Share

Bab 2

Penulis: Lily Aislin
last update Terakhir Diperbarui: 2025-05-15 10:02:17

Awalnya, gangguan itu datang seperti riak kecil di permukaan air. Halus. Hampir tak terasa.

Kai adalah yang pertama menyadarinya.

Desiran angin di Hutan Tua Rerempah tak lagi membawa nyanyian tenang. Ada desahan gelisah di dalamnya. Gemericik sungai yang biasa menenangkan kini terasa terputus-putus, seperti bisikan ketakutan yang tertahan.

Beberapa pohon tua di pinggiran hutan keramat tumbang tanpa sebab yang jelas. Warga desa menyalahkan angin atau usia, tapi Kai tahu itu bukan alasan sebenarnya.

Ia meraba batang pohon yang patah, merasakan sisa-sisa emosi yang tertinggal.

“Ada rasa sakit di sini,” gumamnya.

“Seperti sesuatu… dicabut paksa.”

***

Angin sore membawa bau tanah basah ketika lonceng bambu dipukul tiga kali di tengah dusun. Satu per satu, orang-orang keluar dari rumah panggung mereka. Wajah-wajah tegang, langkah ragu, bisik-bisik yang tidak pernah benar-benar berani diucapkan keras.

Kai berdiri di tepi kerumunan, sedikit terpisah. Sejak pagi dadanya terasa sesak, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam bumi. Setiap kali ia menoleh ke arah hutan, perasaan itu menguat—bukan rasa takut, melainkan panggilan yang samar.

“Sudah dua hari tanah di ladang retak,” kata seorang lelaki tua. “Padahal hujan turun deras.”

“Jaringku robek sendiri,” sahut nelayan lain. “Ini bukan karena batu, bukan juga karena ikan.”

Bisik-bisik itu semakin meluas, membentuk kegelisahan yang sama. Semua mata akhirnya tertuju pada para tetua yang duduk melingkar di balai bambu.

Tetua Baras membersihkan tenggorokannya.

“Kita berkumpul karena tanda-tanda ini tidak biasa.”

“Apa yang salah dengan hutan Tua?” seseorang menyela.

Beberapa orang saling berpandangan. Seorang ibu merapatkan selendangnya.

“Mungkin dia tahu sesuatu,” bisiknya, nyaris tak terdengar. “Dia dekat dengan hutan.”

Kai merasakan puluhan pasang mata menempel di punggungnya. Ia ingin mundur, tapi kakinya terasa berat, seakan tanah menahannya.

“Nak,” suara Nenek Ino bergetar. Tangannya mencengkeram lengan Kai dengan erat. “Coba dengarkan hutan Tua. Apa yang dikatakannya?”

Balai bambu mendadak senyap.

Kai menutup mata. Di balik kelopak matanya, gelap bukanlah kosong. Ada denyut perlahan, seperti napas yang tertahan terlalu lama. Ia mendengar gesekan dalam-dalam, jauh di bawah akar dan batu.

“Hutan ini…” Kai membuka mata. “Sedang gelisah.”

Beberapa orang menghela napas. Yang lain menggeleng, seolah ingin menolak kemungkinan itu.

“Gelisah saja tidak cukup untuk menjelaskan retakan tanah,” kata seorang lelaki muda dengan nada keras. “Kita butuh alasan nyata.”

Tetua Baras menatapnya lama sebelum berkata pelan,

“Kalau begitu, kau belum cukup lama hidup di pulau ini.”

Ia mengalihkan pandangan ke yang lain.

“Ada hal yang lebih tua dari ladang kita. Lebih tua dari dusun ini.”

Suara angin menyusup melalui celah balai.

“Penjaga Bawah Bumi,” ucap Tetua Baras akhirnya.

Beberapa orang langsung menunduk. Ada yang tanpa sadar menyentuh tanah dengan ujung jari, seolah memastikan bumi masih diam.

“Makhluk purba yang tidur di bawah pulau ini,” lanjutnya. “Selama ia tenang, laut memberi ikan, hutan memberi naungan, dan tanah memberi hidup.”

“Dan kalau ia terbangun?” tanya seseorang.

Tetua Baras tidak segera menjawab.

