ログインPegunungan Seribu Racun, dulunya adalah tempat yang indah, tetapi berubah menjadi mengerikan karena ulah sebuah sekte yang menguasai wilayah tersebut. Udara di tempat itu terasa lengket dan menebarkan bau ramuan herbal beracun yang mendidih di atas kuali-kuali perunggu berukuran besar.Di tengah ruangan rahasia, puluhan pria berdiri dengan sangat tertib. Pakaian mereka berwana merah menyala bagaikan darah segar yang baru keluar dari tebasan luka. Mereka para pengikut Sekte Wu Du, sekte sesat paling ditakuti dan dibenci di seluruh dataran tengah.Seorang pria paruh baya dengan kulit pucat dan mata sehitam arang duduk di kursi batu. Namanya Du Chanyuan, Pemimpin Sekte Wu Du yang baru. Jemarinya yang panjang dan berkuku kehitaman mengetuk-ngetuk pelan permukaan singgasananya, mendengarkan laporan dari seorang utusan yang berlutut di hadapannya."Bagaimana keadaan di balai pengobatan kota?" Suara Du Chanyuan terdengar serak dan rendah, karena racun percobaan yang ia telan sendiri"Lapor,
Meihua menatap Yu'er yang masih menunggu jawabannya dengan tatapan jernih. Ada pergulatan batin yang terasa naik turun di sanubari Meihua. Di satu sisi, sungguh ia menyayangi bocah polos tanpa dosa itu.Namun di sisi lain, kenyataan pahit membawa kembali kesadarannya. Dirinya adalah Meihua, pewaris Sekte Bai Ya yang datang ke rumah itu membawa dendam, bukan Huamei si pelayan dapur pembawa kehangatan."Tuan Kecil." Suara Meihua tertahan di kerongkongan. Ia menjawab dengan hati-hati agar hati Yu’er tidak terluka. "Dunia ini luas. Tidak ada orang yang bisa tinggal di satu tempat selamanya."Yu'er menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tapi kalau Ayah yang meminta Kakak tinggal, Kakak mau, kan?"Meihua mengepalkan jemarinya. Hidup bersama Bao Zhenting adalah pilihan yang tidak akan mungkin ia ambil. Kenapa? Sederhana saja, karena Meihua tidak pernah menyukainya. Hanya sebatas kasihan saja pernah diracun.Meihua menarik napas panjang, lalu berjongkok agar tingginya sama dengan Yu'er. Ia me
Keesokan paginya, setelah seluruh penghuni kediaman menyelesaikan sarapan, suasana halaman belakang terasa lebih hangat. Meihua tampak sedang berjongkok di samping Yu'er, memberi makan rumput segar kepada seekor kelinci hutan yang sudah mulai jinak dan sedang berkeliaran di dekat mereka.Para pelayan wanita lain yang sedang mengucek pakaian kotor di dekat sumur melirik Meihua dengan pandangan iri dengki. Gadis itu kini resmi dibebaskan dari tugas mencuci baju Jenderal Bao. Sebagai gantinya ia ikut serta menjadi teman bermain untuk Yu'er.Seorang pelayan yang sedang memeras jubah Jenderal Bao mengejek Meihua sembunyi-sembunyi karena takut kena tonjok hidungnya, tapi lama-lama karena kesal ia sengaja membanting kain ke dalam bak kayu. Meihua yang menyadari kedengkian itu melirik sambil berkata santai."Cucikan saja bajunya sampai bersih, wangi, dan rapi. Siapa tahu nanti kalau Jenderal Bao senang, kau yang akan diajak main olehnya." Meihua sengaja memilih kata main dengan lebih tegas, m
Sementara Meihua tertidur pulas di kamarnya, dan melupakan sejenak niat pulangnya yang membara, di ruang kerja, Jenderal Bao masih duduk tanpa berkata apa-apa.Sup untuk kesehatan yang disuguhkan akhirnya dingin tanpa setetes pun diseruput. Jari Jenderal Bao menyentuh sampul buku catatan spiritual karya Paman Lan yang tadi sempat dijatuhkan Meihua. Tatapannya menerawang jauh, menyimpan ketenangan yang penuh perhitungan.Sebenarnya, ada satu kenyataan yang sengaja belum ia beberkan kepada gadis berwajah bulat itu, tentang dalang sebenarnya di balik pembantaian Sekte Bai Ya. Lelaki dengan rambut ikal sebahu tersebut tahu siapa yang bermain di balik konspirasi berdarah itu.Siapa lagi kalau bukan Duan Qiaofeng, seorang bangsawan licik berkekuatan politik besar yang sudah lama mengincar rahasia dan pengaruh Sekte Bai Ya demi ambisi pribadinya. Duan Qiaofeng sengaja membantai sekte tersebut dan menyebarkan peta tebing atas nama Jenderal Bao untuk mengadu domba, sekaligus meminjam tangan pa
Jenderal Bao menyandarkan punggungnya dengan santai, matanya menerawang menatap langit-langit ruang kerjanya."Paman Lan, begitu aku memanggilnya," ujar Jenderal Bao dengan tenang. "Aku pernah bertemu dengannya tiga kali di perbatasan utara. Beliau adalah sosok berilmu tinggi yang sangat aku hormati. Catatan perjalanan spiritual ini diberikan langsung olehnya saat ia menyelamatkan aku dari racun serangga di dekat tebing, kami sempat minum teh bersama sebelum pergi."Ayah memberinya catatan spiritual begitu saja? Orang dengan energi panas yang meluap-luap ini kenapa bisa mendapatkannya? gumam Meihua dalam hati, dadanya terasa menyengat sampai membuatnya merinding.Tangannya mencengkeram sampul buku itu makin erat hingga kertasnya sedikit terlipat. Ia berusaha sekuat tenaga menahan raut wajahnya agar tidak membongkar identitas aslinya sebagai putri tunggal Paman Lan.Jenderal Bao menghela napas panjang, mengenang masa lalu. "Waktu itu, Paman Lan bahkan sempat bercanda. Beliau bilang, ji
Di dapur kediaman yang ramai, Meihua duduk sambil mengunyah nasi dan sayurnya dengan kepala menunduk. Ia berada tepat di sebelah Bibi Chun, kepala pelayan yang belum tahu-menahu duduk perkara sebenarnya mengenai kekacauan di kamar utama semalam.Di sekeliling meja, para pelayan wanita saling melirik, berbisik-bisik genit seraya menutup mulut mereka dengan lengan baju setiap kali menatap Meihua. Saling sikut dan bisikan gosip berhawa hangat menusuk telinga gadis itu.Bibi Chun yang menyadari gelagat tidak beres tersebut langsung mengerutkan kening. Ia menggebrak pelan pinggiran meja."Makan cepat! Kenapa jari dan mulut kalian malah sibuk bergosip?" tegur Bibi Chun galak. "Banyak pekerjaan menanti kita hari ini! Terutama kau, Meihua. Baju kotor Jenderal Bao katanya harus kau yang mencucinya sendiri."Mendengar perintah itu, pandangan iri dan dengki dari para pelayan makin menjadi-jadi. Tatapan mata mereka tajam dan sadis, seolah ingin menguliti Meihua hidup-hidup.Pelayan mana di kediam







