Share

BAB 3

Author: IKYURA
last update publish date: 2024-05-23 19:12:04

“Bagaimana kondisinya Mahesa, J?”

Pertanyaan itu meluncur bebas dari bibir Yudhistira, membuat Arjuna yang tadinya sibuk dengan iPad miliknya, lantas menoleh. Baru saja dia tiba di sana bersama Antasena usai jam kerja berakhir.

“Belum ada perkembangan apa-apa. Gue kayaknya bakalan di sini nemenin Tante Citra.”

Yudhistira meraup wajahnya dengan gusar. “Terus Sasi? Dia dirawat di sini juga, kan? Bagaimana kondisinya?”

Arjuna mengangguk. “Iya. Sejak tadi dia sama Yura dan Krisna. Gue nggak berani nemuin dia, karena dia pasti masih terguncang dan jelas membutuhkan waktu untuk sendiri.”

“Benar. Mending biarin dia tenang dulu, deh.”

“Terus komplotannya Bara?”

“Semua tersangka sudah ditangkap. Bahkan termasuk Abhimana dan Dinar yang ikut terseret dalam kasus ini untuk penyidikan. Bayu lagi ngurusin semuanya.”

“Bangsat memang. Motifnya apa, coba?”

“Kalau dari rekaman yang gue ambil dari yang dibawa Mahesa, Bara ingin balas dendam atas hancurnya Diandra, dan karirnya. Termasuk Saras, news anchor yang dekat sama Abhimana, dia termasuk tersangka.”

“Diandra bukannya dirawat karena depresi?”

Arjuna mengangguk sekali lagi. “Iya, itulah kenapa Bara balas dendam sama Mahesa. Ternyata Bara, Diandra, dan Saras dulu sahabatan. Termasuk orang yang pernah mencelakai Yura saat dia kecelakaan waktu itu, dia salah satunya.”

“Anjir, cari mati orang-orang ini. Lihat saja gimana Mahesa nanti kalau dia sadar. Minimal mereka bakalan dipenjara seumur hidup,” desis Yudhistira kelihatan frustasi.

“Terus media gimana, J?” tanya Sena ikut menimbrung.

“Sementara gue udah melempar sebagian berita itu. Tapi gue masih sesekali ngecek juga, takut kalau-kalau gue kecolongan kayak yang waktu itu.”

Jeda selama beberapa saat suasana koridor malam itu terasa begitu sepi. Ruang rawat Mahesa yang berada di ruang VVIP, menjadikan lantai ruangan itu menjadi tak berpenghuni. Seluruh ruangan VVIP sengaja disewa khusus oleh keluarga Daniswara untuk penjagaan ketat Mahesa.

Bahkan mulai di lantai lobi. Beberapa bodyguard sengaja dikerahkan oleh beberapa orang kepercayaan keluarga Daniswara untuk menjaga keamanan sekitar.

“Gue cuma berharap Mahesa baik-baik saja.”

Arjuna menyandarkan punggungnya ke belakang, lalu mengembuskan napas perlahan. “I hope so. Tapi melihat kondisi Mahesa yang benar-benar parah. Gue—”

“Please, J. Mahesa pasti baik-baik saja!” ujar Sena dengan yakin.

“Kasih tahu kita aja kalau lo butuh bantuan, J.”

“Okay, Dhis, Sen. Mending kalian balik, besok kita atur buat gantian jaga kantor dan Mahesa.”

Waktu sudah menunjuk angka sembilan malam saat akhirnya Yudhistira dan Antasena pamit untuk pulang. Untuk malam ini, Arjuna yang akan menjaga Mahesa, dan besok mereka akan secara bergantian berjaga. Biar bagaimanapun kantor tidak boleh diabaikan begitu saja.

“Gue balik duluan, Dhis.”

“Take care, Sen.”

Setelah tiba di lobi, mereka akhirnya berpisah. Yudhistira perlu mengambil sesuatu dari Arjuna yang sempat tertinggal, sementara Antasena sudah lebih dulu berpamitan untuk pulang.

Dengan langkah tenang, Yudhistira berjalan kembali menuju lantai VVIP. Baru saja pria itu hendak memasuki lift, pandangannya yang kini tertuju pada seseorang. Sejenak perempuan itu mengalihkan perhatian Yudhistira.

