Share

Bab 7 Gak Jadi Ketahuan

Penulis: Aira Tsuraya
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-08 11:00:48

Seketika Thea dan Alvan menoleh bersamaan ke arah suara. Seorang pria berpenampilan perlente dengan kacamata hitam nangkring di hidungnya sambil berkacak pinggang berdiri di belakang mereka.

“PAK LEO!!!” ucap Thea dan Alvan bersamaan.

Pria bernama Leo itu hanya menyeringai sambil menatap penuh selidik ke arah mereka.

“Bisa kompak gitu kalian berdua. Jangan-jangan ---”

“Jangan aneh-aneh, Pak. Saya dan Thea gak ada apa-apa,” potong Alvan dengan cepat.

Thea hanya diam, menelan ludah sambil sesekali melirik pria tampan yang berdiri di sampingnya. Ia tahu kenapa Alvan langsung bicara seperti itu.

Rumor dirinya sebagai call girl pasti akan merusak pamor Alvan. Alvan dosen paling ganteng di kampus ini. Terkenal dingin dan anti wanita akan jadi aneh jika tiba-tiba mempunyai hubungan dengannya. Apalagi kalau sampai ketahuan menyewa jasanya.

Leo langsung tertawa sambil menepuk bahu Alvan.

“Santai, Pak. Saya gak nuduh apa-apa, kok.”

Alvan berdecak sambil menepis tangan Leo dari bahunya. Ia sudah membuka pintu mobil, mengambil map di dalam mobil kemudian mengangsurkannya ke Thea.

Thea hanya bengong sambil menerima map tersebut. Otaknya masih loading, apa maksud Alvan memberinya map ini.

“Tolong fotocopi sejumlah mahasiswa di kelas, buat bahan besok!!” pinta Alvan kemudian.

Seperti robot, Thea langsung mengangguk. Rupanya ini adalah bentuk pengalihan atas tuduhan Leo pada mereka berdua.

“Iya, Pak.” Thea dengan cepat menjawab. Ia tidak mau membuat Leo curiga akan keberadaan mereka berdua di sini.

“Kalau gitu, saya permisi dulu, Pak.”

Thea sudah berpamitan. Rasanya tidak mungkin juga ia ikut dalam mobil Alvan sementara ada Leo di sana. Mungkin dia akan ke kost duluan. Biar nanti Alvan menjemputnya di sana. Itu yang kini dipikirkan Thea.

Alvan hanya mengangguk dan terlihat acuh. Bahkan ia langsung masuk ke dalam mobil tanpa menunggu gadis itu berlalu.

Leo tampak bingung, menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil bergantian melihat Alvan dan Thea.

“Kalian gak jadi bareng?” gumamnya.

Meski suaranya lirih, tapi Thea mendengarnya dengan jelas. Gadis itu tersenyum sambil menunjukkan map dari Alvan.

“Siapa juga yang bareng, Pak? Wong saya disuruh ambil ini untuk difotocopi ama Pak Alvan.”

Leo hanya diam. Wajahnya terlihat muram. Thea juga melihat senyum masam di wajah pria itu. Dari dulu dosen satu ini terkenal julid dan Thea tidak begitu suka dengannya.

“Saya permisi dulu ya, Pak. Mau pulang sekalian fotocopi.”

Thea sudah berlalu meninggalkan parkiran. Hal yang sama juga dilakukan Alvan. Ia sudah menstater mobilnya dan berlalu begitu saja tanpa berpamitan ke Leo.

Leo berdecak sambil menggelengkan kepala.

“Sial!! Aku pikir tadi mereka janjian, ternyata enggak.”

Leo terlihat kesal kemudian sudah berjalan menuju mobilnya. Ia juga ingin cepat pulang.

Sementara itu, Thea tampak berjalan riang sambil menyusuri halaman kampus. Baru beberapa meter, ponselnya sudah berdering nyaring. Thea tergopoh meraih ponsel dari saku celananya.

