MasukRaungan angin bercampur dengan suara gemuruh air yang mendekat, menciptakan atmosfer yang mencekam.
Dengan refleks cepat, Kai mengayunkan dayung kemudi sekuat tenaga, mencoba menghindari hantaman langsung. Perahunya terangkat tinggi di atas puncak ombak, kemudian terhempas turun dengan keras ke lembah gelombang berikutnya. Kayu perahu berderit menahan tekanan yang luar biasa. Untuk beberapa saat yang menegangkan, Kai merasa perahunya akan hancur berkeping-keping atau terbalik. Ia berpegangan erat pada dayung kemudi, memejamkan mata dan berdoa kepada roh-roh laut yang mungkin berbelas kasihan. Ia mencoba merasakan apakah laut juga sedang berbicara, seperti hutan. Tapi suara laut tidak seperti hutan. Tidak ada bisikan lembut atau gelombang emosi yang jelas. Hanya tekanan berat, dalam, seperi sesuatu yang menahan diri di kedalaman. Perlahan, badai mulai mereda, seolah amarah laut telah mencapai puncaknya. Ombak masih tinggi, tapi mulai memiliki ritme yang lebih teratur. Langit mulai menunjukkan sedikit celah cahaya di ufuk timur. Kai membuka matanya, merasakan tubuhnya remuk redam tapi dia beruntung perahunya masih utuh. Ia selamat dari amukan laut, namun perjalanan yang sulit ini telah menguras tenaga dan mentalnya. Ia tahu, perjalanan menuju pulau tetangga tidak akan mudah, dan bahaya tidak hanya datang dari alam, tetapi mungkin juga dari kekuatan purba yang sedang bangkit. Dengan sisa tenaga, Kai kembali mengarahkan perahunya, memandang ke arah samar-samar daratan yang mulai terlihat di kejauhan. Harapan tipis masih menyala di dadanya, mendorongnya untuk terus maju meskipun lautan dan kegelisahan alam seolah ingin menelannya. Garis gelap itu sempat membuat jantung Kai berdegup kencang. Daratan. Ia yakin itu daratan. Namun ketika ia mengusap matanya dan menatap kembali, garis itu seperti bergeser, memanjang, lalu perlahan memudar ditelan cahaya senja. Laut kembali kosong. “Apakah aku hanya melihat bayangan harapan?” gumamnya lirih. Angin berdesir pelan, namun tidak membawa jawaban. Seolah-olah laut sengaja memperlihatkan sesuatu… lalu menyembunyikannya kembali. *** Hari kedua pelayaran terasa lebih berat. Lelah akibat badai semalam mencengkeram tubuh Kai. Kulitnya terasa perih terbakar matahari, dan bibirnya pecah-pecah karena kekurangan air. Bekal airnya menipis, dan persediaan ikan keringnya mulai terasa hambar. Laut masih bergelombang, meskipun tidak seagresif malam sebelumnya. Angin bertiup tidak menentu, kadang kencang membantu layar, kadang melemah membuatnya harus mendayung dengan susah payah. Rasa putus asa menggerogoti semangat Kai. Ia mulai meragukan kemampuannya untuk mencapai pulau tetangga yang entah kenapa terasa sangat jauh, apalagi menemukan jawaban untuk menenangkan Sang Penjaga. Di tengah lamunannya, Kai dikejutkan oleh suara teriakan yang samar-samar tertiup angin. Awalnya, ia mengira itu hanya halusinasi akibat kelelahan. Namun, suara itu terdengar lagi, lebih jelas kali ini, seperti seseorang yang sedang meminta tolong. Dengan sisa tenaganya, Kai berusaha mencari sumber suara. Ia memicingkan mata ke arah laut lepas. Setelah beberapa saat, ia melihat sesuatu yang terapung di kejauhan. Semakin mendekat, ia menyadari bahwa itu adalah puing-puing perahu kecil yang hancur, dan seorang pria berpegangan erat pada salah satu bagiannya, terombang-ambing di tengah laut. Tanpa ragu, Kai mengubah arah perahunya dan mendayung sekuat tenaga menuju pria itu. Ketika ia semakin dekat, ia melihat wajah pria itu pucat pasi dan penuh luka. Pria itu tampak sangat lemah dan hampir tidak sadarkan diri. Dengan hati-hati, Kai menarik pria itu ke atas perahunya. Pria itu mengenakan pakaian lusuh yang biasa dikenakan oleh nelayan dari pulau-pulau sekitar. Setelah memberikan sedikit air pria itu mulai siuman perlahan. “Terima kasih... terima kasih banyak,” ucap pria itu dengan suara lemah. “Saya... perahu saya dihantam badai dua hari yang lalu. Saya sudah kehilangan harapan...” Kai memperkenalkan dirinya dan bertanya tentang tujuannya. Pria itu bernama Luka, seorang nelayan dari pulau kecil di sebelah timur. Ia sedang dalam perjalanan untuk berdagang hasil laut ketika badai tiba-tiba menerjang. Setelah mendengar cerita Kai tentang