Home / Romansa / Jerat Cinta Mafia Hyper / Bab 8 - Pesta Topeng

Share

Bab 8 - Pesta Topeng

Author: Dacep
last update Last Updated: 2025-12-16 09:51:34

​Matahari Los Angeles sudah tenggelam. Namun, keindahan di luar sana tidak bisa kunikmati.

​Di dalam penthouse ini, sebuah operasi sedang berlangsung.

​Tiga orang stylist masuk ke kamarku tanpa permisi. Mereka membawa koper-koper hitam, bekerja dalam diam, cepat, dan efisien. Mereka tidak mengajakku mengobrol. Bagi mereka, aku hanyalah manekin bernapas yang harus dipoles sebelum dipajang.

​"Nona, tolong jangan bergerak," kata salah satu wanita dengan logat Rusia yang kental. Ia menarik rambutku kencang, menyanggulnya dengan jepit-jepit tajam.

​Aku duduk diam di depan cermin rias yang menyilaukan.

​Wajahku di cermin perlahan berubah. Kantung mata akibat tangisan tadi pagi hilang tertutup concealer mahal. Bibir pucatku kini merah menyala. Tulang pipiku dipertegas dengan kontur tajam.

​Aku terlihat cantik. Sangat cantik.

​Tapi aku tidak mengenali wanita di cermin itu. Itu bukan Ayu Chintya. Itu adalah boneka porselen yang sedang didandani sesuai selera tuannya.

​"Sempurna," gumam stylist itu, lalu mundur.

​Pintu kamar terbuka.

​Ethan masuk.

​Kamar yang tadinya terasa sesak mendadak hening. Para pekerja itu langsung menunduk hormat, membereskan barang mereka dalam hitungan detik, lalu menghilang keluar kamar seperti asap.

​Tinggal kami berdua.

​Ethan sudah siap. Ia mengenakan tuxedo hitam berbahan velvet yang membalut tubuh tegapnya. Dasi kupu-kupu hitam, kemeja putih bersih, dan cufflinks emas.

​Ia terlihat seperti pangeran kegelapan yang baru saja turun dari takhtanya. Tampan, mempesona, tapi mematikan.

​Ia berjalan mendekatiku. Matanya menatap pantulanku di cermin. Tidak ada senyum. Hanya tatapan intens, lapar, dan posesif. Tatapan seorang raja yang sedang mengagumi mahkota barunya.

​"Berdiri," perintahnya pelan.

​Aku berdiri. Gaun malam berwarna midnight blue yang kupakai menyapu lantai. Potongannya memeluk tubuhku dengan ketat, menampilkan lekuk leher dan bahu, lalu melebar elegan dengan belahan paha yang tinggi.

​Ethan berdiri di belakangku. Ia mengambil kotak beludru dari saku jasnya.

​Sebuah kalung berlian dengan liontin safir biru tua berkilau di sana. Tanpa bertanya, ia melingkarkannya ke leherku. Jemarinya yang dingin menyentuh tengkukku, membuatku merinding.

​"Dingin," desisku pelan.

​"Berlian memang dingin, Chintya. Tapi itu abadi," bisiknya di telingaku. "Sama seperti kepemilikanku atasmu."

​Ia memutar tubuhku agar menghadapnya. Tangannya merapikan anak rambut di pelipisku. Gerakannya kasar namun hati-hati, seolah takut menggores barang berharganya sendiri.

​"Dengar baik-baik," katanya, nadanya berubah serius. "Di bawah sana ada sekitar dua ratus orang. Rekan bisnis, investor, dan saingan."

​"Kenapa aku harus ikut?" tanyaku, memberanikan diri menatap matanya. "Kenapa kau tidak menyembunyikanku saja kalau aku begitu berharga?"

​"Karena singa tidak menyembunyikan mangsanya," jawab Ethan angkuh. "Mereka semua mendengar rumor bahwa Raja Mahendra membawa pulang seorang wanita. Mereka ingin melihat apakah rumor itu benar."

​"Dan apa yang harus kulakukan?"

​Ethan menatap mataku dalam-dalam. Jarinya menyentuh daguku, mendongakkannya sedikit.

​"Berdiri di sampingku. Angkat kepalamu. Biarkan mereka melihatmu, tapi jangan biarkan mereka menyentuhmu."

​"Hanya itu?"

​"Ya. Tunjukkan pada bajingan-bajingan itu bahwa tempat di sampingku sudah terisi," ucapnya tegas. Ada nada bangga yang aneh dalam suaranya. "Kau adalah Ratu malam ini. Jangan bertingkah seperti pelayan."

​Kata-kata itu membingungkan. Dia memaksaku, tapi dia juga meninggikanku.

​Ia mengambil sebuah topeng perak bergaya Venesia dari meja.

​"Pakai ini," perintahnya. "Sembunyikan ketakutanmu. Aku tidak mau mereka melihat matamu yang gemetar. Mata itu... hanya untukku."

​Aku memakai topeng itu. Rasanya aneh. Membatasi pandangan, tapi memberiku sedikit rasa aman di balik perisai perak.

​"Bagaimana denganmu?" tanyaku. "Kau tidak pakai topeng?"

