LOGINDemi melunasi utang keluarga dan menghindari kehancuran, Aurelia terpaksa menjadi tumbal dalam pernikahan politik dengan Duke Alaric Valen. Sang Duke dikenal sebagai pria tak berhati. Namun, di balik tembok kebekuan itu, Aurelia mulai menemukan kepingan rahasia kelam dan luka masa lalu yang membentuk kekejaman Alaric. Di tengah kepungan intrik kerajaan dan ancaman yang mengincar nyawa mereka, kebencian yang selama ini menjadi dinding pembatas mulai terkikis oleh hasrat yang tak terduga. Akankah pernikahan ini berakhir dengan penyatuan dua jiwa, atau justru terkubur dalam tragedi dan tumpahan darah?
View More“Berhentilah gemetar, Aurelia. Kau hanya perlu terlihat cantik, bukan terlihat seperti pengecut yang menunggu ajal.”
Suara ayahnya, Willem van Deventer, menusuk telinga Aurelia lebih tajam daripada udara dingin yang menyelinap dari jendela aula.
Lilin-lilin kristal yang menggantung di langit-langit aula besar itu berpijar terang, namun bagi Aurelia, cahaya itu terasa mencekik lehernya.
Aroma anggur mahal dan parfum para bangsawan yang bercampur di udara mendadak tercium amis di hidungnya. Di balik gaun sutra berwarna biru pucat yang dia kenakan, jantungnya berdegup tidak karuan.
Dia tahu ini adalah perjamuan terakhir. Di balik senyum palsu ibunya dan tawa keras ayahnya, tersimpan bangkai yang mulai membusuk.
“Tersenyumlah, Aurelia,” bisik Willem lagi sambil meremas bahu putrinya terlalu kencang. Jemarinya yang gemetar karena alkohol terasa dingin di kulit Aurelia.
“Jangan biarkan mereka mencium bau kemiskinan kita sebelum kesepakatan ini selesai.”
Aurelia menoleh pelan, tatapan matanya yang besar dan jernih itu kini tampak layu.
“Kesepakatan apa, Ayah? Kapal-kapal kita sudah karam di perairan Hindia. Kreditur sudah berdiri di depan pintu rumah sejak fajar. Apa lagi yang tersisa untuk dijual?”
Willem mendekatkan wajahnya, napasnya berbau brendi murahan menyengat di hidung Aurelia. “Kau,” bisiknya tajam.
“Kau adalah aset terakhir kita. Jika kau gagal memikatnya malam ini, kita akan tidur di selokan besok pagi. Apa kau ingin melihat adik-adikmu mengemis di dermaga?”
Aurelia memalingkan wajahnya dengan mata yang memanas. Dia merasa seperti hewan ternak yang sedang dipajang di pasar.
Kehormatan keluarga van Deventer yang telah dibangun berabad-abad kini bergantung pada selembar kulit dan paras cantiknya. Dia merasa kecil, kerdil, dan hancur di tengah kemegahan yang menipu ini.
Tiba-tiba, suara riuh rendah di aula itu mendadak surut. Musik gesek yang membawakan simfoni ceria kehilangan temponya, lalu berhenti sama sekali.
Hening yang mencekam jatuh seperti selimut es. Di ambang pintu besar yang dilapisi emas, seorang pria berdiri.
Duke Alaric Valen.
Dia tidak mengenakan warna-warna cerah seperti bangsawan lainnya. Alaric mengenakan setelan hitam pekat yang kaku, kontras dengan kulitnya yang pucat seputih pualam.
Tubuhnya tinggi tegap, dengan bahu lebar yang seolah-olah mampu memikul kutukan seluruh kerajaan.
Matanya yang berwarna abu-abu baja menyapu ruangan dengan sorot yang begitu dingin hingga mampu membekukan darah siapa pun yang menatapnya.
“Sang Algojo Hitam dari Utara,” bisik-bisik ketakutan mulai terdengar di antara para tamu.
Alaric berjalan membelah kerumunan. Orang-orang secara naluriah melangkah mundur, memberi jalan seolah ia adalah pemangsa yang sedang melintasi kumpulan domba.
Dia tidak tersenyum. Tidak ada anggukan hormat. Dia bergerak dengan keanggunan yang mematikan.
“Dia datang,” desis Willem dengan nada yang dipenuhi ketakutan sekaligus harapan yang menjijikkan. “Aurelia, berdiri tegak! Jangan menunduk!”
Langkah kaki Alaric berhenti tepat tiga langkah di depan mereka. Aura dingin yang menyertainya membuat bulu kuduk Aurelia meremang.