tujuannya mencari pengetahuan kuno untuk menenangkan Sang Penjaga Bawah Bumi, Luka menatapnya dengan ekspresi terkejut dan sedikit ketakutan. “Kau mencari tentang Sang Penjaga? itu.. bukankah seekor Naga Purba?” tanya Luka dengan suara berbisik. “Kisah-kisah itu... aku mendengarnya sejak kecil. Mereka bilang, kemarahannya sangat mengerikan.” “Apapun wujudnya, aku harus tetap mencoba,” jawab Kai dengan tekad. “Pulauku dalam bahaya.” Tambahnya. Luka terdiam sejenak, lalu menatap Kai dengan tatapan yang sedikit berubah. “Mungkin... mungkin aku bisa membantumu. Pulau tempat tinggalku tidak terlalu jauh dari sini. Para tetua di sana... mereka juga menyimpan cerita-cerita kuno. Mungkin mereka tahu sesuatu.” Kai merasakan secercah harapan baru. Pertemuan tak terduga ini mungkin bukan kebetulan. Mungkin ini adalah petunjuk, sebuah jalan yang ditunjukkan oleh alam atau roh-roh laut. Dengan semangat baru, Kai membantu Luka mendapatkan kembali kekuatannya. Mereka berbagi sisa bekal dan bersama-sama mengarahkan perahu menuju pulau tempat tinggal Luka, sebuah pulau kecil yang mungkin menyimpan kunci untuk menyelamatkan rumah mereka. Setelah beberapa jam berlayar bersama, langit kembali berubah. Kabut tebal berwarna kelabu pekat tiba-tiba turun, menyelimuti laut dalam keheningan yang mencekam. Jarak pandang menyusut drastis, membuat Kai kesulitan menentukan arah. Kompas tradisionalnya berputar tidak menentu, seolah terpengaruh oleh sesuatu yang tidak wajar. “Kabut ini... tidak seperti kabut biasa,” gumam Luka dengan nada khawatir. “Biasanya kabut di laut ini tidak setebal dan secepat ini datangnya.” Kai merasakan hawa dingin yang menusuk tulang meskipun matahari masih terasa samar di balik kabut. Suasana menjadi aneh dan menakutkan. Suara deburan ombak terdengar teredam, menciptakan keheningan yang justru terasa mengancam. Mereka kehilangan orientasi, dan rasa cemas mulai mencengkeram hati keduanya. Tiba-tiba, dari kedalaman kabut, terdengar suara aneh. Bukan seperti suara ombak atau angin, melainkan suara mendesis yang panjang dan rendah, diikuti oleh suara seperti sesuatu yang bergerak cepat di bawah permukaan air. Perahu mereka mulai bergoyang tanpa sebab yang jelas, seolah ada makhluk besar yang sedang mengintai di bawah sana. Ketegangan mencairkan sisa-sisa kelelahan Kai. Instingnya berteriak bahaya. Ia teringat akan legenda tentang makhluk-makhluk laut penjaga wilayah, yang marah karena kedatangan manusia atau terganggu oleh bangkitnya Sang Penjaga.Bersama Luka, mereka kembali mempersiapkan perahu. Penduduk desa membekali mereka dengan perbekalan tambahan dan beberapa jimat pelindung tradisional agar mereka terhindar dari gangguan seperti sebelumnya. Namun, Kai tidak yakin apakah jimat itu akan berguna melawan kekuatan gaib Pulau Bambu. Sebelum berangkat, seorang tetua perempuan memberikan Kai sebuah ukiran kayu kecil berbentuk burung laut. “Ini adalah simbol pelindung dari leluhur kami,” katanya dengan suara lembut. “Semoga dapat membantumu melewati bahaya di sana. Ingatlah nak, keberanian sejati bukan berarti tidak merasa takut, tapi tetap maju meskipun rasa takut menghantui. “Terima kasih, Nek,” gumam Kai. Jemarinya mengusap permukaan kayu yang terasa kasar, namun hangat di telapak tangannya. Ukiran burung laut itu tampak sederhana, tapi ada sesuatu dalam goresannya yang mendatangkan rasa tenang yang familiar. Luka tersenyum tipis melihatnya, lalu keduanya berbalik menuju perahu yang sudah siap di bibir pantai. Tanp
Kai dan Luka disambut oleh beberapa nelayan yang sedang berada dibibir pantai, mereka terkejut dan khawatir melihat kondisi Luka. Mereka berpikir Luka mengalami kecelakaan di laut karena tidak kembali sekian lama. Setelah menjelaskan singkat fenomena yang terjadi selama perjalanan dan tujuan Kai, Luka membawa Kai kembali ke arah desa. Penduduk desa, yang juga mendengar legenda tentang Sang Penjaga, mengatakan akan membawa membawa mereka menemui para tetua pulau. Kai yang disambut dengan hangat oleh penduduk desa, setelah mendapatkan makanan dan istirahat yang layak, Luka membawanya menemui para tetua pulau. Mereka berkumpul di sebuah balai desa sederhana yang terbuat dari kayu dan beratap daun nipah. Para tetua, dengan wajah yang dipenuhi garis usia dan mata yang tenang namun waspada, membuktikan mereka orang-orang yang telah lama hidup berdampingan dengan rahasia alam, menyambut Kai dengan tatapan penuh keingintahuan. Luka menceritakan kembali perjalanan mereka dan tujuan Ka
