MasukTepat jam makan siang rapat yang dilakukan bersama para pemegang saham akhirnya selesai. Di dalam ruangan Alex, Raya sudah mempersiapkan makan siang untuk atasannya itu sesuai dengan apa yang dia pesan sebelumnya.
“Siang, Tuan. Semua sudah tersedia sesuai dengan yang Anda pesan.” Raya melapor pada Alex saat pria itu melewati meja kerjanya untuk masuk ke dalam ruang kerjanya. “Bagus. Apa Theo belum ada kabar juga?” Tanya Alex serius. Ketegangan yang terjadi di ruang rapat membuat Alex enggan menguji mental sekretaris cupunya. “Baru saja tiba, Tuan. Dia sudah menunggu Anda di dalam.” Tanpa menjawab apapun Alex berjalan cepat menuju ruangan. Bahkan pria itu menutup pintu dengan setengah membanting saking sudah tidak sabarnya untuk mendengar berita yang akan disampaikan oleh asistennya itu. Raya yang masih berdiri di tempatnya hanya bisa mengelus dada. “Jadi, informasi apa yang kau bawa padaku Theo?” “Maaf atas keterlambatan saya, Tuan. Ini semua data yang Anda minta.” Theo menyerahkan setumpuk dokumen kepada Alex. “Disana sudah tertera seluruh total kerugian berdasarkan investigasi tim audit. Aliran dananya dan beberapa bukti transfer juga sudah saya lampirkan seluruhnya.” Terang Theo. Alex sama sekali belum berminat membuka dokumen yang baru saja diberikan Theo kepadanya. Diletakkannya dokumen itu di meja. “Aku tidak tahu siapa yang membocorkan masalah ini keluar, beberapa investor sudah mengetahui berita ini. Meskipun masalah yang ada tidak terlalu mengkhawatirkan bagi kita semua, tetap saja kredibilitas kita dipertanyakan. Setidaknya mereka menyayangkan tindakan kita yang mempekerjakan orang seperti itu. Padahal mana kita tahu kalau dia akan berbuat seperti itu.” Alex berbicara panjang lebar. Dia kesal juga dengan beberapa investor yang meragukan karyawannya saat rapat tadi. Padahal itu juga bukan salahnya. Siapapun tidak akan bisa langsung menilai apakah karyawan yang diterima di perusahaannya akan melakukan penyelewengan atau tidak. Karena terkadang kejahatan dilakukan bukan karena niat, tapi karena adanya kesempatan. “Temani aku makan, Theo!” Perintah Alex sambil menunjuk hidangan yang sudah dipersiapkan Raya. “Jadi, berapa orang pelakunya?” Alex bertanya di sela-sela makan siang mereka. “Sesuai dugaan awal, Tuan, hanya satu dan tepat seperti yang Anda perkirakan.” “Sejak kapan?” “Dua setengah tahun terakhir, Tuan.” “Kemana saja aliran dananya? Apa ada transferan kepada sesama karyawan?” Sepertinya Alex lebih senang mengetahui isi lembaran-lembaran kertas yang tadi diserahkan oleh Theo secara langsung dari mulut asistennya itu daripada membacanya. “Ada, Tuan. Dan saya yakin Anda pasti tidak akan menyangka.” “Siapa?” “Naraya Levronka.” Alex mengangguk. Tepat seperti yang dia duga. “Bagas rutin mengirimi uang setiap bulan kepadanya selama setahun kebelakang.” Tambah Theo lagi. “Berapa nominalnya?” “Total dana yang digelapkan seluruhnya mencapai tiga miliar, Tuan.” Alex menggeleng. “Bukan. Bukan itu yang aku mau dengar. Tapi, berapa nominal yang pria itu kirim kepada Raya setiap bulannya.” “Maaf, Tuan. Berdasarkan riwayat transfer yang dilakukan, Bagas mengirimi Raya uang sebesar lima puluh hingga dua ratus juta setiap bulan.” “Lalu, kemana sisanya?” “Pembelian aset yang baru-baru ini dia lakukan bisa menjadi jawabannya, Tuan. Apa, dimana dan berapa semua sudah terlampir di dalam dokumen itu.” Alex mengangguk. Senyum menyeringai terpasang jelas di wajahnya. Dia sama sekali tidak menyangka teman kuliahnya akan bertindak sebodoh itu. “Kalau Naraya? Apa