Duke Kejam itu Suamiku

Duke Kejam itu Suamiku

last update최신 업데이트 : 2026-03-16
에:  Senja Berpena방금 업데이트되었습니다.
언어: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
순위 평가에 충분하지 않습니다.
97챕터
1.9K조회수
읽기
보관함에 추가

공유:  

보고서
개요
장르
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.

Demi melunasi utang keluarga dan menghindari kehancuran, Aurelia terpaksa menjadi tumbal dalam pernikahan politik dengan Duke Alaric Valen. Sang Duke dikenal sebagai pria tak berhati. Namun, di balik tembok kebekuan itu, Aurelia mulai menemukan kepingan rahasia kelam dan luka masa lalu yang membentuk kekejaman Alaric. Di tengah kepungan intrik kerajaan dan ancaman yang mengincar nyawa mereka, kebencian yang selama ini menjadi dinding pembatas mulai terkikis oleh hasrat yang tak terduga. Akankah pernikahan ini berakhir dengan penyatuan dua jiwa, atau justru terkubur dalam tragedi dan tumpahan darah?

더 보기

1화

Bab 1. Perjamuan yang Mencekam

“Berhentilah gemetar, Aurelia. Kau hanya perlu terlihat cantik, bukan terlihat seperti pengecut yang menunggu ajal.”

Suara ayahnya, Willem van Deventer, menusuk telinga Aurelia lebih tajam daripada udara dingin yang menyelinap dari jendela aula.

Lilin-lilin kristal yang menggantung di langit-langit aula besar itu berpijar terang, namun bagi Aurelia, cahaya itu terasa mencekik lehernya.

Aroma anggur mahal dan parfum para bangsawan yang bercampur di udara mendadak tercium amis di hidungnya. Di balik gaun sutra berwarna biru pucat yang dia kenakan, jantungnya berdegup tidak karuan.

Dia tahu ini adalah perjamuan terakhir. Di balik senyum palsu ibunya dan tawa keras ayahnya, tersimpan bangkai yang mulai membusuk.

“Tersenyumlah, Aurelia,” bisik Willem lagi sambil meremas bahu putrinya terlalu kencang. Jemarinya yang gemetar karena alkohol terasa dingin di kulit Aurelia.

“Jangan biarkan mereka mencium bau kemiskinan kita sebelum kesepakatan ini selesai.”

Aurelia menoleh pelan, tatapan matanya yang besar dan jernih itu kini tampak layu.

“Kesepakatan apa, Ayah? Kapal-kapal kita sudah karam di perairan Hindia. Kreditur sudah berdiri di depan pintu rumah sejak fajar. Apa lagi yang tersisa untuk dijual?”

Willem mendekatkan wajahnya, napasnya berbau brendi murahan menyengat di hidung Aurelia. “Kau,” bisiknya tajam.

“Kau adalah aset terakhir kita. Jika kau gagal memikatnya malam ini, kita akan tidur di selokan besok pagi. Apa kau ingin melihat adik-adikmu mengemis di dermaga?”

Aurelia memalingkan wajahnya dengan mata yang memanas. Dia merasa seperti hewan ternak yang sedang dipajang di pasar.

Kehormatan keluarga van Deventer yang telah dibangun berabad-abad kini bergantung pada selembar kulit dan paras cantiknya. Dia merasa kecil, kerdil, dan hancur di tengah kemegahan yang menipu ini.

Tiba-tiba, suara riuh rendah di aula itu mendadak surut. Musik gesek yang membawakan simfoni ceria kehilangan temponya, lalu berhenti sama sekali.

Hening yang mencekam jatuh seperti selimut es. Di ambang pintu besar yang dilapisi emas, seorang pria berdiri.

Duke Alaric Valen.

Dia tidak mengenakan warna-warna cerah seperti bangsawan lainnya. Alaric mengenakan setelan hitam pekat yang kaku, kontras dengan kulitnya yang pucat seputih pualam.

Tubuhnya tinggi tegap, dengan bahu lebar yang seolah-olah mampu memikul kutukan seluruh kerajaan.

Matanya yang berwarna abu-abu baja menyapu ruangan dengan sorot yang begitu dingin hingga mampu membekukan darah siapa pun yang menatapnya.