“Ada sesuatu di bawah sana,” bisik Kai kepada Luka, matanya dengan waspada mengamati permukaan air yang berkilauan aneh di tengah kabut. Lalu dari samping perahu, muncul sosok mengerikan. Makhluk itu memiliki tubuh panjang berlendir dengan sisik-sisik gelap yang berkilauan. Kepalanya menyerupai ular raksasa dengan mata kuning menyala yang menatap mereka dengan penuh permusuhan. Gigi-giginya tajam dan panjang terlihat jelas saat ia membuka mulutnya mengeluarkan desisan yang menakutkan. Luka tersentak ketakutan, tubuhnya gemetar. “Ular Laut raksasa... legenda itu nyata!" Makhluk itu melilitkan sebagian tubuhnya di sekitar lambung perahu, membuat kayu-kayu berderit menahan tekanan. Kai dan Luka berpegangan erat, berusaha tidak terjatuh ke laut yang dingin dan berbahaya. Kai meraih dayung yang tergeletak di dekatnya, bersiap untuk mempertahankan diri. Ia tahu, melawan makhluk sekuat ini di tengah laut bukanlah tugas mudah. Tapi ia tidak punya pilihan lain. Ia harus melindungi di
Raungan angin bercampur dengan suara gemuruh air yang mendekat, menciptakan atmosfer yang mencekam. Dengan refleks cepat, Kai mengayunkan dayung kemudi sekuat tenaga, mencoba menghindari hantaman langsung. Perahunya terangkat tinggi di atas puncak ombak, kemudian terhempas turun dengan keras ke lembah gelombang berikutnya. Kayu perahu berderit menahan tekanan yang luar biasa. Untuk beberapa saat yang menegangkan, Kai merasa perahunya akan hancur berkeping-keping atau terbalik. Ia berpegangan erat pada dayung kemudi, memejamkan mata dan berdoa kepada roh-roh laut yang mungkin berbelas kasihan. Ia mencoba merasakan apakah laut juga sedang berbicara, seperti hutan. Tapi suara laut tidak seperti hutan. Tidak ada bisikan lembut atau gelombang emosi yang jelas. Hanya tekanan berat, dalam, seperi sesuatu yang menahan diri di kedalaman. Perlahan, badai mulai mereda, seolah amarah laut telah mencapai puncaknya. Ombak masih tinggi, tapi mulai memiliki ritme yang lebih teratur. Langit m
Pagi menyingsing dengan kabut tipis yang menggantung di atas perkampungan. Tapi di wajah Kai tidak ada lagi keraguan. Semalam, tekadnya telah mengkristal. Ia harus bertindak, dan waktu terus berjalan. Langkah pertama Kai adalah menemui ayahnya, seorang nelayan yang tubuhnya kekar diterpa angin laut. Ia menceritakan penglihatannya, suara gemuruh dari perut bumi, dan percakapannya dengan Nenek Ino, para tetua dan beberapa warga. Awalnya, sang ayah mengerutkan kening, mencoba mencerna kata-kata putranya yang seringkali terasa asing baginya. Namun, ia melihat kesungguhan di mata Kai dan merasakan kecemasan yang sama atas perubahan alam sekitar. "Jika itu yang kau rasa benar, Nak," kata ayahnya dengan suara berat. "Maka lakukanlah. Laut memang tidak bersahabat, tapi seorang pelaut sejati tidak akan gentar menghadapi badai demi menyelamatkan rumahnya. Aku akan membantumu menyiapkan perahu dan bekal." Dengan bantuan ayahnya, Kai mulai mengumpulkan perbekalan sederhana. Sagu kering
Awalnya, gangguan itu datang seperti riak kecil di permukaan air. Halus. Hampir tak terasa. Kai adalah yang pertama menyadarinya. Desiran angin di Hutan Tua Rerempah tak lagi membawa nyanyian tenang. Ada desahan gelisah di dalamnya. Gemericik sungai yang biasa menenangkan kini terasa terputus-putus, seperti bisikan ketakutan yang tertahan. Beberapa pohon tua di pinggiran hutan keramat tumbang tanpa sebab yang jelas. Warga desa menyalahkan angin atau usia, tapi Kai tahu itu bukan alasan sebenarnya. Ia meraba batang pohon yang patah, merasakan sisa-sisa emosi yang tertinggal. “Ada rasa sakit di sini,” gumamnya. “Seperti sesuatu… dicabut paksa.” *** Angin sore membawa bau tanah basah ketika lonceng bambu dipukul tiga kali di tengah dusun. Satu per satu, orang-orang keluar dari rumah panggung mereka. Wajah-wajah tegang, langkah ragu, bisik-bisik yang tidak pernah benar-benar berani diucapkan keras. Kai berdiri di tepi kerumunan, sedikit terpisah. Sejak pagi dadanya teras