Ia mengulum senyum saat melihat nama Alvan tertera di sana.

“Ada apa lagi, Pak?” sapa Thea dengan ramah.

“Eh, pakai nanya lagi. Urusanmu sama aku belum selesai. Aku kan udah bayar kamu tadi.”

Dengan ketus, seperti biasa Alvan bersuara. Thea menelan saliva sambil mengurut dadanya. Ia tidak lupa. Ia juga tidak akan curang. Transaksi sudah terjadi dan kini giliran dia melakukan pekerjaannya.

“Iya, Pak. Saya tahu, kok.”

“Ya sudah, kalau gitu aku tunggu di mini market depan. Kalau bisa, jangan sampai ada yang tahu.”

Thea mengulum senyum sambil menganggukkan kepala. “Iya, beres, Pak. Saya otw, nih.”

Alvan sudah mengakhiri panggilannya. Sesekali ia melirik jam di pergelangan tangannya. Jantungnya berdetak lebih kencang saat ini. Alvan takut, kedua orang tuanya sudah datang lebih dulu. Kalau sudah begitu, maka semua yang ia sandiwarakan selama ini berantakan.

Selang beberapa saat, mobil Alvan sudah terparkir dengan manis di mini market dekat kampusnya. Ia tampak gelisah menunggu. Sesekali matanya celinggukan dengan jari yang tidak henti mengetuk kemudi.

Hingga tiba-tiba terdengar ketukan di jendela sampingnya. Sebuah senyum pasta gigi sudah terpampang jelas sebagai view kaca mobilnya.

Alvan berdecak sambil menggelengkan kepala. Ia menurunkan kaca mobilnya.

“Buruan masuk!!!”

Thea tersenyum, berjalan memutar kemudian langsung masuk ke mobil Alvan.

“Lama banget, sih. Gimana kalau orang tuaku keburu datang.” Alvan langsung ngomel begitu Thea duduk di sebelahnya.

Thea hanya menghela napas sambil sibuk memasang seat beltnya.

“Kan saya jalan kaki, Pak. Ya jelas lama, dong.”

“Apa dicancel saja?”

Seketika Alvan menoleh dengan matanya yang indah menghunus tajam.

“Kamu mau cari mati atau gimana?”

Thea membisu, beberapa kali menelan ludah sambil menatap Alvan dengan gugup. Tanpa berkata apa-apa lagi, Alvan sudah melajukan mobilnya menuju kost Thea.

Untung saja lalu lintas tidak begitu macet. Jarak kost Thea juga tidak begitu jauh.

“Buruan gak pakai lama. Bawa baju secukupnya saja!!” titah Alvan sebelum Thea turun.

Thea hanya mengangguk. Ia tergesa turun, sedikit berlari masuk ke tempat kostnya. Tak berapa lama ia sudah keluar lagi sambil menyandang tas ransel dan sebuah paper bag.

Alvan hanya diam sambil meliriknya sekilas. Ia tidak berkomentar dan memilih melajukan mobilnya dengan cepat.

Thea hanya duduk diam di samping Alvan. Beberapa kali ia mengerjapkan mata melihat cara Alvan mengemudikan mobilnya. Ia melaju dengan cepat dan sengaja menggunakan jalan tol untuk menghindari kemacetan. Sepertinya dosen gantengnya ini sedang tergesa.

Setengah jam kemudian mereka sudah tiba di sebuah apartemen mewah di pusat kota. Thea hanya bengong begitu tiba di kabin apartemen Alvan. Alvan tinggal di bagian penthouse dalam apartemen mewah tersebut.

Thea pernah membaca nominal sewa apartemen di sana dan bisa dipastikan sewa untuk sebuah penthouse ratusan juta pertahunnya.

“Buruan masuk!! Ngapain kamu bengong aja?” Seruan Alvan membuyarkan lamunan Thea.

