เข้าสู่ระบบ
Alex berjalan cepat memasuki ruangannya. Asisten pribadinya, Theo, mengikuti langkahnya dengan tergesa di belakang. Begitu sampai di ruangan Alex menghempaskan tubuh ke kursi kebesarannya.
“Apa penyebabnya?” Suara bariton Alex terdengar. “Kecurangan yang dilakukan orang dalam, Tuan. Ada selisih data yang besar di laporan yang mereka sampaikan. Tim audit baru saja memastikannya.” “Kurang ajar!” Ucap Alex. Rahangnya mengeras. Matanya tampak mengkilap, memancarkan kemarahannya yang begitu besar. Tangan Alex yang tadi memegang dagu kini mengepal kuat. Siapapun bisa melihat kalau pemilik sekaligus pemimpin Lexaya Group itu sedang marah. “Seberapa besar kerugian perusahaan?” Tambahnya. “Untuk saat ini tim audit melaporkan angka selisih sebesar satu setengah milyar rupiah.” Jawab asistennya cepat. “Namun mereka masih terus melakukan pengecekan untuk memastikan jumlah pastinya.” Satu setengah milyar? Dahi Alex berkerut heran. Bukan soal nominalnya. Alex bisa memastikan kalau perusahaannya tidak akan goyah hanya karena seseorang yang dia beri pekerjaan selama ini mengambil uang dengan nominal tersebut tanpa sepengetahuannya dari perusahaan. Justru dia heran, siapa orang bodoh yang melakukan penggelapan dana hanya dengan nominal yang sedikit itu? Perusahaan miliknya selama ini memberikan fasilitas pinjaman kepada karyawan yang membutuhkan. Hal ini dilakukan Alex untuk membantu karyawan yang terdesak dan mengurangi resiko kecurangan di perusahaan. Bahkan bagi karyawan yang memenuhi kriteria, jumlah pinjaman yang diberikan bisa mencapai milyaran dan sistem pengembaliannya dilakukan dengan cara pemotongan gaji setiap bulannya. Jadi kenapa harus melakukan penggelapan kalau hanya dengan nominal segitu? “Terus pantau perkembangannya.” Alex menatap asistennya tajam. “Dan kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan?” Theo hanya mengangguk. Menandakan dia mengerti apa maksud atasannya. “Pergilah!” Alex meminta asistennya untuk meninggalkannya. “Aku mau besok sudah diketahui siapa pelakunya dan berapa jumlah pastinya.” “Baik. Saya permisi, Tuan.” Theo undur diri. Saat akan mencapai pintu, suara Alex terdengar kembali menahan langkah Theo. “Minta Raya kesini. Sekarang!” “Baik, Tuan.” Theo melangkah keluar, meninggalkan Alex yang masih duduk dengan pikiran kusutnya. Tok tok tok. Ketukan di pintu tidak dihiraukan oleh Alex. Dia tahu siapa orang yang sedang menunggu jawaban dari balik pintu tersebut, namun dia enggan menjawab. Karena sebentar lagi bisa dipastikan kalau orang itu akan melakukan tugasnya dengan baik. “Permisi, Tuan. Anda memanggil saya?” Kepala seorang wanita menyembul dari balik pintu ruangan Alex yang terbuka sedikit. Alex yang sejak tadi duduk menatap jendela dengan posisi membelakangi pintu memutar kembali kursinya. “Masuklah!” Alex menatap sekretarisnya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Kemeja putih yang warnanya mulai usang berlengan panjang yang longgar. Rok hitam yang panjangnya sampai ke betis. Dan jangan lupakan flat shoes hitam yang juga sudah usang tampak semakin memperburuk penampilan Raya. Oh, belum lagi kacamata minus dengan bingkai bulat yang hampir melingkari setengah wajahnya. Dengan rambut yang selalu dikuncir kuda dengan poni selamat datang menghiasi wajahnya yang hampir tidak pernah tersenyum. Kalau melihat penampilan Raya yang seperti ini, sebenarnya gadis ini sama sekali tidak cocok untuk jabatannya sebagai sekretaris dari pemimpin Lexaya Group. Bukan hanya Lexaya, dia bahkan tidak cocok untuk menjadi sekretaris pemimpin perusahaan manapun. Tapi bukannya merasa keberatan dengan penampilan Raya, Alex justru menyeringai puas. Dia senang karena Raya tidak berpenampilan seperti wanita-wanita yang pernah menjadi sekretaris pria itu sebelumnya. Yang lebih banyak mengumbar apa yang ada dibalik pakaian mereka ketimbang menunjukkan keenceran otak dan kecekatan mereka dalam bekerja. Raya yang masih berdiri di tempatnya hanya bisa menghirup nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Sebenarnya dia jengah dengan tatapan bosnya yang selalu menilai penampilannya dan mengejek sekaligus. Ingin rasanya dia mendamprat pria yang sedang duduk dengan angkuh sambil terang-terangan menatapnya dari atas ke bawah, tapi dia sadar hidupnya bergantung pada pekerjaan yang diberikan pria ini. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” “Kemarilah!” Perintah Alex, meminta sekretarisnya untuk mendekat. Raya perlahan berjalan mendekat ke samping Alex. Dia berhenti ketika dirasa jarak mereka masih cukup aman. Meskipun tak sepenuhnya dekat, Alex masih bisa mencium samar aroma vanila dari parfum murah yang digunakan Raya. “Kamu tahu siapa yang menjadi pemimpin cabang Lexaya di Bali, bukan?” Alex kembali fokus pada tujuannya memanggil gadis ini. “Tentu, Tuan. Pak Bagaskara yang Anda tunjuk untuk memimpin cabang Lexaya disana.” “Dan kamu tahu sedang ada masalah apa di cabang sana?” Raya menggeleng. Selama ini dia sangat membatasi pergaulannya di kantor. Dia bahkan tidak memiliki satu teman pun di tempat kerjanya ini. Hal itu tentu saja membuat Raya tidak pernah mengikuti desas-desus atau pembicaraan yang sedang hangat seputar kantor. Datang pagi hari, fokus bekerja, istirahat siang dihabiskan tetap di mejanya dengan memakan bekal yang dibawa dari rumah, lalu kembali bekerja hingga waktu pulang tiba. Selalu memilih pulang tepat waktu—kecuali bosnya ini meminta Raya untuk lembur tentunya. Hanya itu rutinitas Raya setiap hari. Melihat Raya yang hanya diam Alex akhirnya berkata. “Dia menggelapkan uang perusahaan.” Meskipun Theo belum mengatakan siapa pelaku pastinya, insting Alex sangat kuat untuk menebak. Dan saat ini dia hanya ingin mengetahui reaksi sekretarisnya ini. “Kerugian perusahaan saat ini ditaksir sekitar satu setengah miliar. Apa kau tahu itu?” Tambahnya. Alex menatap Raya tajam. Kalimatnya penuh penekanan. Bukan tanpa sebab dia memberitahu sekretarisnya ini. Kalimat-kalimat yang baru saja dilontarkan Alex membuat mata Raya membulat. Rasa terkejut tercetak jelas di wajahnya. Dia sama sekali tidak mengetahui berita ini sebelumnya. Bahkan sudah seminggu dia tidak berkomunikasi dengan Bagaskara. “Kehilangan yang dialami perusahaan memang tidak terlalu besar, tapi melihat gayamu yang biasa-biasa saja sepertinya uang itu tidak mengalir padamu. Apa dia punya simpanan lain?” Belum hilang rasa terkejut Raya setelah mendapat informasi yang baru saja didengarnya, kalimat Alex barusan seolah menghantamnya. Apa maksud atasannya ini berkata seperti itu padanya? Raya tidak menyangka kalau Alex menganggap dirinya rendah selama ini. Dia memang sangat dekat dengan Bagaskara, bahkan kedekatan mereka sudah dimulai sejak mereka masih menjadi mahasiswa. Raya, Alex dan Bagaskara adalah teman satu angkatan di perguruan tinggi. Hanya saja dibandingkan dengan Alex, kedekatan Raya dengan Bagas jauh lebih akrab. Bahkan Alex tampak seperti membencinya sejak dulu. “Saya sama sekali tidak mengerti apa yang Tuan katakan.” Jawab Raya akhirnya. Alex berdecak. Dia tahu Raya selalu menghindari berkonfrontasi dengannya. Bahkan Raya benar-benar tidak pernah mau berbicara selain soal urusan pekerjaan dengannya. Sikapnya selalu formal, seolah-olah mereka bukan kenalan lama. Tapi dengan Bagas, setiap kali pria itu datang kesini, Alex bisa melihat bagaimana lepasnya interaksi di antara mereka. Raya tidak pernah canggung dengan Bagas, bahkan beberapa kali dia mendapati sekretarisnya ini tertawa lepas dengan canda recehan Bagas. “Bagian mana yang kamu tidak mengerti Raya? Bagas melakukan penggelapan atau pria itu memiliki wanita lain?” Tanya Alex lagi. “Bukankah semua ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan saya, Tuan?” “Kata siapa?” Alex menatap kembali wajah Raya yang selalu datar saat sedang berinteraksi dengannya. Dan Alex bersumpah, seandainya dia bukan Raya, Alex pasti sudah memecatnya sejak lama. Bagaimana bisa seorang bawahan memandang bosnya dengan tatapan ketus dan datar seperti itu? “Karena kalau ada satu bukti saja yang mengarah ke kamu, maka sama seperti Bagas, kamu juga akan diproses hukum.” Wajah Raya menegang. Tubuhnya mendadak kaku. Jantungnya berdetak cepat. Dia tahu betul kalau Alexander Anthony tidak pernah main-main dengan ucapannya. Melihat perubahan Raya, Alex tersenyum puas. “Aku harap kamu mempersiapkan dirimu dari sekarang, Raya. Dan pastikan kamu bisa memberikan alasan-alasan yang masuk akal nantinya.” Ucap Alex. Raya masih diam. Dia masih berusaha mencerna satu-persatu informasi yang baru saja menghantamnya. “Apa aku hanya radio rusak disini, Raya?” Alex sedikit meninggikan suaranya. Raya terperanjat. “Ah, tidak. Maafkan saya, Tuan. Ini semua terlalu mengejutkan saya.” Raya berusaha mengembalikan sikap formalnya. Alex mengangguk. “Justru akan lebih aneh kalau kamu tidak terkejut.” “Apa ada hal lainnya yang ingin Anda sampaikan, Tuan?” Kali ini Alex menggeleng. “Tidak. Pergilah!” “Saya permisi, Tuan.” Raya membalikkan badan. Melangkah tergesa menuju mejanya. Saat ini dia sedang membutuhkan lebih banyak oksigen untuk dihirup sepertinya. Dibalik mejanya Raya masih berusaha menenangkan diri. Tapi tetap saja, seberapa keras pun usahanya untuk tenang, rasa cemas selalu menyelimutinya. Semua perkataan bosnya tadi kembali terngiang. Bagas terkena kasus penggelapan dana perusahaan dan Alex sudah pasti akan mengusut tuntas kasus ini. Sudah beberapa hari ini Bagas tidak pernah menghubunginya dan itu semakin menambah rasa khawatir Raya. Bagaimanapun, Bagas adalah satu-satunya teman yang dia miliki. Hanya Bagas orang yang mengetahui segala sisi tentang hidupnya dan tetap bersedia berteman dengannya. Dan hanya pria itu orang yang selalu membantunya setiap bulan. Mengingat Bagas yang selalu royal dalam membantunya, tubuh Raya menegang seketika. Apa uang yang rutin pria itu transfer ke rekeningnya setiap bulan selama setahun belakangan ada kaitannya dengan kasus ini? Jika benar, matilah dia. Raya menggigit ujung pena yang sedang dipegangnya. Untung saja semua pekerjaan untuk hari ini sudah selesai, dia jadi bebas menggalau saat ini. Rasa takut dan cemas menyerangnya saat teringat semua uang yang pernah Bagas transfer padanya. Dan mengingat semua ucapan bosnya tadi, tubuh Raya menggigil seketika. Alexander Anthony tidak pernah main-main dengan semua ucapannya. Raya tahu pasti itu. Dan kalau dia sampai terseret di kasus ini, maka tamat riwayatnya. Pria itu tidak akan melepaskannya begitu saja. Raya menjatuhkan kepalanya ke atas meja. Bayangan dirinya di masa depan menggunakan rompi berwarna orange sudah menari-nari di pelupuk mata. Dan terlepas dari itu, membayangkan dia akan kehilangan satu-satunya orang yang saat ini menggantungkan hidup dari hasil kerja kerasnya dan uluran tangan Bagaskara terasa menyesakkan. Air mata Raya turun tanpa diminta. Rasa takut kehilangan seseorang menghantuinya jauh lebih besar daripada rasa takutnya mendekam di balik jeruji besi. Kepala Raya mendadak pusing. Tanpa sadar gadis itu jatuh tertidur. Sementara itu di dalam ruangannya Alex tengah memperhatikan layar kecil yang memperlihatkan seluruh sisi dari lantai dimana ruangannya berada. Matanya sejak tadi fokus menatap layar yang kini tengah menunjukkan meja kerja sekretarisnya. Semua gerakan Raya terekam jelas. Wajahnya semula tampak berpikir keras, matanya yang tiba-tiba melebar, wajahnya yang berubah panik hingga gadis itu menangis tanpa aba-aba, bahkan kini gadis itu justru tertidur. Semua ekspresi dan gerakan itu tak luput dari penglihatan Alex. “Ciihh.” Alex berdecih. Gadis itu mengatakan tidak tahu apapun padanya tadi. Tapi wajahnya terlihat sangat ketakutan. Belum lagi tangisannya barusan. Mungkin dia sedang menangisi nasib pacarnya yang sebentar lagi akan mendekam di balik jeruji besi. Setelah puas mengamati sekretarisnya yang sekarang justru tertidur, Alex menyambar jas yang sedak tadi tersampir di kursi. Sebelum keluar ruangan Alex meminta office boy untuk mematikan seluruh lampu di lantainya, kemudian turun ke bawah untuk meninggalkan gedung kantornya. Seringai kepuasan kembali tercetak jelas di wajahnya saat membayangkan Raya akan terbangun dalam keadaan gelap gulita.Tepat jam makan siang rapat yang dilakukan bersama para pemegang saham akhirnya selesai. Di dalam ruangan Alex, Raya sudah mempersiapkan makan siang untuk atasannya itu sesuai dengan apa yang dia pesan sebelumnya.