LOGIN“Ppfft … .”
Thea tak kuasa menahan tawa dan langsung suaranya meledak memenuhi kabin mobil Alvan. Sementara Alvan hanya diam sambil menatapnya dengan saksama.
“Pak, bukannya kita nikah kemarin hanya sandiwara. Jadi, saya pikir setelah satu minggu sudah selesai. Kenapa Bapak masih berpikir kalau jadi suami saya?”
Alvan tidak menjawab, tapi wajahnya terlihat kesal. Thea yang tadinya bersikap santai secepat kilat mengubah reaksinya.
“Maaf, Pak. Bukan maksud saya menertawakan ucapan Bapak. Hanya saja ---”
Thea tidak melanjutkan kalimatnya. Ia merasa serba salah. Bagaimanapun pernikahan siri yang mereka lakukan kemarin begitu sakral dan dilakukan dengan sungguh-sungguh, meskipun sebenarnya hanya sebuah sandiwara.
“Turunlah!! Sudah malam. Aku juga mau istirahat.”
Thea mengangguk. Ia sudah berpamitan sambil mengucapkan terima kasih, kemudian langsung turun dari mobil Alvan.
Tanpa menunggu lama, Alvan langsung melajukan mobilnya pergi meninggalkan Thea. Thea hanya bengong sambil menatap mobil Alvan yang sudah menghilang.
“Aku salah ngomong, ya?” gumam Thea.
**
Senin pagi, Thea sudah beraktivitas seperti biasa. Ia berangkat ke kampus dengan ceria.
“Tumben, pagi banget kamu ke kampus, Thea?” sapa Irma, salah satu temannya.
Thea hanya cengengesan sambil berjalan menghampiri Irma.
“Udah ganti semester masa mau nelat terus.”
Irma tersenyum sambil menganggukkan kepala.
“Eh, tahu gak semester ini ada momoknya matkul, nih.”
Thea mengernyitkan alis. “Memangnya matkul apaan?”
“Dih, kamu gak baca emangnya?”
“Sudah, cuman apa mata kuliah yang kamu maksud tadi.”
Irma menghela napas sambil menatap Thea dengan tajam. “Apalagi kalau bukan matkul studio/lokakarya dan kamu tahu siapa dosennya?”
Thea menggeleng dengan spontan.
“Dosen kita yang paling ganteng di kampus ini. Pak Alvan Abbiya.”
Sontak mata Thea melotot mendengar penjelasan Irma. Thea adalah mahasiswi semester 6 jurusan Seni Rupa dan bagi mahasiswa Seni Rupa, mata kuliah tersebut adalah mata kuliah tersulit.
“Udah matkulnya susah, dosennya juga killer. Busyet, dah!!!” Irma kembali menambahkan kalimatnya.
Thea pikir, ia tidak akan bertemu lagi dengan Alvan. Ia sudah pernah diajar olehnya di semester sebelumnya, tapi mengapa harus bertemu lagi di semester ini.
“Beneran Pak Alvan yang ngajar?”
Belum sempat Irma menjawab, dari jauh Thea sudah melihat sosok yang tidak asing baginya. Sosok itu berjalan dengan santai menuju tempatnya berada.
“Gawat!! Pak Alvan sudah datang. Aku duduk di belakang saja.” Irma berlari masuk kelas lebih dulu meninggalkan Thea.
Thea hanya diam menatap Alvan dari jauh. Tanpa sadar sebuah senyuman terukir di wajahnya. Ia jadi ingat beberapa hari lalu saat bersama dengannya.
Bahkan ingatan Thea malah merekam saat mereka tidur berdua di kamar. Lagi-lagi sebuah senyuman menghiasi wajah Thea.
“Kamu gak ikut kelas saya?”
Sebuah suara menyeruak mengejutkan lamunan Thea. Thea mendongak dan melihat Alvan sudah berdiri di depannya.
“Eng … ikut, Pak. Ikut.”
“Ya sudah, buruan masuk!! Apa mau saya tulis alpa?”
