Share

bab 5

Penulis: Lily Aislin
last update Terakhir Diperbarui: 2025-05-15 10:06:57

“Ada sesuatu di bawah sana,” bisik Kai kepada Luka, matanya dengan waspada mengamati permukaan air yang berkilauan aneh di tengah kabut.

Lalu dari samping perahu, muncul sosok mengerikan. Makhluk itu memiliki tubuh panjang berlendir dengan sisik-sisik gelap yang berkilauan. Kepalanya menyerupai ular raksasa dengan mata kuning menyala yang menatap mereka dengan penuh permusuhan.

Gigi-giginya tajam dan panjang terlihat jelas saat ia membuka mulutnya mengeluarkan desisan yang menakutkan.

Luka tersentak ketakutan, tubuhnya gemetar. “Ular Laut raksasa... legenda itu nyata!"

Makhluk itu melilitkan sebagian tubuhnya di sekitar lambung perahu, membuat kayu-kayu berderit menahan tekanan. Kai dan Luka berpegangan erat, berusaha tidak terjatuh ke laut yang dingin dan berbahaya.

Kai meraih dayung yang tergeletak di dekatnya, bersiap untuk mempertahankan diri. Ia tahu, melawan makhluk sekuat ini di tengah laut bukanlah tugas mudah. Tapi ia tidak punya pilihan lain. Ia harus melindungi dirinya dan Luka, satu-satunya harapan yang dimilikinya saat ini.

Ular raksasa itu kembali mendesis, mencoba menarik perahu mereka lebih dalam ke laut. Kai dengan sekuat tenaga menusukkan ujung dayungnya ke arah mata makhluk itu. Ular Laut itu menggeram kesakitan dan melepaskan lilitannya sejenak.

Kesempatan itu tidak mereka sia-siakan. Kai dan Luka bekerja sama mendayung sekuat tenaga menjauhi makhluk itu, memanfaatkan kabut tebal sebagai perlindungan.

Mereka tidak tahu apakah Ular raksasa itu akan mengejar mereka, namun mereka terus mendayung tanpa henti, jantung berdebar kencang di dada.

Setelah beberapa waktu yang terasa sangat lama, suara desisan dan gerakan di bawah air mulai menjauh. Kabut perlahan mulai menipis, memperlihatkan laut yang kembali tenang tapi masih terasa menyimpan misteri dan bahaya yang mengintai.

Kai dan Luka terengah-engah, selamat dari kejadian mengerikan itu. Pengalaman ini meninggalkan bekas yang mendalam bagi mereka berdua.

Mereka menyadari bahwa perjalanan ini tidak hanya akan diuji oleh amukan alam, tetapi juga oleh makhluk-makhluk mitologis yang menjaga keseimbangan laut dan mungkin menjadi sekutu atau bahkan musuh dari Sang Penjaga yang mereka cari.

Pulau tujuan mereka mungkin sudah dekat, namun bahaya di lautan ini masih mengintai.

*****

Setelah lolos dari kejaran Ular raksasa di tengah kabut mencekam, perjalanan Kai dan Luka berubah menjadi ujian ketahanan fisik dan mental yang sesungguhnya.

Kabut seringkali turun tanpa peringatan, membuat mereka kehilangan arah dan memperlambat laju perahu. Terkadang, badai kecil kembali menerjang, mengombang-ambingkan perahu dan menguras sisa tenaga mereka.

Bekal makanan dan air semakin menipis. Mereka harus mengandalkan kemampuan Luka sebagai nelayan untuk menangkap ikan, dan terkadang menampung air hujan yang sesekali turun. Rasa lapar dan dahaga menjadi teman setia mereka di tengah luasnya lautan.

Minggu pertama berlalu dengan harapan yang masih membara. Luka bercerita tentang pulau tempat tinggalnya, tentang para tetua bijak yang menyimpan pengetahuan kuno, dan tentang kemungkinan menemukan jawaban di sana.