“Siang, Tuan. Semua sudah tersedia sesuai dengan yang Anda pesan.” Raya melapor pada Alex saat pria itu melewati meja kerjanya untuk masuk ke dalam ruang kerjanya.“Bagus. Apa Theo belum ada kabar juga?” Tanya Alex serius.Ketegangan yang terjadi di ruang rapat membuat Alex enggan menguji mental sekretaris cupunya.“Baru saja tiba, Tuan. Dia sudah menunggu Anda di dalam.”Tanpa menjawab apapun Alex berjalan cepat menuju ruangan. Bahkan pria itu menutup pintu dengan setengah membanting saking sudah tidak sabarnya untuk mendengar berita yang akan disampaikan oleh asistennya itu. Raya yang masih berdiri di tempatnya hanya bisa mengelus dada.“Jadi, informasi apa yang kau bawa padaku Theo?”“Maaf atas keterlambatan saya, Tuan. Ini semua data yang An
Alex meneguk kembali minuman beralkohol di tangannya. Entah sudah gelas keberapa yang dihabiskannya, tapi sama sekali belum mampu menghilangkan kesadaran pria itu. Hingar bingar musik yang berdentum pun tidak membuatnya merasa pusing, seolah kondisi seperti ini adalah hal yang biasa baginya.Di samping kanannya, seorang wanita yang berpakaian kurang bahan bergelayut manja sambil mengelus dadanya yang entah sejak kapan terbuka. Dua kancing teratas kemejanya sudah terlepas. Sementara di sebelah kirinya, seorang wanita dengan pakaian yang tak kalah minim tengah menciumi telinga Alex sambil tangannya meraba paha pria itu.Alex kembali meneguk minumannya. Di seberangnya, Reynald, teman yang datang bersamanya ke klub ini sudah asyik bercumbu dengan seorang wanita yang Alex yakini baru ditemui pria malam ini. Alex menggelengkan kepala melihat Reynald yang sudah tenggelam dalam pusaran gairah dengan gadis yang baru saja ditemuinya.“Kamu nggak ingin seperti mereka, beib?” Wanita
Raya mengerjapkan mata perlahan. Kesadarannya belum sepenuhnya kembali. Suasana yang gelap membuatnya kesulitan untuk menyesuaikan penglihatan. Tangannya meraba-raba untuk mencari keberadaan ponsel. Saat tak juga menemukan benda pipih itu Raya menegakkan tubuhnya, memaksa kesadarannya untuk segera pulih. Suara getaran menjadi petunjuk baginya untuk menemukan keberadaan ponselnya. Tapi belum sempat Raya menerimanya, panggilan itu sudah lebih dulu mati. Raya mengerang saat melihat jam yang menunjukkan hampir pukul setengah sembilan malam. Kedua tangannya memukul pelan kepala, merutuki kecerobohannya. Seingatnya, tadi sebelum tidur dia baru keluar dari ruangan atasannya. Astaga! Apa bosnya sudah pulang? Kalau melihat situasi kantor yang sudah gelap dan sepi, pastilah bosnya itu sudah tidak berada di ruangannya. Apa bosnya itu melihatnya tertidur? Berapa lama dia tertidur? Kenapa bosnya tidak membangunkannya? Tega sekali pria itu. Dan apa petugas yang menjaga gedung ha
Alex berjalan cepat memasuki ruangannya. Asisten pribadinya, Theo, mengikuti langkahnya dengan tergesa di belakang. Begitu sampai di ruangan Alex menghempaskan tubuh ke kursi kebesarannya. “Apa penyebabnya?” Suara bariton Alex terdengar. “Kecurangan yang dilakukan orang dalam, Tuan. Ada selisih data yang besar di laporan yang mereka sampaikan. Tim audit baru saja memastikannya.” “Kurang ajar!” Ucap Alex. Rahangnya mengeras. Matanya tampak mengkilap, memancarkan kemarahannya yang begitu besar. Tangan Alex yang tadi memegang dagu kini mengepal kuat. Siapapun bisa melihat kalau pemilik sekaligus pemimpin Lexaya Group itu sedang marah. “Seberapa besar kerugian perusahaan?” Tambahnya. “Untuk saat ini tim audit melaporkan angka selisih sebesar satu setengah milyar rupiah.” Jawab asistennya cepat. “Namun mereka masih terus melakukan pengecekan untuk memastikan jumlah pastinya.” Satu setengah milyar? Dahi Alex berkerut heran. Bukan soal nominalnya. Alex bisa memastikan kalau per