Kai kembali menoleh ke arah hutan. Denyut itu semakin jelas, bukan marah—lebih seperti peringatan.

“Dia belum bangun,” kata Kai lirih. “Tapi tidurnya terganggu.”

Keheningan kembali jatuh. Kali ini lebih berat.

Nenek Ino mengusap punggung tangan Kai.

“Hutan memilihmu untuk mendengar,” katanya. “Itu bukan anugerah yang ringan.”

Dari balik pepohonan, suara burung-burung mendadak terdiam. Angin berhenti.

Dan jauh di bawah bumi, sesuatu bergeser perlahan.

Keseimbangan yang selama ini mereka anggap abadi, ternyata rapuh.

Hewan-hewan pun berubah. Burung-burung menjadi pendiam. Rusa berlarian tanpa arah, mata mereka memantulkan ketakutan yang mentah. Bahkan babi hutan berani mendekati perkampungan, seolah mencari perlindungan dari sesuatu yang lebih buruk di dalam hutan.

“Mereka ketakutan,” bisik Kai.

“Semuanya.”

Bisikan roh hutan semakin jelas. Bukan dalam kata-kata, melainkan gelombang emosi—rasa takut, bayangan kegelapan yang merayap dari bawah bumi, dan satu kesan yang terus berulang.

Sesuatu bergerak.

“Ular tidur…” gumam Kai, dadanya terasa sesak.

“Ia gelisah.”

Dampaknya segera terasa di desa. Hasil panen menurun. Nelayan kembali dengan jala hampir kosong.

“Seperti laut ikut menjauh dari kita,” keluh seorang nelayan tua.

Malam-malam menjadi sunyi dan mencekam. Dari arah hutan, terdengar suara rendah—bukan raungan yang jelas, melainkan gemuruh tertahan, seolah bumi sendiri menahan napas.

Malam itu, Kai duduk bersila di batas hutan, di atas akar beringin tua. Bulan sabit menggantung pucat di langit. Ia memejamkan mata, membiarkan bisikan hutan menghantam batinnya.

Roh-roh itu merintih.

Pohon-pohon marah.

Penjaga mata air ketakutan.

Lalu—

tanah di bawahnya bergetar pelan.

Ini bukan gempa. Hanya satu sentakan singkat. Namun cukup untuk membuat bulu kuduk Kai berdiri.

Ia membuka mata.

Sang Penjaga semakin terusik.

“Kau merasakannya juga, bukan?”

Kai menoleh. Nenek Ino berdiri di belakangnya, wajahnya tampak lebih tua di bawah cahaya bulan.

Kai mengangguk.

“Pertanda itu semakin jelas,” kata Nenek Ino lirih. “Kabut kelabu tak wajar. Burung malam berkumpul di atas hutan keramat.”

Ia menarik napas panjang.

“Aku takut legenda itu benar-benar terbangun.”

“Sang Penjaga?” tanya Kai.

Nenek Ino mengangguk.

“Entitas purba yang menjaga keseimbangan pulau ini."

“Dan jika ia bangun dalam kemarahan…” lanjut Kai pelan.

“Pulau ini bisa hancur,” sahut Nenek Ino.

Untuk pertama kalinya, Kai merasakan ketakutan yang bukan berasal dari hutan.

“Tapi pasti ada cara,” katanya, suara bergetar namun tegas.

“Legenda selalu menyimpan jalan keluar.”

“Pengetahuan itu terpecah,” jawab Nenek Ino. “Tersebar di pulau-pulau lain. Tidak semua tetua mau berbicara.”

“Kita harus mencarinya.”

Nenek Ino menatap Kai lama.

“Perjalanan itu berbahaya.”

“Aku tahu,” kata Kai.

“Tapi aku tidak bisa diam. Hutan ini adalah rumah keduaku.”

Kai kembali teringat pembicaraan para tetua dan para warga sebelumnya.

**

Cerita-cerita lama kembali dibuka.

“Sang Penjaga semakin terusik.,” ujar Tetua Baras dengan suara berat.

“Makhluk purba yang tidur di bawah pulau ini. Selama ia tenang, darat, laut, dan hutan berada dalam keseimbangan.”

