Home / Young Adult / Jerat Cinta Dosen Killer / Tunjukkan Kegigihanmu

Share

Tunjukkan Kegigihanmu

Author: CitraAurora
last update Petsa ng paglalathala: 2025-11-17 19:48:48

“Apa? Kamu… mau?” ulang Aron tak percaya.

Kini dialah yang dibuat gugup dan bingung. Tadinya, Aron hanya ingin menguji sampai di mana kegigihan Natasya, tapi siapa sangka gadis itu justru menyetujui keinginan tak masuk akalnya?

“Pikirkan kembali,” ujar Aron setelah menguasai diri dengan cepat. Ekspresinya kembali datar. “Sekali menjadi teman ranjangku, kamu tidak akan bisa pergi.”

Ucapan dingin dan penuh peringatan itu sengaja agar Natasya memilih mundur. Bagaimanapun, Aron tidak serius dengan penawarannya.

Namun, gelengan tegas justru didapatkan. Natasya tidak tampak goyah sama sekali.

Aron mengelola nafas panjang. Karena tidak ingin menjatuhkan harga dirinya dengan menarik semua ucapannya, akhirnya dia membawa Natasya pulang ke rumahnya.

Natasya tidak mengucapkan apapun selain mengikuti Aron.

Aron berharap gadis itu berubah pikiran setibanya di rumah, tapi Natasya tetap tidak berkata apa-apa. Seolah sudah pasrah.

Aron membawa Natasya ke kamar tamu, dan memberikan mahasiswinya itu sebuah handuk kimono.

“Bersihkan dirimu!” titahnya.

Di dalam kamar mandi, tubuh Natasya merosot ke lantai. Ia menangis dalam diam. Setengah hatinya ingin sekali pergi dari sini, tapi sebagian lainnya khawatir dengan masa depannya.

Ia harus mencari uang ekstra apabila harus mengulang mata kuliah tahun depan. Sementara saat ini, keuangannya sudah tercekik untuk membayar biaya pengobatan sang ibu.

“Ibu, maafkan Natasya karena harus memilih jalan begini…,” lirih wanita itu, kemudian menghapus air matanya dengan cepat.

Setelah membersihkan diri, Natasya keluar dari kamar mandi. Ia duduk canggung di sofa. Kedua tangannya yang saling meremas mulai bergetar.

Selama ini, Natasya tidak pernah membayangkan akan menjadi teman ranjang seseorang. Pacaran saja hanya sekali, itupun semasa SMA. Dia bahkan nyaris tidak punya waktu untuk bergaul dengan teman-teman yang lain.

Sementara itu, gantian Aron yang masuk ke dalam kamar mandi. Pria itu menatap pantulan dirinya di cermin. Sungguh, ia juga tidak membayangkan akan adanya hari ini.

Meskipun kebutuhan biologisnya tidak terpenuhi, tapi Aron bukan tipe suami brengsek yang suka jajan. Dia lebih suka memuaskan dirinya sendiri. Atau bahkan menahan gejolak hasratnya sekalian.

Aron benar-benar tidak memiliki keinginan menjadikan Natasya sebagai teman ranjang. Itu hanyalah gertak sambal untuk memupuskan harapan.

Aron tadinya sangat yakin Natasya tidak akan mau merelakan tubuhnya hanya untuk sebuah nilai.

“Menyesal aku telah mengujinya dengan hal tabu seperti ini,” gumam Aron sambil meninju dinding.

Sama seperti Natasya, Aron keluar menggunakan kimono. Langkahnya tampak pasti menuju ranjang.

Melihat Aron yang hanya diam saja membuat Natasya heran. Bukankah biasanya pria-pria yang menginginkan teman tidur akan langsung menyerang? Tapi mengapa dosennya itu hanya diam saja?

“P-Pak Aron, apa yang harus saya lakukan?” Akhirnya Natasya memberanikan diri bertanya.

Suara Natasya mengejutkan Aron, dia hampir saja melupakan kehadiran mahasiswanya itu saking sibuknya dengan pikirannya sendiri.

“Tidurlah, aku juga mau tidur,” ucapnya, lalu langsung memejamkan mata.

Natasya benar-benar bingung dibuatnya. Jadi… teman ranjang yang dimaksud pria itu hanya sebagai teman tidur di ranjang? Bukan teman ranjang plus-plus?

Dengan perasan yang tak karu-karuan, Natasya bangkit dari sofa. Ia berjalan menuju ranjang dan kemudian tidur di samping Aron.

Keesokan paginya, saat Aron membuka mata, dia melihat Natasya belajar di mejanya. Wanita itu juga membaca buku-buku miliknya.

“Apa yang kamu lakukan?” Suara Bariton Aron menggema di ruangan itu, membuat Natasya tersentak. Ia buru-buru menutup bukunya, lalu mendongakkan kepala menatap dosennya itu.

“Ma-maaf, Pak, saya memakai buku Anda untuk belajar,” jawabnya takut-takut.