Mata Thea melotot, kemudian dengan cepat melesat masuk ke dalam kelas. Ia sempat kebingungan mencari tempat duduk dan alhasil malah duduk manis tepat di depan, dekat meja Alvan.
“Mampus, dah,” batin Thea.
Alhasil sepanjang mata kuliah itu berlangsung, Thea hanya bisa duduk tegak dengan wajah tegang.
Sebenarnya cara mengajar Alvan sangat baik. Cara menjelaskannya mudah dimengerti. Hanya saja dia sering memberi tugas untuk mahasiswanya. Selain itu juga terkenal pelit nilai. Alvan menuntut perfeksionis dalam sebuah karya yang diciptakan mahasiswanya.
Pukul tiga sore, saat Thea baru saja menyelesaikan mata kuliah terakhirnya. Ia sangat lelah sekaligus lapar, rasanya untuk membawa tubuhnya saja ia tidak kuat.
Thea sedang berjalan sendiri menyusuri koridor kampus saat tiba-tiba sebuah tangan menariknya dengan keras.
Thea hampir berteriak kalau tidak melihat wajah si Pemilik tangan yang baru saja menariknya.
“Pak Alvan??” cicit Thea tertahan.
“Iya, kamu pikir aku hantu.”
Thea tidak menjawab hanya menelan saliva sambil celinggukan memperhatikan sekitar. Ia takut ada yang melihat interaksi mereka berdua saat ini.
“Di sini aman. Bukan tempat lalu lalang mahasiswa.”
Seolah tahu tanya di benak Thea, Alvan kembali bersuara. Thea mengangguk sambil mengurut dadanya. Ia tampak merapikan rambutnya yang berantakan dan menatap bingung ke Alvan.
“Kamu ke tempatku malam ini.”
Kembali Alvan bersuara dan membuat Thea terkejut setengah mati.
“Eng … Pak, saya tidak terima orderan jika hari aktif. Jadi ---”
Thea tidak bisa melanjutkan kalimatnya, karena tangan Alvan sudah membekap mulutnya.
“Dengerin dulu ucapanku. Jangan dipotong!!!”
Thea mengangguk. Matanya beberapa kali mengerjap sementara tangan Alvan masih membekap mulutnya. Tangannya wangi dan samar-samar Thea sudah mengenali parfum yang digunakan pria tampan di depannya ini.
“Hari ini Ayah dan Bunda datang. Mereka mau menginap dan aku ingin kamu ada saat mereka datang.”
Mata Thea membola dan secepat kilat tangannya menarik tangan Alvan yang membekap mulutnya.
“Bapak minta saya bersandiwara lagi?”
Alvan mengangguk. “Iya, aku sudah transfer bayaranmu barusan.”
Thea membisu menelan saliva sambil melirik ponsel di sakunya. Pantas saja sedari tadi ia mendengar suara notif masuk ke ponselnya. Ternyata itu notifikasi dari mobile banking-nya.
“Kamu gak bisa menolakku, Thea.”
Thea tersenyum meringis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Saya gak nolak kok, Pak. Hanya kaget saja tadi.”
“Ya sudah, kalau gitu. Ayo, ikut aku!!!”
Alvan langsung menyambar tangan Thea dengan cepat. Thea melotot dan buru-buru menarik balik tangannya.
“Tu—tunggu, Pak!! Kita mau kemana?”
Alvan menghentikan langkahnya dan menoleh ke Thea.
“Pulang. Kamu ikut pulang ke apartemenku dan menginap di sana malam ini.”
“Tapi, saya gak bawa baju. Saya pulang ke kost dulu untuk ambil baju ya, Pak.
“Ya sudah terserah kamu. Ayo, buruan sebelum mereka datang.”
Thea mengangguk kemudian sudah berjalan mengekor langkah Alvan dan kali ini tidak mau digandeng. Ia tidak mau membuat curiga semua orang. Bahkan Thea sengaja berjalan dengan berjarak.