Pria ini tidak terasa seperti manusia; ia terasa seperti monumen batu yang dipahat dari penderitaan.
Willem membungkuk sangat rendah bahkan hampir mencium lantai. “Yang Mulia Duke Valen, sebuah kehormatan yang tak terhingga Anda berkenan hadir di kediaman kami yang sederhana.”
Alaric tidak menyahut. Ia bahkan tidak melirik Willem. Matanya tertuju sepenuhnya pada Aurelia. Itu bukan tatapan seorang pria yang mengagumi kecantikan wanita.
Tidak ada gairah, tidak ada kehangatan. Alaric menatap Aurelia dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan cara yang sama seperti seorang pedagang memeriksa kualitas kain.
“Ini putri Anda?” tanya Alaric dengan nada rendah, berat, dan bergema seperti suara gesekan batu di dasar jurang.
“Benar, Yang Mulia. Ini Aurelia,” sahut Willem dengan nada menjilat. “Dia terdidik, murni, dan sangat patuh.”
“Patuh,” Alaric mengulang kata itu dengan nada hambar.
Dia lalu melangkah satu langkah lebih dekat dan memasuki ruang pribadi Aurelia.
“Keindahan adalah investasi yang berisiko, Van Deventer. Biasanya tidak bertahan lama di bawah tekanan.”
Jari Alaric yang mengenakan sarung tangan kulit hitam terangkat, lalu dengan kasar dia mencengkeram dagu Aurelia, memaksa gadis itu menatapnya lebih dalam.
Aurelia tersentak, napasnya tertahan. Jantungnya berpacu saking takutnya, namun dia menolak untuk menangis di depan pria monster ini.
“S-saya merasa terhormat dengan kehadiran Anda, Yang Mulia,” suara Aurelia bergetar hebat, sebuah kebohongan yang pahit.
Alaric melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kecil, seolah-olah ia baru saja menyentuh sesuatu yang tidak bersih.
Dia mengeluarkan sapu tangan hitam dan mengusap jarinya. “Siapkan dokumennya. Aku tidak suka membuang waktu,” ucap Alaric pada Willem.
Willem tampak seolah baru saja memenangkan lotre kematian. “Tentu, Yang Mulia! Malam ini juga!”
Alaric berbalik dan membiarkan kehadirannya tetap menjadi bayang-bayang yang mengawasi dari sudut. Aurelia merasa lemas. Dia harus berpegangan pada pinggiran meja agar tidak jatuh pingsan.
“Ayah ... apa yang kau lakukan?”
Willem tidak menjawab. Dia justru berjalan menuju tengah aula, memberi isyarat kepada para pemusik untuk berhenti lagi. Dia lalu mengangkat gelas anggurnya tinggi-tinggi.
“Hadirin sekalian! Malam ini adalah malam bersejarah bagi keluarga van Deventer. Dengan penuh rasa syukur, saya umumkan bahwa putri saya, Aurelia van Deventer, telah resmi dipinang!”
Gumam kaget pecah seperti badai. Tatapan kasihan dan ejekan menghujam Aurelia.
“Mulai malam ini, Aurelia adalah tunangan dari Yang Mulia Duke Alaric Valen! Pernikahan akan dilangsungkan fajar mendatang!”
Aula makan di Kastil Valen malam itu terasa begitu hangat, jauh dari kesan dingin yang biasanya melekat pada dinding-dinding batu besar peninggalan masa lalu.Lilin-lilin perak menyala dengan tenang di tengah meja, menyinari piring-piring porselen yang menyajikan daging rusa panggang hasil buruan Laurent. Aroma rempah dan lemak yang gurih memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang intim bagi keluarga kecil itu.Aurelia memotong daging di piringnya dengan gerakan anggun, lalu menatap Laurent yang duduk tegak di hadapannya.“Daging ini sangat empuk, Laurent. Aku masih tidak percaya anakku yang baru berusia sembilan tahun sudah bisa menjatuhkan rusa jantan sebesar itu dengan satu anak panah. Kau benar-benar cepat tanggap dalam menyerap ilmu ayahmu.”“Aku hanya mengingat pesan Papa tentang menahan napas, Ma,” sahut Laurent dengan nada rendah hati, meski binar kebanggaan sulit disembunyikan dari matanya yang tajam.“Bukan hanya cepat tanggap,” sela Elara yang duduk di samping kakaknya.Gad
