Pendekar Titisan Naga Langit

Pendekar Titisan Naga Langit

last updateLast Updated : 2026-02-23
By:  Backin_paradeUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
7Chapters
6views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Kelahirannya membawa titah dari langit. Namun, di saat yang bersamaan kutukan itu memakan takdirnya. Bai Yu Xuan, bayi kecil yang baru saja melihat dunia itu harus menelan pahitnya kehidupan. Di hari kelahirannya, ia diramalkan akan menjadi orang besar dan paling disegani di negeri ini. Tapi hal lain datang sebagai kutukan, mengatakan bahwa kelak ia akan dibutakan dengan kekuasan dan membunuh rajanya sendiri. Demi menghindari kutukan itu, Bai Yu Heng membawa putranya ke pengasingan. Hidup di pedesaan dan menjadi rakyat biasa. Namun, ketika negeri mengalami masa krisis, Menteri Pertahanan menemukan keberadaan mereka dengan membawa titah dari sang raja. Bai Yu Xuan yang sudah tumbuh menjadi remaja yang tampan diangkat menjadi panglima tingkat tujuh dan harus turun ke medan perang. Namun, statusnya yang berasal dari kasta bawah membuatnya berselisih dengan para panglima dari kalangan kasta tinggi. Bai Yu Xuan harus bertaruh nyawa saat bertarung dengan harga diri para bangsawan sebelum bisa turun ke medan perang. Bisakah putra dari tabib rendahan ini menghadapi kekejaman dari dunia yang telah mengutuknya. Akankah ia mati di medan perang atau justru mati di negerinya sendiri.

View More

Chapter 1

Bab 1 : Anak Yang Dipilih Oleh Langit

Istana Kekaisaran Xia.

Menteri Pertahanan Fang tampak menaiki anak tangga yang lumayan tinggi untuk bisa menjangkau sebuah pintu di mana terdapat beberapa prajurit bersenjata yang berdiri di kedua sisi pintu.

Menteri Pertahanan Fang menghentikan langkahnya tepat di depan pintu dan salah seorang dari prajurit tersebut sekilas menundukkan kepala sebelum akhirnya berdiri memunggunginya dan menghadap pintu.

"Yang Mulia ... Menteri Pertahanan Fang datang menghadap," ujar prajurit tersebut dengan suara lantangnya dan kemudian menghadap rekannya. Mengangguk ringan seakan itu adalah sebuah isyarat karena setelahnya mereka berdua menarik pintu yang cukup tinggi tersebut dan menunduk dalam ketika Menteri Pertahanan Fang melewatinya.

Tepat setelah Menteri Pertahanan Fang melangkah masuk, para prajurit tersebut kembali menutup pintu dan kembali ke posisi mereka sebelumnya. Pria paruh baya itu berdiri tepat di bawah tangga, di mana di ujung tangga tersebut terdapat singgah sana sang penguasa Dinasti Xia yang tengah melihat ke arahnya.

"Bagaimana? Apa kau sudah mendapat kabar dari putramu?" Suara berat dan tegas milik Kaisar Xia menyapa pendengaran Menteri Pertahanan Fang.

"Sudah, Yang Mulia."

"Lalu bagaimana? Apa kita menang?"

"Mohon maaf, Yang Mulia. Tapi utusan yang telah dikirim oleh putra hamba mengatakan bahwa pasukan Beiling berhasil memukul mundur pasukan Xia dan karena ada begitu banyak prajurit yang terluka, mereka akan sampai di Xia sedikit lebih lambat"

Mendengar pernyataan yang di lontarkan oleh Menteri Pertahanan Fang membuat sang kaisar menjadi gusar. Bagaimanapun juga ini adalah pertanda buruk bagi Xia. Meski Beiling lebih sering mengalami kekalahan dalam perang yang sudah berlangsung sejak lama, sejak kaisar sebelumnya memutuskan kesepakatan perdamaian antar kedua kerajaan tersebut. Tapi tetap saja Beiling masih saja memiliki panglima-panglima perang yang kuat di setiap kali peperangan berlangsung.

Menyadari kegundahan sang kaisar, Menteri Pertahanan Fang mengangkat kepalanya dan memandang wajah sang kaisar yang terlihat begitu tertekan, meski kekalahan dalam peperangan adalah hal yang biasa.

"Yang Mulia, jika diizinkan hamba memilliki sebuah saran."

Sang kaisar mengarahkan pandangannya pada Menteri Pertahanan Fang. "Katakan!"

"Jika Yang Mulia mengizinkan, hamba akan mengambil anak itu."

Sebelah alis sang kaisar terangkat ke atas, tampak dia tengah mengingat sesuatu. "Anak itu? Apa maksudmu anak yang kau ceritakan waktu itu?"

"Benar, Yang Mulia. Anak yang sengaja disembunyikan dari Xia."

"Kalau begitu bawa anak itu kemari secepatnya!"

"Hamba mengerti, Yang Mulia..."

Setelah menemui kaisar, Menteri Pertahanan Fang melangkahkan kakinya menyusuri jalanan setapak yang berada di komplek Istana Kekaisaran Xia sebelum bisa menjangkau gerbang utama dan menuju rumahnya sendiri yang terletak di luar istana.

"Ayah."

Suara lantang seorang pria berhasil menghentikan langkah Menteri Pertahanan Fang. Dia menolehkan kepalanya dan mendapati putra keduanya, Fang Daxian yang berlari kecil menghampirinya.

"Ayah ada di sini?" tegur Daxian setelah berhasil menjangkau tempat sang ayah.

"Ayah ada sedikit keperluan dengan kaisar, bagaimana keadaanmu?"

Menteri Pertananan Fang tampak tengah memperhatikan putranya tersebut, memastikan dengan matanya sendiri bahwa putranya dalam keadaan baik baik saja. Karena meski Daxian adalah putranya dan belum menikah, Daxian terbilang tidak pernah pulang karena dia sendiri bertugas sebagai pengawal pribadi Putra Mahkota sehingga mengharuskannya untuk selalu siap siaga jika jika Putra Mahkota membutuhkannya.

"Aku baik-baik saja, tapi... kakak tertua. Aku dengar dari Guo Zhi ..." Daxian terdengar begitu hati-hati ketika membahas tentang sang kakak.

"Dia baik-baik saja, kau tidak perlu cemas. Pasukannya mungkin akan sampai dalam waktu lima hari."

Daxian mengangguk ringan dan merasa lega, setidaknya kakaknya masih baik-baik saja.

"Dan satu lagi."

Daxian kembali menatap Menteri Pertahanan Fang yang kembali bersuara.

"Ayah akan pergi untuk beberapa hari, jadi usahakan untuk menjenguk adikmu"

"Ke mana dan berapa lama?"

Menteri Pertahanan Fang memalingkan wajahnya dengan dahi yang mengernyit saat dia tengah mempertimbangkan sesuatu.

"Ayah tidak yakin sejauh apa tempatnya ..."

Menteri Pertahanan Fang kembali memandang ke arah Daxian dengan senyum yang mengembang di bibirnya. "Mungkin Ayah akan kembali dalam tiga hari."

Menteri Pertahanan Fang kemudian menepuk bahu Daxian. "Kau terlalu setia pada Putra Mahkota, tapi setidaknya jenguklah adik perempuanmu yang menunggumu di rumah. Ayah pergi dulu."

Menteri Pertahanan Fang melangkahkan kakinya kembali dan melambaikan tangannya tanpa berbalik. "Ingat yang Ayah katakan tadi, mengerti?"

Daxian menatap kepergian Menteri Pertahanan Fang dengan tatapan seperti tengah melihat orang aneh.

"Kenapa aku bisa memiliki ayah yang aneh seperti dia?" cibirnya pada ayahnya sendiri yang hanya terdengar seperti suara lebah.