“Pakai saja,” sahut Aron.

Natasya seketika menghela napas lega. “Hmm, anu Pak… ada beberapa materi yang saya belum paham,” ujar gadis itu ragu, lalu menatap Aron. “Apa bisa Anda menjelaskannya?”

Netra keduanya bertemu. Aron tidak mengatakan apapun, tapi ada rasa kesal di hatinya saat ini.

Kesannya dia seperti guru privat gratis untuk Natasya, padahal bukankah seharusnya gadis itu yang melakukan sesuatu untuknya? Mengapa justru sebaliknya?

“Kalau tidak bisa juga nggak papa, Pak,” ujar Natasya kemudian. Raut tak suka pria itu sudah cukup menjadi jawaban. Gadis itu lantas meletakkan buku Aron kembali.

Namun, Aron yang entah sejak kapan sudah berdiri di dekatnya, mengambil buku itu dan membukanya lagi.

“Bagian mana?” tanya pria dingin itu.

Senyuman kecil mengembang di bibir Natasya, tak menyangka kalau Aron mau mengajarinya.

Dengan semangat ia menunjukkan bagian yang tidak dipahaminya.

Awalnya, hanya satu bahasan. Tapi tanpa disadari, Aron menjelaskan beberapa lembar halaman sekaligus.

Sadar kalau terlalu banyak materi yang dia berikan, Aron meminta Natasya untuk melanjutkan sendiri.

“Terima kasih, Pak,” ucap Natasya tulus. Ia merasa sangat terbantu berkat Aron. Belakangan ini ia tidak punya waktu untuk belajar karena sibuk mengurus ibunya yang sakit.

Tak ada respon, wajah Aron tetap saja datar.

“Oh ya Pak, kapan saya bisa remidi?” tanya Natasya kemudian.

Aron tersenyum sinis. Belum apa-apa sudah meminta remidi, pikirnya.

“Tunjukkan dulu kegigihanmu.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Jerat Cinta Dosen Killer   Aku Bahagia Mas

    Setahunan KemudianAuditorium kampus dipenuhi oleh mahasiswa yang mengenakan toga wisuda. Suasana penuh kebahagiaan dan haru. Hari ini adalah hari wisuda, hari dimana mereka semua akan resmi menjadi dokter.Di barisan paling depan, Natasya duduk dengan toga yang rapi. Wajahnya berseri-seri, mata berbinar penuh kebahagiaan. Tiga tahun yang penuh perjuangan akhirnya sampai di titik ini.Di kursi penonton, Aron duduk sambil menggendong Arjuna yang kini sudah berusia satu tahun. Bocah tampan itu dengan antusias menunjuk-nunjuk ke arah panggung."Ma ma!" seru Arjuna sambil menunjuk Natasya."Iya, Sayang. Itu Mama kamu. Hari ini Mama wisuda," jawab Aron sambil tersenyum lebar.Di samping Aron, duduk ibu Natasya yang wajahnya basah oleh air mata bahagia. Kakek Sanjaya dan Kakek Atmaja juga ada di sana, begitu juga dengan orangtua Aron. Semua keluarga berkumpul untuk menyaksikan momen penting ini."Aku sangat bangga dengan Natasya," gumam Kakek Sanjaya sambil menghapus air matanya."Dia meman

  • Jerat Cinta Dosen Killer   Memutuskan Kuliah

    Siang itu, setelah ibu Natasya pulang, Natasya menghabiskan waktu dengan Arjuna. Dia memandikannya, bermain dengannya, dan mengobservasi setiap gerak-gerik bayinya. Di benaknya terus berkecamuk pertanyaan: bisakah dia meninggalkan Arjuna beberapa jam untuk kuliah?Malam harinya, ketika Arjuna sudah tidur dan Aron sedang bekerja di ruang kerja, Natasya duduk sendirian di kamar. Dia menatap sertifikat-sertifikat prestasi yang terpajang di dinding. Semua itu hasil kerja kerasnya.Dia teringat masa-masa sulit dulu. Bagaimana dia harus bekerja sambilan sambil kuliah. Bagaimana ibunya sering menangis diam-diam karena khawatir tidak bisa membiayai kuliah. Bagaimana dia hampir putus asa beberapa kali tapi tetap bertahan."Apa semua perjuangan itu akan sia-sia begitu saja?" gumam Natasya pada dirinya sendiri.Dia bangkit dan berjalan ke baby box dimana Arjuna tidur. Dia menatap bayinya yang tidur sangat pulas. Wajahnya begitu damai, begitu tenang."Sayang, Mama bingung," bisik Natasya sambil m