Udara pagi di Hutan Valen terasa tajam dan bersih, membawa aroma pinus yang basah serta tanah yang lembap. Sinar matahari menerobos di sela-sela kanopi pepohonan yang rimbun, menciptakan kolom-kolom cahaya yang jatuh tepat di atas rumput tinggi.Di balik semak-semak lebat, dua sosok berdiri dengan keheningan yang absolut. Alaric, yang kini tampak lebih matang dengan beberapa helai uban tipis di pelipisnya, berdiri membeku di belakang Laurent.Laurent, yang telah tumbuh menjadi bocah laki-laki berusia sembilan tahun yang tangkas, memegang busur kayu hitamnya dengan stabilitas yang mengesankan.Bahunya kokoh, napasnya teratur, dan matanya yang tajam mengunci seekor rusa jantan besar yang sedang merumput sekitar lima puluh langkah di depan mereka.“Ingat apa yang kukatakan, Laurent,” bisik Alaric, suaranya sangat rendah hingga hampir menyatu dengan desau angin.“Jangan melawan angin. Jadilah bagian dari angin itu sendiri. Rasakan tarikan senarmu bukan dengan otot, tapi dengan naluri. Lep
Malam di Kastil Valen kembali dicekam oleh ketegangan yang serupa, namun kali ini udara terasa lebih berat oleh antisipasi yang menyesakkan.Di balik pintu kayu jati yang tertutup rapat, suara rintihan Aurelia yang sedang berjuang memberikan kehidupan baru bergema di sepanjang koridor. Alaric berdiri mematung di depan pintu, jemarinya meremas hulu pedang dengan begitu kencang hingga buku-buku jarinya memutih.“Ric, demi para leluhur, berhentilah menatap pintu itu seolah kau ingin mendobraknya dengan bahumu,” suara Edward, sahabat dekat Alaric terdengar tenang namun tegas dari arah belakang. “Ini adalah proses alami. Kau sudah melewatinya sekali bersama Laurent.”“Alami?” Alaric berbalik, matanya berkilat penuh kecemasan yang liar. “Dia sedang kesakitan di dalam sana, Edward! Aku bisa mendengar dia mengejan, aku bisa merasakan setiap tarikan napasnya yang berat. Dan aku di sini, berdiri seperti pengecut yang hanya bisa menunggu instruksi dari seorang bidan!”“Kau bukan pengecut, kau ad
Di pagi hari di tengah hamparan bunga mawar biru, seorang balita dengan energi yang seolah tak habis-habis sedang melakukan invasi terhadap ketenangan taman.Laurent berlari zigzag, sesekali berhenti untuk mencoba menangkap kupu-kupu, lalu kembali melesat dengan tawa melengking yang menggema hingga ke pilar-pilar kastil.“Laurent! Sayang, jangan terlalu dekat dengan kolam!” seru Aurelia sambil mencoba mengejar langkah kecil putranya dengan napas yang mulai memburu.Perutnya yang kini kian membuncit membuat setiap gerakan terasa dua kali lebih berat. Ia baru saja hendak melangkah lebih cepat saat rasa nyeri yang familiar menusuk pinggangnya, memaksanya berhenti dan memegang sandaran kursi taman dari besi tempa.“Yang Mulia, mohon hamba memohon,” Madame Greta segera menghampiri, wajahnya penuh kecemasan profesional.“Wajah Anda sudah sangat pucat. Biarkan kami yang mengawasi Pangeran Laurent. Anda harus duduk dan beristirahat, atau Baginda Raja akan memenggal kepala kami semua jika meli
Di sebuah sudut alun-alun yang riuh, sebuah stan permainan ketangkasan menjadi pusat perhatian.Aturannya sederhana: lempar gelang rotan kecil dan pastikan benda itu melingkar sempurna di leher botol untuk mendapatkan hadiah.Bagi rakyat biasa, ini adalah hiburan yang menguras tawa, namun bagi Alar
Lampu minyak di dalam tenda medis utama bergoyang hebat akibat terpaan angin malam yang menembus celah kain kanvas. Valerine duduk di sisi pembaringan Aurelia yang wajahnya sudah sepucat kertas.Urat-urat hitam di lengan Aurelia telah merambat hingga mendekati leher, menandakan racun saraf Adeline
Aula utama Kastil Valen yang biasanya megah kini berubah menjadi arena maut yang pengap oleh bau keringat dan amis darah.Dentingan pedang yang beradu menggema di langit-langit tinggi, menciptakan irama kematian yang mencekam.Alaric, dengan perban yang mulai memerah karena darah se
Di Ibukota, Raja Richard tertawa terbahak-bahak saat Lord Silas memberikan laporan tentang runtuhnya jembatan gantung itu. Ia menuangkan anggur merah ke cangkir emasnya, wajahnya tampak sangat puas.“Akhirnya, si anjing Utara itu mati karena kebodohannya sendiri,” ujar Richard.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore