MasukMorgan berkata dengan nada berat, “Dua hari ini, aku suruh orang untuk menelusuri petunjuk orang tua asuhmu untuk menemukan orang yang menculikmu waktu itu. Sepertinya dia sudah ditangkap pada satu tahun lalu. Sekarang, dia sedang ditahan di penjara. Aku akan suruh orang untuk ‘menjaganya’.”Tatapan Theresia menjadi dingin. Dia mengangguk dengan perlahan.Morgan melanjutkan, “Selain itu, nasib ‘orang tua asuh’ yang membelimu juga tidak bagus sekarang. Putranya tidak mahir dalam apa pun. Dia sudah punya kekasih, tapi mereka berdua tidak bekerja. Setiap harinya hanya menghamburkan uang orang tua saja. Putra mereka juga sering memarahi dan memukul mereka. Berhubung nasib mereka sudah seperti itu, aku juga tidak suruh orang untuk turun tangan lagi.”Theresia berkata, “Aku sudah nggak punya dendam lagi sama mereka. Aku memang bukan anak kandung mereka. Mereka sudah membeliku, tapi juga sudah menjualku. Aku nggak punya perasaan apa-apa terhadap mereka. Tentu saja aku nggak membenci mereka.”
Sayap ayam di dalam oven sudah selesai dipanggang. Sup yang mendidih juga sudah dingin. Sepertinya sedang hujan di luar sana. Suara rintik hujan membuat suasana yang sudah tenang terasa semakin hening lagi.Morgan membangkitkan tubuhnya dengan perlahan. Dia mengenakan pakaiannya, lalu berkata dengan suara serak, “Biarkan aku saja yang beresin. Kamu pergi mandi sana. Setelah selesai mandi, kamu pun sudah bisa makan.”Theresia menyipitkan matanya dengan malas. Dia tidak ingin bergerak. “Apa kamu yakin kamu bisa menyelesaikan masakan setelah aku selesai mandi?”“Apa cukup dengan dua jenis lauk dan satu jenis sup?” tanya Morgan.Theresia berkata dengan nada ringan, “Tadi siang Kakek suruh orang antar makanan kepadaku. Masih sisa banyak sekali, jangan disia-siakan, aku akan memanaskannya nanti.”“Emm,” balas si pria dengan nada rendah.Morgan menggendong Theresia ke atas meja dapur. Theresia malah memeluk erat pinggang Morgan dan tidak bergerak. Sudut matanya masih kelihatan memerah. Dia be
Koki utama adalah seorang pria berkulit putih. Dia menguasai bahasa Cendania yang sangat lancar. Dia pun berkata dengan tersenyum ramah, “Apa kamu itu kekasihnya Tuan Morgan? Kalau kelasnya diakhiri sekarang, uangnya juga tidak bisa dikembalikan lagi.”Theresia berkata dengan tersenyum, “Aku tahu. Terima kasih, ya!”“Oke, sampai jumpa!” Theresia mengangguk, lalu memutuskan panggilan video. Dia memalingkan kepalanya dan bertanya pada Morgan, “Apa kamu mau panggang sayap ayam?”“Apa kamu bisa?” tanya Morgan.Theresia berkata, “Bukannya kamu sudah bumbui ayam itu? Langsung masukkan ke dalam oven saja. Cukup atur suhu dan waktunya saja!”Morgan menyerahkan sepiring sayap ayam yang sudah dibumbui kepada Theresia. Theresia membalikkan tubuhnya memasukkan piring ke dalam oven, lalu bertanya, “Kenapa kepikiran untuk belajar masak?”Morgan mulai memilih bahan makanan lain, lalu menjawab dengan nada datar, “Tidak apa-apa. Biar kamu merasakan rasanya ada makanan setelah pulang ke rumah.”Theres
Ketika mendengar ucapan panjang lebar Ranty yang bagai petasan itu, Theresia tak tahan kuasa untuk tertawa. “Jangan pingsan. Nanti Tuan Matias malah sakit hati.”“Theresia, apa kamu tahu aku sudah kenal berapa tahun sama Kakek Aska?” Ranty merasa terharu. “Kita itu berteman. Sekarang, kamu malah berubah menjadi cucu kandungnya Kakek Aska!”Theresia dapat mendengar betapa kagetnya Ranty dari nada bicaranya. “Sebenarnya aku sendiri juga merasa sangat syok!”“Tapi, aku benar-benar merasa sangat gembira!” Nada bicara Ranty terdengar tulus. “Kabar ini benar-benar membuat orang merasa syok dan gembira!”Ranty tidak menyukai Hallie. Saat mendengar kabar bahwa Hallie bukanlah cucu perempuan Aska, dia pun merasa sangat gembira. Apalagi setelah mendengar kabar dari Sonia bahwa Theresia barulah cucunya Aska, dia pun merasa sangat amat gembira!Semalam, Ranty memeluk Matias dengan kegirangan. Matias pun salah sangka mengira dia sudah mengandung!“Terima kasih!” Theresia tersenyum lembut. “Ranty, a
