Share

Bab 3

Penulis: Lily Aislin
last update Terakhir Diperbarui: 2025-05-15 10:03:47

Pagi menyingsing dengan kabut tipis yang menggantung di atas perkampungan. Tapi di wajah Kai tidak ada lagi keraguan. Semalam, tekadnya telah mengkristal. Ia harus bertindak, dan waktu terus berjalan.

Langkah pertama Kai adalah menemui ayahnya, seorang nelayan yang tubuhnya kekar diterpa angin laut. Ia menceritakan penglihatannya, suara gemuruh dari perut bumi, dan percakapannya dengan Nenek Ino, para tetua dan beberapa warga.

Awalnya, sang ayah mengerutkan kening, mencoba mencerna kata-kata putranya yang seringkali terasa asing baginya. Namun, ia melihat kesungguhan di mata Kai dan merasakan kecemasan yang sama atas perubahan alam sekitar.

"Jika itu yang kau rasa benar, Nak," kata ayahnya dengan suara berat.

"Maka lakukanlah. Laut memang tidak bersahabat, tapi seorang pelaut sejati tidak akan gentar menghadapi badai demi menyelamatkan rumahnya. Aku akan membantumu menyiapkan perahu dan bekal."

Dengan bantuan ayahnya, Kai mulai mengumpulkan perbekalan sederhana. Sagu kering dan ubi kering, ikan kering, air tawar dalam bambu yang disumbat rapat, dan beberapa peralatan navigasi tradisional.

Perahu layar kecil milik ayahnya, sebuah perahu layar orembai yang kokoh dengan satu layar tanja yang besar, telah diperiksa dan diperbaiki. Di buritan perahu terpasang dua dayung kemudi kayu yang besar, siap untuk dikendalikan Kai menembus ombak.

Sementara itu, kabar tentang niat Kai untuk melakukan perjalanan menyebar dengan cepat di desa. Reaksi masyarakat beragam. Beberapa orang, terutama mereka yang lebih muda dan memiliki pikiran terbuka, menaruh harapan pada Kai.

Mereka melihatnya sebagai satu-satunya yang berani bertindak di tengah ketakutan yang melumpuhkan. Mereka membantu mengumpulkan perbekalan dan memberikan semangat.

Namun, sebagian besar penduduk desa masih tidak percaya. Mereka menganggap cerita tentang Penjaga Bawah Bumi hanyalah legenda kuno dan menyangsikan kemampuan Kai untuk "berbicara" dengan hutan.

Mereka melihatnya sebagai pemuda yang naif dan keras kepala, hanya membuang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak masuk akal.

"Untuk apa kau pergi, Kai?" tanya seorang ibu tua dengan nada khawatir.

"Itu hanya cerita zaman dahulu. Lebih baik kita berdoa dan berharap para penebang kayu itu segera pergi."

"Tapi, Nek," jawab Kai dengan sabar,

" Aku merasakan sendiri kegelisahan hutan. Dan pertanda-pertanda itu... semuanya mengarah pada legenda itu. Kita tidak bisa hanya menunggu."

"Kau hanya anak muda yang terlalu banyak menghabiskan waktu di hutan," sahut seorang nelayan dengan nada meremehkan.

"Dunia ini nyata, Kai. Bukan hanya bisikan angin dan suara binatang."

Meskipun menghadapi keraguan dan cibiran, Kai tetap teguh pada pendiriannya. Dukungan dari kedua orangtuanya dan Nenek Ino memberinya kekuatan. Ia juga merasakan dorongan kuat dari para roh hutan yang seolah memintanya untuk bertindak.

Nenek Ino mengumpulkan beberapa tetua yang lebih terbuka dan membicarakan kembali tentang 'Sang Penjaga' dengan penekanan pada pertanda-pertanda yang sedang terjadi.

Ia juga menyampaikan keyakinannya pada kemampuan Kai, meskipun ia sendiri tidak sepenuhnya memahaminya.

"Kita tidak punya pilihan lain," kata Nenek Ino kepada para tetua.