​Ethan tersenyum miring. Senyum penuh arogansi.

​"Aku tidak butuh topeng, Sayang. Wajahku adalah ketakutan terbesar mereka."

​Ia menyodorkan lengannya.

​"Ayo. Pertunjukan dimulai."

​Aku menyelipkan tanganku di lengannya. Lengan yang menculikku, tapi kini menjadi satu-satunya peganganku di tengah lautan hiu.

​Kami berjalan keluar menuju lift pribadi.

​Di dalam kotak logam yang meluncur turun itu, aku melihat pantulan kami. Pria ber-tuxedo dan wanita bertopeng. Kami terlihat seperti pasangan penguasa yang sempurna. Padahal, jantungku berdetak seperti bom waktu.

​Tiba-tiba, Ethan merogoh balik jasnya.

​Ia tidak mengambil sapu tangan. Ia menarik keluar sebuah pistol hitam compact. Ia memeriksa pelurunya dengan gerakan cepat dan ahli, lalu menyelipkannya kembali ke sarung tersembunyi di pinggang belakangnya.

​Bunyi klik kokangan senjata itu terdengar sangat keras di ruang sempit ini.

​Jantungku berhenti berdetak.

​"E-Ethan..." suaraku tercekat. "Kau membawa senjata? Kau bilang ini pesta."

​Ethan menoleh padaku. Tatapannya dingin dan tajam.

​"Di pestaku, champagne dan darah sering tumpah bersamaan," jawabnya datar.

​Lampu indikator lift menunjukkan kami hampir sampai di lantai dasar.

​Ethan mencengkeram tanganku lebih erat, menyakitkan. Ia menatapku dengan intensitas yang membuatku lupa bernapas. Matanya menyiratkan proteksi yang agresif.

​"Ingat satu hal, Chintya," bisiknya cepat sebelum pintu terbuka. "Jika nanti lampu padam atau kau mendengar suara tembakan... jangan lari."

​"Lalu aku harus apa?"

​"Jatuhkan dirimu ke lantai dan tiarap di dekat kakiku," perintahnya dingin. "Jangan jauh-jauh dariku. Karena saat peluru mulai terbang, aku akan membunuh siapa saja yang berani berdiri di dekatmu."

​Ting.

​Pintu lift terbuka.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Cinta Mafia Hyper   Bab 25 - Makan siang

    ​Makan siang itu seharusnya romantis.​Ethan membawaku ke restoran rooftop privat lainnya, tempat di mana awan-awan Los Angeles terlihat begitu dekat seolah bisa disentuh. Pelayan menuangkan wine terbaik, dan hidangan laut segar tersaji di meja.​Namun bagiku, makanan itu terasa seperti pasir.​"Kau diam saja dari tadi, Honey," suara Ethan memecah keheningan. Ia tidak sedang makan. Ia sedang mengawasiku, memutar gelas wine-nya dengan gerakan santai yang menipu.​Aku tersentak, memaksakan seulas senyum kaku. "Aku hanya... lelah. Kejadian di kantor tadi cukup menguras tenaga."​Ethan terkekeh pelan, suara rendah yang biasanya membuat perutku bergejolak, tapi kini membuatku waspada.​"Tenaga, ya?" godanya, matanya berkilat nakal. Tangan besarnya terulur di atas meja, menggenggam tanganku.​Dulu—atau lebih tepatnya satu jam yang lalu—sentuhan ini akan membuatku merasa aman. Tapi sekarang, saat kulitnya bersentuhan dengan kulitku, bayangan foto di dalam map merah itu melintas di kepalaku.

  • Jerat Cinta Mafia Hyper   Bab 24 - Rahasia di Laci

    ​Napas kami masih memburu, beradu di keheningan ruang kerja yang luas.​Kemeja putih Ethan sudah tidak berbentuk, kancing-kancingnya terlepas beberapa. Gaun sutraku melorot di bahu, rambutku berantakan. Dokumen-dokumen penting yang tadi tersusun rapi di meja, kini berserakan di lantai, menjadi saksi bisu kegilaan yang baru saja terjadi.​Ethan masih mengurungku di atas meja kerjanya. Kedua tangannya bertumpu di sisi pinggulku, keningnya menempel di keningku. Matanya terpejam, menikmati afterglow yang menenangkan saraf-saraf tegangnya.​Tanganku bergerak pelan, menelusuri garis rahangnya yang keras, lalu turun ke lehernya yang basah oleh keringat.​"Ethan..." panggilku lembut.​Ia membuka matanya. Hitam pekat, namun sekarang terlihat teduh. Seperti laut tenang setelah badai.​"Hmm?" gumamnya, mengecup ujung hidungku.​Aku menatapnya lekat-lekat. Mengingat ancamannya di kamar mandi pagi itu, tentang kontrak enam bulan. Tentang ancaman akan memulangkanku jika aku tidak mencintainya. Rasa

