Beranda / Romansa / Jerat Cinta Mafia Hyper / Bab 7 - Tempat Untuk Pulang

Share

Bab 7 - Tempat Untuk Pulang

Penulis: Dacep
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-09 13:24:36

​Langkah kakiku terdengar berat saat memasuki ruang tengah penthouse.

​Dinding kaca raksasa menampilkan langit Los Angeles yang cerah menyakitkan mata. Cahaya matahari membanjiri ruangan, memantul di lantai marmer hitam dan perabotan logam yang dingin. Semuanya di sini berteriak tentang kekuasaan.

​Tapi bagiku, kemewahan ini terasa seperti peti mati yang dilapisi emas.

​Di ujung meja makan granit yang panjang, Ethan duduk. Ia membaca koran fisik sambil menyesap espresso. Punggungnya tegak, auranya tenang namun mendominasi, seolah ia adalah raja di atas papan catur raksasa ini.

​Saat aku mendekat, ia melipat korannya perlahan. Tatapan gelapnya menelusuri tubuhku, berhenti di gaun merah marun yang kupakai—gaun pemberiannya.

​"Merah," gumamnya. "Warna darah. Cocok untukmu."

​"Aku merasa seperti memakai kulit orang lain," jawabku dingin, berdiri kaku di sisi meja.

​"Duduk, Chintya. Makananmu dingin."

​Aku menarik kursi di seberangnya. Di piringku tersaji sarapan mewah, tapi perutku mual. Ingatan tentang malam di pantai itu kembali. Tentang Ibu yang menyerahkanku pada Bram demi tiga miliar. Tentang Ethan yang memalsukan kematianku.

​"Aku mau menelepon," kataku tiba-tiba, memecah keheningan denting pisau Ethan.

​Ethan berhenti mengiris sosisnya. Ia menatapku datar. "Untuk apa? Menelepon wanita yang menjualmu seharga tiga miliar?"

​Kalimat itu menampar tepat di luka terbasahku.

​"Dia tetap ibuku," desisku, meski hatiku ragu. "Aku perlu tahu... aku perlu tahu bagaimana reaksinya. Kau bilang aku sudah mati. Aku ingin tahu apakah dia menangisi aku, atau menangisi uangnya yang hilang."

​Ethan tersenyum tipis. Senyum yang kejam.

​"Kau ingin menyakiti dirimu sendiri? Silakan."

​Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel hitam pipih, dan meluncurkannya di atas meja granit. Benda itu berhenti tepat di depan piringku.

​"Teleponlah," tantangnya. "Dengarkan sendiri kebenarannya."

​Tanganku gemetar saat meraih ponsel itu. Aku menekan nomor rumah tetangga, Bu RT, satu-satunya akses ke Ibu.

​Tuuut... Tuuut...

​"Halo?" Suara Bu RT terdengar panik. "Siapa ini?"

​"Bu, tolong panggilkan Ibu," ucapku, berusaha menahan suara agar tidak dikenali. "Ini tentang Ayu."

​Hening sebentar, lalu terdengar suara langkah kaki dan isak tangis histeris mendekat.

​"Halo?! Siapa ini?! Apa kamu orang SAR?" Suara Ibu terdengar pecah.

​Aku terdiam. Lidahku kelu. "Ibu..."

​"Ayu?!" Ibu menjerit. Tapi nada suaranya bukan lega. Itu nada panik. "Itu kamu, Nak? Kamu masih hidup?! Bram bilang kamu hanyut! Sepatumu ditemukan di laut!"

​"Aku..."

​"Kalau kamu masih hidup, pulang sekarang!" potong Ibu kasar, tangisannya berubah menjadi amarah putus asa. "Bram mengamuk, Ayu! Dia bilang kalau mayatmu tidak ada, dia akan menyita rumah ini besok pagi! Dia minta ganti rugi! Kamu di mana, dasar anak tidak tahu diuntung?!"

​Air mataku yang tadi menggenang, kini kering seketika.

​Dadaku sesak. Bukan karena sedih. Tapi karena rasa sakit yang menikam jantung.

​Dia tidak bertanya apakah aku terluka.

Dia tidak bertanya apakah aku selamat.

Dia hanya peduli pada Bram dan rumah warisan itu.

​"Jadi benar..." bisikku lirih, lebih pada diriku sendiri. "Ibu lebih peduli pada sertifikat rumah daripada nyawaku."

​"Ayu! Jawab Ibu! Kamu jangan lari dari tanggung jawab! Utang ayahmu belum lunas! Kalau kamu mati, siapa yang bayar?!"

​Aku menatap Ethan. Pria itu menatapku balik dengan ekspresi datar, seolah berkata: Lihat? Aku benar.

​Rasa benci perlahan merambat naik, membakar rasa rindu yang tersisa. Aku tidak punya rumah. Wanita di telepon ini bukan ibuku lagi. Dia hanya seorang debitur yang kehilangan asetnya.

​"Maaf, Bu," kataku dingin, suaranya mati rasa. "Ayu Chintya sudah mati. Yang bicara ini hantunya."

