เข้าสู่ระบบDemi menyelamatkan keluarganya dari tiang gantungan karena sang kakak yang melarikan diri tepat di malam pernikahannya, si bungsu yang terabaikan, Lady Elara von Astley, dipaksa mengenakan cadar pengantin sang kakak. Dia harus menikah dengan pria paling ditakuti: Duke Valerius von Drakenhoff, sang "Monster dari Utara" yang terkenal kejam dan tak mengenal ampun. Valerius tahu bahwa wanita di hadapannya adalah sebuah kepalsuan. Dia bersumpah akan menjadikan hidup Elara seperti neraka sebagai pembalasan dendam atas penipuan yang dilakukan Astley padanya!
ดูเพิ่มเติม“Lahirkan seorang putra untukku.”
Duke Valerius von Drakenhoff, pria yang oleh seluruh kekaisaran dijuluki sebagai “Monster dari Utara”, berdiri memunggungi ranjang kebesaran yang ditutupi kelambu beludru merah tua.
Elara von Astley, yang sebelumnya hanya dikenal sebagai Lady Elara yang terabaikan, mendongakkan kepalanya dengan napas tertahan.
Dia berdiri kaku di tengah ruangan yang luas itu. Hari yang seharusnya menjadi puncak kejayaan keluarga Astley, bagi Elara, hanyalah sebuah awal dari vonis penjara seumur hidup yang tidak pernah dia minta.
Elara tidak pernah membayangkan akan berakhir di kamar ini, di bawah tatapan pria paling ditakuti di kekaisaran. Rencana awalnya sudah disusun dengan sangat rapi oleh sang ayah.
Kakaknya, Lady Seraphina von Astley, sang primadona kerajaan yang memiliki kecantikan luar biasa, seharusnya menjadi sosok yang berdiri di sini.
Seraphina dijadwalkan untuk dinikahkan dengan Duke Valerius dalam sebuah transaksi politik murni yang dingin.
Keluarga Astley, yang selama berabad-abad menguasai jalur perdagangan selatan, kini berada di ambang kehancuran total. Ayah Elara, Count Astley, telah melakukan kesalahan yang sangat fatal.
Dia memberikan kepercayaan penuh kepada seorang bendahara yang ternyata adalah mata-mata musuh. Akibatnya, seluruh perbendaharaan keluarga dikuras habis tanpa sisa dalam waktu singkat.
Di titik nadir itulah, Duke Valerius datang membawa tawaran yang mustahil untuk ditolak.
Dia menawarkan investasi besar untuk menyelamatkan ekonomi Astley dan perlindungan militer dari kavaleri serigala Utara yang termasyhur. Imbalannya sangat spesifik: seorang istri dari garis darah asli Astley.
Namun, sehari sebelum upacara pemberkatan dilakukan, Seraphina menghilang. Dia kabur tanpa pesan, meninggalkan gaun pengantinnya yang tergeletak di lantai begitu saja.
Count Astley, yang didera ketakutan luar biasa akan murka sang Duke, melakukan langkah nekat. Duke Valerius dikenal tidak segan-segan meratakan satu kota jika merasa dikhianati.
Maka, Elara, putri kedua yang selama ini hanya hidup di balik bayang-bayang, diseret paksa.
Elara yang waktunya habis untuk mengurus pembukuan wilayah dan merawat ibunya yang sakit, kini dijadikan tumbal pengganti demi menyelamatkan ribuan nyawa rakyat Astley dari kebangkrutan total.
“Apa maksudmu, Duke Valerius?” tanya Elara dengan suara bergetar seraya menatap pria di depannya dengan sorot mata penuh ketakutan yang belum sempat dia redam sejak upacara selesai tadi sore.
Valerius menoleh perlahan. Wajahnya rupawan namun memiliki garis wajah yang keras. Ada bekas luka tipis yang melintang di dekat pelipisnya, tanda permanen dari pertempuran yang tak terhitung jumlahnya di perbatasan utara.