Untung saja saat di parkiran, suasana sudah sepi. Hanya tinggal beberapa kendaraan saja yang tersisa. Alvan sudah berdiri di dekat mobil sementara Thea tampak berlarian menghampirinya. Ia ingin segera masuk ke dalam mobil tanpa sepengetahuan siapa pun.
Namun, tiba-tiba terdengar suara langkah mendekat menghampiri mereka. Langkah itu langsung berhenti dan berganti menjadi sebuah tanya yang terdengar jelas di telinga Thea serta Alvan.
“Loh, Pak Alvan dan Thea mau kemana? Kok pulang bareng?”
“Kamu tidak mau menemuinya?” tanya Thea.Alvan belum menjawab, tapi matanya sudah melirik Thea dengan jakun yang naik turun. Thea berjalan mendekat kemudian kembali duduk di samping Alvan sambil menggenggam tangannya.“Temui saja dan jelaskan lagi kalau kamu menolak perjodohan itu. Jangan menghindar terus. Itu membuat dia penasaran.”Alvan mendengkus, terdiam sesaat kemudian menganggukkan kepala.“Ya sudah. Aku turun dulu.”Thea tersenyum menganggukkan kepala. Sementara Alvan sudah berjalan turun ke lantai satu. Beberapa kali helaan napas panjang keluar masuk dari bibirnya. Kalau boleh jujur, dia malas bertemu Erika.Namun, apa yang dikatakan Thea ada benarnya. Tidak mungkin ia terus menghindar. Ia harus bersikap tegas ke Erika. Meski ia sudah menjelaskan sebelumnya, tapi sepertinya wanita satu ini butuh penjelasan berulang.Perlahan Alvan membuka pintu dan ia langsung terperangah melihat sosok yang
“Pak, buruan ikutin mobil di depan itu!!” perintah Evelyn.Ia sengaja memesan taxi online dan menunggu saat Alvan pulang baru diikuti. Tepat dugaannya jika Alvan akan berhenti di mini market untuk bertemu Thea. Sampai saat ini, Evelyn tidak tahu jika Thea juga mahasiswi di fakultas seni.Mungkin karena Evelyn tidak mengajar di kelas Thea, jadi dia tidak mengenalnya. Ditambah Evelyn merupakan dosen baru yang belum hapal satu persatu mahasiswanya.“Maaf, Non. Berdasarkan aplikasi, pemesanannya hanya sampai mini market ini saja. Jadi kalau ingin melanjutkan perjalanan harus melakukan pemesanan lagi,” jawab sopir taxi online tersebut.“APA!!! Kok bisa begitu?”“Ini sudah aturannya, Non. Masa gak tahu soal itu.”Evelyn berdecak kesal kemudian tampak mengeluarkan ponsel dan sibuk menggulir di aplikasi yang sama.“Nona lakukan pemesanan lagi saja, tapi pemesanan sebelumnya diselesaikan du
“Kita langsung ke kampus saja. Aku banyak proyek yang belum selesai hari ini,” pinta Thea.Gara-gara bertemu dengan Bi Mira, Thea terpaksa izin tidak mengikuti kuliah jam pertama. Alvan yang mengemudi di sampingnya tampak manggut-manggut mengiyakan permintaan Thea. Ia juga harus mengajar beberapa kelas hari ini.“Aku turun di mini market biasa saja.” Kembali Thea bersuara dan itu membuat Alvan menoleh menatapnya.“Kenapa tidak di area studio saja? Di sana kejauhan.”Thea menggeleng. “Enggak. Hari ini banyak yang kuliah di sana. Aku takut mereka melihat kita.”Alvan langsung terdiam, tidak berkomentar dan tampak fokus menatap lalu lintas di depan. Thea memperhatikan reaksinya. Perlahan ia sentuh tangan Alvan dan tak ayal membuat Alvan melihat ke arahnya.“Kamu kenapa? Marah?”Alvan mendengkus kemudian menggeleng.“Enggak. Aku capek saja terus sembunyi kayak gini. Suatu saat, aku juga pengen nunjukin kamu ke semua orang kalau kamu istriku.”Thea mengulum senyum sambil menatap Alvan deng
Beberapa hari kemudian …“Ini Rendy, Bi. Dia pengacara yang akan membantu Ina menjalani sidang,” ucap Thea.Bi Mira hanya tersenyum sambil menatap pria berpenampilan rapi yang berdiri di sebelah Thea. Kemudian pandangan Bi Mira teralihkan ke Alvan yang berdiri dekat di sisi lain Thea.“Dia siapa? Pacarmu?” tanya Bi Mira.Thea yakin Ina sudah bicara banyak soal Alvan ke ibunya. Wajar jika wanita paruh baya ini sangat penasaran dengan Alvan. Bahkan sejak pertama kali datang tadi, Bi Mira beberapa kali mencuri pandang ke suami ganteng Thea ini.Thea mengulum senyum kemudian mengangguk. Dalam hal ini, ia belum berani mengatakan siapa sebenarnya Alvan. Ia tidak mau mengambil resiko terlalu besar.“Iya. Namanya Alvan.”“Oh … dosen itu, ya?”Bi Mira langsung berkomentar. Tepat tebakan Thea, Ina pasti sudah bercerita banyak tentang Alvan.“Iya, saya memang dosen. Apa ada yang salah?” Alvan langsung menyahut dengan suara dingin dan tatapan yang sinis.Bi Mira langsung terdiam, mengatupkan rapa
“Bibi tahu siapa orang tua kandung saya?” tanya Thea. Ia sangat terkejut saat Bi Mira berkata seperti itu. Selama ini ternyata keluarganya telah menyembunyikan rahasia ini darinya. Terdengar hening sejenak di seberang sana. Hanya helaan napas yang berulang kali didengar Thea. “Iya, Bibi tahu.” Thea membisu lagi dan tak mampu bersuara. Ia masih terkejut dengan pernyataan bibinya tadi. Padahal Thea berharap surat yang ditulis Bu Aminah itu palsu. Thea berharap ia anak kandung Bu Aminah, tapi nyatanya … “Kamu bantu kami dulu, baru aku akan bantu mempertemukanmu dengan orang tua kandungmu. Bagaimana?” Belum ada jawaban dari Thea. Ia tidak tahu harus membantu dalam bentuk apa. Namun, kalau dari arah pembicaraan mereka tadi. Thea berasumsi, Bi Mira sedang kesulitan financial. Kalau harus membantu dalam hal itu, Thea juga kebingungan. Meski ia sudah bekerja sebagai asisten dosen, tapi tetap saja gajinya tidak akan cukup untuk menyewa pengacara. Bisa jadi Ina yang memberitahu ayah dan
“Aku tidak suka kamu dekat dengan wanita lain,” imbuh Thea.Alvan langsung tersenyum sambil menatap Thea dengan lembut. Biasanya wanita cantik ini tidak pernah mau mengakui cemburu. Kenapa kini tiba-tiba dengan spontan ia bersuara seperti itu?“Kenapa malah senyum-senyum? Aku serius. Aku gak suka kamu dekat dengan wanita lain.”Alvan menggeser tubuhnya kemudian memeluk Thea dan mendaratkan beberapa kecupan di pipinya.“Aku pikir kamu bakal menyangkal lagi kalau cemburu, ternyata tidak.”Thea melirik Alvan sekilas sambil memajukan bibirnya beberapa senti ke depan.“Kamu sudah berterus terang soal perasaanmu. Jadi, apa salahnya jika aku melakukan hal yang sama.”“Mulai saat ini, aku gak akan bohong soal perasaanku padamu. Kuharap kamu juga melakukan hal yang sama.”Alvan tersenyum sambil menganggukkan kepala. Kembali kecupan singgah di kening dan pipi Thea.“Iya, Sayang. Aku janji.”“Lalu … soal Evelyn tadi. Tidak semuanya benar. Aku dan dia memang satu SMA. Dia teman SMA-ku, tapi kita g