​"Apa?! Ayu! Jangan konyol! Ayu!!"

​KLIK.

​Aku memutus sambungan. Lalu dengan tangan gemetar karena amarah, aku menekan tombol power hingga ponsel itu mati total.

​Aku meletakkan ponsel itu di meja.

​Hening.

​Ethan tidak berkata "Aku sudah bilang kan?". Dia hanya mengambil kembali ponselnya, memasukkannya ke saku, lalu kembali mengiris makanannya dengan tenang.

​"Sekarang kau paham," kata Ethan, tanpa menatapku. "Di dunia itu, kau cuma komoditas. Barang dagangan."

​Aku menunduk, menatap piringku yang kosong. Air mataku tidak keluar. Hatiku rasanya membeku, mengeras menjadi batu.

​"Aku tidak punya tempat pulang," bisikku hampa. "Bahkan jika kau melepaskanku... aku tidak punya siapa-siapa."

​Ethan meletakkan garpunya. Ia berdiri, berjalan memutari meja, lalu berhenti tepat di belakang kursiku.

​Tangan besarnya menyentuh bahuku. Hangat. Berat. Posesif.

​Ia membungkuk, bibirnya menyentuh telingaku.

​"Kau salah," bisiknya. "Kau punya tempat pulang."

​Ia memutar kursiku agar aku menghadapnya. Ia menangkup wajahku, memaksaku menatap matanya yang gelap gulita—satu-satunya kegelapan yang menawarkan perlindungan.

​"Di sini," katanya tegas. "Di sampingku. Mulai detik ini, aku adalah rumahmu. Aku adalah keluargamu. Aku adalah tuanmu."

​Aku menatapnya. Monster yang menculikku. Tapi dia benar. Di luar sana, aku dijual. Di sini, setidaknya aku "disimpan" sebagai barang berharga.

​"Makan," perintah Ethan lagi, kali ini nadanya lebih lembut, namun tetap tak terbantahkan. "Kau butuh tenaga. Nanti malam ada pesta. Kau harus terlihat sempurna sebagai milikku."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jerat Cinta Mafia Hyper   Bab 25 - Makan siang

    ​Makan siang itu seharusnya romantis.​Ethan membawaku ke restoran rooftop privat lainnya, tempat di mana awan-awan Los Angeles terlihat begitu dekat seolah bisa disentuh. Pelayan menuangkan wine terbaik, dan hidangan laut segar tersaji di meja.​Namun bagiku, makanan itu terasa seperti pasir.​"Kau diam saja dari tadi, Honey," suara Ethan memecah keheningan. Ia tidak sedang makan. Ia sedang mengawasiku, memutar gelas wine-nya dengan gerakan santai yang menipu.​Aku tersentak, memaksakan seulas senyum kaku. "Aku hanya... lelah. Kejadian di kantor tadi cukup menguras tenaga."​Ethan terkekeh pelan, suara rendah yang biasanya membuat perutku bergejolak, tapi kini membuatku waspada.​"Tenaga, ya?" godanya, matanya berkilat nakal. Tangan besarnya terulur di atas meja, menggenggam tanganku.​Dulu—atau lebih tepatnya satu jam yang lalu—sentuhan ini akan membuatku merasa aman. Tapi sekarang, saat kulitnya bersentuhan dengan kulitku, bayangan foto di dalam map merah itu melintas di kepalaku.

  • Jerat Cinta Mafia Hyper   Bab 24 - Rahasia di Laci

    ​Napas kami masih memburu, beradu di keheningan ruang kerja yang luas.​Kemeja putih Ethan sudah tidak berbentuk, kancing-kancingnya terlepas beberapa. Gaun sutraku melorot di bahu, rambutku berantakan. Dokumen-dokumen penting yang tadi tersusun rapi di meja, kini berserakan di lantai, menjadi saksi bisu kegilaan yang baru saja terjadi.​Ethan masih mengurungku di atas meja kerjanya. Kedua tangannya bertumpu di sisi pinggulku, keningnya menempel di keningku. Matanya terpejam, menikmati afterglow yang menenangkan saraf-saraf tegangnya.​Tanganku bergerak pelan, menelusuri garis rahangnya yang keras, lalu turun ke lehernya yang basah oleh keringat.​"Ethan..." panggilku lembut.​Ia membuka matanya. Hitam pekat, namun sekarang terlihat teduh. Seperti laut tenang setelah badai.​"Hmm?" gumamnya, mengecup ujung hidungku.​Aku menatapnya lekat-lekat. Mengingat ancamannya di kamar mandi pagi itu, tentang kontrak enam bulan. Tentang ancaman akan memulangkanku jika aku tidak mencintainya. Rasa

