Beranda / Romansa / Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan / Bab 122. Bukan Melawan Musuh

Share

Bab 122. Bukan Melawan Musuh

Penulis: Zhang A Yu
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-14 16:31:15

Pintu kereta dibuka kasar.

Shen Liu Zi melompat turun tanpa ragu, sepatu rajutannya menghantam tanah dengan bunyi mantap.

Tubuhnya sedikit condong ke depan, belati sudah tergenggam terbalik di tangan kanan—siap menusuk ke atas, ke arah tenggorokan siapa pun yang berani mendekat. Namun—

Dia seketika membeku seolah dipaku ke tanah!

Mulutnya setengah terbuka, rahangnya nyaris jatuh.

Di depannya, ternyata tidak ada kilatan pedang. Tidak ada aura pembunuh. Tidak ada napas berat musuh yang bersembu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Rina Damayanti
saat lucu²nya diakhir ada kejutan yang mengejutkan..... bisa up banyak ga yaaaaaaa...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 172. Kebetulan Melihat Han

    Di kediaman Jenderal Shang. Pagi semakin meninggi, tapi keheningan di kamar itu terasa seperti tak pernah berubah. Shen Liu Zi sudah duduk tegak di kursi dekat jendela, tubuhnya terbungkus jubah tipis berwarna putih gading, serta mantel bulu lynx. Rambutnya hanya disanggul sederhana tanpa hiasan apa pun. Wajahnya masih pucat, hanya saja lebih rapi dibanding semalam. Di permukaan meja kecil di hadapannya tersaji beberapa makanan; semangkuk bubur hangat khusus untuk orang sakit, sepiring kecil sayur hijau, tahu putih kukus, serta teko minuman hangat. Semua itu tertata rapi sekaligus sama sekali tidak menarik perhatiannya! Pandangan Shen Liu Zi melayang jauh ke luar jendela. Tatapannya kosong, seolah menembus dinding halaman, menembus langit pagi, menembus segala sesuatu. Hatinya terasa hampa seperti ada bagian besar dari dirinya yang tertinggal di balik gerbang kediaman semalam—bersama seseorang yang kini tidak dapat dijangkaunya. Yu Li berdiri di samping meja dengan wajah cemas

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 171. Masih Memanas

    Langit semakin gelap.Angin malam mulai berembus pelan, membawa hawa dingin yang merayap di sepanjang halaman kediaman. Lentera-lentera di serambi sudah dinyalakan, memantulkan cahaya temaram ke arah gerbang besar yang tertutup rapat.Di sana, Shen Liu Zi masih berada. Tubuhnya kini terduduk lemas bersandar pada daun gerbang kayu yang kokoh. Gaun hijau pucatnya kusut, rambut yang tadi tersanggul rapi mulai berantakan. Wajahnya sembab, matanya bengkak karena tangisan panjang yang tak kunjung reda.Tangannya yang semula memukul keras tanpa henti, kini hanya bergerak lemah.Tok tok. Pukulan itu nyaris tak bersuara lagi. Tenaganya habis, tetapi hatinya belum menyerah.“Buka gerbangnya,” suaranya serak, hampir tenggelam oleh hembusan angin malam, “aku ingin bertemu Jenderal.”Kalimat itu diulangnya berkali-kali, lirih dan rapuh, seperti gumaman orang yang kehilangan arah.Tidak ada jawaban, tidak ada langkah mendekat atau bahkan tanda-tanda pintu akan dibuka.Yu Li berdiri tak jauh dariny

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 170. Tidak Pulang Meski Sudah Sore

    Shen Liu Zi tersentak kaget. “J–jenderal!” desisnya tertahan, wajahnya memerah sampai ke telinga. Seolah barusan tidak melakukan apapun, jenderal Shang berkata, “Daging yang tadi lebih enak.” Shen Liu Zi tidak tahu harus berkata apa. “...” Rasanya, dia ingin menghilang dalam sekejap mata! Tawa kecil lolos dari bibir jenderal Shang, sebelum pria itu lanjut makan dagingnya, dan secara bersamaan dia mengambilkan mangkuk kosong lain—diberi satu centong kecil nasi serta tumpukan lauk termasuk daging yang sama; untuk Shen Liu Zi sendiri. “Kamu harus makan juga,” minta jenderal Shang. Selang beberapa saat. Tangan mereka nyaris serentak menyuap nasi beserta lauk pauk ke mulut masing-masing. Tanpa mereka sadari—di antara sekelompok prajurit yang masih sibuk makan, ada komandan Miao Feng yang sesekali melempar pandangannya ke arah Shen Liu Zi. Wanita yang disukainya secara diam-diam itu akhirnya menemukan kebahagiaan yang dikejar! Tidak tahu harus senang atau cemburu—komandan Miao F

