Share

Bab 6

Penulis: Lily Aislin
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-14 14:30:51

Kai dan Luka disambut oleh beberapa nelayan yang sedang berada dibibir pantai, mereka terkejut dan khawatir melihat kondisi Luka. Mereka berpikir Luka mengalami kecelakaan di laut karena tidak kembali sekian lama.

Setelah menjelaskan singkat fenomena yang terjadi selama perjalanan dan tujuan Kai, Luka membawa Kai kembali ke arah desa. Penduduk desa, yang juga mendengar legenda tentang Sang Penjaga, mengatakan akan membawa membawa mereka menemui para tetua pulau.

Kai yang disambut dengan hangat oleh penduduk desa, setelah mendapatkan makanan dan istirahat yang layak, Luka membawanya menemui para tetua pulau. Mereka berkumpul di sebuah balai desa sederhana yang terbuat dari kayu dan beratap daun nipah.

Para tetua, dengan wajah yang dipenuhi garis usia dan mata yang tenang namun waspada, membuktikan mereka orang-orang yang telah lama hidup berdampingan dengan rahasia alam, menyambut Kai dengan tatapan penuh keingintahuan.

Luka menceritakan kembali perjalanan mereka dan tujuan Kai untuk mencari informasi tentang cara menenangkan Sang Penjaga yang menunjukkan tanda-tanda kemurkaan di bawah pulau asalnya.

Awalnya, para tetua saling berpandangan dengan ekspresi khawatir. Legenda tentang Sang Penjaga juga dikenal di pulau ini, diturunkan dari generasi ke generasi sebagai peringatan tentang keseimbangan alam yang rapuh.

“Anak muda,” kata seorang tetua berjenggot putih panjang dengan suara serak namun berwibawa.

“Kau datang dari pulau di barat? Kami mendengar kabar tentang gangguan yang terjadi di sana... hutan yang rusak, hewan yang gelisah.”

Kai mengangguk, menceritakan penglihatannya tentang hutan Tua yang terusik dan pertanda-pertanda yang sesuai dengan ramalan kuno. Ia juga menjelaskan kemampuannya untuk merasakan kegelisahan alam, sesuatu yang membuat sebagian tetua mengernyitkan dahi namun sebagian lainnya menunjukkan ketertarikan.

“Kemampuanmu ini... apakah ini karunia atau beban?” tanya seorang tetua perempuan dengan mata yang tajam mengamati Kai.

“Inilah apa adanya saya, Nek,” jawab Kai dengan jujur.

“Saya tidak memintanya, tapi saya merasakannya. Dan saat ini, saya merasa bertanggung jawab untuk menggunakan kemampuan ini demi menyelamatkan rumah saya.” Lanjutnya sembari menatap para tetua.

Para tetua terdiam sejenak, saling bertukar pandang. Akhirnya, tetua berjenggot putih kembali berbicara.

“Legenda tentang Sang Penjaga memang ada di antara kami. Kami diajarkan untuk menghormati alam dan menjaganya agar Sang Penjaga tetap tertidur lelap. Merusak hutan... itu adalah tindakan yang sangat berbahaya.”

“Apakah kalian tahu cara untuk menenangkannya jika ia terbangun?” tanya Kai dengan nada penuh harap.

Para tetua saling berpandangan lagi. Setelah hening beberapa saat, salah seorang tetua bangkit dan berjalan menuju sebuah peti kayu tua di sudut balai. Dengan hati-hati, ia membukanya dan mengeluarkan sebuah gulungan kulit binatang yang tampak kuno.

“Kami hanya memiliki ini,” katanya sambil membuka gulungan itu dengan hati-hati.

“Ini adalah catatan leluhur kami tentang Sang Penjaga. Di dalamnya tertulis tentang asal-usul, kekuatannya, dan... beberapa cara untuk berkomunikasi dengannya.”