Thea mengangguk. Dengan canggung ia masuk, kemudian tampak mengedarkan pandangannya. Semua interiornya mewah dan tertata dengan estetik. Thea kembali membayangkan berapa gaji dosennya, hingga mampu menyewa apartemen semewah ini.

“Taruh barangmu di kamar!! Malam ini kita tidur sekamar.”

Thea langsung melotot dan menoleh ke Alvan. Dengan lirih, Thea bertutur, “Kita satu kamar lagi, Pak?”  

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jatuh di Pelukan Pak Dosen Killer   Ekstra Bab

    “Sudahlah, nanti aku yang ngatur. Kamu gak usah mengembalikannya,” imbuh Alvan.Thea semakin terkejut dan menggelengkan kepala.“Babe, bagaimanapun yang aku lakukan salah. Aku sudah melanggar syarat dalam beasiswa itu dan sebagai konsekuensi aku harus menggantinya.”“Kalau kamu keberatan, aku pinjam uang Kakek saja.”Alvan berdecak sambil menggelengkan kepala menatap Thea dengan sendu.“Aku sama sekali gak keberatan membayarnya. Hanya saja untuk apa aku bayar uang ke yayasan milikku sendiri?”Thea terdiam. Ia duduk tegak sambil menatap Alvan dengan bingung. Bastian yang mengemudi di depan hanya mengulum senyum melihat interaksi mereka.Wajah Thea terlihat linglung, menatap Alvan sambil mengerjapkan mata beberapa kali. Alvan gemas melihatnya.“Bas, jelaskan padanya!!!”Pada akhirnya Alvan malah menyuruh Bastian yang bersuara. Bastian mengangguk sambil melirik Thea melalui kaca spion.“Apa Nona ingat saat Anda memenangkan lomba melukis ketika SMA dulu?”Thea terdiam sejenak kemudian meng

  • Jatuh di Pelukan Pak Dosen Killer   Bab 220 Keputusan Final

    “PAK ALVAN!!!!”Semua orang di dalam ruangan itu sangat terkejut begitu melihat kedatangan Alvan. Leo yang sedari tadi terlihat berapi-api dan sok kuasa, langsung membeku di kursinya.Sementara Thea langsung tersenyum lega begitu melihat Alvan. Ia tidak menduga Alvan akan datang secepat ini.Perlahan Alvan mendekat kemudian berdiri di samping Thea dan merangkulnya.“Kamu baik-baik saja?” tanya Alvan.Thea tersenyum sambil mengangguk. Semua yang hadir di ruangan itu tercengang kaget melihat interaksi mereka.“Jadi benar, Pak Alvan dan Thea sudah menikah?” tanya Pak Hanafi memecah keheningan.Alvan mengangguk. “Iya, benar. Saya sudah menikah dengannya sejak semester yang lalu. Hanya saja peresmiannya baru saat liburan semester ini.”Semua langsung terkejut mendengar pengakuan Alvan. Kemudian tak lama terlihat Bastian masuk ke dalam ruangan. Atas perintah Alvan, Bastian menunjukkan s

  • Jatuh di Pelukan Pak Dosen Killer   Bab 219 Kebencian Leo

    Semua yang hadir terdiam, sementara Leo langsung kembali ke tempatnya. Ia kembali menunjukkan beberapa foto kemesraan Alvan dan Thea ke dalam slide yang sudah disiapkan.Tanpa Thea tahu, Leo telah memodifikasi foto aslinya dengan Alvan menggunakan aplikasi pintar. Entah mengapa fotonya terlihat asli sama seperti sebelumnya.“Bagaimana? Kamu mau menyangkal apa sekarang?” sergah Leo.Belum ada jawaban dari Thea. Ia hanya terdiam sambil menatap slide yang memutar fotonya dengan Alvan. Meski Thea mencurugai foto itu tidak asli, tapi ia harus mendapatkan bukti kebohongan Leo.“Kalau tidak salah, bukankah Anda salah satu mahasiswi penerima beasiswa?” tanya salah satu dosen dari perwakilan rektorat.“Iya, Pak.”“Nah, tunggu apa lagi, Pak? Dia ini tidak pantas menjadi contoh mahasiswa yang lain.” Leo langsung menyahut sebelum Thea meneruskan jawabannya.“Harusnya beasiswanya dicabut, kalau