“Apakah kau tuli, Elara?” ucapnya dengan nada sinis. Kilat matanya yang berwarna abu-abu baja berhasil membuat jantung Elara berdebar liar.
“Keluargamu berutang segalanya padaku. Tanahmu, namamu, bahkan napas ayahmu adalah milikku sekarang. Jadi, kau harus membayarnya dengan melahirkan seorang ahli waris,” lanjut Valerius tanpa perubahan nada sedikit pun.
Elara membeku dengan kening mengkerut dalam. “Utang budi? Itu tidak bisa disebut utang, Duke. Ini adalah aliansi. Kau menanamkan modal di pelabuhan selatan dan kau akan mendapatkan bagi hasil yang besar. Ini adalah murni urusan bisnis!”
Valerius tersenyum miring, sebuah ekspresi yang tampak lebih seperti ancaman daripada keramahan. “Rupanya ayahmu adalah pembohong yang hebat. Dia tidak menceritakan secara detail padamu tentang apa yang sebenarnya aku inginkan dari garis darah Astley?”
Elara menelan ludahnya. “Apa maksudmu?” tanyanya bingung.
Valerius melangkah mendekat. Langkah kakinya yang berat terdengar jelas di atas lantai kayu ek yang dipoles mengilap. Tangannya berada di balik punggung, dan matanya tak lepas mengunci pergerakan Elara yang mulai gemetar.
“Darah Astley dikenal memiliki ketahanan alami terhadap racun dan sihir hitam. Itu adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh garis keturunanku untuk bertahan hidup di wilayah Utara yang keras. Aku tidak butuh emasmu, Elara. Aku butuh rahimmu untuk melahirkan keturunan yang lebih kuat dariku.”
Elara terkesiap mendengar ucapan itu. Selama ini dia mengira pernikahan ini hanya soal menjaga gengsi politik. Dia mengira Valerius akan membiarkannya hidup tenang di salah satu sudut kastil yang jauh sementara dia mengurus urusan wilayah.
“Bagaimana mungkin aku bisa mengabulkan permintaan—”
“Itu bukan permintaan, melainkan perintah!” sentak Valerius memotong ucapan Elara dengan ketegasan yang tak terbantahkan.
Langkahnya kini hanya berjarak satu jengkal dari Elara. “Kau sudah kubayar dengan harga yang sangat mahal. Kau tidak memiliki hak untuk membantah.”
Elara merasa nyalinya menciut, namun kecintaannya pada rakyat dan tanggung jawabnya pada nama keluarga membuatnya tetap berdiri tegak meski kakinya lemas.
“Kalau aku tidak bisa memenuhi perintahmu? Jika aku menolak, apa yang akan kau lakukan?”
“Sederhana saja,” kata Valerius dengan dengusan pendek.
“Aku akan menarik seluruh investasiku malam ini juga. Aku akan membiarkan para bankir kekaisaran menyita rumahmu, dan aku akan menarik pasukan Drakenhoff dari perbatasan selatan.
“Besok pagi, keluargamu akan menjadi gelandangan, atau lebih buruk, mereka akan dieksekusi oleh para pemberontak karena kegagalan membayar utang negara.”
Kalimat itu menghantam Elara dengan telak. Dia tahu ayahnya sudah hancur secara mental, dan beban tambahan ini pasti akan membunuhnya.
Elara memejamkan mata sejenak dan menarik napas panjang yang terasa sangat sesak di dada. Ketika dia kembali membuka mata, sorot matanya telah berubah, menjadi campuran antara kepasrahan dan tekad yang lahir dari keadaan yang terdesak.
“Lalu bagaimana jika ternyata aku melahirkan seorang anak perempuan?”
“Itu urusanmu,” jawab Valerius tanpa sedikit pun belas kasihan. “Aku hanya butuh pemenang, bukan kegagalan. Dan malam ini juga, kita akan memulainya.”
Elara sontak menegang. Dia bahkan belum sempat mencerna kenyataan bahwa ia kini adalah istri sah dari pria yang dijuluki monster ini.
Pria itu menuntut sebuah penyatuan fisik untuk tujuan yang sangat mekanis: mendapatkan pewaris laki-laki.