Saat kulit binatang itu dibentangkan, udara di dalam balai terasa berubah. Seperti ada ingatan lama yang kembali terbangun. Simbol-simbol di atasnya tidak hanya tampak sebagai tulisan, tetapi seperti menyimpan denyut yang hampir tak terlihat.

Jantung Kai berdebar kencang. Inilah yang ia cari.

Ia mendekat dan melihat tulisan-tulisan kuno dan gambar-gambar simbolik yang memenuhi kulit binatang itu. Para tetua mulai menjelaskan isi gulungan tersebut.

Mereka menjelaskan tentang Sang Penjaga sebagai entitas purba yang terlahir dari keseimbangan alam itu sendiri, kekuatannya terhubung dengan kehidupan setiap makhluk di pulau-pulau itu.

Mereka juga menyebutkan tentang “Nyanyian Harmoni”, sebuah ritual kuno yang diyakini dapat menenangkan Sang Penjaga jika ia terusik. Ritual ini melibatkan kombinasi suara-suara alam, gerakan tarian, dan penggunaan artefak-artefak suci yang terbuat dari elemen-elemen alam.

“Namun...” kata salah seorang tetua dengan nada serius.

“ Ritual ini tidak pernah dilakukan selama berabad-abad. Pengetahuan tentangnya hampir hilang. Artefak-artefak suci itu tersebar di berbagai pulau, dan hanya sedikit yang tahu di mana keberadaannya.”

Harapan Kai bercampur dengan tantangan baru. Ia telah menemukan sebuah petunjuk, tetapi jalan untuk menenangkan Sang Penjaga ternyata jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan.

Ia harus mengumpulkan kembali artefak-artefak suci yang hilang dan mempelajari kembali “Nyanyian Harmoni” yang terlupakan. Perjalanannya belum berakhir, justru baru saja dimulai.

“Apakah kalian tahu di mana artefak-artefak itu berada?” tanya Kai dengan antusias.

Para tetua kembali berunding dengan suara pelan. Setelah beberapa saat, tetua berjenggot putih kembali menatap Kai.

“Kami tahu tentang satu artefak,” katanya.

“Sebuah seruling bambu purba yang diyakini memiliki kekuatan untuk memanggil roh-roh alam dan menyeimbangkan energi. Seruling itu disimpan di sebuah kuil kuno di pulau seberang, pulau yang terkenal dengan hutan bambunya yang lebat dan angkernya.”

Sebuah tujuan baru muncul di hadapan Kai. Pulau bambu yang angker. Ia harus menemukan seruling bambu purba itu jika ia ingin memiliki kesempatan untuk menenangkan Sang Penjaga dan menyelamatkan rumahnya.

Setelah mendapatkan informasi tentang seruling bambu purba, Kai merasa ada setitik harapan tambahan yang kembali menyala dalam dirinya. Ia berterima kasih kepada para tetua atas pengetahuan dan keramahan mereka.

Luka, yang kini telah pulih sedikit dari traumanya di laut, menawarkan diri untuk menemani Kai ke pulau bambu. Ia merasa berhutang budi pada Kai dan juga ingin membantu menyelamatkan wilayah mereka dari potensi murka Sang Penjaga.

Penduduk desa di pulau tempat Luka tinggal memperingatkan mereka tentang pulau bambu. Mereka menyebutnya sebagai tempat yang angker, dihuni oleh roh-roh hutan bambu yang liar dan penjaga kuil kuno yang ganas. Konon, siapa pun yang berani mengganggu ketenangan tempat itu akan mendapatkan malapetaka.

“Banyak nelayan yang tersesat di sekitar pulau itu dan tidak pernah kembali,” cerita seorang wanita tua dengan nada cemas.

“Angin di sana membisikkan suara-suara aneh, dan bayangan bergerak di antara rumpun bambu meskipun tidak ada angin.”