Pria itu lantas berjalan mendekat. Samar-samar dia menoleh, hanya ingin memastikan apa yang dilihatnya sekarang benar adalah Julia.

"Maafin aku, ya Sayang. Maaf, aku benar-benar nggak bermaksud untuk melukai kamu."

Julia mengangguk kecil saat melihat penyesalan yang berkelebat di mata Aditya. Bukankah sudah seharusnya dia memaafkan kekasihnya—untuk kesekian kalinya?

"Nggak apa-apa."

"Aku janji nggak akan mengulanginya lagi, Sayang. Aku janji akan berubah."

Dan perkataan itu selalu membuat Julia ketakutan. Karena perubahan itu hanya akan diucapkan Aditya saat setelah dia melukainya. Tapi begitu dia membutuhkan pelampiasan nafsunya, Aditya lagi-lagi akan menyakitinya, dan Julia akan memakluminya.

Begitu seterusnya.

Saat seorang perawat tengah memanggil nama Julia, perempuan itu lantas bangkit dari duduknya untuk menghampiri perawat tersebut.

“Ini obatnya buat diolesin, ya. Memar-memarnya memang masih ada. Tapi Mbak yakin kalau itu hanya terbentur saja?”

“Iya, Sus. Saya hanya terbentur saja, kok,” ujar Julia berbohong.

Sang perawat itu mengangguk sekali lagi, lalu memberikan obat itu kepada Julia.

Sementara Yudhistira, lantas merapat ke dinding agar tidak terlihat Julia yang saat ini tengah berjalan bersama kekasihnya.

“Bajingan! Sadomasokis sialan!” desis Yudhistira dengan gemuruh di dadanya.

Kedua tangan Yudhistira mengepal dengan erat. Sangat menyayangkan kenapa Julia harus bertahan dengan kekasihnya yang memiliki kelainan semacam itu.

Yudhistira mencoba mengenyahkan perasaan tak nyamannya saat ini, namun nyaris gagal. Sejak tadi pria itu tak henti-hentinya memikirkan Julia. Melihat luka-luka yang ada di sekujur tubuhnya tadi siang, sejenak membuat pria itu kepikiran.

“Tolol banget, sih Jul. Itu namanya bunuh diri,” ujar Yudhistira bermonolog ria.

Entah bagaimana segalanya terjadi begitu saja. Yudhistira yang seharusnya menemui Arjuna saat ini, namun langkah kaki pria itu justru berkehendak lain. Dia membuntuti kepergian Julia bersama kekasihnya saat ini.

Mobil yang dikendarai Julia berhenti tepat di depan rumah Julia. Di depan sana, Yudhistira bisa melihat Julia bersama kekasihnya tengah bercengkrama di depan pagar rumahnya.

Yudhistira sengaja menghentikan laju mobilnya tak jauh dari mereka. Pria itu yakin, jika saat ini Julia mengenali mobilnya begitu perempuan itu menoleh ke arahnya.

Tepat saat kekasihnya meninggalkan Julia, Yudhistira lantas turun dari mobil dan langsung menghampiri perempuan itu.

Julia ingin sekali mengabaikannya dan langsung masuk ke dalam rumah, tetapi tangan Yudhistira sudah lebih dulu menahan tangannya.

"Pak, lepaskan tangan saya!"

"Nggak, sebelum kita bicara," ujar Yudhistira dengan cepat.

"Bapak mau bicara apa sama saya? Tapi bisa, nggak lepaskan tangan saya dulu?"

Refleks Yudhistira melepaskan cengkraman tangannya. Matanya terus memindai, seolah ingin melihat sebanyak apa luka yang didapat Julia dari Bajingan itu.

"Bapak mau bicara apa sama saya? Sudah malam, Pak. Saya capek dan segera ingin tidur."

Yudhistira menarik napas, lalu mengembuskannya perlahan. "Saya tadi nggak sengaja lihat kamu di rumah sakit."

Julia bahkan lupa jika Mahesa tengah dirawat di Wijaya Hospital. "Lalu?"

"Sadomasokis," kata Yudhistira, yang seketika membuat raut Julia berubah ketakutan.

Tentu saja Julia tahu maksud dari perkataan Yudhistira barusan. Namun...

"Bapak bicara apa, sih?"