Cerita-cerita itu menjadi penyemangat bagi Kai untuk terus mendayung, menantang ombak, dan melawan rasa lelah yang mendera.

Namun memasuki minggu kedua, harapan itu mulai terkikis. Laut terasa begitu luas dan tak berujung. Pulau tujuan yang diceritakan Luka seolah menjauh setiap kali mereka mencoba mendekat. Keraguan mulai menghantui Kai.

Apakah perjalanan ini sia-sia? Apakah legenda tentang Sang Penjaga hanyalah isapan jempol belaka?

Di tengah keputusasaan, Kai mencoba untuk kembali mendengarkan “suara” alam. Ia memejamkan mata, merasakan desiran angin dan deburan ombak.

Kali ini, ia tidak lagi mendengar kegelisahan hutan, melainkan keheningan yang dingin dan asing dari lautan lepas.

Apakah Sang Penjaga juga mempengaruhi laut sedemikian rupa hingga roh-roh laut pun terdiam?

Memasuki minggu ketiga, kondisi fisik mereka semakin memprihatinkan. Kulit mereka menghitam terbakar matahari, tubuh terasa lemas, dan semangat nyaris padam.

Luka, meskipun lebih berpengalaman di laut, juga mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan yang ekstrem.

Suatu pagi, saat kabut tipis perlahan menghilang, Luka tiba-tiba menunjuk ke arah cakrawala dengan tangan gemetar.

“Itu... Kai... lihat itu ada daratan!”

Kai terdiam. Kata-kata itu terdengar seperti gema dari masa lalu—seperti hari ketika ia sendiri melihat daratan yang menghilang.

Ia menyipitkan mata. Di cakrawala, memang tampak bayangan gelap yang berbeda dari garis laut biasa. Namun bayangan itu tidak sepenuhnya diam. Ia tampak bergetar, seperti napas raksasa yang naik turun perlahan.

“Jangan terlalu cepat percaya,” bisik Kai pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Luka.

Laut pernah menipunya sekali.

Anehnya kali ini, angin yang berhembus membawa aroma yang berbeda. Bukan hanya asin dan dingin, melainkan bau tanah basah… dan sesuatu yang purba.

Kai merasakan dadanya menghangat oleh firasat yang tidak bisa ia jelaskan.

Jika itu ilusi, maka ilusi itu memiliki denyut kehidupan.

Jika itu daratan… mungkin daratan itu juga sedang mengamati mereka.

Di kejauhan, samar-samar terlihat siluet pulau kecil dengan garis pantai berpasir putih dan rimbun pepohonan hijau. Rasa lega dan harapan seketika membanjiri hati Kai. Setelah berminggu-minggu berjuang di tengah lautan yang ganas dan penuh misteri, tujuan mereka akhirnya terlihat.

Dengan sisa tenaga, mereka mendayung menuju pulau itu. Semakin mendekat, mereka melihat perkampungan nelayan yang sederhana di tepi pantai, asap tipis mengepul dari beberapa gubuk. Wajah Luka berseri-seri melihat rumahnya kembali.

Ketika perahu mereka akhirnya mencapai pantai dan mereka menginjakkan kaki di daratan, Kai merasakan kakinya bergetar setelah sekian lama terombang-ambing di atas perahu.

Udara di pulau ini terasa berbeda, lebih tenang dan damai. Tapi entah kenapa Kai tetap merasakan sesuatu yang tersembunyi seperti getaran halus jauh di bawah tanah, samar namun terasa nyata. Seolah kegelisahan Sang Penjaga belum sepenuhnya mencapai tempat ini… atau mungkin hanya belum terbangun.

Perjalanan laut yang panjang dan penuh tantangan tidak hanya menguji ketahanan Kai, tapi juga memberinya keyakinan bahwa ia mampu menghadapi kesulitan demi menyelamatkan rumahnya.