••••

Hamparan langit biru yang luas, membentang pegunungan dan lembah di bawahnya yang menyembunyikan kehidupan di dalamnya.

"Langit tidak selalu biru, terkadang terlihat awan putih dan awan hitam. Jangan konyol!"

Gemericik air yang mengalir ke bawah menyusuri gunung dan berkumpul di lembah, ikan-ikan kecil yang bermain di dalam air yang terkadang menetap dan terkadang mengikuti arus.

"Siapa yang peduli mereka menetap atau tinggal? Aku tidak makan daging, jadi aku hanya makan rumput seperti kambing."

"Kakak ... kakak ... kakak tertua ..."

Sebuah suara menggema di antara pegunungan yang berdiri kokoh. Seorang pemuda yang sebelumnya berbaring di atas batu sembari bergumam, perlahan bangun dan menatap jauh ke depan dengan tatapan yang malas. Pakaian yang terlihat sangat usang, rambut yang di gulung dengan asal, kaki telanjang yang sangat kotor meski ia tengah berada di pegunungan, dan wajah yang terlihat kotor dengan ujung daun berwarna hijau yang belum sepenuhnya masuk ke dalam mulutnya. Namun, perlahan dia mengunyah semua daun tersebut seakan-akan itu adalah makanannya setiap hari. Dia benar-benar terlihat seperti seekor kambing sekarang.

Tampak dari kejauhan dua siluet kecil berlari ke arahnya. Dia memajukan wajahnya dengan mata yang menyipit.

"Siapa mereka?" gumamnya. "Mereka manusia, kan?"

Pemuda berpenampilan layaknya seorang gelandangan itu melipat kakinya sehingga membuatnya duduk bersila di atas batu. Dia kemudian menyangga dagunya dan menunggu dua siluet yang semakin mendekat dan menjadi semakin mudah untuk dikenali olehnya.

"Kakak ..."

Dua pemuda dengan pakaian sama seperti yang digunakan oleh pemuda tersebut tapi terlihat lebih manusiawi, tampak berlari ke arahnya sembari membawa keranjang di punggung mereka. Hingga pada akhirnya kedua pemuda tersebut sampai tepat di depan pemuda yang terlihat lebih tua dan lebih kotor dibandingkan dengan kedua pemuda yang baru datang dan satu pemuda langsung duduk ditanah dengan napas yang tersenggal, terlihat kelelahan. Sementara pemuda penunggu batu tersebut melihat keduanya seperti orang bodoh, terlebih lagi dia terlihat menikmati camilan yang berada di tangan kirinya.

"Apa yang kalian dapatkan hari ini?" tanya pemuda penunggu batu, berbicara seperti seorang bandit yang tengah meminta upeti.

Seseorang yang masih berdiri di hadapannya menurunkan keranjangnya. Menunjukkan beberapa tanaman obat yang telah mereka kumpulkan sejak pagi. Sementara pemuda penunggu batu tersebut menurunkan satu kakinya ke atas tanah dan memeriksa isi keranjang tersebut. Dia mengambil satu tanaman dengan bentuk daun yang memanjang.

"Hoi! Chang Pu, kau tahu apa ini?" tegur si pemuda penunggu batu dan menunjukkan tanaman yang sebelumnya ia ambil pada pemuda yang masih berdiri dan diketahui bernama Chang Pu tersebut.

"Tanaman obat," jawab Chang Pu dengan santai tapi malah membuat sang penunggu batu tersebut memalingkan wajahnya dan tersenyum tidak percaya, sebelum akhirnya berbalik menatap Chang Pu dan langsung memukul pemuda itu dengan tanaman yang sebelumnya ia ambil.

Si pemuda penunggu batu lantas murka. "Kau ini bodoh atau apa! Berapa kali aku harus mengajarimu? Memangnya kau pikir bisa mengobati orang menggunakan rumput liar? Apa kau orang gila, huh?! Lama-lama kepalamu yang akan aku masukkan ke keranjang."