“Sang Algojo Hitam dari Utara,” bisik-bisik ketakutan mulai terdengar di antara para tamu.

Alaric berjalan membelah kerumunan. Orang-orang secara naluriah melangkah mundur, memberi jalan seolah ia adalah pemangsa yang sedang melintasi kumpulan domba.

Dia tidak tersenyum. Tidak ada anggukan hormat. Dia bergerak dengan keanggunan yang mematikan.

“Dia datang,” desis Willem dengan nada yang dipenuhi ketakutan sekaligus harapan yang menjijikkan. “Aurelia, berdiri tegak! Jangan menunduk!”

Langkah kaki Alaric berhenti tepat tiga langkah di depan mereka. Aura dingin yang menyertainya membuat bulu kuduk Aurelia meremang.

Pria ini tidak terasa seperti manusia; ia terasa seperti monumen batu yang dipahat dari penderitaan.

Willem membungkuk sangat rendah bahkan hampir mencium lantai. “Yang Mulia Duke Valen, sebuah kehormatan yang tak terhingga Anda berkenan hadir di kediaman kami yang sederhana.”

Alaric tidak menyahut. Ia bahkan tidak melirik Willem. Matanya tertuju sepenuhnya pada Aurelia. Itu bukan tatapan seorang pria yang mengagumi kecantikan wanita.

Tidak ada gairah, tidak ada kehangatan. Alaric menatap Aurelia dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan cara yang sama seperti seorang pedagang memeriksa kualitas kain.

“Ini putri Anda?” tanya Alaric dengan nada rendah, berat, dan bergema seperti suara gesekan batu di dasar jurang.

“Benar, Yang Mulia. Ini Aurelia,” sahut Willem dengan nada menjilat. “Dia terdidik, murni, dan sangat patuh.”

“Patuh,” Alaric mengulang kata itu dengan nada hambar.

Dia lalu melangkah satu langkah lebih dekat dan memasuki ruang pribadi Aurelia.

“Keindahan adalah investasi yang berisiko, Van Deventer. Biasanya tidak bertahan lama di bawah tekanan.”

Jari Alaric yang mengenakan sarung tangan kulit hitam terangkat, lalu dengan kasar dia mencengkeram dagu Aurelia, memaksa gadis itu menatapnya lebih dalam.

Aurelia tersentak, napasnya tertahan. Jantungnya berpacu saking takutnya, namun dia menolak untuk menangis di depan pria monster ini.

“S-saya merasa terhormat dengan kehadiran Anda, Yang Mulia,” suara Aurelia bergetar hebat, sebuah kebohongan yang pahit.

Alaric melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kecil, seolah-olah ia baru saja menyentuh sesuatu yang tidak bersih.

Dia mengeluarkan sapu tangan hitam dan mengusap jarinya. “Siapkan dokumennya. Aku tidak suka membuang waktu,” ucap Alaric pada Willem.

Willem tampak seolah baru saja memenangkan lotre kematian. “Tentu, Yang Mulia! Malam ini juga!”

Alaric berbalik dan membiarkan kehadirannya tetap menjadi bayang-bayang yang mengawasi dari sudut. Aurelia merasa lemas. Dia harus berpegangan pada pinggiran meja agar tidak jatuh pingsan.

“Ayah ... apa yang kau lakukan?”

Willem tidak menjawab. Dia justru berjalan menuju tengah aula, memberi isyarat kepada para pemusik untuk berhenti lagi. Dia lalu mengangkat gelas anggurnya tinggi-tinggi.

“Hadirin sekalian! Malam ini adalah malam bersejarah bagi keluarga van Deventer. Dengan penuh rasa syukur, saya umumkan bahwa putri saya, Aurelia van Deventer, telah resmi dipinang!”

Gumam kaget pecah seperti badai. Tatapan kasihan dan ejekan menghujam Aurelia.

“Mulai malam ini, Aurelia adalah tunangan dari Yang Mulia Duke Alaric Valen! Pernikahan akan dilangsungkan fajar mendatang!”

펼치기
다음 화 보기
다운로드

최신 챕터

더보기

독자들에게

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

댓글 없음
97 챕터
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status