INICIAR SESIÓN"Waaaah." Bisikan Yu'er memecah keheningan yang menegangkan itu.Mereka semua mendongak. Tanpa sadar, gelombang tadi telah mendorong sampan masuk ke sebuah ngarai tersembunyi. Di hadapan mereka, dua tebing batu raksasa menjulang tinggi hingga nyaris menyentuh langit, dihiasi juntaian tanaman berbunga ungu dan lumut hijau abadi.Air terjun deras bagai tirai jatuh dari celah tebing, menciptakan warna pelangi di tengah udara yang diselimuti kabut tipis."Tempat apa ini," gumam Meihua terpana. Matanya yang sudah biasa melihat keindahan alam dari puncak tebing, kini dibuat terpukau oleh keindahan dari sisi dunia yang lain.“Surga yang tersembunyi,” sahut Jenderal Bao.“Kalau begitu, kita semua sudah mati?” celetuk Meihua.“Mungkin, kalau kau tidak berhenti bicara dan mengomel.” Jenderal Bao merentangkan kedua tangannya untuk menikmati kesegaran udara, yang belum ternoda keserakahan manusia.“Kakak Cantik, coba peluk Ayah dari belakang!” pinta Yu’er polos.“Hamba bukanlah perempuan gatal, T
Sebenarnya Meihua masih malas bangun, tetapi Yu’er yang terus mengguncang tubuhnya membuat gadis berwajah bulat itu kesal dan membuka matanya.“Kalau saja tak aku ingat pesan ibuku untuk mengasihi anak kecil, benar-benar sudah kusentil kau sampai ke kayangan,” gumamnya dengan gigi rapat.“Kakak Cantik, ayo kita naik sampan ke danau. Aku ingin lihat air.” Yu’er terlalu bersemangat.“Lihat air? Tunggu sebentar.” Meihua celingukan mencari dan meraih guci tanah liat. “Ini ada air, Tuan Kecil.” Ia menunjukkan air minum di dalam guci.“Iiih, bukan itu! Ayo ikut cepat!” Tak sabaran, Yu’er menarik tangan Meihua keluar dari kemah.Sambil menyanggul rambut panjangnya, gadis itu meraih sepatu kain dan berlari setengah melompat demi menyusul Yu’er. Sampai sudah mereka di pinggir danau. Di sana ada sampan dan Jenderal Bao serta Wuji baru saja tiba.“Ayo, cepat ... cepat!” Yu’er melompat duluan.Spontan kaki Meihua dan Jenderal Bao menahan sampan agar benda itu tidak bergolak dia atas danau. Kikuk,
Sampai juga rombongan kecil itu di dekat danau menjelang sore hari. Gao Wuji dibantu oleh dua pengawal yang lain langsung mendirikan tenda dan tempat bakaran untuk kebutuhan istirahat dan makan di malam hari. Sedangkan Yu'er langsung berlari di pinggir danau ditemani Meihua."Heeei, bocah kematian ini menguras tenagaku saja." Ngos-ngosan Meihua mengejar anak itu. Demi menghemat tenaga ia pun memilih lompat ringan menggunakan tenaga dalam tanpa disadari siapa pun."Kakak Cantik, ayo siniiii," teriak Yu'er dari tempat yang cukup jauh. Meihua melompat cukup sekali dan ia sudah bisa memperpendek jarak. "Wah, Kakak Cantik hebat sekali. Besar nanti jadi istriku ya, biar ada di sisiku terus.""Malas! Menjadi istrimu itu merepotkan, setiap hari harus mengelap ingusmu," sahut Meihua ketus sembari menyentil pelan dahi bocah itu.Yu'er mengusap keningnya, lalu tertawa tanpa rasa bersalah. Pandangan bocah itu mendadak terpaku pada riak air danau yang jernih. "Kakak Cantik, tangkap ikan itu! Aku m
Meihua sedang menghitung uang di dalam kantong yang diberikan Jenderal Bao. Sejak dulu ia tidak silau pada harta dunia. Murid-murid Sekte Bai Ya diajarkan hidup sederhana, dan berbaur dengan alam serta masyarakat. Uang itu ia letakkan di sampingnya sambil duduk termenung. Sampai akhirnya tiga pelayan tadi datang mengganggunya."Kau terlihat tidak senang, Huamei, uangnya buat kami saja, ya." Daniu ingin merampas uang itu, tetapi dengan cepat Meihua duluan yang menyambarnya."Enak saja, aku yang lelah kalian yang enak-enakan. Bagaimanapun hidup di kota aku butuh uang," jawabnya sambil cemberut."Bagilah buat kami sedikiiiiit," bujuk A Tao."Aku tak bisa memberi kalian uang tapi kalau beli makanan di luar, aku bisa melakukannya.""Benarkah? Kalau begitu ayo minta izin Bibi Chun belanja ke pasar."Tiga pelayan itu tampak senang, meski agak sulit dirayu, Bibi Chun akhirnya memberi izin juga. Saat keempatnya hampir keluar gerbang, suara Gao Wuji membuat langkah mereka terhenti."Huamei, Tua
"Tidak perlu, Tuan. Menyimpan dendam itu tidak baik," jawab Meihua bohong."Oh, begitu." Jenderal Bao diam sejenak dan memilih mundur. Suasana terasa canggung sampai Wuji mengetuk pintu dan menanyakan keadaan tuannya."Aku baik-baik saja," sahut lelaki berahang tegas itu."Waaah." Wuji tepuk tangan, "Kau hebat sekali, Huamei. Banyak tabib sudah dipanggil tapi belum juga berhasil menyembuhkan Tuan, tapi kau malah menyelesaikannya dengan tangan kasarmu." Agak ketus kata-kata Wuji, mungkin sengaja balas dendam."Kenapa tanganku kasar? Karena aku tinggal di desa, aku harus bekerja keras, kalau tidak aku tidak makan! Paham!" Meihua berdiri dan meninggalkan kamar itu sambil menguap lebar. Tubuhnya lelah usai mengeluarkan tenaga dalam cukup besar."Eh, hati-hati, besok aku akan memberikan bayaran untukmu." Tangan Jenderal Bao menggantung di udara karena Meihua memilih mengabaikannya."Tuan, apa benar-benar sembuh?" Wuji yang masih penasaran mendekatinya."Sudah tidak sesak dan panas lagi. Da
Keesokan paginya, aroma herbal yang segar dan menguar dari mangkuk yang dibawa Meihua ke ruang kerja Jenderal Bao. Gao Wuji yang baru saja selesai merapikan gulungan kertas di rak buku melirik mangkuk itu dengan rasa penasaran."Ini ramuan dari bahan-bahan yang kubeli semalam di pasar?" tanya Wuji seraya mencondongkan tubuhnya. Ia mencium aroma kental dan sejuk, yang belum pernah ia temui dari tabib mana pun di ibu kota.Meihua meletakkan mangkuk itu di hadapan Jenderal Bao. "Bukan hanya bahan darimu, aku menambahkan beberapa tangkai bunga liar dari halaman belakang agar rasanya tidak seperti air got."Jenderal Bao melirik gadis berwajah bulat itu sejenak. Tanpa ragu apalagi melempar mangkuk seperti kemarin, sang Jenderal meraih mangkuk tersebut dan meminumnya habis dalam beberapa tegukan. Rasa pahit yang disusul sensasi dingin masuk ke tenggorokannya, langsung meredam rasa terbakar di dalam dada."Bagaimana, Tuan?" tanya Wuji cemas."Tubuhku terasa lebih ringan," jawab Jenderal Bao d