"Saya nggak bisa tutup mata dan telinga saya, Jul. Saya melihat semuanya. Kamu bisa bilang ke saya apa yang sedang terjadi sama kamu. Dan akan lebih baik kalau kamu meninggalkan pria itu. Dia mengancam kamu? Atau dia melakukan sesuatu sampai-sampai kamu nggak bisa menolaknya?"

"Bapak siapa saya sampai-sampai mengatur hidup saya?" tembak Julia dengan cepat.

Dan Yudhistira tahu jika dia sudah kalah telak.

"Jul…"

"Saya dengan sadar memutuskan untuk jatuh cinta sama dia, Pak. Dan apapun itu, saya akan mencintai dia apa adanya."

"Cuma orang sinting saja yang memutuskan untuk jatuh cinta sama orang yang kemungkinan besar akan membunuh kamu, Jul."

Julia mendecak pelan. "Well, kalau begitu sebut saja saya orang sinting."

Yudhistira tercenung mendengar jawaban sinis Julia. Seolah belum cukup membuat pria itu terkejut dengan semua itu, Julia lagi-lagi bersuara.

"Lagipula apa urusannya hidup saya dengan Bapak? Bapak tertarik sama saya?"

Kontan, Yudhistira kehilangan kata-kata. Bahkan pria itu juga tidak tahu mengapa dia sampai melangkah sampai sejauh ini. Selama ini dia tidak sampai segila ini. Namun, saat dia melihat kondisi Julia, Yudhistira seolah ditarik paksa untuk menyelamatkannya.

Julia menghela napas panjang. "Saya tahu mana yang baik dan tidak baik untuk hidup saya, Pak. Dan Bapak sama sekali tidak memiliki hak apapun untuk mencampurinya. Tolong, Pak. Jangan sampai hubungan rekanan kerja kita jadi terganggu hanya karena sikap Bapak yang membuat saya kebingungan. Saya mau Bapak berhenti melakukan semua ini, karena saya mulai nggak nyaman!" tandas Julia dengan lugas.

Perempuan itu lantas membalikkan badan. Dia baru saja hendak melangkah meninggalkan Yudhistira saat suara pria itu kembali terdengar dan membuat Julia kehilangan kata-kata.

"Bagaimana kalau apa yang barusan kamu katakan benar? Bagaimana kalau saya memang tertarik sama kamu? Bagaimana kalau saya mau kamu meninggalkan dia, dan memilih saya?"

Julia tertegun. Dia lantas membalikkan badan untuk menghadap ke arah Yudhistira, bersamaan dengan pria itu yang melanjutkan ucapannya.

"Saya nggak akan menyakiti kamu seperti apa yang telah dia lakukan sama kamu, Jul." Yudhistira serak terdengar. "Kalau itu alasan kamu bahagia, saya akan berusaha mencari cara lain untuk menjamin kebahagiaan untuk kamu—dengan tidak membuatmu terluka.

"Dengan saya, kamu akan mendapatkan kebahagiaan itu dengan cara yang berbeda."

***

Terima kasih sudah mampir dan membaca, ya :P

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Cinta Sang CEO   Extra Part 3

    "PAPAAAAAAA…"Suara teriakan bocah yang belum genap usia dua tahun itu membuat Julia yang tadinya sibuk dengan ponselnya lantas menoleh.Perempuan itu baru saja selesai yoga. Sementara Davanka saat ini tengah bermain dengan Mbak Wina—asisten rumah tangganya yang biasa datang ke apartemen Yudhistira tiga kali seminggu."Mas? Kok udah pulang?"Yudhistira lantas merentangkan kedua tangannya begitu melihat Davanka berlari menghampirinya, lalu mencium pipinya yang gembil dan langsung menggendongnya. "Kenapa, sih? Nggak suka banget kalau aku pulang awal?"Julia terkekeh. Perempuan itu saat ini tengah mengandung delapan bulan, dan karena kondisinya yang tidak memungkinkan, Julia diizinkan oleh Mahesa untuk bekerja dari rumah alias Work From Home."Tumbenan, kan? Biasanya juga larut banget pulangnya."Yudhistira berjalan menghampiri Julia sembari mencebikkan bibir. "Nyindir, ya? Padahal cuma seminggu kali, kecuali urgent.""Masalahnya yang urgent sering banget, Mas."Yudhistira lantas duduk