Namun, sebelum Elara bisa mengambil langkah mundur, Valerius kembali berbicara. Suaranya kini lebih rendah, terdengar seperti peringatan yang sangat berbahaya.
“Tapi, aku harus memastikan satu hal terlebih dahulu.”
Elara menatapnya dengan napas yang memburu. Rasa cemas yang berusaha ia tekan kini kembali naik ke permukaan.
'Apa lagi yang dia inginkan?' pikirnya dengan panik.
Valerius melangkah maju satu tahap lagi, dan memerangkap tubuh kecil Elara di antara tubuhnya yang besar dan tiang ranjang yang kokoh.
“Aku akan membunuhmu jika ternyata kau sudah bukan gadis lagi,” ucapnya dengan nada yang sangat serius.
“Aku tidak akan membiarkan rahim yang akan mengandung pewaris Drakenhoff telah dicemari oleh pria lain sebelum aku.”
“Apa? Tentu saja aku masih murni!” seru Elara dengan nada sengit.
“Aku tidak memiliki waktu untuk menjalin hubungan asmara yang sia-sia seperti yang dilakukan Seraphina! Selama ini aku hanya bekerja, mengurus wilayah yang hampir hancur, dan menjaga kehormatan keluarga yang sekarang justru kau injak-injak ini!”
Valerius menatapnya lekat-lekat, mencoba membaca kejujuran di balik mata cokelat Elara yang mulai berkaca-kaca karena amarah dan kelelahan.
Di dunia Utara yang penuh dengan intrik dan pengkhianatan, Valerius tahu bahwa kepercayaan adalah hal yang sangat mahal.
Dia lalu mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara mereka hilang. Sebuah senyum miring yang tampak berbahaya terukir di wajah sang Duke.
“Kita buktikan kebenaran ucapanmu malam ini juga, Elara von Drakenhoff.”
“Ketakutan akan membuat tanganmu ragu saat harus menebas, Tuan Duke,” kata Hans, suaranya terdengar setajam mata pisau di keheningan malam.“Jika pikiranmu terus melayang ke kamar tidur di Drakenhoff, kau akan mati di tebing ini sebelum sempat melihat anakmu lahir. Musuh di depan kita tidak mengenal belas kasihan.”Valerius tidak langsung menyahut. Ucapan Hans menghantam kesadarannya seperti gada besi, meruntuhkan dinding kecemasan yang sempat melumpuhkan fokusnya. Ia menatap Hans dengan mata yang perlahan kembali memancarkan kilat ketegasan seorang Duke.“Kau menganggapku lemah, Hans?” tanya Valerius dengan nada rendah namun mengandung getaran otoritas yang menuntut.“Aku menganggapmu sedang jatuh cinta, dan di medan perang seperti ini, cinta yang salah tempat adalah bunuh diri,” balas Hans tanpa rasa takut sedikit pun, lalu memajukan kudanya setapak.“Ubah rindu itu menjadi tekad baja, My Lord. Cara terbaik untuk mencintai Elara saat ini bukanlah dengan meratapinya dari jauh, melain
Kabut ungu yang merayap turun dari tebing Puncak Hitam semakin tebal, menelan barisan ksatria Drakenhoff ke dalam keremangan yang membingungkan.Setengah jam yang menegangkan telah berlalu sejak lolongan mengerikan itu mereda, dan kini perintah untuk kembali bergerak telah bergulir ke seluruh unit.Pasukan berjalan membelah jalan setapak yang menyempit, dikelilingi oleh pepohonan pinus mati yang rantingnya mencuat seperti jemari hantu.Suara gesekan zirah rantai dan ketukan sepatu bot di atas tanah berbatu menjadi satu-satunya ritme yang tersisa di tengah hutan yang seolah menahan napas.Valerius berkuda di barisan kedua, tepat di sisi kiri Hans yang memegang tali kendali dengan waspada.Tatapan mata sang Duke lurus ke depan, menembus gulungan kabut, namun sepasang matanya tampak kosong, bukan karena kehilangan keberanian, melainkan karena jiwanya sedang mengembara jauh ke tempat lain.“Kau terlalu sunyi, My Lord,” bisik Hans, memecah keheningan tanpa menolehkan kepalanya. “Seorang Du