Meskipun mendengar cerita-cerita menakutkan itu, Kai tidak gentar. Ia merasa bahwa seruling bambu purba adalah kunci yang ia butuhkan. Ia harus mengambil risiko, demi menyelamatkan pulau asalnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jejak Pewaris Harmoni di Bawah Langit dan Gelombang   Bab 7

    Bersama Luka, mereka kembali mempersiapkan perahu. Penduduk desa membekali mereka dengan perbekalan tambahan dan beberapa jimat pelindung tradisional agar mereka terhindar dari gangguan seperti sebelumnya. Namun, Kai tidak yakin apakah jimat itu akan berguna melawan kekuatan gaib Pulau Bambu. Sebelum berangkat, seorang tetua perempuan memberikan Kai sebuah ukiran kayu kecil berbentuk burung laut. “Ini adalah simbol pelindung dari leluhur kami,” katanya dengan suara lembut. “Semoga dapat membantumu melewati bahaya di sana. Ingatlah nak, keberanian sejati bukan berarti tidak merasa takut, tapi tetap maju meskipun rasa takut menghantui. ​“Terima kasih, Nek,” gumam Kai. Jemarinya mengusap permukaan kayu yang terasa kasar, namun hangat di telapak tangannya. Ukiran burung laut itu tampak sederhana, tapi ada sesuatu dalam goresannya yang mendatangkan rasa tenang yang familiar. ​ Luka tersenyum tipis melihatnya, lalu keduanya berbalik menuju perahu yang sudah siap di bibir pantai. Tanp

  • Jejak Pewaris Harmoni di Bawah Langit dan Gelombang   Bab 6

    Kai dan Luka disambut oleh beberapa nelayan yang sedang berada dibibir pantai, mereka terkejut dan khawatir melihat kondisi Luka. Mereka berpikir Luka mengalami kecelakaan di laut karena tidak kembali sekian lama. Setelah menjelaskan singkat fenomena yang terjadi selama perjalanan dan tujuan Kai, Luka membawa Kai kembali ke arah desa. Penduduk desa, yang juga mendengar legenda tentang Sang Penjaga, mengatakan akan membawa membawa mereka menemui para tetua pulau. Kai yang disambut dengan hangat oleh penduduk desa, setelah mendapatkan makanan dan istirahat yang layak, Luka membawanya menemui para tetua pulau. Mereka berkumpul di sebuah balai desa sederhana yang terbuat dari kayu dan beratap daun nipah. Para tetua, dengan wajah yang dipenuhi garis usia dan mata yang tenang namun waspada, membuktikan mereka orang-orang yang telah lama hidup berdampingan dengan rahasia alam, menyambut Kai dengan tatapan penuh keingintahuan. Luka menceritakan kembali perjalanan mereka dan tujuan Ka

  • Jejak Pewaris Harmoni di Bawah Langit dan Gelombang   bab 5

    “Ada sesuatu di bawah sana,” bisik Kai kepada Luka, matanya dengan waspada mengamati permukaan air yang berkilauan aneh di tengah kabut. Lalu dari samping perahu, muncul sosok mengerikan. Makhluk itu memiliki tubuh panjang berlendir dengan sisik-sisik gelap yang berkilauan. Kepalanya menyerupai ular raksasa dengan mata kuning menyala yang menatap mereka dengan penuh permusuhan. Gigi-giginya tajam dan panjang terlihat jelas saat ia membuka mulutnya mengeluarkan desisan yang menakutkan. Luka tersentak ketakutan, tubuhnya gemetar. “Ular Laut raksasa... legenda itu nyata!" Makhluk itu melilitkan sebagian tubuhnya di sekitar lambung perahu, membuat kayu-kayu berderit menahan tekanan. Kai dan Luka berpegangan erat, berusaha tidak terjatuh ke laut yang dingin dan berbahaya. Kai meraih dayung yang tergeletak di dekatnya, bersiap untuk mempertahankan diri. Ia tahu, melawan makhluk sekuat ini di tengah laut bukanlah tugas mudah. Tapi ia tidak punya pilihan lain. Ia harus melindungi di