ada jejak aliran uang itu?” “Saya sudah mencari tahu tentang Raya tapi tidak ada jejak apapun yang saya temukan, Tuan. Uang yang ditransfer Bagas padanya langsung ditarik pada hari yang sama berdasarkan riwayat penarikan dari rekeningnya. Saldonya selalu kosong. Begitu pula dengan gaji yang selalu dia terima.” Terang Theo. “Saya juga sudah mengecek, tidak ada satupun aset tercatat atas nama gadis itu. Bahkan dia hanya tinggal disebuah kamar kost yang jauh dari kata mewah.” Tambahnya. “Kendaraan?” Alex meringis mendengar pertanyaannya sendiri. Dia tahu pasti kalau gadis yang menerima dana hasil penggelapan dari Bagas itu selalu menaiki angkutan umum kemanapun dia pergi. “Namanya tidak tercatat di buku kepemilikan kendaraan manapun.” Pemaparan Theo membuat Alex mengerutkan dahi. Saldo selalu kosong. Tinggal di kamar kost, tidak memiliki aset dan kendaraan. Kemana semua perginya uang gadis itu. “Keluarganya? Kamu sudah menyelidiki mereka?” Theo mengangguk. “Raya merupakan anak yatim piatu sejak dia masih anak-anak. Orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Sejak itu dia hidup berdua bersama sang kakak yang juga sudah meninggal lima tahun lalu.” Alex tertegun, sama sekali tidak menyangka dengan semua yang baru saja didengarnya. Pantas saja gadis itu tampak selalu tertutup dan cenderung menghindari berinteraksi dengan orang lain, sepelik itu ternyata hidupnya. Rasa iba tiba-tiba muncul di hati Alex pada sekretaris cupunya itu. “Tuan…” Theo mencoba mengembalikan fokus atasannya itu. “Tindakan apa yang sudah kau lakukan?” Alex berusaha kembali bersikap biasa saja. Alex menggeleng. “Belum ada. Tapi aku sudah mengamankan Bagaskara agar dia tidak bisa kabur. Selebihnya aku menunggu arahan Tuan.” Alex tersenyum lebar. Merasa puas dengan kerja asistennya. “Lakukan seperti biasa, Theo. Ambil alih semua aset miliknya, miskinkan dia.” “Baik, Tuan.” Alex tidak akan memberi ampun bagi siapapun yang sudah melakukan kecurangan di perusahaannya. Melaporkan Bagaskara pada pihak yang berwajib tentu saja tidak akan Alex lakukan. Menjebloskannya ke penjara merupakan hukuman yang sangat ringan bagi pria itu. Dan Alex tidak mau itu. Dia lebih senang menghukum sendiri siapapun yang berani menantangnya, meskipun tindakannya selalu diwakilkan oleh anak buahnya. “Untuk Naraya, aku sendiri yang akan memberinya pelajaran. Aku tidak mau siapapun tahu kalau ada aliran dana yang masuk padanya.” “Baik, Tuan.” “Satu lagi, Theo.” Alex menatap Theo tajam. “Aku mau kau cari tahu kehidupan gadis itu. Siapa temannya, orang-orang yang sering berkomunikasi dengannya atau bahkan kegiatannya full selama dua puluh empat jam. Aku harus memberikan hukuman yang pantas juga untuknya, bukan?” Theo mengangguk. Meski dia sedikit heran dengan tingkah atasannya, namun mulutnya tetap bungkam. Sepanjang yang Theo tahu selama dia bekerja dengan Alex, pria itu sangat jarang mau turun tangan terhadap hal-hal seperti ini. Bagian menghukum atau menangani sesuatu biasanya langsung pria itu serahkan pada orang-orang suruhannya. “Ada lagi yang Anda ingin saya lakukan, Tuan?” Alex menggeleng. “Tidak. Pergilah! Tapi aku mau informasi tentang gadis cupu itu secepatnya. Aku sudah tidak sabar ingin menghukumnya.” “Baik, Tuan. Besok pagi saya pastikan Anda sudah menerima informasi yang Anda butuhkan. Kalau begitu saya permisi, Tuan.” Alex mengangguk-angguk, melepas kepergian Theo. Sepeninggal Theo, Alex menumpukan kepala di atas kedua tangannya yang bersandar di meja. Kilasan ucapan-ucapan Theo tadi terulang kembali dalam ingatannya. Dugaannya benar. Gadis itu sedikit banyak terlibat. Alex membuka lembaran-lembaran dokumen yang diserahkan Theo. Tujuannya hanya satu, meneliti jumlah nominal yang sekretaris cupunya itu terima dari pacarnya setiap bulan. Dahi Alex berkerut saat melihat jumlah nominal yang tertera. Jumlah yang diterima Raya lumayan besar setiap bulannya meskipun pria itu baru melakukannya dalam waktu setahun terakhir. Dengan uang segitu bukankah Raya dapat berpenampilan yang jauh lebih baik dari sekarang? Bukankah uang segitu cukup untuk membeli beberapa helai pakaian kerja yang baru sehingga gadis itu tidak selalu memakai pakaian yang sama sebanyak dua kali dalam seminggu? Jangan tanya Alex tahu darimana, siapapun di kantor ini tahu kebiasaan berpakaian sekretaris cupunya itu saat di kantor. Sekali lagi Alex meneliti dokumen di tangannya. Saldo rekening Raya memang kosong persis seperti yang dijelaskan Theo sebelumnya. Kemana semua larinya uang yang diterima oleh gadis itu sebenarnya? Padahal dia sama sekali tidak memiliki properti ataupun kendaraan atas namanya. Apa mungkin dia menyimpannya dalam bentuk saham atau aset digital seperti kripto? Ah, atau mungkin saja dia menggunakan uangnya untuk membeli emas agar tidak terlalu mencolok. Senyum menyeringai tercetak jelas di wajah tampan Alex. Kalau pikiran terakhirnya benar, betapa pintarnya si cupu itu selama ini dalam mengelabui semua orang. Terutama dirinya. Dan kalau sampai pemikirannya benar, dia tidak akan segan-segan memberi Raya hukuman yang tidak akan bisa dilupakan gadis itu. Alex menyalakan monitor kecil di sudut mejanya. Tangannya langsung sigap memilih kamera dua pada layar. Dari kamera dua, keadaan di pintu masuk ruangan Alex tampak dengan jelas, termasuk meja kerja Raya yang berada tak jauh di sisi kanan pintu. Alex bisa melihat Raya yang tampak fokus pada berkas dihadapannya. Sesekali gadis itu mengangkat kepala melihat layar monitor komputer sebelum kembali fokus pada berkas. Alex memperhatikan Raya dengan seksama. Alex tahu, di balik penampilannya yang “nggak banget” sebagai seorang sekretaris, Raya sebenarnya cukup kompeten dalam pekerjaannya. Dan Alex juga tidak akan lupa, meskipun penampilan Raya sangat cupu saat ini, di masa kuliah Raya merupakan salah satu gadis terfavorit dan tercantik di kampus. Penampilannya sederhana, tetap saja tidak dapat menutupi kecantikannya saat itu. Bahkan dulu banyak pria yang berusaha mendekati Raya tapi selalu ditolak oleh gadis itu. Termasuk Alex. Tapi dia tidak pernah ditolak, karena dia sendiri tidak pernah menyatakan perasaan pada Raya yang saat itu terlihat benci padanya dan selalu menghindarinya. Setelah lulus kuliah mereka tidak pernah bertemu. Sampai Bagaskara datang meminta tolong padanya dua setengah tahun yang lalu untuk menerima Raya bekerja di perusahaannya. Dan tentu saja dia tidak menolak. Bahkan dia sengaja menjadikan Raya sekretarisnya—padahal saat itu posisi itu diisi oleh Theo, agar bisa berdekatan dengan gadis itu. Dan saat mereka bertemu kembali, alangkah terkejutnya Alex melihat penampilan Raya yang sekarang. Meskipun kecantikan gadis itu tetap terpancar—bahkan meningkat seiring pertambahan usia mereka, namun tersembunyi di balik penampilannya yang jauh dari kata modis. Jangankan modis, penampilannya sangat tidak good looking bahkan terkesan cupu. Tapi penampilan Raya yang seperti itu cukup memuaskan bagi Alex. Setidaknya tidak akan banyak mata pria yang tertuju pada gadis itu. Setelah diterima bekerja olehnya, Alex mengira Raya akan bersikap baik padanya. Sebagai kenalan lama setidaknya Alex berharap mereka bisa berbincang walaupun hanya sekedar berbasa-basi. Namun harapan tak sesuai dengan kenyataan. Entah apa yang membuat Raya sangat membencinya, gadis itu bersikap seolah-olah mereka tidak saling mengenal. Bahkan Raya tidak akan berbicara dengannya di luar konteks pekerjaan. Gadis itu bersikap sangat profesional. Mengingat sikap Raya yang sangat menjaga jarak padanya, emosi Alex sedikit meningkat. Diangkatnya gagang telepon dan melakukan sambungan ke meja Raya. “Ke ruangan saya sekarang!” Tekannya. Mungkin sudah saatnya dia bermain-main dengan si cupu yang terlihat membencinya itu. Sekarang dia akan menunjukkan pada Raya kalau dirinya, Alexander Anthony lah yang memegang kendali. Bukan gadis cupu yang berpenampilan seperti kutu buku itu.Alex duduk di balkon penthouse miliknya. Di tangannya tab miliknya sedang terbuka, menampilkan email yang baru saja dia terima dari Theo.Alex membaca dengan seksama file yang berisi informasi tentang Raya yang tadi dimintanya pada Theo. Sama sekali tidak ada hal yang spesial di sana.Isinya sama persis seperti yang Theo ceritakan tentang gadis itu sebelumnya. Tinggal di kamar kost kumuh yang jauh dari pusat kota tanpa memiliki satu pun kerabat yang masih hidup. Rasanya Alex tidak percaya ada orang dengan kehidupan semalang itu.Membaca file itu benar-benar membosankan bagi Alex. Dia sempat berpikir, apa gadis itu tidak bisa menikmati hidup? Jadwal kesehariannya benar-benar hanya kantor dan kost. Apa dia sama sekali tidak punya teman? Miris sekali hidupnya.Baru sedetik yang lalu Alex mengasihani hidup Raya, pemikiran pria itu berubah seketika saat mengingat kalau hidup Raya tidak semenyedihkan itu. Alex lupa kalau Raya mungkin terbiasa bersama Bagaskara.Meski t
Raya mengetuk pelan pintu ruangan dokter Andrew. Saat terdengar suara yang mempersilahkannya untuk masuk, Raya membuka pintu dan mendorongnya pelan.“Duduk, Raya.” Dokter Andrew mempersilahkan Raya untuk duduk di depannya.Tatapan dokter Andrew tertuju pada kertas-kertas di tangannya yang Raya yakini rekam medis milik Aurel. Raya memperhatikan mimik dokter Andrew yang tampak serius. Seketika rasa khawatir menyergap Raya. Apa sesuatu yang buruk telah terjadi.Dokter Andrew menutup lembaran kertas di tangannya, atensinya kini terfokus pada Raya. Sebelum berbicara, dokter Andrew berdehem sesaat.“Begini, Raya…” Dokter Andrew menjeda kalimatnya. “Seperti yang kita tahu, kardiomiopati yang diderita Aurel merupakan kardiomiopati dilatasi. Dan itu merupakan jenis kardiomiopati yang terparah. Dimana bilik kiri jantung membesar sehingga kemampuan jantung memompa darah menjadi berkurang yang berpotensi menyebabkan gagal jantung, gangguan katup jantung, penggumpalan darah di ja
Di dalam toilet Raya membersihkan dirinya dari sisa-sisa cairan yang tadi dia keluarkan. Rasa lengket di bagian bawah sana membuatnya merasa tidak nyaman. Setelah selesai Raya merapikan kembali pakaiannya.Raya menatap wajahnya pada pantulan cermin. Dia baru menyadari lipstiknya berantakan. Matanya juga sembab. Pantas saja tadi Theo memandangnya dengan penuh kebingungan. Kemudian dia mencuci wajahnya dan memoleskan lipstik kembali agar tidak tampak pucat. Raya menatap cermin sekali lagi. Memastikan penampilannya sudah tidak kacau seperti sebelumnya.Raya menarik nafas pelan sebelum keluar dari toilet. Berharap dirinya tidak akan kembali berpapasan dengan Theo di depan lift. Terlebih Alex. Dia belum siap untuk bertemu pria itu. Bukan karena dia takut atau lemah. Bukan. Tapi karena dia masih muak dengan atasannya itu.Raya berjanji pada dirinya sendiri tidak merutuki kebodohannya lagi. Dia juga tidak akan menangisi kejadian tadi lagi. Tidak akan. Apalagi setelah dia berhas
Alex menatap takjub wajah Raya saat gadis itu tengah diliputi kepuasaan. Kepalanya yang mendongak dengan bibir yang terbuka, entah kenapa tampak sangat menakjubkan di mata Alex. Nafas Raya masih memburu, dadanya naik turun. Menambah kesan seksi gadis itu di mata Alex.Alex tahu, sejak dulu dibalik dandanan cupu gadis itu tersimpan kecantikannya yang luar biasa. Tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau kecantikan Raya bisa meningkat berkali-kali lipat saat gadis itu tengah dilanda gelombang orgasme.Alex menelan ludah. Rasanya dia ingin kembali menciumi seluruh bagian wajah Raya sekarang. Melanjutkan permainan mereka lebih dari ini. Dia membayangkan akan seperti apa rasanya miliknya yang setelah sekian lama tertidur menemukan kembali tempat untuk dimasuki. Akan seperti apa rasanya jika dia terbenam di dalam pusat Raya? Pasti akan luar biasa. Dia akan membisikkan di telinga gadis itu betapa cantiknya dia saat berada di tengah gelombang kepuasan usai mereka selesai melakukann
Pegangan Alex pada rambut Raya terlepas, berganti dengan menahan tengkuk gadis itu untuk memperdalam ciuman mereka. Sebelah tangannya lagi menahan punggung gadis itu, membuat tubuh mereka semakin menempel.Raya yang diperlakukan seperti ini oleh Alex terus berontak, mencoba melepaskan diri dari atasannya yang entah sedang kerasukan apa. Tapi tenaganya yang tidak sebanding dengan Alex membuat semua gerakannya seolah sia-sia. Bukannya melepaskan Raya, Alex justru memperdalam ciuman mereka.Ciuman Alex kasar, penuh tuntutan dan emosi. Digigitnya kasar bibir bawah Raya yang membuat gadis itu melenguh. Kesempatan itu digunakan Alex untuk memasukan lidahnya ke mulut gadis itu untuk memperdalam ciuman mereka. Lidah Alex menjelajahi mulut Raya, mengabsen deretan gigi gadis itu tanpa memberi kesempatan baginya itu untuk bernapas.Tubuh Raya yang semula memberontak pun sekarang melemas. Dia menyerah dengan semua perlakuan Alex padanya. Ditambah dengan nafasnya yang hampir habis, m
Di kamar yang baru saja ditinggalkan Alex, Bianca berteriak kencang. Selalu saja seperti ini. Seharusnya dia tidak perlu percaya pada Alex yang meminta maaf padanya. Seharusnya sejak awal pria itu mengangkat tubuhnya ke atas pangkuannya dia menampar pria itu. Tapi bukannya marah dia malah dengan murahannya menuruti perintah Alex.“Bajingan!” Desisnya.Sampai kapanpun dia tidak akan pernah melupakan kejadian ini. Selama ini dia memang mengejar Alex, tapi baru kali ini dia bertingkah seperti jalang di hadapan pria itu. Hanya karena Alex meminta maaf dan tiba-tiba melakukan kontak fisik dengannya dia langsung bergerak liar. Memalukan!Dia memang bukan gadis perawan. Tapi merendahkan diri dihadapan pria seperti tadi tidak pernah Bianca lakukan sebelumnya. Justru para pria lah yang mengejar-ngejarnya selama ini. Tapi tidak ada satupun dari pria-pria itu yang bisa membuat Bianca menginginkan mereka selama ini. Selain kepuasan yang mereka berikan tentu saja.Mengingat kepua
Raya dan Alex masih berdiri di tempat masing-masing. Lumayan lama mereka berada diposisi seperti itu, mungkin sekitar lima belas menit. Dan anehnya, yang mereka lakukan hanya diam dan saling pandang. Tapi siapapun tahu kalau tatapan mata mereka memancarkan emosi yang tidak dapat diucapkan. Teruta







