LOGINHayo loh Thea mau diculik Alvan ke mana, nih??? Makasih yang udah comen, review, kasih bintang dan gift. Maaf, tidak bisa balas satu persatu.
“Kita langsung ke kampus saja. Aku banyak proyek yang belum selesai hari ini,” pinta Thea.Gara-gara bertemu dengan Bi Mira, Thea terpaksa izin tidak mengikuti kuliah jam pertama. Alvan yang mengemudi di sampingnya tampak manggut-manggut mengiyakan permintaan Thea. Ia juga harus mengajar beberapa kelas hari ini.“Aku turun di mini market biasa saja.” Kembali Thea bersuara dan itu membuat Alvan menoleh menatapnya.“Kenapa tidak di area studio saja? Di sana kejauhan.”Thea menggeleng. “Enggak. Hari ini banyak yang kuliah di sana. Aku takut mereka melihat kita.”Alvan langsung terdiam, tidak berkomentar dan tampak fokus menatap lalu lintas di depan. Thea memperhatikan reaksinya. Perlahan ia sentuh tangan Alvan dan tak ayal membuat Alvan melihat ke arahnya.“Kamu kenapa? Marah?”Alvan mendengkus kemudian menggeleng.“Enggak. Aku capek saja terus sembunyi kayak gini. Suatu saat, aku juga pengen nunjukin kamu ke semua orang kalau kamu istriku.”Thea mengulum senyum sambil menatap Alvan deng
Beberapa hari kemudian …“Ini Rendy, Bi. Dia pengacara yang akan membantu Ina menjalani sidang,” ucap Thea.Bi Mira hanya tersenyum sambil menatap pria berpenampilan rapi yang berdiri di sebelah Thea. Kemudian pandangan Bi Mira teralihkan ke Alvan yang berdiri dekat di sisi lain Thea.“Dia siapa? Pacarmu?” tanya Bi Mira.Thea yakin Ina sudah bicara banyak soal Alvan ke ibunya. Wajar jika wanita paruh baya ini sangat penasaran dengan Alvan. Bahkan sejak pertama kali datang tadi, Bi Mira beberapa kali mencuri pandang ke suami ganteng Thea ini.Thea mengulum senyum kemudian mengangguk. Dalam hal ini, ia belum berani mengatakan siapa sebenarnya Alvan. Ia tidak mau mengambil resiko terlalu besar.“Iya. Namanya Alvan.”“Oh … dosen itu, ya?”Bi Mira langsung berkomentar. Tepat tebakan Thea, Ina pasti sudah bercerita banyak tentang Alvan.“Iya, saya memang dosen. Apa ada yang salah?” Alvan langsung menyahut dengan suara dingin dan tatapan yang sinis.Bi Mira langsung terdiam, mengatupkan rapa
“Bibi tahu siapa orang tua kandung saya?” tanya Thea. Ia sangat terkejut saat Bi Mira berkata seperti itu. Selama ini ternyata keluarganya telah menyembunyikan rahasia ini darinya. Terdengar hening sejenak di seberang sana. Hanya helaan napas yang berulang kali didengar Thea. “Iya, Bibi tahu.” Thea membisu lagi dan tak mampu bersuara. Ia masih terkejut dengan pernyataan bibinya tadi. Padahal Thea berharap surat yang ditulis Bu Aminah itu palsu. Thea berharap ia anak kandung Bu Aminah, tapi nyatanya … “Kamu bantu kami dulu, baru aku akan bantu mempertemukanmu dengan orang tua kandungmu. Bagaimana?” Belum ada jawaban dari Thea. Ia tidak tahu harus membantu dalam bentuk apa. Namun, kalau dari arah pembicaraan mereka tadi. Thea berasumsi, Bi Mira sedang kesulitan financial. Kalau harus membantu dalam hal itu, Thea juga kebingungan. Meski ia sudah bekerja sebagai asisten dosen, tapi tetap saja gajinya tidak akan cukup untuk menyewa pengacara. Bisa jadi Ina yang memberitahu ayah dan
“Aku tidak suka kamu dekat dengan wanita lain,” imbuh Thea.Alvan langsung tersenyum sambil menatap Thea dengan lembut. Biasanya wanita cantik ini tidak pernah mau mengakui cemburu. Kenapa kini tiba-tiba dengan spontan ia bersuara seperti itu?“Kenapa malah senyum-senyum? Aku serius. Aku gak suka kamu dekat dengan wanita lain.”Alvan menggeser tubuhnya kemudian memeluk Thea dan mendaratkan beberapa kecupan di pipinya.“Aku pikir kamu bakal menyangkal lagi kalau cemburu, ternyata tidak.”Thea melirik Alvan sekilas sambil memajukan bibirnya beberapa senti ke depan.“Kamu sudah berterus terang soal perasaanmu. Jadi, apa salahnya jika aku melakukan hal yang sama.”“Mulai saat ini, aku gak akan bohong soal perasaanku padamu. Kuharap kamu juga melakukan hal yang sama.”Alvan tersenyum sambil menganggukkan kepala. Kembali kecupan singgah di kening dan pipi Thea.“Iya, Sayang. Aku janji.”“Lalu … soal Evelyn tadi. Tidak semuanya benar. Aku dan dia memang satu SMA. Dia teman SMA-ku, tapi kita g
“Mantan … Pak Alvan?” ulang Thea.Suaranya seperti tercekat, tapi Thea berusaha biasa saja. Setahu dia, Alvan tidak pernah pacaran. Bahkan suaminya pernah bilang baru pertama kali melakukan semuanya dengan Thea.Kenapa kini malah ada rumor seperti ini? Apa ini gosip karangan teman-teman dan oknum di kampus ini lagi? Lama kelamaan Thea terbiasa dengan kondisi seperti ini.“Kamu yakin?” Thea kembali memastikan.Irma menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala.“Aku kan dapat info dari anak-anak yang nyebar gosip di kampus.”“Namun, menurutku wajar kalau Bu Evelyn mantan Pak Alvan. Dia cantik banget kayak artis Korea. Kayaknya setiap wanita yang dekat Pak Alvan kok cantik-cantik, ya. Termasuk kamu.”Thea langsung terkejut mendengar ucapan Irma.“Apa hubungannya denganku?”Irma tersenyum sambil menepuk bahu Thea.“Kamu kan asistennya Pak A
“Memangnya kamu siapa berani mengaturku?” sergah Paman Sapto penuh amarah.Alvan mencondongkan wajah hingga suara napasnya terdengar jelas oleh Paman Sapto.“Anggap saja aku walinya. Aku yang bertanggung jawab padanya. Memangnya kamu mau apa?”Paman Sapto menyeringai, matanya melotot menatap Alvan penuh amarah. Namun, Alvan tidak kalah garang bahkan sudah mencengkram erat tangan pria paruh baya itu. Paman Sapto meringis kesakitan dibuatnya dan Alvan tidak akan melepaskannya begitu saja.“Maaf, Tuan. Mereka sama sekali tidak bersalah dalam hal ini.”Tiba-tiba petugas polisi datang dan melerai mereka.“Nona Ina ditemukan mengemudi dalam keadaan mabuk hingga menabrak orang bahkan beberapa teman yang merupakan penumpang di mobil mengalami luka-luka. Mereka berdua tidak turut serta dalam mobil tersebut dan sama sekali tidak terlibat.”Paman Sapto tampak terkejut, kemudian berangsur menurunkan







