumah, wanita cantik tadi menunggu pembantunya kembali cukup lama. Ia penasaran , karena baru saja samar-samar ia dengar suara pria yang menanyakan rumah pak kades. “Ya ampun Bi Lastri, lama banget sih, padahal cuman lihat siapa yang ada di depan,” ucapnya. Dia menutup tabloidnya, menyimpannya di atas meja. Membuka cermin kecil sebentar untuk memastikan jika penampilannya baik. “Biii....siapa bi?" Teriak wanita cantik itu sebelum melangkah keluar. Karena tak ada jawaban, ia pun berjalan menuju ruang tamu. Tapi seketika tubuhnya kaku, karena yang ia lihat dari jarak 10 meter adalah di atas tubuh Lastri ada seorang pria jika di lihat dari penampilannya. “Astaga.....lastriii....mesum di teras rumahhh...” teriaknya. Dengan mata melotot, ia mempercepat langkah. “Heiiii kamu.....siapa kamu......!” teriaknya. “Tolongg....tolonggg...ada orang mesum di siniii.” teriaknya lagi. Pemuda tadi langsung kebingungan mendengar teriakan wanita lainnya dari dalam rumah. “Eh...mbak, bukan begitu!” ucap pemuda tadi dengan nada gugup.“Tante cemburu ya!” Julian sedikit membungkuk, mencoba melihat wajah Wati dari bawah.Wati spontan menggeleng sambil terkekeh kecil. Ia memalingkan wajah agar rona wajah merah menahan malunya tak di lihat keponakannya. “Cemburu apanya? Tante ini cuma ngingetin.” “Ngapain diingetin segala?”“Ratih itu masih muda, cantik. Banyak yang ngejar dia, tapi dia juga gampang akrab sama orang baru. Tante takut nanti kamu jadi bahan omongan warga.”Julian menghela napas pelan.“Berarti Tante khawatir sama aku?” “Iya, jelaslah. Kamu kan baru datang ke desa ini. Belum tahu watak orang satu-satu.”Julian tersenyum tipis.“Siap, Bu Tante.”“Nah, gitu.”Mereka kembali melanjutkan perjalanan.Jalan desa mulai berubah menjadi tanjakan yang cukup curam. Tidak lagi berupa jalan berbatu, melainkan susunan batu kali yang ditata menyerupai anak tangga mengikuti kontur bukit. Julian mendongak. “Wah... tinggi juga.”Wati tertawa. “Baru segini sudah capek?” “Lumayan.”“Dulu lebih parah.”“Maksudnya?” Jul
Wati baru bangun, ia memunguti pakaiannya. Tak lupa ia membangunkan Wawan yang masih tertidur di sampingnya, di sofa ruang keluarga. “Julian, Julian bangun!" Wati menggoyangkan kaki kalian dengan tangannya. Julian mengerjap sebentar, lalu duduk di sebelah Wati dengan wajah mengantuknya. Pertempuran tadi benar-benar membuatnya lemah. Wati benar-benar ganas kali ini. Meskipun tadi pagi mengeluh kakinya sakit untuk berjalan, ia tak menyangka jika Wati begitu liar ketika berada di atasnya. “Buruan mandi!" Wati bangkit terlebih dahulu menuju kamarnya, “Habis itu antar aku ke rumah orang tuaku!”“Katanya sakit kakinya?" Tanya Julian heran sambil menatap punggung tantenya tanpa penghalang sedikitpun. “Nggak apa-apa, toh aku bilang kakiku sakit, masih kau paksa juga." Wati tersenyum sebelum menutup pintu kamar. Tak lama kemudian ia keluar lagi dengan handuk melilit tubuhnya. “Jangan lama-lama!”Julian mengangguk, kemudian ia menuju kamar. Di sana ia mengambil handuk dan membakar s
"Asshhh...."Julian melenguh pelan. Sensasi ketika Wati yang mengambil inisiatif terasa jauh lebih intens.Wati tidak berhenti. Ia memberikan tekanan lebih pada punggung Julian, lalu membuka sedikit bibirnya untuk memberikan gigitan kecil yang nakal pada tonjolan tersebut. Reaksi Julian instan; pusakanya semakin mengeras, berdenyut di bawah sentuhan bibir Wati.Tangan Wati bergerak turun, meraba permukaan kain celana Julian, memastikan letak kepala pusaka keponakannya itu. Ia adalah wanita muda yang selama ini terabaikan. Suaminya memiliki segalanya—kekayaan dan kekuasaan—namun gagal memberikan kepuasan di ranjang. Kehadiran Julian adalah jawaban atas segala dahaga yang selama ini ia pendam.Sementara itu, Julian sudah kehilangan akal sehatnya. Ia meloloskan kancing celana lalu menurunkan celana dan bungkus pundaknya ke bawah. Membuat pusakanya mengacung bebas di depan wajah Wati. Pusaka Julian membusung, urat-uratnya menonjol seperti akar pohon, merah padam dan sedikit bergetar. Wa
"Ke ruang keluarga aja yuk ngobrolnya, kurang enak kalau di dapur kayak gini!" “Kamu jangan aneh-aneh ya!” Wati menaruh telapak tangannya di depan Julian untuk menahan. “Ya nggak lah Tante, lagian Tante masih sakit kan!” Julian mengulurkan tangan, telapaknya terbuka lebar menanti sambutan. Wati mengangguk, merasakan panas menjalar ke pipinya. Ia meraih tangan keponakannya itu, jemarinya gemetar saat bertumpu pada pinggiran meja makan untuk mengangkat tubuh. Setiap inci pergerakannya terasa berat. Ada rasa nyeri yang berdenyut di antara pangkal pahanya, sebuah pengingat tajam tentang apa yang terjadi semalam. Saat ia mencoba melebarkan langkah, wajahnya meringis kecil. Julian menangkap ekspresi itu. Tatapannya berubah redup, dipenuhi rasa bersalah yang bercampur dengan sisa-sisa gairah. Ia tahu persis mengapa langkah wanita itu tertatih. "Maafin aku ya, Tante!" Bisikan itu datang bersamaan dengan tubuh Julian yang merapat, memapah pinggang Wati agar tidak limbung. Wati membuang
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews