Share

Bab 171 Gertakan Alvan

Author: Aira Tsuraya
last update Last Updated: 2026-01-07 12:00:25

“APA!!! Kamu jangan asal ngomong, Van!! Kamu pikir berapa biaya untuk test DNA,” sergah Paman Sapto.

Pria paruh baya itu langsung marah saat Alvan memintanya test DNA. Hal yang sama juga ditunjukkan Bi Mira. Hanya Siti saja yang terdiam.

“Iya, kamu pikir test DNA itu murah. Dari mana kami dapat uangnya. Pengacara saja, kami tidak mampu bayar.”

Bi Mira ikutan menyahut. Wajah wanita paruh baya itu terlihat penuh amarah sama halnya dengan ekspresi suaminya.

“Soal biaya dan rumah sakit, aku yang siapkan. Kalian cukup datang dan melakukan test saja.”

Alvan kembali bersuara dan terdengar lebih lembut dari sebelumnya. Thea yang duduk di sebelah Alvan langsung tersenyum sambil menganggukkan kepala.

“Iya, saya bersedia melakukannya. Jika memang Thea putri kandung saya. Saya senang sekali.”

Siti lebih dulu bersuara dan terdengar antusias. Alvan tersenyum sambil menganggukkan kepala. Kemudian ia me

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
nah ini lebih yakin lagi.karena Bastian sudah tahu rahasia Kel Thea
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Jatuh di Pelukan Pak Dosen Killer   Bab 173 Pasutri Licik

    Pria berusia 60-an itu terdiam menatap Bastian dengan sayu. Raut wajahnya terlihat tegang. Bahkan tampak jelas urat nadinya melintang menghiasi wajah pucatnya.“Saya yakin Nona Bella pasti sedih jika mengetahuinya.”Bastian kembali bersuara saat pria di depannya bereaksi. Tidak ada jawaban atau gerak signifikan dari pria tersebut. Namun, Bastian bisa melihat perubahan mimik wajahnya.“Bella yang memutuskan pergi dari rumah ini. Bella yang memilih pria sialan itu. Harusnya dia tahu apa konsekuensinya saat meninggalkan rumah ini. Termasuk kehilangan atas harta dan statusnya.”“Itu juga berlaku pada putrinya!!!”Bastian terdiam. Bibirnya terkatup, menatap pria di depannya dengan sendu.“Thea tidak bersalah. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada masa lalu orang tuanya. Dia berhak tahu siapa dirinya.”“Dia berhak tahu asal usulnya!!!”Bastian terdiam sekilas. Bahunya naik tu

  • Jatuh di Pelukan Pak Dosen Killer   Bab 172 Bertemu Tuan Besar

    “Bas, kamu dengar suaraku, kan?”Suara Alvan memecah lamunan Bastian. Pria bertubuh jangkung itu mengangguk.“Saya mendengarnya, Tuan,” jawab Bastian dengan senyuman.“Baguslah kalau begitu. Aku minta tolong lakukan secepatnya!!”Bastian kembali menganggukkan kepala lagi. Selanjutnya Alvan sudah mengakhiri panggilannya. Sementara Bastian hanya diam sambil menggulir galeri di ponselnya. Tangannya langsung berhenti pada sebuah foto seorang gadis mengenakan seragam SMA.Tidak ada sepatah kata yang keluar dari bibir Bastian, tapi jakun pria itu sudah berulang kali bergerak naik turun menelan ludah. Entah apa yang terjadi selanjutnya. Yang pasti ia akan melakukan perintah Alvan dengan baik.Keesokan harinya, Thea dan Alvan terpaksa izin tidak masuk kuliah. Mereka sudah janjian dengan Paman Sapto dan Bu Siti untuk melakukan test DNA. Bahkan Alvan sudah menyiapkan akomodasi untuk mereka agar tidak terlambat.

