LOGINTidak ada yang berani bertanya lagi. Aron berjalan keluar kelas dengan langkah cepat, menggendong Natasya yang terus merintih kesakitan di pelukannya. Mira dan Alex langsung mengikuti dari belakang, mengambil tas Natasya dan tas Aron yang tertinggal."Pak Aron, kami ikut," ujar Mira sambil berlari kecil menyusul.Aron hanya mengangguk, terlalu panik untuk bicara banyak. Dia terus berjalan cepat menyusuri koridor kampus menuju parkiran. Beberapa mahasiswa dan dosen yang berpapasan menatap mereka dengan pandangan bingung dan khawatir."Bertahanlah sayang, kita akan segera sampai rumah sakit," bisik Aron pada Natasya sambil terus berjalan."Aku takut, Mas," bisik Natasya dengan suara bergetar. "Bayinya... bagaimana dengan bayinya?""Bayinya akan baik-baik saja. Kamu juga akan baik-baik saja," ujar Aron meski dia sendiri sangat ketakutan.Mereka sampai di parkiran dan Aron langsung membuka pintu belakang mobilnya, membaringkan Natasya dengan hati-hati di kursi belakang. Mira ikut masuk un
Siang itu matahari bersinar terik di atas kampus. Jam kuliah Aron dimulai tepat pukul satu siang, setelah mahasiswa selesai istirahat makan siang. Seperti biasa, Aron masuk ke kelas dengan wajah datar dan langkah mantap, membawa suasana tegang yang selalu menyertai kehadirannya."Selamat siang," sapa Aron dengan nada dingin khas dosen killer."Selamat siang, Pak!" jawab mahasiswa serempak.Aron meletakkan tasnya di meja dan mulai membuka laptop. "Hari ini kita akan membahas sistem pencernaan manusia. Tolong buka buku kalian halaman 234."Suara halaman buku yang dibuka memenuhi kelas. Mahasiswa-mahasiswa mulai fokus pada buku mereka masing-masing, tidak ada yang berani tidak memperhatikan saat Pak Aron mengajar.Natasya duduk di bangku tengah bersama Mira. Dia membuka bukunya dengan pelan, berusaha terlihat normal meski sejak tadi siang dia sudah merasakan perutnya sedikit tidak nyaman. Dia pikir itu hanya karena terlalu banyak makan siang tadi.Aron mulai menjelaskan materi dengan det
Natasya mengangguk pelan sambil menunduk. "Maafkan aku, Mas. Ini semua salahku. Karena aku hamil, Mas jadi tidak bisa menyentuhku dan harus melampiaskan sendiri.""Natasya, bukan begitu," Aron langsung berjalan mendekat dan berlutut di depan istrinya. "Ini bukan salahmu sama sekali.""Tapi Mas jadi harus menahan hasrat sendiri. Aku tahu Mas pasti sangat tersiksa," ucap Natasya sambil air matanya mulai jatuh.Aron mengusap air mata di pipi istrinya dengan lembut. "Dengar, aku tidak tersiksa. Aku melakukan itu karena aku tidak mau mengganggumu. Kamu sedang hamil, kondisimu masih rentan. Aku tidak mau egois memaksakan hasratku padamu.""Tapi Mas juga punya kebutuhan. Aku istrimu, seharusnya aku yang memenuhi kebutuhan itu," Natasya menatap mata suaminya dengan penuh penyesalan.Sebelum Aron bisa menjawab, Natasya tiba-tiba menarik leher suaminya dan mencium bibirnya dengan lembut. Aron terkejut tapi tidak menolak ciuman istrinya. Bibir mereka bertemu dalam ciuman yang penuh emosi.Natasy
Malam itu langit tampak gelap tanpa bintang. Hujan gerimis turun perlahan, menciptakan suara nyaman yang biasanya membuat orang mudah tertidur. Tapi malam ini berbeda untuk Natasya. Dia terbangun di tengah malam dengan tubuh yang terasa segar, tidak seperti biasanya yang selalu terasa lelah karena kehamilan. Natasya menggeliat pelan dan meraih ke samping, mencari kehangatan tubuh suaminya yang biasanya selalu ada di sana. Tapi yang dia rasakan hanya sprei dingin dan tempat tidur kosong. "Mas?" panggil Natasya dengan suara serak sambil membuka matanya perlahan. Tidak ada jawaban. Natasya duduk di tempat tidur sambil mengucek matanya yang masih mengantuk. Pandangannya menyapu seluruh kamar yang gelap, hanya diterangi cahaya remang dari lampu tidur. Aron tidak ada di kamar. "Kemana dia?" gumam Natasya sambil turun dari tempat tidur. Mata Natasya tertuju pada pintu kamar mandi yang sedikit terbuka. Ada cahaya yang merembes keluar dari celah pintu tersebut. Natasya berjalan perlah
Dia keluar dari ruangannya dan berjalan cepat menuju basement. Beberapa mahasiswa dan dosen yang berpapasan dengannya menyapa dengan hormat, tapi Aron hanya mengangguk singkat tanpa berhenti melangkah.Di mobil, Aron mengendarai keluar kampus menuju area pedagang kaki lima yang biasanya ramai di pagi hari. Dia ingat ada beberapa penjual makanan di dekat pasar tradisional yang tidak jauh dari kampus.Sampai di sana, Aron langsung mencari penjual rujak. Matanya menyapu ke kiri dan kanan, mencari gerobak rujak yang biasanya mudah dikenali dari warna-warni buahnya."Ah, itu dia," gumam Aron sambil menunjuk gerobak rujak di pojok jalan.Dia memarkirkan mobilnya dan berjalan menghampiri penjual rujak tersebut. Seorang ibu paruh baya yang ramah langsung menyambut kedatangannya."Selamat pagi, Pak. Mau pesan rujak?" tanya ibu itu dengan senyum lebar."Ya, Bu. Saya mau pesan rujak buah. Yang lengkap ya, Bu. Campur semua buahnya," ujar Aron."Baik, Pak. Mau pedas atau tidak?" tanya ibu itu samb
Pagi itu dimulai dengan suara Natasya yang berlari tergesa ke kamar mandi. Aron yang baru saja terbangun langsung terlonjak kaget mendengar suara istrinya muntah di kamar mandi. Dia cepat-cepat turun dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi."Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Aron sambil menepuk punggung istrinya yang sedang membungkuk di depan wastafel.Natasya menggeleng lemah sambil terus muntah. Wajahnya pucat dan keringat dingin mulai membasahi keningnya. Aron segera mengambil handuk kecil dan membasahinya dengan air, lalu mengusap wajah dan leher istrinya dengan lembut."Ini morning sickness lagi ya?" tanya Aron dengan nada khawatir.Natasya mengangguk sambil berkumur. "Iya, Mas. Sepertinya lebih parah dari kemarin.""Kamu yakin masih mau masuk kampus hari ini? Lebih baik istirahat saja di rumah," usul Aron sambil membantu istrinya berdiri."Tidak bisa, Mas. Hari ini ada jadwal praktek. Aku harus masuk," tolak Natasya sambil menggeleng meski tubuhnya masih terasa lemas.Ar