Chang Pu langsung memegangi lehernya dengan kedua tangannya sembari tersenyum lebar dan sedikit merendahkan tubuhnya. "Kakak bercanda, kan? Aku, kan hanya salah mengambil satu."

Chang Pu berusaha untuk membujuk kakak penunggu batu yang kembali memasukkan daun dari tanaman yang berada di tangannya ke dalam mulutnya sembari menggerutu.

"Setiap hari kau bilang hanya satu, apa bedanya? Kau tetap membuat kesalahan. Jika seperti ini terus pak tua itu tidak akan berhenti menyebutku bodoh."

"Oh! Kakak tertua makan rumput lagi!" pekik pemuda yang masih duduk di tanah dan membuat pemuda penunggu batu tersebut terlihat murka.

Dia menghampiri pemuda yang terlihat lebih kecil di antara mereka berdua dan tidak segan-segan memukulnya dengan tanaman yang sebelumnya menjadi camilannya.

"Kau kira aku kambing? Apa perlu aku congkel matamu dulu baru bisa melihat dengan benar? Jangan sembarangan jika berbicara."

Chang Pu yang melihatnya tampak menahan tawanya. "Hei! Bao Wei, sebaiknya kau jaga mulutmu sebelum Kakak tertua benar-benar mencongkel matamu."

Sedangkan pemuda penunggu batu tersebut kembali ke singgahsananya disusul oleh pemuda bertubuh kecil bernama Bao Wei tersebut yang kemudian berdiri.

"Tidak dapat ginseng?" tanya pemuda penunggu batu.

"Hari ini cuacanya sangat panas, kami bisa pingsan jika harus menggali ginseng di lereng," ujar Bao Wei memberikan pembelaan.

"Alasan," sinis pemuda penunggu batu.

Chang Pu kemudian mendekati pemuda penunggu batu tersebut. Mencoba untuk merayu. "Kakak, bagaimana jika sebelum pulang Kakak tertua mampir dulu ke rumahku? Ibuku memasakkan ayam rebus untuk Kakak. Dia menyuruhku untuk membawa Kakak ke rumah, bagaimana?"

Chang Pu tersenyum penuh harap. Namun senyumnya segera menghilang ketika lagi-lagi tanaman yang masih berada di tangan pemuda penunggu batu tersebut mendarat di wajahnya dan membuatnya sedikit menjauh.

"Berhenti menggodaku. Pak tua itu memiliki penciuman yang tajam. Jika sampai ketahuan makan daging, dia pasti langsung membunuhku," ujar pemuda penunggu batu dengan malas.

"Apa separah itu? Lagi pula kenapa guru melarang Kakak tertua untuk makan daging?"

"Guru melarang Kakak tertua makan daging karena jika Kakak memakannya, dia akan menjadi binatang buas," celetuk Chang Pu, membuat pemuda penunggu batu itu geram dan hendak menendangnya. Namun apa daya kakinya tak sampai karena saat ini dia duduk di atas batu.

"Tapi ... bukankah tanpa perlu memakan daging, Kakak tertua sudah seperti hewan buas?" sambung Bao Wei.

"Apa maksudmu? Sudah bosan hidup?" ketus pemuda penunggu batu.

"Benar, Kakak memang sudah seperti hewan liar tanpa perlu makan daging," Chang Pu menimpali.

"Kau sudah bosan hidup!" si pemuda penunggu batu mulai menggertak.

"Kakak seperti kambing liar," celetuk Bao Wei yang langsung meraih keranjangnya dan melarikan diri diikuti oleh Chang Pu.

"Apa-apaan kalian? Kau bilang aku kambing liar? Kalian cari mati!" geram pemuda penunggu batu tersebut yang kemudian beranjak dari duduknya dan bergegas mengejar Bao Wei dan juga Chang Pu yang melarikan diri sembari menertawainya.

"Hei! Hei! Berhenti kalian! Jika sampai tertangkap, aku tenggelamkan kalian di sungai, hei!!! Awas kalian!"

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status