  • Jatuh di Pelukan Pak Dosen Killer   Bab 171 Gertakan Alvan

    “APA!!! Kamu jangan asal ngomong, Van!! Kamu pikir berapa biaya untuk test DNA,” sergah Paman Sapto.Pria paruh baya itu langsung marah saat Alvan memintanya test DNA. Hal yang sama juga ditunjukkan Bi Mira. Hanya Siti saja yang terdiam.“Iya, kamu pikir test DNA itu murah. Dari mana kami dapat uangnya. Pengacara saja, kami tidak mampu bayar.”Bi Mira ikutan menyahut. Wajah wanita paruh baya itu terlihat penuh amarah sama halnya dengan ekspresi suaminya.“Soal biaya dan rumah sakit, aku yang siapkan. Kalian cukup datang dan melakukan test saja.”Alvan kembali bersuara dan terdengar lebih lembut dari sebelumnya. Thea yang duduk di sebelah Alvan langsung tersenyum sambil menganggukkan kepala.“Iya, saya bersedia melakukannya. Jika memang Thea putri kandung saya. Saya senang sekali.”Siti lebih dulu bersuara dan terdengar antusias. Alvan tersenyum sambil menganggukkan kepala. Kemudian ia me

  • Jatuh di Pelukan Pak Dosen Killer   Bab 170 Orang Tua Thea

    “Jangan bercanda deh, Paman!!!”Alvan tiba-tiba tertawa sambil berkata seperti itu. Terang saja ulah Alvan membuat semua orang di ruangan itu terkejut. Satu persatu dari mereka saling pandang dan terlihat bingung. Hal yang sama juga ditunjukkan Thea.Sedari tadi wanita cantik itu tegang menghadapi hal ini. Kini begitu tahu kenyataannya, ia semakin terkejut. Namun, Alvan menanggapinya dengan tertawa.“Kamu pikir aku bohong, begitu?” sergah Paman Sapto.Pria paruh baya itu merah padam wajahnya menatap Alvan penuh amarah. Sementara Alvan terlihat lebih tenang dan sudah menghentikan tawanya.“Aku tidak menuduh Paman bohong. Hanya saja, mana ada ayah kandung yang mengolok putrinya sendiri sebagai anak haram.”Seketika wajah Paman Sapto semakin merah. Bahkan pria paruh baya itu sudah menundukkan kepala.“Thea memang anak haram. Ia terlahir dari hubungan terlarang suamiku dan pelacur ini.”

  • Jatuh di Pelukan Pak Dosen Killer   Bab 169 Sandiwara Bi Mira

    “Terima kasih, Bastian,” ucap Thea.Mereka sudah tiba di studio milik Alvan. Thea langsung turun dari mobil dan tergesa masuk. Sementara Bastian hanya diam di posisinya sambil menatap tubuh Thea yang sudah menghilang ke dalam studio.“Apa yang harus kulakukan sekarang?” gumam Bastian, “apa sebaiknya aku katakan saja siapa sebenarnya Nona Thea.”“Lalu bagaimana jika Tuan besar marah?”Bastian terdiam, tampak menghela napas beberapa kali. Banyak gejolak di dalam dadanya setiap memikirkan hal ini. Andai saja ia tidak tahu soal rahasia ini pasti itu lebih baik. Ketimbang harus menderita seperti ini.Lamunan Bastian buyar saat mendengar mobil Alvan datang. Bastian menoleh dan melihat Alvan baru saja turun dari mobil. Bastian tergesa keluar untuk menemui Alvan.“Nona Thea baru saja masuk, Tuan.”Alvan mengangguk sambil menepuk bahu Bastian.“Terima kasih. Kamu boleh pu

  • Jatuh di Pelukan Pak Dosen Killer   Bab 168 Rahasia Bastian

    “Thea, Irma, kalian belum pulang?”Alvan langsung menghentikan langkah dan menyapa mereka. Sementara Evelyn hanya diam sambil sesekali menatapnya.“Belum, Pak. Thea sedang menunggu jemputan.” Irma yang menjawab.Alvan melihat Thea sekilas, kemudian melihat Evelyn.“Bu Evelyn juga di sini.”Evelyn tersenyum masam sambil berdecak. Ia kesal dengan nada suara Alvan yang terdengar mengejek saat menyapanya.“Ini tempat umum, Pak. Memang tidak boleh saya di sini?”Alvan tersenyum. “Saya tidak melarang. Saya hanya menyapa tadi. Jangan baper dong, Bu.”Evelyn semakin kesal mendengar ucapan Alvan. Sementara Thea dan Irma tampak mengulum senyum usai mendengar jawaban Alvan.Ternyata tidak hanya killer dan sadis ke mahasiswanya. Alvan juga akan melakukan hal yang sama kepada orang yang tidak ia sukai.“Lalu … Pak Alvan sendiri ngapain ke sini? Apa jangan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status