"Jika legenda itu benar, maka kita semua dalam bahaya. Biarkan Kai mencoba. Kita harus memberinya kesempatan."

Setelah perdebatan yang cukup panjang, para tetua sepakat untuk memberikan Kai kesempatan. Mereka memberikan beberapa petunjuk awal tentang pulau-pulau tetangga yang mungkin menyimpan potongan-potongan pengetahuan tentang cara menenangkan Sang Penjaga.

Setelah berpamitan dengan kedua orangtuanya, Kai berjalan menuju perahu, ia berusaha mengabaikan raut khawatir ibunya yang sempat menolak tapi akhirnya berhasil diyakinkan ayahnya.

Dengan perahu layar kecil milik ayahnya yang telah diperbaiki, Kai bersiap untuk memulai perjalanannya.

Di benaknya terngiang pesan Nenek Ino, "Dengarkan dengan hatimu, Kai. Alam akan membimbingmu. Dan jangan pernah meremehkan kekuatan kepercayaan, meskipun terlihat kuno."

Saat perahu Kai mulai menjauhi pantai, sebagian penduduk desa hanya melihat kepergian seorang pemuda aneh. Namun, beberapa orang, terutama anak-anak dan para tetua, melihat secercah harapan di tengah ketidakpastian yang melanda pulau mereka.

Perahu layar kecil Kai membelah ombak yang mulai meninggi di perairan sekitar pulau. Angin bertiup kencang, menarik layar dengan kasar dan membuat perahu oleng ke kiri dan ke kanan.

Langit yang semula cerah mulai tertutup awan kelabu yang bergerak cepat, pertanda cuaca buruk yang datang tiba-tiba—cuaca yang memang tipikal laut di wilayah itu.

Meskipun Kai tumbuh di sebuah kepulauan dan tanah para nelayan, ia bukanlah seorang pelaut berpengalaman seperti ayahnya. Ia lebih akrab dengan hutan daripada dengan keganasan ombak.

Namun, tekad untuk menyelamatkan pulau dan roh-roh hutan memberinya keberanian untuk menghadapi tantangan laut yang menghadang.

Setiap kali ombak besar menghantam lambung perahu, Kai mencengkeram erat kemudi kayu, berusaha menjaga keseimbangan.

Air laut menyiram wajahnya, asin dan dingin, membuatnya harus menyipitkan mata untuk melihat arah. Angin menderu di telinganya, menenggelamkan suara deburan ombak yang menghantam perahu tanpa ampun.

Di tengah keganasan cuaca, Kai merasakan ada yang lebih dari sekadar amukan alam. Ada kegelisahan yang aneh di dalam laut itu sendiri.

Biasanya, meskipun ombak tinggi, ada ritme dan pola yang bisa diprediksi. Namun kali ini, ombak datang secara tiba-tiba dari berbagai arah, liar dan tidak beraturan, seolah laut itu sendiri sedang memberontak. Seolah ada denyut yang sama antara laut dan bumi.

Sesekali, Kai melihat bayangan gelap bergerak di bawah permukaan air. Terlalu besar untuk sekadar kawanan ikan atau lumba-lumba. Bayangan-bayangan itu bergerak cepat dan misterius, menimbulkan perasaan tidak nyaman dan firasat buruk dalam dirinya.

Apakah ini juga pertanda bahwa Sang Penjaga terusik dan kekuatannya kini mulai merambat ke lautan?

Malam tiba dengan kegelapan yang pekat. Tanpa bintang sebagai penunjuk arah, Kai harus mengandalkan insting dan pengetahuannya yang terbatas tentang navigasi tradisional. Suara ombak yang menghantam perahu terdengar semakin menakutkan di tengah kegelapan.

Rasa lelah mulai menyerang tubuhnya, namun kai tahu ia tidak bisa menyerah. Setiap mil yang ditempuh membawanya lebih dekat pada jawaban dan harapan untuk menyelamatkan rumahnya.