  • Jerat Cinta Dosen Killer   Bingung, Kuliah atau Jadi Ibu Rumah Tangga

    Bab 51: Jerat Cinta Dosen KillerDua bulan sudah berlalu sejak Arjuna pulang ke rumah. Bayi mungil yang dulu penuh dengan selang kini tumbuh menjadi bayi yang menggemaskan. Pipinya mulai chubby, matanya bulat dan jernih seperti ibunya, sementara hidung dan rahangnya tegas seperti ayahnya. Setiap senyumnya mampu membuat hati Natasya dan Aron meleleh.Pagi itu, Natasya duduk di ruang keluarga sambil menggendong Arjuna yang baru selesai menyusu. Bayi itu tertidur pulas di pelukannya dengan wajah yang begitu damai. Natasya mengusap pipi chubby Arjuna dengan lembut, tersenyum penuh kasih sayang."Mama sayang banget sama kamu, Nak," bisik Natasya sambil mencium kening Arjuna.Aron yang sedang membaca buku di sofa sebelah sesekali melirik ke arah istri dan anaknya. Dia tersenyum melihat pemandangan itu, tapi di benaknya ada sesuatu yang mengganjal. Masa cuti Natasya sudah habis minggu depan, tapi istrinya belum menunjukkan tanda-tanda akan kembali kuliah.Bel rumah berbunyi. Pembantu membuka

  • Jerat Cinta Dosen Killer   Bisa Pulang

    Aron mengangguk sambil mengusap air matanya. "Dia tahu kamu Mamanya. Dia sudah menunggu kamu bangun, sayang."Natasya tidak bisa berhenti menatap bayinya. Meskipun mungil dan penuh dengan selang, baginya bayi itu adalah makhluk terindah di dunia."Mas, dia belum punya nama," ujar Natasya pelan sambil tetap menggenggam jari bayinya."Iya, aku tunggu kamu sadar dulu. Kita harus beri nama sama-sama," jawab Aron sambil ikut menyentuh bayi mereka lewat lubang inkubator yang lain."Aku sudah memikirkannya sejak hamil," Natasya tersenyum tipis meskipun air matanya masih mengalir. "Kalau laki-laki, aku ingin beri nama Arjuna. Arjuna Adyatama."Aron terdiam sejenak, meresapi nama yang indah itu. "Arjuna... pahlawan yang kuat dan pantang menyerah. Cocok untuk anak kita yang sudah berjuang keras sejak lahir.""Kamu setuju, Mas?" tanya Natasya."Sangat setuju, sayang. Arjuna Adyatama. Nama yang sempurna," Aron mencium kening Natasya dengan lembut.Mereka berdua menatap bayi mereka dengan penuh ka

  • Jerat Cinta Dosen Killer   Sadar

    Aron mengemudi dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. Tangannya gemetar memegang setir, pikirannya kacau balau. Perkembangan apa yang dimaksud rumah sakit? Apakah Natasya sadar? Atau justru sebaliknya?"Kumohon, kumohon jangan berita buruk," gumam Aron terus-menerus sambil mengemudi.Dia tidak peduli dengan rambu lalu lintas, tidak peduli dengan klakson mobil lain yang memprotes kendaraannya. Yang ada di pikirannya hanya Natasya.Lima belas menit kemudian, Aron sampai di rumah sakit. Dia langsung berlari menuju ruang perawatan sang istri. Di depan pintu dia melihat Mamanya, Papanya, kedua kakeknya, dan ibu Natasya berkumpul dengan wajah cemas."Bu! Bagaimana Natasya?!" tanya Aron panik begitu sampai.Ibu Natasya tersenyum sambil menangis. "Aron, Natasya... dia...""Dia kenapa?!" Aron hampir berteriak."Dia menggerakkan jarinya tadi. Dokter bilang itu pertanda baik. Ada kemungkinan dia akan segera sadar," jelas Papanya.Aron merasakan kakinya lemas. Dia hampir terjatuh kalau tidak

  • Jerat Cinta Dosen Killer   Lelah, Aku Lelah Sayang

    Dua minggu sudah berlalu sejak kejadian itu. Dua minggu yang terasa seperti dua tahun bagi Aron. Natasya masih terbaring koma di ruang perawatan, memang setelah keadaan Natasya keluar dari masa kritis dia dipindahkan ke ruang perawatan.Tapi bayi mereka masih berjuang di NICU meskipun kondisinya mulai membaik sedikit demi sedikit.Aron mencoba kembali mengajar setelah dipaksa oleh kedua kakek dan orangtuanya yang sudah pulang dari luar negeri. Mereka khawatir Aron akan sakit kalau terus-terusan di rumah sakit tanpa istirahat yang cukup."Aron, kamu harus mengajar dan melakukan aktivitas lainnya. Natasya pasti tidak ingin melihatmu begini," ujar mamanya sambil mengelus kepala Aron yang tertidur di samping ranjang Natasya."Tapi Ma, aku tidak bisa meninggalkan mereka," jawab Aron dengan suara parau."Kamu tidak meninggalkan mereka. Kamu hanya pergi bekerja beberapa jam, lalu kembali lagi. Kami akan menjaga Natasya dan anak kamu," bujuk Papanya. Akhirnya Aron menyerah. Dia setuju untuk

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status