  • Jerat Cinta Mafia Hyper   Bab 23 - Tanda Kepemilikan

    ​Cahaya matahari pagi terasa berbeda hari ini. Lebih hangat. Lebih nyata.​Aku menggeliat pelan di balik selimut sutra tebal, merasakan setiap otot tubuhku yang pegal dan nyeri—sisa-sisa pertempuran panas semalam yang menghancurkan semua batasan di antara kami.​Sebuah tangan kekar melingkar di pinggangku, menahanku agar tidak beranjak.​“Mau ke mana, Honey?”​Suara itu serak, rendah, dan berat, berbisik tepat di telingaku. Napas hangatnya menggelitik tengkukku, mengirimkan getaran listrik ke tulang punggung.​Aku menoleh. Ethan sedang menatapku. Rambut hitamnya berantakan, matanya masih sayu khas bangun tidur, tapi sorot posesif itu sudah menyala terang. Tidak ada lagi dinginnya es di sana. Yang ada hanya api.​“Ke kamar mandi,” jawabku pelan, wajahku memanas mengingat apa yang kami lakukan di sana—dan di lantai, dan di meja rias—semalam.​Ethan tersenyum miring. Ia menarikku kembali jatuh ke pelukannya, membenamkan wajahnya di ceruk leherku, menghirup aromaku dalam-dalam.​“Nanti sa

  • Jerat Cinta Mafia Hyper   Bab 22 - Sentuhan Pertama

    ​Restoran itu bernama L'Obscur. Gelap, eksklusif, dan hening. Hanya ada lima meja di ruangan VIP ini, dan malam ini, Ethan menyewa seluruh tempat.​Aku duduk di hadapannya, mengenakan gaun sutra hitam backless yang memamerkan punggungku. Udara terasa dingin, tapi keringat dingin membasahi tengkukku.​Di meja kami, makan malam sudah tersaji. Steak wagyu yang dimasak rare—masih merah di bagian tengah. Di samping piringku, tergeletak pistol Glock 19 yang sudah kusembunyikan di balik clutch pestaku.​"Makan," perintah Ethan. Ia memotong daging di piringnya dengan tenang. Pisau peraknya mengiris daging merah itu tanpa suara.​"Aku tidak bisa makan," bisikku. "Kau bilang kita akan berburu. Di mana targetnya?"​"Dia sudah di sini," jawab Ethan santai.​Pintu ruangan VIP terbuka. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu masuk, dikawal oleh dua penjaga restoran. Wajahnya pucat pasi saat melihat Ethan duduk di ujung meja.​Itu Mr. Tan. Salah satu investor terbesar Mahendra Corp.​"Eth

  • Jerat Cinta Mafia Hyper   Bab 21 - Mata di Balik Bidikan

    ​Satu minggu.​Sudah satu minggu sejak aku mengambil Black Card itu dan menjual jiwaku pada Ethan.​Dan dalam satu minggu itu, penthouse ini berubah. Bukan perabotannya, tapi penghuninya.​Aku berdiri di depan cermin besar di walk-in closet. Pantulan di sana bukan lagi Ayu Chintya si resepsionis hotel yang memakai seragam kaku.​Aku bukan lagi tawanan yang menangis di pojokan. Aku adalah tunangan Ethan Mahendra. Setidaknya, itulah peran yang harus kumainkan.​Aku mengambil napas panjang, lalu melangkah keluar kamar.​Menuju pintu ganda di ujung lorong barat yang selalu tertutup rapat.​Ruang kerja Ethan.​Dua penjaga berjas hitam yang berdiri di depan pintu tersentak kaget melihatku datang. Mereka saling pandang ragu.​"Nona," sapa salah satu dari mereka kaku. "Tuan Ethan sedang rapat online dengan direksi. Dia tidak bisa diganggu."​Dulu, aku akan minta maaf dan mundur. Tapi hari ini berbeda.​"Minggir," kataku tenang.​Penjaga itu ternganga. "Ta-tapi Nona, perintah Tuan..."​"Perint

  • Jerat Cinta Mafia Hyper   Bab 20 - Tamu Tak Diundang

    "Bram... di sini?"​Suaraku nyaris tak terdengar, tertelan oleh gemuruh AC sentral yang mendadak terasa terlalu bising.​Tubuhku membeku. Rasa dingin yang familiar merambat dari ujung kaki ke kepala. Bukan karena dinginnya AC, tapi dinginnya ketakutan. Bayangan wajah Bram—tatapan mesumnya, bau alkohol dari mulutnya, dan cengkeraman tangannya yang kasar—kembali menghantuiku di tengah kemewahan penthouse ini.​"Bagaimana bisa?" bisikku. "Dia cuma preman lokal! Bagaimana dia bisa melacakmu sampai ke Amerika?"​Ethan berjalan ke arah meja kerjanya, menyambar sebuah tablet, dan mengetik sesuatu dengan cepat menggunakan satu tangan.​"Jangan remehkan obsesi pria yang kehilangan barang miliknya, Chintya," kata Ethan dingin, matanya terpaku pada layar. "Dan jangan lupa, Bram bukan cuma preman. Dia punya koneksi dengan sindikat perdagangan manusia di Asia Tenggara. Seseorang memberinya info tentang jet pribadiku."​Tiba-tiba, suara interkom di dinding berbunyi nyaring. Bip-bip-bip.​Itu suara

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status