Tiba-tiba, kilatan petir menyambar langit, menerangi laut yang bergolak sesaat. Dalam cahaya singkat itu, Kai melihat ombak yang sangat besar mengarah ke perahunya, tingginya beberapa kali lipat dari ombak biasa.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jejak Pewaris Harmoni di Bawah Langit dan Gelombang   Bab 7

    Bersama Luka, mereka kembali mempersiapkan perahu. Penduduk desa membekali mereka dengan perbekalan tambahan dan beberapa jimat pelindung tradisional agar mereka terhindar dari gangguan seperti sebelumnya. Namun, Kai tidak yakin apakah jimat itu akan berguna melawan kekuatan gaib Pulau Bambu. Sebelum berangkat, seorang tetua perempuan memberikan Kai sebuah ukiran kayu kecil berbentuk burung laut. “Ini adalah simbol pelindung dari leluhur kami,” katanya dengan suara lembut. “Semoga dapat membantumu melewati bahaya di sana. Ingatlah nak, keberanian sejati bukan berarti tidak merasa takut, tapi tetap maju meskipun rasa takut menghantui. ​“Terima kasih, Nek,” gumam Kai. Jemarinya mengusap permukaan kayu yang terasa kasar, namun hangat di telapak tangannya. Ukiran burung laut itu tampak sederhana, tapi ada sesuatu dalam goresannya yang mendatangkan rasa tenang yang familiar. ​ Luka tersenyum tipis melihatnya, lalu keduanya berbalik menuju perahu yang sudah siap di bibir pantai. Tanp

  • Jejak Pewaris Harmoni di Bawah Langit dan Gelombang   Bab 6

    Kai dan Luka disambut oleh beberapa nelayan yang sedang berada dibibir pantai, mereka terkejut dan khawatir melihat kondisi Luka. Mereka berpikir Luka mengalami kecelakaan di laut karena tidak kembali sekian lama. Setelah menjelaskan singkat fenomena yang terjadi selama perjalanan dan tujuan Kai, Luka membawa Kai kembali ke arah desa. Penduduk desa, yang juga mendengar legenda tentang Sang Penjaga, mengatakan akan membawa membawa mereka menemui para tetua pulau. Kai yang disambut dengan hangat oleh penduduk desa, setelah mendapatkan makanan dan istirahat yang layak, Luka membawanya menemui para tetua pulau. Mereka berkumpul di sebuah balai desa sederhana yang terbuat dari kayu dan beratap daun nipah. Para tetua, dengan wajah yang dipenuhi garis usia dan mata yang tenang namun waspada, membuktikan mereka orang-orang yang telah lama hidup berdampingan dengan rahasia alam, menyambut Kai dengan tatapan penuh keingintahuan. Luka menceritakan kembali perjalanan mereka dan tujuan Ka

  • Jejak Pewaris Harmoni di Bawah Langit dan Gelombang   bab 5

    “Ada sesuatu di bawah sana,” bisik Kai kepada Luka, matanya dengan waspada mengamati permukaan air yang berkilauan aneh di tengah kabut. Lalu dari samping perahu, muncul sosok mengerikan. Makhluk itu memiliki tubuh panjang berlendir dengan sisik-sisik gelap yang berkilauan. Kepalanya menyerupai ular raksasa dengan mata kuning menyala yang menatap mereka dengan penuh permusuhan. Gigi-giginya tajam dan panjang terlihat jelas saat ia membuka mulutnya mengeluarkan desisan yang menakutkan. Luka tersentak ketakutan, tubuhnya gemetar. “Ular Laut raksasa... legenda itu nyata!" Makhluk itu melilitkan sebagian tubuhnya di sekitar lambung perahu, membuat kayu-kayu berderit menahan tekanan. Kai dan Luka berpegangan erat, berusaha tidak terjatuh ke laut yang dingin dan berbahaya. Kai meraih dayung yang tergeletak di dekatnya, bersiap untuk mempertahankan diri. Ia tahu, melawan makhluk sekuat ini di tengah laut bukanlah tugas mudah. Tapi ia tidak punya pilihan lain. Ia harus melindungi di