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 169. Makan Siang Jenderal Shang

    Pada saat bersamaan, jenderal Shang berseru ke arah barisan prajurit yang tengah antre. “Semuanya! Ada makan enak dari Nona Hui!” Seolah hanya menunggu aba-aba, para prajurit yang tadinya berdiri tertib langsung saling menoleh dengan mata berbinar. “Dari Nona Hui?” “Benarkah ada makanan enak lagi?” Beberapa dari mereka spontan keluar dari barisan, melangkah cepat mendekati jenderal Shang—atau lebih tepatnya mendekati wanita yang berdiri di hadapannya. Nona Hui terkejut melihat kerumunan mendadak bergerak ke arahnya. Senyumnya berubah kaku, kedua tangannya menggenggam ujung lengan baju sendiri, tidak tahu harus berkata apa. “Jenderal! Di mana makanannya?” “Ada daging tidak, Jenderal?” “Rasanya seenak masakan istana, yah?” “Wah! Kita makan enak lagi!” Pertanyaan demi pertanyaan bersahut-sahutan, diselingi tawa riang dan saling dorong ringan antar prajurit yang tak sabar ingin mencicipi. Jenderal Shang tetap tenang di tengah keributan itu. Lalu, tanpa banyak bicara, dia menyer

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 168. Tidak Merasa Berdosa

    Di dalam paviliun naga emas, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Lantai berkilau memantulkan cahaya pagi yang menembus celah jendela tinggi, sayangnya suasana di ruangan itu sama sekali tidak hangat. Kasim Feng berdiri membisu di sudut ruangan, kepalanya menunduk tapi tidak terlalu dalam. Di tengah aula, jenderal Shang berlutut. Punggungnya tegak lurus, kedua tangannya diletakkan rapi di atas lutut, kepalanya sedikit menunduk—bukan dalam ketakutan, melainkan dalam sikap hormat yang kaku dan terlatih. Lututnya menempel pada lantai ubin yang dingin, tetapi raut wajahnya tetap datar seperti batu. Di depannya, Kaisar berjalan mondar-mandir. Jubah naga emasnya berayun setiap kali langkahnya berputar. Tangan kanannya sesekali mengepal, lalu terlepas lagi. Wajahnya jelas menunjukkan kegelisahan yang tak mampu dia sembunyikan. Beberapa kali dia membuka mulut seolah hendak berbicara, tapi kembali menutupnya. Langkahnya semakin cepat, lalu semakin lambat, berputar-putar seperti orang y

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 167. Mengeksekusi Semudah Membalikkan Tangan

    Pagi datang perlahan, Shen Liu Zi terbangun dalam diam. Kelopak matanya masih terpejam, napasnya teratur, tubuhnya terbungkus jubah tidur tipis berwarna putih gading. Selimut tebal menutupi hingga sebatas dada, sementara rambut hitamnya tergerai acak di atas bantal—membuat wajahnya tampak lebih lembut dari biasanya. Tanpa membuka mata, tangannya bergerak pelan meraba-raba sisi ranjang di sebelahnya. Kosong. Ujung jarinya hanya menyentuh kain seprai yang dingin. Alis halusnya berkerut tipis. Dia menggeser tangan sedikit lebih jauh, masih berharap menemukan kehangatan tubuh seseorang, tapi tetap tidak ada apa-apa. Barulah matanya mengerjap terbuka, kesadarannya kembali penuh. Dia terdiam beberapa detik, lalu bangkit terduduk perlahan. Selimut yang tadi menutupi tubuhnya melorot sedikit. Sepasang matanya mengedar ke seluruh ruangan. Kosong. Tidak ada sosok jenderal Shang. Bahkan pakaian pria itu pun tidak terlihat tertinggal di mana pun, seolah sejak awal kamar ini hanya dihun

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status