Saat makan, Morgan bertanya padanya, “Apa ada janjian sama klien nanti malam?”Theresia mengedipkan matanya yang sedikit diturunkan. Dia merasa sedikit bersalah, tapi malah mengangguk dan berkata, “Iya, belakangan ini agak sibuk.”Morgan mengiakan dan tidak berkata lain.Selesai makan, mereka berdua sama-sama meninggalkan rumah. Mereka mengendarai mobil masing-masing melaju ke luar kompleks perumahan.Theresia juga tidak berencana untuk berbohong. Dia memang merasa sangat lelah. Ketika Ingga masuk untuk melaporkan urusan pekerjaan, dia pun mengungkit, “Hari Sabtu besok akan diadakan acara ulang tahun Nyonya Jovita di rumah, katanya acara nggak dilakukan secara besar-besaran. Hanya saja, dia juga sudah mengundang begitu banyak orang. Seharusnya Tuan Roger juga akan tinggal di rumah untuk merayakan ulang tahun ibunya. Bisa jadi, Nyonya Jovita akan memanfaatkan acara ulang tahunnya untuk memilih menantunya!”Ingga menatap Theresia. “Gimana kalau aku cari tahu siapa-siapa saja yang mengha
Morgan berkata, “Kalau kamu tidak bisa tidur, kita juga bisa lakukan yang lain.”Theresia terdiam sejenak. Dia berkata dengan suara yang sangat ringan, “Kenapa kamu tinggal di sini? Kamu itu seorang pemimpin, kamu malah sempit-sempitan tidur di sofa, kenapa?”Morgan menurunkan kelopak matanya, lalu berkata dengan suara datar, “Sudah turun hujan. Tidak bisa pulang.”Akhirnya Theresia mengerti. “Ternyata begini.”Morgan tersenyum tipis. “Kamu kira gara-gara apa?”“Aku kira ….” Theresia mengangkat tangannya untuk mencengkeram kemeja di depan dada Morgan. Bulu matanya sedikit bergetar. Dia melirik pundak Morgan, lalu mengeluarkan suara lembutnya. “Aku kira Tuan Morgan tinggal di sini karena ingin makan sandwich buatanku besok pagi.”“Sandwich buatanmu memang enak.”“Kalau begitu, besok aku buatkan lagi untuk kamu.”“Emm.”Saat Theresia berbicara, dia sudah memejamkan matanya. “Aku sudah ngantuk, mau tidur dulu. Jangan ganggu aku.”“Tidurlah!” Pria itu merangkul Theresia ke dalam pelukannya
Kening Theresia berkerut. “Kamu malah berani memelototiku. Awas aku cungkil matamu!”“Jangan!” Molly menunduk dengan ketakutan.Theresia mengangkat-angkat alisnya. Dia segera membalikkan tubuhnya untuk mengayunkan tongkat, lalu menyerang muka orang yang hendak menyerangnya secara diam-diam. Orang it
Theresia meninggalkan bibir pria itu, lalu berkata dengan suara rendah, “Ribut sekali. Aku nggak suka orang-orang ini dan nggak suka di sini.”“Pulang?” tanya Morgan.“Emm.”Morgan langsung mengambil gelas di tangan Theresia, lalu meletakkannya di atas meja. Dia menggendong Theresia, kemudian mening
Saat sedang perjalanan pulang ke apartemen, Theresia melihat ke luar jendela mobil. Tatapannya ketika melihat pemandangan malam terasa dingin. Ingin menaruh obat di dalam minuman?Meski diawasi oleh belasan orang, Theresia tetap bisa menukar gelas tanpa ketahuan. Apa intrik Mateo itu bisa melawannya
Lampu mobil memancar ke sisi Theresia yang sedang berjalan ke dalam gedung. Setelah Theresia masuk dan melihat lampu di lantai atas telah menyala, si pria baru memutar mobil meninggalkan tempat.…Setelah kembali ke lantai atas, Theresia menggantung jas, lalu pergi membasuh tubuhnya. Dia mengganti p