  • Jejak Pewaris Harmoni di Bawah Langit dan Gelombang   Bab 4

    Raungan angin bercampur dengan suara gemuruh air yang mendekat, menciptakan atmosfer yang mencekam. Dengan refleks cepat, Kai mengayunkan dayung kemudi sekuat tenaga, mencoba menghindari hantaman langsung. Perahunya terangkat tinggi di atas puncak ombak, kemudian terhempas turun dengan keras ke lembah gelombang berikutnya. Kayu perahu berderit menahan tekanan yang luar biasa. Untuk beberapa saat yang menegangkan, Kai merasa perahunya akan hancur berkeping-keping atau terbalik. Ia berpegangan erat pada dayung kemudi, memejamkan mata dan berdoa kepada roh-roh laut yang mungkin berbelas kasihan. Ia mencoba merasakan apakah laut juga sedang berbicara, seperti hutan. Tapi suara laut tidak seperti hutan. Tidak ada bisikan lembut atau gelombang emosi yang jelas. Hanya tekanan berat, dalam, seperi sesuatu yang menahan diri di kedalaman. Perlahan, badai mulai mereda, seolah amarah laut telah mencapai puncaknya. Ombak masih tinggi, tapi mulai memiliki ritme yang lebih teratur. Langit m

  • Jejak Pewaris Harmoni di Bawah Langit dan Gelombang   Bab 3

    Pagi menyingsing dengan kabut tipis yang menggantung di atas perkampungan. Tapi di wajah Kai tidak ada lagi keraguan. Semalam, tekadnya telah mengkristal. Ia harus bertindak, dan waktu terus berjalan. Langkah pertama Kai adalah menemui ayahnya, seorang nelayan yang tubuhnya kekar diterpa angin laut. Ia menceritakan penglihatannya, suara gemuruh dari perut bumi, dan percakapannya dengan Nenek Ino, para tetua dan beberapa warga. Awalnya, sang ayah mengerutkan kening, mencoba mencerna kata-kata putranya yang seringkali terasa asing baginya. Namun, ia melihat kesungguhan di mata Kai dan merasakan kecemasan yang sama atas perubahan alam sekitar. "Jika itu yang kau rasa benar, Nak," kata ayahnya dengan suara berat. "Maka lakukanlah. Laut memang tidak bersahabat, tapi seorang pelaut sejati tidak akan gentar menghadapi badai demi menyelamatkan rumahnya. Aku akan membantumu menyiapkan perahu dan bekal." Dengan bantuan ayahnya, Kai mulai mengumpulkan perbekalan sederhana. Sagu kering

  • Jejak Pewaris Harmoni di Bawah Langit dan Gelombang   Bab 2

    Awalnya, gangguan itu datang seperti riak kecil di permukaan air. Halus. Hampir tak terasa. Kai adalah yang pertama menyadarinya. Desiran angin di Hutan Tua Rerempah tak lagi membawa nyanyian tenang. Ada desahan gelisah di dalamnya. Gemericik sungai yang biasa menenangkan kini terasa terputus-putus, seperti bisikan ketakutan yang tertahan. Beberapa pohon tua di pinggiran hutan keramat tumbang tanpa sebab yang jelas. Warga desa menyalahkan angin atau usia, tapi Kai tahu itu bukan alasan sebenarnya. Ia meraba batang pohon yang patah, merasakan sisa-sisa emosi yang tertinggal. “Ada rasa sakit di sini,” gumamnya. “Seperti sesuatu… dicabut paksa.” *** Angin sore membawa bau tanah basah ketika lonceng bambu dipukul tiga kali di tengah dusun. Satu per satu, orang-orang keluar dari rumah panggung mereka. Wajah-wajah tegang, langkah ragu, bisik-bisik yang tidak pernah benar-benar berani diucapkan keras. Kai berdiri di tepi kerumunan, sedikit terpisah. Sejak pagi dadanya teras

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status