Valerius menarik napas dalam, membiarkan udara dingin yang tajam memenuhi paru-parunya sebelum ia melangkah kembali ke tengah lingkaran komando yang remang-remang.Cahaya dari bara api yang hampir padam memantulkan kilatan kebiruan pada zirah logamnya, menciptakan siluet yang mengancam sekaligus megah. Ia memberi isyarat agar Hans mendekat, menunjuk pada sebuah peta kulit kuno yang terbentang di atas tunggul pohon pinus yang rata.“Dengarkan aku baik-baik, Hans. Kita tidak datang ke Puncak Hitam untuk memenangkan perang atrisi,” suara Valerius terdengar berat, hampir seperti geraman yang tertahan.“Jika kita terjebak dalam pengepungan panjang, Drakenhoff akan kehabisan napas sebelum salju mencair. Logistik kita terbatas, dan moral prajurit akan terkikis oleh hawa dingin yang tidak alami ini.”Hans membungkuk di atas peta, jemarinya menelusuri jalur pendakian yang curam. “Lalu apa rencanamu, My Lord? Benteng Isolde memiliki pertahanan alami yang mengerikan. Kita akan menjadi sasaran em
Hans melangkah mendekat, memecah ketegangan sesaat dengan mengulurkan sepotong roti gandum keras dan kirbat kulit yang berisi air pegunungan yang jernih.Valerius menerimanya tanpa suara, meski matanya masih terpaku pada kegelapan hutan di belakang Hans.Ksatria setianya itu tidak langsung kembali ke barisan; ia berdiri tegak di samping sang Duke, memperhatikan kerutan lelah yang mulai tampak di sudut mata pemimpinnya.“Makanlah, My Lord. Perjalanan mendaki besok akan jauh lebih menyiksa daripada malam ini,” ujar Hans, suaranya rendah namun penuh penekanan.“Jika tubuhmu menyerah pada dingin, maka semangat pasukan ini akan ikut membeku. Seorang pemimpin yang sakit adalah kemenangan pertama yang kau berikan secara cuma-cuma kepada Isolde.”Valerius menggigit roti kering itu perlahan, merasakah tekstur kasarnya yang menggores kerongkongan.“Aku tidak punya kemewahan untuk jatuh sakit, Hans. Otakku terlalu penuh dengan kemungkinan-kemungkinan buruk untuk membiarkan tubuhku beristirahat.”
Dia mencengkeram bahu Elara dan melempar tubuh wanita itu ke atas ranjang besar bertiang tinggi di tengah ruangan luas dan megah itu.Elara memekik, dan tubuhnya terpental di atas kasur yang empuk namun terasa seperti hamparan es karena aura dingin yang memancar dari suaminya.“Sudah berapa kali ak
Cahaya matahari musim dingin yang pucat mulai menyelinap melalui celah jendela tinggi di ruang kerja, menyinari debu-debu yang beterbangan di atas tumpukan perkamen.Elara mengusap wajahnya yang kuyu; matanya merah dan terasa berpasir karena hanya sempat memejamkan mata selama tiga jam di atas sofa
Elara berdiri mematung di sudut ruangan sambil meremas jarinya di pinggiran meja kerja.Lalu melirik ke arah Valerius melalui sudut matanya. Pria itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda penyesalan atau kegelisahan.Sebaliknya, Valerius tampak tenang secara mengerikan. Seolah-olah drama yang b
Jam dinding besar di sudut ruangan berdentang dua belas kali, suaranya menggema berat di tengah kesunyian malam yang membeku.Elara memejamkan matanya sejenak, merasakan denyut nyeri yang menjalar dari leher hingga ke tulang punggungnya.Cahaya lilin yang mulai memendek menari-nari di atas perkamen






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็นเพิ่มเติม