  • Jerat Cinta Sang CEO   Extra Part 2

    Yudhistira sudah kehilangan kata-kata saat mendengar Julia terisak di dalam dekapannya. Bahkan suara perempuan itu terdengar menyayat hatinya."Bee…""Mas, Dede, Mas…"Tiga detik.Lima detik.Sepuluh detik."Jantungnya kembali berdetak, Dok."Dokter Wilson cepat-cepat menghampiri perawat itu, bersamaan dengan tangisan bayi itu yang memenuhi ruang persalinan.Yudhistira dan Julia dibuat takjub karenanya. Bahkan tangisan Julia tiba-tiba saja terhenti begitu mendengar tangisan bayinya."Selamat Bu Julia, ini keajaiban. Bayi Anda kembali bangun saat hampir dinyatakan meninggal."Julia kembali terisak. Tapi kali ini tangisannya bukan karena bersedih, melainkan tangisan kebahagiaan."Mas, anak kita."Pun begitu dengan Yudhistira yang tidak bisa membendung air matanya. Pria itu ikut terisak saat bayi yang usianya baru beberapa menit itu dibawa mendekati Julia.Tangisan bayi itu meraung-raung memenuhi ruang persalinan. Namun saat bayi itu diberikan Julia, tangisannya perlahan mereda. Dan saa

  • Jerat Cinta Sang CEO   Extra Part 1

    "Kayaknya di dunia ini, ibu hamil yang kurang dua minggu lagi bakalan melahirkan tapi malah ngajak ngemall cuma Mbak Julia, deh."Sementara Julia hanya terkekeh."Aku nggak tanggung jawab kalau tiba-tiba Pak Yudhistira ngambek, ya Mbak. Bisa-bisa aku disuruh bikin laporan secara tertulis sama dia nanti," ujar Divya sembari bersungut-sungut."Nggak akan, Div. Kamu santai aja, dong. Aku udah izin sama dia juga, kok. Habisan aku bosen di rumah terus."Dua minggu lagi menurut perhitungannya, Julia memang akan melahirkan. Kemarin baru saja perempuan itu mengambil cuti. Dan hari ini, dia mengajak Divya jalan-jalan untuk menikmati sisa harinya sebelum mengurus bayi nanti.Tidak ada siapapun yang dikenal Julia secara dekat selain Divya. Setelah kelulusannya dengan perut yang juga membola lantaran perempuan itu hamil empat bulan, Julia mengajak Divya pergi ke salah satu mall terdekat."Mbak mau belanja apa emangnya?""Nggak ada, sih. Cuma mumpung masih bisa ngemall aja sih, Div. Nanti kalau De

  • Jerat Cinta Sang CEO   The Last Destiny

    "Mbak Julia, aku lagi galau, nih."Julia yang tadinya sibuk mengecek laporan, lantas mengangkat wajahnya lalu menatap Divya yang sejak tadi wajahnya ditekuk."Galau kenapa, Div?" tanya Julia dengan tenang.Sudah dua minggu lebih semenjak Julia pulang dari honeymoon, Julia dan Yudhistira sudah kembali ke rutinitas seperti biasanya. Menghabiskan hampir separuh waktunya di kantor, alih-alih menghabiskan waktunya bersama seperti sepasang suami istri."Kemarin tiba-tiba Pak Bayu membatalkan ajakan nontonnya. Dia yang ngajak, dia udah beli tiket, akunya udah beli dress cantik, eh, tiba-tiba dia bilang nggak bisa karena ada urusan mendadak!” ujar Divya sembari bersungut-sungut."Pak Bayu nggak bilang urusannya apa?"Divya merengut sembari menggeleng. "Nggak, Mbak. Dan aku nggak mau tanya, deh. Males banget kayak aku yang butuh aja! Emang sejak awal dia tuh, nyebelin ya!"Julia terkekeh. Cara bicara Divya itu memang menggemaskan sekali. Wajar jika suaminya seringkali menggodanya—dalam arti ha

