ANMELDENSo sorry, telat dikit update-nya, ya. So happy reading guys
“Terima kasih, Bastian,” ucap Thea.Mereka sudah tiba di studio milik Alvan. Thea langsung turun dari mobil dan tergesa masuk. Sementara Bastian hanya diam di posisinya sambil menatap tubuh Thea yang sudah menghilang ke dalam studio.“Apa yang harus kulakukan sekarang?” gumam Bastian, “apa sebaiknya aku katakan saja siapa sebenarnya Nona Thea.”“Lalu bagaimana jika Tuan besar marah?”Bastian terdiam, tampak menghela napas beberapa kali. Banyak gejolak di dalam dadanya setiap memikirkan hal ini. Andai saja ia tidak tahu soal rahasia ini pasti itu lebih baik. Ketimbang harus menderita seperti ini.Lamunan Bastian buyar saat mendengar mobil Alvan datang. Bastian menoleh dan melihat Alvan baru saja turun dari mobil. Bastian tergesa keluar untuk menemui Alvan.“Nona Thea baru saja masuk, Tuan.”Alvan mengangguk sambil menepuk bahu Bastian.“Terima kasih. Kamu boleh pu
“Thea, Irma, kalian belum pulang?”Alvan langsung menghentikan langkah dan menyapa mereka. Sementara Evelyn hanya diam sambil sesekali menatapnya.“Belum, Pak. Thea sedang menunggu jemputan.” Irma yang menjawab.Alvan melihat Thea sekilas, kemudian melihat Evelyn.“Bu Evelyn juga di sini.”Evelyn tersenyum masam sambil berdecak. Ia kesal dengan nada suara Alvan yang terdengar mengejek saat menyapanya.“Ini tempat umum, Pak. Memang tidak boleh saya di sini?”Alvan tersenyum. “Saya tidak melarang. Saya hanya menyapa tadi. Jangan baper dong, Bu.”Evelyn semakin kesal mendengar ucapan Alvan. Sementara Thea dan Irma tampak mengulum senyum usai mendengar jawaban Alvan.Ternyata tidak hanya killer dan sadis ke mahasiswanya. Alvan juga akan melakukan hal yang sama kepada orang yang tidak ia sukai.“Lalu … Pak Alvan sendiri ngapain ke sini? Apa jangan
“Bas, tolong beberapa hari ini antar jemput Thea ke kampus,” pinta Alvan.Usai mengajar, Alvan langsung menghubungi Bastian. Bastian yang menerima panggilan di seberang sana tampak terkejut. Tidak biasanya Alvan memintanya mengantar jemput Thea.“Bas, kamu dengar, gak?” ulang Alvan.“Iya, Tuan. Saya dengar.”Alvan manggut-manggut. Usai mendapat ancaman dari Evelyn tadi pagi, Alvan mengkhawatirkan Thea. Ia bisa memukul balik ancaman Evelyn, lalu bagaimana dengan Thea?Alvan takut, Evelyn kerja sama dengan Leo dan akan menjebak Thea. Lalu kalau sudah begitu, semua yang mereka rencanakan selama ini akan hancur berantakan. Padahal Alvan sudah janji akan menunggu dua semester lagi untuk mempublis hubungannya.“Apa Nona Thea sudah diberitahu, Tuan?” Suara Bastian di seberang sana membuyarkan lamunan Alvan.“Iya, aku sudah memberitahunya. Dia akan menunggu kamu di mini market depan kampus
“Pagi, Alvan!!!” sapa Evelyn pagi itu.Ia tampak bersemangat pagi ini. Saat melihat mobil Alvan baru saja parkir, Evelyn bergegas menghampirinya. Tentu saja ulahnya membuat Alvan kesal.Pria tampan itu tidak menjawab dan berjalan menjauh. Namun, Evelyn terlihat tidak putus asa. Ia mengikuti langkah Alvan bahkan sedikit berlari untuk mengejarnya.“Kamu tidak menjawab salamku, Van?” Lagi-lagi Evelyn bersuara. Alvan tidak bereaksi, hanya diam sambil melirik sekilas.Seingat Alvan, Evelyn tidak seagresif ini saat SMA. Bahkan ia terlalu pendiam. Evelyn lebih suka kerja di belakang layar. Ia yang meminta teman-temannya untuk mengirim makanan atau surat ke Alvan. Namun, kenapa sekarang ia berubah?“Ternyata kamu salah satu icon kampus ini ya, Van. Masih saja sama seperti saat SMA. Di mana kamu berada, kamu seperti magnet yang menarik banyak orang.”Evelyn berkata dengan banyak pujian untuk Alvan. Suami Thea itu t
“Kamu tidak mau menemuinya?” tanya Thea.Alvan belum menjawab, tapi matanya sudah melirik Thea dengan jakun yang naik turun. Thea berjalan mendekat kemudian kembali duduk di samping Alvan sambil menggenggam tangannya.“Temui saja dan jelaskan lagi kalau kamu menolak perjodohan itu. Jangan menghindar terus. Itu membuat dia penasaran.”Alvan mendengkus, terdiam sesaat kemudian menganggukkan kepala.“Ya sudah. Aku turun dulu.”Thea tersenyum menganggukkan kepala. Sementara Alvan sudah berjalan turun ke lantai satu. Beberapa kali helaan napas panjang keluar masuk dari bibirnya. Kalau boleh jujur, dia malas bertemu Erika.Namun, apa yang dikatakan Thea ada benarnya. Tidak mungkin ia terus menghindar. Ia harus bersikap tegas ke Erika. Meski ia sudah menjelaskan sebelumnya, tapi sepertinya wanita satu ini butuh penjelasan berulang.Perlahan Alvan membuka pintu dan ia langsung terperangah melihat sosok yang
“Pak, buruan ikutin mobil di depan itu!!” perintah Evelyn.Ia sengaja memesan taxi online dan menunggu saat Alvan pulang baru diikuti. Tepat dugaannya jika Alvan akan berhenti di mini market untuk bertemu Thea. Sampai saat ini, Evelyn tidak tahu jika Thea juga mahasiswi di fakultas seni.Mungkin karena Evelyn tidak mengajar di kelas Thea, jadi dia tidak mengenalnya. Ditambah Evelyn merupakan dosen baru yang belum hapal satu persatu mahasiswanya.“Maaf, Non. Berdasarkan aplikasi, pemesanannya hanya sampai mini market ini saja. Jadi kalau ingin melanjutkan perjalanan harus melakukan pemesanan lagi,” jawab sopir taxi online tersebut.“APA!!! Kok bisa begitu?”“Ini sudah aturannya, Non. Masa gak tahu soal itu.”Evelyn berdecak kesal kemudian tampak mengeluarkan ponsel dan sibuk menggulir di aplikasi yang sama.“Nona lakukan pemesanan lagi saja, tapi pemesanan sebelumnya diselesaikan du







