Masuk"Jangan khawatir, Nona Li Lian," ucap Yan Lu lembut, memecah keheningan yang ditinggalkan oleh debu kuda Chen Xu. "Istana ini mungkin penuh racun, tapi sekarang Anda memiliki satu pedang lagi yang bersedia melindungi Anda."Li Lian hanya mengangguk kecil, memberikan senyum tipis yang formal. Di belakangnya, ia bisa merasakan kehadiran Lin Feng yang kaku seperti patung batu. Lin Feng adalah mata dan telinga Chen Xu, sementara Yan Lu adalah perisai baru yang dihadiahkan oleh situasi politik. Menyeimbangkan loyalitas Lin Feng yang murni dan perlindungan Yan Lu yang misterius akan menjadi babak baru yang tidak kalah rumit dari menghadapi racun itu sendiri.Yan Lu kemudian memberi isyarat dengan tangannya, mengajak Li Lian untuk berjalan kembali menuju jantung istana. "Mari, Nona. Hamba akan mengantar Anda kembali ke Paviliun Pengobatan. Udara pagi ini terlalu tajam untuk kesehatan Anda."Mereka berjalan beriringan menyusuri koridor panjang yang masih diselimuti kabut tipis. Lin Feng m
Langit di ufuk timur mulai menanggalkan jubah hitamnya, berganti dengan semburat ungu keabu-abuan yang dingin. Di sudut gerbang belakang istana yang tersembunyi oleh rimbunnya pohon pinus tua, suasana terasa begitu menyesakkan karena beratnya perpisahan yang menggantung di udara.Chen Xu berdiri mematung. Jubah tempurnya yang berwarna gelap tampak kontras dengan wajah Li Lian yang pucat di bawah temaram fajar. Di belakang sang Jenderal, Lin Feng berdiri sigap. Ajudan kepercayaan itu memegang tali kekang dua ekor kuda perang yang tampak gelisah, seolah hewan-hewan itu pun bisa merasakan ketegangan tuannya. Lin Feng tetap menunduk, memberikan ruang privasi bagi tuannya, meski telinganya tetap waspada memantau setiap desis angin yang mungkin membawa langkah kaki pengawal Ibu Suri."Aku harus pergi sebelum matahari benar-benar naik," suara Chen Xu rendah, parau oleh emosi yang tertahan. "Pasukan di perbatasan utara sudah terlalu lama menunggu komandannya. Tapi, Li Lian... meninggalkan
Langkah kaki Li Lian dan Chen Xu bergema di sepanjang lorong batu pualam yang sunyi. Mereka baru saja hendak meninggalkan Aula Keagungan Abadi saat seorang pelayan senior dengan seragam khas kediaman Permaisuri menghadang langkah mereka."Jenderal, Nona Li Lian..." pelayan itu membungkuk rendah, namun suaranya terdengar kaku. "Permaisuri Xiao meminta Anda berdua segera menuju ke paviliunnya."Li Lian dan Chen Xu saling bertatap mata sesaat. Sebuah komunikasi tanpa kata terjalin di antara mereka. Ada apa lagi? Itulah pertanyaan yang menggantung di udara. Meskipun Permaisuri Xiao tadi baru saja menyelamatkan mereka dari hukuman langsung Ibu Suri, firasat Li Lian mengatakan bahwa kunjungan ini bukanlah sebuah undangan untuk merayakan kemenangan.Mereka pun melangkah mengikuti pelayan tersebut menuju Paviliun Teratai Biru, kediaman pribadi Permaisuri Xiao. Begitu mereka masuk, aroma dupa cendana yang menenangkan biasanya tercium, namun kali ini udara terasa tipis dan mencekam.Permaisu
Mata Ibu Suri berkilat lebar. Ia tertegun. Kata-kata Permaisuri Xiao adalah jebakan madu yang sangat cerdas. Di satu sisi, itu adalah hukuman pengasingan, namun dibungkus dengan alasan "pembentukan karakter" agar rakyat tetap mencintai mereka. Ibu Suri tahu, jika ia menolak saran ini, ia akan terlihat seperti pemimpin yang melindungi pelaku asusila.Dengan demikian semua rumor buruk juga akan teredam dengan sendirinya.Zhao Xinyi, yang mendengar bahwa pengasingan itu dianggap "baik untuknya", langsung bangkit dari duduknya dengan wajah pucat pasi. Ia bersujud di depan kaki Ibu Suri, tangisnya pecah menjadi histeria yang memilukan."Hamba tidak mau, Ibu Suri! Hamba mohon, jangan kirim hamba ke sana!" teriaknya sambil memegang ujung jubah Ibu Suri.Li Lian mencibir dalam hati melihat pemandangan menyedihkan itu. Tentu saja Xinyi takut setengah mati. Di Teratai Putih yang terasing dan beku, sang Putri harus mengurung diri dalam ruangan kecil tanpa penghangat, tanpa pelayan, dan tanpa
Ibu Suri melirik Chen Xu yang masih berdiri tak bergeming, serupa tugu karang yang tak terusik ombak. Wajah tua itu kembali tenang, meski sorot matanya menyimpan racun yang mematikan."Chen Xu, kau adalah seorang Jenderal yang menghabiskan hidup di medan perang. Tidak ada yang meragukan jiwa ksatriamu dalam membela negara ini,"Ibu Suri berhenti sejenak, menyesap tehnya dengan gerakan yang sangat lambat, seolah sedang menikmati ketegangan yang ia ciptakan."Cucuku, Xinyi, dalam hal ini juga merupakan korban, sama seperti dirimu. Meskipun peristiwa semalam sangat mencoreng muka kerajaan, kesucian cucuku masih terjaga. Oleh karena itu, aku tidak akan membatalkan pernikahan kalian. Justru, aku akan mempercepatnya."Kalimat itu jatuh seperti hantaman godam. Chen Xu mendongak, matanya berkilat kaget. Di sampingnya, Li Lian pun merasakan jantungnya mencelos, meski keterkejutannya terkubur rapat di balik topeng wajahnya yang sedingin es.Ibu Suri kemudian menoleh, menatap Li Lian dengan s
Zhao Feng menatap Li Lian dengan kebencian yang mendalam. Ia tahu, Li Lian-lah yang melakukan ini, namun ia tidak punya bukti. Jika ia menuduh Li Lian, maka ia harus mengakui bahwa ia sendiri yang memberikan bubuk gairah itu kepada Li Lian untuk menjebak Jenderal."Prajurit itu... seret dia ke penjara bawah tanah! Bunuh dia!" perintah Zhao Feng dengan kalap."Yang Mulia!" salah satu menteri menimpali. "Jika Anda membunuhnya sekarang tanpa penyelidikan, orang-orang akan berpikir Anda sedang menghilangkan saksi atas perilaku menyimpang Putri Agung. Cakaran di tubuhnya adalah bukti bahwa dia dipaksa. Jika Putri terbukti yang memulai, ini adalah aib besar bagi garis keturunan Kaisar!"Istana yang seharusnya tenang malam itu kini menjadi neraka bagi keluarga Zhao. Zhao Feng menyadari bahwa rencananya untuk mengikat militer melalui pernikahan Xinyi dan Chen Xu baru saja meledak di depan wajahnya sendiri. Bukan hanya Xinyi yang hancur reputasinya, tapi legitimasi Zhao Feng sebagai calon p