  • Jerat Cinta Sang CEO   BAB 81

    Penangkaran Buaya Diamond GroupBayusuta Bimantara: Ehm, yang lagi honeymoon kenapa nggak ada suaranya, ya? @Julia jangan digarap terus, Nyet! Napas dulu kek, itu kaki apa nggak tremor! @YudhistiraArjuna Wisesa: Syirik amat lo, Bay. Kalau pengen buruan jajan sana!Bayusuta Bimantara: Bosen gue jajan mulu, J. Pengen tobat gue. Menurut lo gimana?Senandika Antasena: Gue sih nggak yakin, Bay. Kecuali kalau Samantha jatuh cinta sama Buaya!Bayusuta Bimantara: Sialan! Kenapa jadi bawa-bawa Samantha, sih?Arjuna Wisesa: Gue jadi penasaran kenapa lo secemen ini sama Samantha, sih Bay? Inget umur udah uzur. Buruan kawin lo!Senandika Antasena: Kawinnya udah, J. Nikahnya yang belum. Lagian sampai lebaran monyet Samantha nggak bakalan ngelirik doi kali. Yang ditaksir Samantha bukan si Buaya ini. Atau jangan-jangan dia ngiranya lo homo kali, Bay?Arjuna Wisesa: Bisa jadi performanya menurun, Man. Tahannya lima menit doang.Bayusuta Bimantara: Bangsat! Nggak kira-kira lo ngatain gue homo. Sorry

  • Jerat Cinta Sang CEO   BAB 80

    JULIA menggeliat di atas tempat tidurnya. Matanya mengerjap menatap langit-langit kamarnya pagi itu. Samar-samar suara kicauan burung terdengar dari luar kamarnya. Aroma wangi dupa khas Bali dan hawa sejuk yang menyelinap masuk, membuat perempuan itu kembali menaikkan selimutnya tinggi-tinggi demi menghalau rasa dingin.Julia lantas menolehkan wajahnya ke samping, dan mendapati suaminya masih terlelap dalam tidurnya. Dia memiringkan badannya agar bisa menatap Yudhistira dengan leluasa bersamaan dengan rasa nyeri pada pangkal pahanya.Julia tersenyum masam. Perempuan itu baru tahu jika hanya dengan menatap tubuhnya yang telanjang bulat, suaminya akan berubah menjadi liar dan maniak. Bahkan dia tidak menyangka jika Yudhistira akan memborgolnya di tiang ranjang, sementara pria itu mencumbuinya dengan membabi buta.“Mas…” desah perempuan itu leher.Satu kakinya diangkat ke atas, sementara kedua tangannya berada di atas tiang ranjang tidurnya dengan posisi tangannya diborgol. Tubuh perempu

  • Jerat Cinta Sang CEO   BAB 56

    JULIA mendudukkan dirinya di salah satu sudut kafe yang ada di bilangan Jakarta. Pikirannya berkecamuk, suara Lalisa dan Yudhistira kemarin-kemarin kini terngiang di kepalanya.Ada saat di mana Julia menganggap bahwa Yudhistira benar-benar sudah tidak menganggap Lalisa ada—hanya sebagai mantannya, ta

  • Jerat Cinta Sang CEO   BAB 54

    YUDHISTIRA menghela napas panjang. Di tengah kemacetan yang kini mengular di hadapannya, sesekali pria itu melirik ke samping. Ada sebuah buket bunga yang sengaja disiapkannya untuk sang ibu.[Bee ❤: Mas, lagi di mana? Kok nggak ada kabar sejak semalam?]Yudhistira menerbitkan senyuman. Pria itu lanta

  • Jerat Cinta Sang CEO   BAB 53

    Julia menghela napas panjang. Tatapannya nanar ke depan, menatap pemandangan kota Jakarta yang terlihat indah, tapi tidak dengan pikirannya yang terlihat kacau.Saat perempuan itu tenggelam oleh pikirannya, ponselnya berdering. Julia merogoh saku celananya, lalu cepat-cepat perempuan itu mengangkat p

  • Jerat Cinta Sang CEO   BAB 52

    "Mbak Julia, udah sehat beneran, kan? Sakit apa, sih Mbak?""Sakit hati, Ray."Rayya mencebikkan bibirnya. Lalu memutar matanya seperti yang selalu dilakukannya. "Kan udah ada penawarnya. Gosip di kantor, mah nggak usah diambil ati kali, Mbak. Netizen mah diiyain juga mingkem, kok.""Iya, Ray. Saya mah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status