Kini, di pulau kecil yang tenang ini, harapan baru muncul dibenaknya. Harapan Kai untuk menemukan pengetahuan kuno yang mungkin bisa menenangkan amarah Sang Penjaga.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jejak Pewaris Harmoni di Bawah Langit dan Gelombang   Bab 7

    Bersama Luka, mereka kembali mempersiapkan perahu. Penduduk desa membekali mereka dengan perbekalan tambahan dan beberapa jimat pelindung tradisional agar mereka terhindar dari gangguan seperti sebelumnya. Namun, Kai tidak yakin apakah jimat itu akan berguna melawan kekuatan gaib Pulau Bambu. Sebelum berangkat, seorang tetua perempuan memberikan Kai sebuah ukiran kayu kecil berbentuk burung laut. “Ini adalah simbol pelindung dari leluhur kami,” katanya dengan suara lembut. “Semoga dapat membantumu melewati bahaya di sana. Ingatlah nak, keberanian sejati bukan berarti tidak merasa takut, tapi tetap maju meskipun rasa takut menghantui. ​“Terima kasih, Nek,” gumam Kai. Jemarinya mengusap permukaan kayu yang terasa kasar, namun hangat di telapak tangannya. Ukiran burung laut itu tampak sederhana, tapi ada sesuatu dalam goresannya yang mendatangkan rasa tenang yang familiar. ​ Luka tersenyum tipis melihatnya, lalu keduanya berbalik menuju perahu yang sudah siap di bibir pantai. Tanp

  • Jejak Pewaris Harmoni di Bawah Langit dan Gelombang   Bab 6

    Kai dan Luka disambut oleh beberapa nelayan yang sedang berada dibibir pantai, mereka terkejut dan khawatir melihat kondisi Luka. Mereka berpikir Luka mengalami kecelakaan di laut karena tidak kembali sekian lama. Setelah menjelaskan singkat fenomena yang terjadi selama perjalanan dan tujuan Kai, Luka membawa Kai kembali ke arah desa. Penduduk desa, yang juga mendengar legenda tentang Sang Penjaga, mengatakan akan membawa membawa mereka menemui para tetua pulau. Kai yang disambut dengan hangat oleh penduduk desa, setelah mendapatkan makanan dan istirahat yang layak, Luka membawanya menemui para tetua pulau. Mereka berkumpul di sebuah balai desa sederhana yang terbuat dari kayu dan beratap daun nipah. Para tetua, dengan wajah yang dipenuhi garis usia dan mata yang tenang namun waspada, membuktikan mereka orang-orang yang telah lama hidup berdampingan dengan rahasia alam, menyambut Kai dengan tatapan penuh keingintahuan. Luka menceritakan kembali perjalanan mereka dan tujuan Ka

  • Jejak Pewaris Harmoni di Bawah Langit dan Gelombang   bab 5

    “Ada sesuatu di bawah sana,” bisik Kai kepada Luka, matanya dengan waspada mengamati permukaan air yang berkilauan aneh di tengah kabut. Lalu dari samping perahu, muncul sosok mengerikan. Makhluk itu memiliki tubuh panjang berlendir dengan sisik-sisik gelap yang berkilauan. Kepalanya menyerupai ular raksasa dengan mata kuning menyala yang menatap mereka dengan penuh permusuhan. Gigi-giginya tajam dan panjang terlihat jelas saat ia membuka mulutnya mengeluarkan desisan yang menakutkan. Luka tersentak ketakutan, tubuhnya gemetar. “Ular Laut raksasa... legenda itu nyata!" Makhluk itu melilitkan sebagian tubuhnya di sekitar lambung perahu, membuat kayu-kayu berderit menahan tekanan. Kai dan Luka berpegangan erat, berusaha tidak terjatuh ke laut yang dingin dan berbahaya. Kai meraih dayung yang tergeletak di dekatnya, bersiap untuk mempertahankan diri. Ia tahu, melawan makhluk sekuat ini di tengah laut bukanlah tugas mudah. Tapi ia tidak punya pilihan lain. Ia harus melindungi di