  • Jerat Cinta Mafia Hyper   Bab 23 - Tanda Kepemilikan

    ​Cahaya matahari pagi terasa berbeda hari ini. Lebih hangat. Lebih nyata.​Aku menggeliat pelan di balik selimut sutra tebal, merasakan setiap otot tubuhku yang pegal dan nyeri—sisa-sisa pertempuran panas semalam yang menghancurkan semua batasan di antara kami.​Sebuah tangan kekar melingkar di pinggangku, menahanku agar tidak beranjak.​“Mau ke mana, Honey?”​Suara itu serak, rendah, dan berat, berbisik tepat di telingaku. Napas hangatnya menggelitik tengkukku, mengirimkan getaran listrik ke tulang punggung.​Aku menoleh. Ethan sedang menatapku. Rambut hitamnya berantakan, matanya masih sayu khas bangun tidur, tapi sorot posesif itu sudah menyala terang. Tidak ada lagi dinginnya es di sana. Yang ada hanya api.​“Ke kamar mandi,” jawabku pelan, wajahku memanas mengingat apa yang kami lakukan di sana—dan di lantai, dan di meja rias—semalam.​Ethan tersenyum miring. Ia menarikku kembali jatuh ke pelukannya, membenamkan wajahnya di ceruk leherku, menghirup aromaku dalam-dalam.​“Nanti sa

  • Jerat Cinta Mafia Hyper   Bab 22 - Sentuhan Pertama

    ​Restoran itu bernama L'Obscur. Gelap, eksklusif, dan hening. Hanya ada lima meja di ruangan VIP ini, dan malam ini, Ethan menyewa seluruh tempat.​Aku duduk di hadapannya, mengenakan gaun sutra hitam backless yang memamerkan punggungku. Udara terasa dingin, tapi keringat dingin membasahi tengkukku.​Di meja kami, makan malam sudah tersaji. Steak wagyu yang dimasak rare—masih merah di bagian tengah. Di samping piringku, tergeletak pistol Glock 19 yang sudah kusembunyikan di balik clutch pestaku.​"Makan," perintah Ethan. Ia memotong daging di piringnya dengan tenang. Pisau peraknya mengiris daging merah itu tanpa suara.​"Aku tidak bisa makan," bisikku. "Kau bilang kita akan berburu. Di mana targetnya?"​"Dia sudah di sini," jawab Ethan santai.​Pintu ruangan VIP terbuka. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu masuk, dikawal oleh dua penjaga restoran. Wajahnya pucat pasi saat melihat Ethan duduk di ujung meja.​Itu Mr. Tan. Salah satu investor terbesar Mahendra Corp.​"Eth

  • Jerat Cinta Mafia Hyper   Bab 21 - Mata di Balik Bidikan

    ​Satu minggu.​Sudah satu minggu sejak aku mengambil Black Card itu dan menjual jiwaku pada Ethan.​Dan dalam satu minggu itu, penthouse ini berubah. Bukan perabotannya, tapi penghuninya.​Aku berdiri di depan cermin besar di walk-in closet. Pantulan di sana bukan lagi Ayu Chintya si resepsionis hotel yang memakai seragam kaku.​Aku bukan lagi tawanan yang menangis di pojokan. Aku adalah tunangan Ethan Mahendra. Setidaknya, itulah peran yang harus kumainkan.​Aku mengambil napas panjang, lalu melangkah keluar kamar.​Menuju pintu ganda di ujung lorong barat yang selalu tertutup rapat.​Ruang kerja Ethan.​Dua penjaga berjas hitam yang berdiri di depan pintu tersentak kaget melihatku datang. Mereka saling pandang ragu.​"Nona," sapa salah satu dari mereka kaku. "Tuan Ethan sedang rapat online dengan direksi. Dia tidak bisa diganggu."​Dulu, aku akan minta maaf dan mundur. Tapi hari ini berbeda.​"Minggir," kataku tenang.​Penjaga itu ternganga. "Ta-tapi Nona, perintah Tuan..."​"Perint

  • Jerat Cinta Mafia Hyper   Bab 20 - Tamu Tak Diundang

    "Bram... di sini?"​Suaraku nyaris tak terdengar, tertelan oleh gemuruh AC sentral yang mendadak terasa terlalu bising.​Tubuhku membeku. Rasa dingin yang familiar merambat dari ujung kaki ke kepala. Bukan karena dinginnya AC, tapi dinginnya ketakutan. Bayangan wajah Bram—tatapan mesumnya, bau alkohol dari mulutnya, dan cengkeraman tangannya yang kasar—kembali menghantuiku di tengah kemewahan penthouse ini.​"Bagaimana bisa?" bisikku. "Dia cuma preman lokal! Bagaimana dia bisa melacakmu sampai ke Amerika?"​Ethan berjalan ke arah meja kerjanya, menyambar sebuah tablet, dan mengetik sesuatu dengan cepat menggunakan satu tangan.​"Jangan remehkan obsesi pria yang kehilangan barang miliknya, Chintya," kata Ethan dingin, matanya terpaku pada layar. "Dan jangan lupa, Bram bukan cuma preman. Dia punya koneksi dengan sindikat perdagangan manusia di Asia Tenggara. Seseorang memberinya info tentang jet pribadiku."​Tiba-tiba, suara interkom di dinding berbunyi nyaring. Bip-bip-bip.​Itu suara

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status