LOGIN“Ji Yuan, Bolehkah aku masuk.” Song Yaoyi mengetuk pintu ruangan berkubah dengan keras. Song Yaoyi tau jika tidak keras, maka orang di dalam ruangan berkubah tidak akan mendengarnya.Tak lama pintu terbuka, kepala Ji Yuan menyembul dan dia tampak kaget, “Ayah… Ibu…”“Apakah kami boleh masuk?” Tanya Song Yaoyi lagi.Ji Yuan merasa tidak enak hati karena Song Yaoyi harus mengatakannya dua kali. Ji Yuan lalu membuka lebar pintu tebal itu dan mempersilahkan keduanya masuk.Begitu masuk, Song Yaoyi merasakan suhu udara yang sangat rendah. Dia juga melihat Ji Yuan memakai berlapis – lapis pakaian. Lalu Song Yaoyi tersadar jika suhu ruangan berkubah ini dibuat seperti ini dengan tujuan.“Ibu Ayah, Pakai ini…” Ji Yuan memberikan sebuah selimut besar untuk Song Yaoyi dan Chu Wei pakai.Song Yaoyi menerimanya lalu menarik Chu Wei dan membungkus mereka agar lebih hangat. Namun, Song Yaoyi merasakan, setelah dia berdekatan dengan Chu Wei, Song Yaoyi langsung bisa merasakan hangat. Chu Wei bagaika
Kereta kuda milik Kediaman Jendral Agung Chu sudah memasuki halaman Bibi Jiang, sebelum kereta berhenti seorang gadis cantik meloncat turun dengan segera.“Chu Yiyi!!” Teriak Song Yaoyi keras, dia kaget sekaligus takut dengan kelakuan anak bungsunya.“Aku sampai lebih dulu Ibu, Aku anak yang paling hebat!” Chu Yiyi menampilkan cengiran jahilnya dan berlalu masuk ke dalam.“Lihatlah… Itu anak mu. Kamu mendidiknya menjadi monyet kecil.” Song Yaoyi menatap Chu Wei, suaminya dengan tatapan yang kesal.“Dia paling tidak harus memiliki pertahanan diri, Zhao Zhi jadi bukan hal yang salah dia mempelajari Qinggong." Chu Wei, Jendral Agung Kekaisaran ini menjawab istrinya dengan acuh tak acuh.Song Yaoyi mendengus kesal, tetapi dalam hatinya membenarkan ucapan Chu Wei suaminya.“Nenek… Nenek… Nenek…” Chu Yiyi berlari meringsek masuk langsung ke halaman belakang, tempat biasa Nenek Jiangnya bersantai.“ohh Chu Yiyi, monyet kecil ku… “ Bibi Jiang langsung berdiri dan menyambut Chu Yiyi.Chu Yiyi
Chu Zhao mendengar dari beberapa penjaga mata – mata yang dimilikinya jika kereta Tucui tadi diikuti oleh sebuah kereta lain. Mendengarnya Chu Zhao merasakan tidak nyaman di hatinya, dia takut jika Pangeran murong Di Qiu akan mengetahui keterlibatannya Ji Yuan dan seluruh rumah Jendral Agung Chu. Chu Zhao mengkhawatirkan Ibu dan adik – adiknya, juga istrinya yang saat ini berada di halaman Bangongshi. Bukannya Chu Zhao merasa penakut untuk melawan Pangeran Murong Di Qiu, namun Chu Zhao sadar jika Pangeran Murong Di Qiu memiliki bom dahsyat itu maka dia tidak akan memiliki kesempatan untuk menang bahkan melawan.Trakkk“Tuan Jendral… ” Suara seorang prajurit terdengar di luar jendela.“Masuk.” Prajurit yang menggunakan pakaian serba hitam itu pun melesat dengan cepat ke dalam.“Laporkan.” Ucap Chu Zhao.“Tucui sudah melapor di halaman Bangongshi milik Jendral Agung Chu. Dia sudah memasuki halaman Bibi Jiang. Tucui, Sudah menyadari dia diikuti tak jauh setelah dia keluar dari gerbang Ko
Sementara di dalam, Chu Yaoyao sudah melakukan pemeriksaan menyeluruh pada Nenek Bugouo.“Nenek, Penyakit ini, sebenarnya dapat sangat mudah disembuhkan jika masih dalam tahap awal. Tapi… ini sudah terlalu lama…” Chu Yaoyao mengernyitkan dahinya tampak berpikir keras.“Nona Dokter, saya tahu… saya mengerti dan sudah pasrah dengan semuanya. Saya hanya ingin bertahan untuk memberikan kehidupan yang baik pada cucu ku. Saya ingin dia memiliki majikan yang baik.” Nenek Buguo berbicara dengan sorot mata yang sedih.“Dia sudah tidak punya siapa – siapa. Ibunya meninggal karena kelelahan bekerja untuk menghidupi dan mengobati saya. Saya sangat merasa bersalah padanya.” Nenek Buguo menyeka airmatanya dengan lengan bajunya yang tipis.“Nenek… Kamu bicara apa? Aku belum selesai berbicara kamu sudah memutuskan sesuatu yang begitu besar.” Chu Yaoyao menggeleng – gelengkan kepalanya pelan.“Aku tadi mau bilang, karena sakit ini sudah lama, maka butuh banyak waktu, kerja keras dan kesabaran. Kamu ha
Sebuah kereta berhenti di depan gerbang halaman Bibi Jiang. Tucui turun dan melapor pada penjaga di depan. Nenek Buguo dan Pingguo duduk dengan tenang di kereta. Nenek Biguo Sudah mulai merasakan kelelahan. Tubuhnya mulai merasa sedikit nyeri. Perjalanan yang seharusnya hanya ditempuh selama satu setengah jam, menjadi lebih dari tiga jam. Karena dalam perjalanan, Tucui merasakan jika dia diikuti oleh sebuah kereta lain. Terpaksa dia memutar jalan dan mengganti kereta. Ada sebuah markas bayangan milik Jendral Fengyi yang berada di tepi pantai Chudox, di kota Churus yang sangat ramai. Tucui mengganti kereta dan menitipkan kereta pedagang dan menggantinya dengan kereta biasa lalu melanjutkan perjalanan kembali. Rencananya berhasil, Tucui tidak lagi diikuti, dan dia dapat dengan bebas melanjutkan perjalanan ke Bongongshi dengan tenang. Karena ini lah, Nenek Boguo menjadi kelelahan, karena di dalam kereta tempat duduknya tidak nyaman. Nenek Bugou dan Pingguo harus menahan guncangan keret
Ji Yuan tampak mengerutkan darinya, bibirnya tanpa sadar mengerucut dan pipinya dia kembangkan. Jika ada yang melihat wajah Ji Yuan saat ini mereka pasti akan tertawa terbahak – bahak. Karena wajahnya mirip dengan ikan mas koki yang sedang cemberut.Sementara Chu Yaoyao yang mendapat kabar dari Bibi Jiang mengenai kedatangan Ji Yuan dan maksudnya ke halaman Bangongshi, khususnya pada pintu halamannya, langsung mendatangi Halaman Bangongshi milik Bibi Jiang.“Nenek… Nenek… Aku datang.” Chu Yaoyao memasuki kamar Bibi Jiang dengan terburu – buru.“Anak nakal ini… Mengapa kamu terburu – buru. Kamu menggetarkan dinding kamarku.” Bibi Jiang menatap Chu Yaoyao dengan kesal.“Mana mungkin… Aku tidak sekuat itu untuk menghancurkan dinding…” Chu Yaoyao mengerucutkan mulutnya dan duduk di depan Bibi Jiang yang tengah makan kuaci, lalu ikut menyambarnya.“Anak nakal ini selalu menjawab…” Bibi Jiang mendengus resah.Chu Yaoyao hanya memberikan cengiran khasnya.“Nenek, apa Kakak Yuan sudah mulai b
Lubuo memberikan hormat militernya pada Chu Zhao, lalu menyerahkan surat yang diberikan oleh Murong Feng yang dia bawa.“Tuan Jenderal, Pangeran Murong Feng memberi pesan, jika Tuan Jendral secepatnya datang ke kota Fulong. Yang Mulia berkata, ‘aku sudah menemukannya. Dan memintanya untuk membawa J
Sehari sebelumnya.Morong Feng tiba di kota Fulong sejak semalam. Dia beristirahat di penginapan dan sudah mulai mencicil mencari lahan kepemilikan Murong Di Jiu Pamannya. Prajuritnya dia bagi dua, satu untuk beristirahat dan berjaga di penginapan, sisanya yang masih bertenaga, menyisiri kota Fulon
Keesokan harinya, keduanya berangkat ke kota Bongshi, yang berjarak dua jam dari Ibu kota. Kota Bongshi saat ini tengah mengalami serangkaian protes besar – besaran terhadap Gubernur yang memimpin daeran Bongshi. Masyarkat Bongshi berkumpul di lapangan dekat tempat tinggal Gubernur memintanya untu
Morong Feng, menghadap Ayahnya.“Ayah, aku akan menyelidiki lahan milik Paman Di Jiu di Furong.” Murong Feng mengatakannya sambil meminum teh yang disajikan Kasin Liu. Wajahnya acuh tak acuh seakan – akan itu bukan masalah besar.“Murong Di Jiu memiliki lahan di Furong?” Kaisar tertegun mendengar p