“Ia bukan makhluk jahat, tapi penjaga keseimbangan.”

“Keserakahan manusialah yang membangunkannya,” sambung Nenek Ino.

Penebangan hutan disebut sebagai salah satu pemicu. Pohon-pohon tua yang tumbang dianggap sebagai urat nadi pulau yang terputus.

“Kita sudah terlalu jauh,” gumam seorang tetua.

Kai mendengarkan dalam diam. Semua yang ia rasakan kini memiliki nama.

***

“Jadi… ini nyata,” bisiknya.

Kai menatap gelapnya hutan.

Dan menyadari —

Ia tak lagi bisa mundur.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jejak Pewaris Harmoni di Bawah Langit dan Gelombang   Bab 7

    Bersama Luka, mereka kembali mempersiapkan perahu. Penduduk desa membekali mereka dengan perbekalan tambahan dan beberapa jimat pelindung tradisional agar mereka terhindar dari gangguan seperti sebelumnya. Namun, Kai tidak yakin apakah jimat itu akan berguna melawan kekuatan gaib Pulau Bambu. Sebelum berangkat, seorang tetua perempuan memberikan Kai sebuah ukiran kayu kecil berbentuk burung laut. “Ini adalah simbol pelindung dari leluhur kami,” katanya dengan suara lembut. “Semoga dapat membantumu melewati bahaya di sana. Ingatlah nak, keberanian sejati bukan berarti tidak merasa takut, tapi tetap maju meskipun rasa takut menghantui. ​“Terima kasih, Nek,” gumam Kai. Jemarinya mengusap permukaan kayu yang terasa kasar, namun hangat di telapak tangannya. Ukiran burung laut itu tampak sederhana, tapi ada sesuatu dalam goresannya yang mendatangkan rasa tenang yang familiar. ​ Luka tersenyum tipis melihatnya, lalu keduanya berbalik menuju perahu yang sudah siap di bibir pantai. Tanp

  • Jejak Pewaris Harmoni di Bawah Langit dan Gelombang   Bab 6

    Kai dan Luka disambut oleh beberapa nelayan yang sedang berada dibibir pantai, mereka terkejut dan khawatir melihat kondisi Luka. Mereka berpikir Luka mengalami kecelakaan di laut karena tidak kembali sekian lama. Setelah menjelaskan singkat fenomena yang terjadi selama perjalanan dan tujuan Kai, Luka membawa Kai kembali ke arah desa. Penduduk desa, yang juga mendengar legenda tentang Sang Penjaga, mengatakan akan membawa membawa mereka menemui para tetua pulau. Kai yang disambut dengan hangat oleh penduduk desa, setelah mendapatkan makanan dan istirahat yang layak, Luka membawanya menemui para tetua pulau. Mereka berkumpul di sebuah balai desa sederhana yang terbuat dari kayu dan beratap daun nipah. Para tetua, dengan wajah yang dipenuhi garis usia dan mata yang tenang namun waspada, membuktikan mereka orang-orang yang telah lama hidup berdampingan dengan rahasia alam, menyambut Kai dengan tatapan penuh keingintahuan. Luka menceritakan kembali perjalanan mereka dan tujuan Ka

  • Jejak Pewaris Harmoni di Bawah Langit dan Gelombang   bab 5

    “Ada sesuatu di bawah sana,” bisik Kai kepada Luka, matanya dengan waspada mengamati permukaan air yang berkilauan aneh di tengah kabut. Lalu dari samping perahu, muncul sosok mengerikan. Makhluk itu memiliki tubuh panjang berlendir dengan sisik-sisik gelap yang berkilauan. Kepalanya menyerupai ular raksasa dengan mata kuning menyala yang menatap mereka dengan penuh permusuhan. Gigi-giginya tajam dan panjang terlihat jelas saat ia membuka mulutnya mengeluarkan desisan yang menakutkan. Luka tersentak ketakutan, tubuhnya gemetar. “Ular Laut raksasa... legenda itu nyata!" Makhluk itu melilitkan sebagian tubuhnya di sekitar lambung perahu, membuat kayu-kayu berderit menahan tekanan. Kai dan Luka berpegangan erat, berusaha tidak terjatuh ke laut yang dingin dan berbahaya. Kai meraih dayung yang tergeletak di dekatnya, bersiap untuk mempertahankan diri. Ia tahu, melawan makhluk sekuat ini di tengah laut bukanlah tugas mudah. Tapi ia tidak punya pilihan lain. Ia harus melindungi di