  • Jejak Pewaris Harmoni di Bawah Langit dan Gelombang   Bab 4

    Raungan angin bercampur dengan suara gemuruh air yang mendekat, menciptakan atmosfer yang mencekam. Dengan refleks cepat, Kai mengayunkan dayung kemudi sekuat tenaga, mencoba menghindari hantaman langsung. Perahunya terangkat tinggi di atas puncak ombak, kemudian terhempas turun dengan keras ke lembah gelombang berikutnya. Kayu perahu berderit menahan tekanan yang luar biasa. Untuk beberapa saat yang menegangkan, Kai merasa perahunya akan hancur berkeping-keping atau terbalik. Ia berpegangan erat pada dayung kemudi, memejamkan mata dan berdoa kepada roh-roh laut yang mungkin berbelas kasihan. Ia mencoba merasakan apakah laut juga sedang berbicara, seperti hutan. Tapi suara laut tidak seperti hutan. Tidak ada bisikan lembut atau gelombang emosi yang jelas. Hanya tekanan berat, dalam, seperi sesuatu yang menahan diri di kedalaman. Perlahan, badai mulai mereda, seolah amarah laut telah mencapai puncaknya. Ombak masih tinggi, tapi mulai memiliki ritme yang lebih teratur. Langit m

  • Jejak Pewaris Harmoni di Bawah Langit dan Gelombang   Bab 3

    Pagi menyingsing dengan kabut tipis yang menggantung di atas perkampungan. Tapi di wajah Kai tidak ada lagi keraguan. Semalam, tekadnya telah mengkristal. Ia harus bertindak, dan waktu terus berjalan. Langkah pertama Kai adalah menemui ayahnya, seorang nelayan yang tubuhnya kekar diterpa angin laut. Ia menceritakan penglihatannya, suara gemuruh dari perut bumi, dan percakapannya dengan Nenek Ino, para tetua dan beberapa warga. Awalnya, sang ayah mengerutkan kening, mencoba mencerna kata-kata putranya yang seringkali terasa asing baginya. Namun, ia melihat kesungguhan di mata Kai dan merasakan kecemasan yang sama atas perubahan alam sekitar. "Jika itu yang kau rasa benar, Nak," kata ayahnya dengan suara berat. "Maka lakukanlah. Laut memang tidak bersahabat, tapi seorang pelaut sejati tidak akan gentar menghadapi badai demi menyelamatkan rumahnya. Aku akan membantumu menyiapkan perahu dan bekal." Dengan bantuan ayahnya, Kai mulai mengumpulkan perbekalan sederhana. Sagu kering

  • Jejak Pewaris Harmoni di Bawah Langit dan Gelombang   Bab 2

    Awalnya, gangguan itu datang seperti riak kecil di permukaan air. Halus. Hampir tak terasa. Kai adalah yang pertama menyadarinya. Desiran angin di Hutan Tua Rerempah tak lagi membawa nyanyian tenang. Ada desahan gelisah di dalamnya. Gemericik sungai yang biasa menenangkan kini terasa terputus-putus, seperti bisikan ketakutan yang tertahan. Beberapa pohon tua di pinggiran hutan keramat tumbang tanpa sebab yang jelas. Warga desa menyalahkan angin atau usia, tapi Kai tahu itu bukan alasan sebenarnya. Ia meraba batang pohon yang patah, merasakan sisa-sisa emosi yang tertinggal. “Ada rasa sakit di sini,” gumamnya. “Seperti sesuatu… dicabut paksa.” *** Angin sore membawa bau tanah basah ketika lonceng bambu dipukul tiga kali di tengah dusun. Satu per satu, orang-orang keluar dari rumah panggung mereka. Wajah-wajah tegang, langkah ragu, bisik-bisik yang tidak pernah benar-benar berani diucapkan keras. Kai berdiri di tepi kerumunan, sedikit terpisah. Sejak pagi dadanya teras

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status