  • Jatuh di Pelukan Pak Dosen Killer   Bab 218 Pengadilan untuk Thea

    Thea membeku di posisinya kemudian menganggukkan kepala berulang.“Iya, Bu. Saya akan ke kampus.”Tidak ada jawaban dari Bu Nirma, tapi panggilannya sudah berakhir.“Apa semuanya baik-baik saja, Thea?” Suara Widuri menyeruak dari belakangnya.Thea menoleh sambil mengangguk.“Iya, Bun. Cuman saya harus ke kampus hari ini. Apa gak masalah Ayah dan Bunda saya tinggal?”“Iya, gak papa. Biar kamu diantar Pak Udin saja.”Thea mengangguk kemudian sudah berpamitan ke Widuri dan Emran. Selang beberapa saat Thea sudah tiba di kampus. Ia langsung menuju fakultasnya, tapi baru saja turun dari mobil. Beberapa mata sudah mengawasinya dengan tatapan kebencian.“Bukannya itu Thea yang ayam kampus dan pacaran ama Pak Alvan.”“Iya, ngapain dia ke kampus? Gak punya malu banget.”“Kemarin aku juga lihat dia lagi berantem ama seseorang di mini market depan.&

  • Jatuh di Pelukan Pak Dosen Killer   Bab 217 Ujian dari Mertua

    Emran dan Widuri kembali tercengang, tapi reaksi mereka tidak berlebihan. Thea semakin gelisah dibuatnya. Bukankah biasanya para orang tua akan marah jika tahu kenyataan ini. Apalagi Thea adalah menantu mereka.“Namun, harap Ayah dan Bunda garis bawahi. Saya bukan wanita panggilan seperti pada umumnya.”“Saya hanya menemani mereka jalan, ngobrol, tanpa sentuhan fisik dan hubungan intim.”“Saya masih perawan saat menikah dengan Pak Alvan. Saya bersumpah atas nama Tuhan.”Thea berkata sambil mengangkat tangannya ke atas. Matanya menunjukkan kesungguhan dengan mata berkaca menatap Emran dan Widuri bergantian.Widuri hanya diam sambil menganggukkan kepala. Namun, berbanding terbalik dengan Emran.“Setahu Ayah, yang namanya wanita panggilan itu identik dengan konotasi. Apa kamu pikir kami akan langsung percaya dengan penjelasanmu?”Thea terdiam, menurunkan tangannya dan tertunduk lesu. Widuri

  • Jatuh di Pelukan Pak Dosen Killer   Bab 216 Kejujuran Thea

    “Gimana kabarmu, Sayang?” tanya Widuri begitu mereka di dalam mobil.“Alhamdulillah baik, Bu. Kenapa Bunda gak bilang kalau mau ke sini?”Widuri hanya tersenyum sambil menatap Thea dengan lembut.“Gak papa. Kebetulan Bunda dan Ayah ada keperluan di sini. Jadi sekalian mampir. Kamu juga sedang sendirian, kan?”Thea mengangguk. Sepertinya Alvan sudah memberitahu kedua orang tuanya jika ia sedang berada di luar negeri.“Eng … kalau gak salah tadi Bunda melihat Erika. Apa dia menemuimu?”Wajah Widuri telihat gelisah dan menatap Thea penuh cemas. Thea tersenyum sambil menganggukkan kepala.“Iya, Bun. Bunda gak usah khawatir. Saya dan Erika gak ada masalah, kok.”Widuri hanya diam. Ekspresinya terlihat bingung, tapi perlahan kepalanya mengangguk. Selanjutnya mereka memilih berbincang hal random dan tak terasa mobil sudah membawa mereka ke rumah.Kali ini sengaj

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status