  • Jejak Pewaris Harmoni di Bawah Langit dan Gelombang   Bab 4

    Raungan angin bercampur dengan suara gemuruh air yang mendekat, menciptakan atmosfer yang mencekam. Dengan refleks cepat, Kai mengayunkan dayung kemudi sekuat tenaga, mencoba menghindari hantaman langsung. Perahunya terangkat tinggi di atas puncak ombak, kemudian terhempas turun dengan keras ke lembah gelombang berikutnya. Kayu perahu berderit menahan tekanan yang luar biasa. Untuk beberapa saat yang menegangkan, Kai merasa perahunya akan hancur berkeping-keping atau terbalik. Ia berpegangan erat pada dayung kemudi, memejamkan mata dan berdoa kepada roh-roh laut yang mungkin berbelas kasihan. Ia mencoba merasakan apakah laut juga sedang berbicara, seperti hutan. Tapi suara laut tidak seperti hutan. Tidak ada bisikan lembut atau gelombang emosi yang jelas. Hanya tekanan berat, dalam, seperi sesuatu yang menahan diri di kedalaman. Perlahan, badai mulai mereda, seolah amarah laut telah mencapai puncaknya. Ombak masih tinggi, tapi mulai memiliki ritme yang lebih teratur. Langit m

  • Jejak Pewaris Harmoni di Bawah Langit dan Gelombang   Bab 3

    Pagi menyingsing dengan kabut tipis yang menggantung di atas perkampungan. Tapi di wajah Kai tidak ada lagi keraguan. Semalam, tekadnya telah mengkristal. Ia harus bertindak, dan waktu terus berjalan. Langkah pertama Kai adalah menemui ayahnya, seorang nelayan yang tubuhnya kekar diterpa angin laut. Ia menceritakan penglihatannya, suara gemuruh dari perut bumi, dan percakapannya dengan Nenek Ino, para tetua dan beberapa warga. Awalnya, sang ayah mengerutkan kening, mencoba mencerna kata-kata putranya yang seringkali terasa asing baginya. Namun, ia melihat kesungguhan di mata Kai dan merasakan kecemasan yang sama atas perubahan alam sekitar. "Jika itu yang kau rasa benar, Nak," kata ayahnya dengan suara berat. "Maka lakukanlah. Laut memang tidak bersahabat, tapi seorang pelaut sejati tidak akan gentar menghadapi badai demi menyelamatkan rumahnya. Aku akan membantumu menyiapkan perahu dan bekal." Dengan bantuan ayahnya, Kai mulai mengumpulkan perbekalan sederhana. Sagu kering

  • Jejak Pewaris Harmoni di Bawah Langit dan Gelombang   Bab 2

    Awalnya, gangguan itu datang seperti riak kecil di permukaan air. Halus. Hampir tak terasa. Kai adalah yang pertama menyadarinya. Desiran angin di Hutan Tua Rerempah tak lagi membawa nyanyian tenang. Ada desahan gelisah di dalamnya. Gemericik sungai yang biasa menenangkan kini terasa terputus-putus, seperti bisikan ketakutan yang tertahan. Beberapa pohon tua di pinggiran hutan keramat tumbang tanpa sebab yang jelas. Warga desa menyalahkan angin atau usia, tapi Kai tahu itu bukan alasan sebenarnya. Ia meraba batang pohon yang patah, merasakan sisa-sisa emosi yang tertinggal. “Ada rasa sakit di sini,” gumamnya. “Seperti sesuatu… dicabut paksa.” *** Angin sore membawa bau tanah basah ketika lonceng bambu dipukul tiga kali di tengah dusun. Satu per satu, orang-orang keluar dari rumah panggung mereka. Wajah-wajah tegang, langkah ragu, bisik-bisik yang tidak pernah benar-benar berani diucapkan keras. Kai berdiri di tepi kerumunan, sedikit terpisah. Sejak pagi dadanya teras

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status