  • Jejak Pewaris Harmoni di Bawah Langit dan Gelombang   Bab 4

    Raungan angin bercampur dengan suara gemuruh air yang mendekat, menciptakan atmosfer yang mencekam. Dengan refleks cepat, Kai mengayunkan dayung kemudi sekuat tenaga, mencoba menghindari hantaman langsung. Perahunya terangkat tinggi di atas puncak ombak, kemudian terhempas turun dengan keras ke lembah gelombang berikutnya. Kayu perahu berderit menahan tekanan yang luar biasa. Untuk beberapa saat yang menegangkan, Kai merasa perahunya akan hancur berkeping-keping atau terbalik. Ia berpegangan erat pada dayung kemudi, memejamkan mata dan berdoa kepada roh-roh laut yang mungkin berbelas kasihan. Ia mencoba merasakan apakah laut juga sedang berbicara, seperti hutan. Tapi suara laut tidak seperti hutan. Tidak ada bisikan lembut atau gelombang emosi yang jelas. Hanya tekanan berat, dalam, seperi sesuatu yang menahan diri di kedalaman. Perlahan, badai mulai mereda, seolah amarah laut telah mencapai puncaknya. Ombak masih tinggi, tapi mulai memiliki ritme yang lebih teratur. Langit m

  • Jejak Pewaris Harmoni di Bawah Langit dan Gelombang   Bab 3

    Pagi menyingsing dengan kabut tipis yang menggantung di atas perkampungan. Tapi di wajah Kai tidak ada lagi keraguan. Semalam, tekadnya telah mengkristal. Ia harus bertindak, dan waktu terus berjalan. Langkah pertama Kai adalah menemui ayahnya, seorang nelayan yang tubuhnya kekar diterpa angin laut. Ia menceritakan penglihatannya, suara gemuruh dari perut bumi, dan percakapannya dengan Nenek Ino, para tetua dan beberapa warga. Awalnya, sang ayah mengerutkan kening, mencoba mencerna kata-kata putranya yang seringkali terasa asing baginya. Namun, ia melihat kesungguhan di mata Kai dan merasakan kecemasan yang sama atas perubahan alam sekitar. "Jika itu yang kau rasa benar, Nak," kata ayahnya dengan suara berat. "Maka lakukanlah. Laut memang tidak bersahabat, tapi seorang pelaut sejati tidak akan gentar menghadapi badai demi menyelamatkan rumahnya. Aku akan membantumu menyiapkan perahu dan bekal." Dengan bantuan ayahnya, Kai mulai mengumpulkan perbekalan sederhana. Sagu kering

  • Jejak Pewaris Harmoni di Bawah Langit dan Gelombang   Bab 2

    Awalnya, gangguan itu datang seperti riak kecil di permukaan air. Halus. Hampir tak terasa. Kai adalah yang pertama menyadarinya. Desiran angin di Hutan Tua Rerempah tak lagi membawa nyanyian tenang. Ada desahan gelisah di dalamnya. Gemericik sungai yang biasa menenangkan kini terasa terputus-putus, seperti bisikan ketakutan yang tertahan. Beberapa pohon tua di pinggiran hutan keramat tumbang tanpa sebab yang jelas. Warga desa menyalahkan angin atau usia, tapi Kai tahu itu bukan alasan sebenarnya. Ia meraba batang pohon yang patah, merasakan sisa-sisa emosi yang tertinggal. “Ada rasa sakit di sini,” gumamnya. “Seperti sesuatu… dicabut paksa.” *** Angin sore membawa bau tanah basah ketika lonceng bambu dipukul tiga kali di tengah dusun. Satu per satu, orang-orang keluar dari rumah panggung mereka. Wajah-wajah tegang, langkah ragu, bisik-bisik yang tidak pernah benar-benar berani diucapkan keras. Kai berdiri di tepi kerumunan, sedikit terpisah. Sejak pagi dadanya teras

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status