เข้าสู่ระบบRaya mengerjapkan mata perlahan. Kesadarannya belum sepenuhnya kembali. Suasana yang gelap membuatnya kesulitan untuk menyesuaikan penglihatan. Tangannya meraba-raba untuk mencari keberadaan ponsel. Saat tak juga menemukan benda pipih itu Raya menegakkan tubuhnya, memaksa kesadarannya untuk segera pulih.
Suara getaran menjadi petunjuk baginya untuk menemukan keberadaan ponselnya. Tapi belum sempat Raya menerimanya, panggilan itu sudah lebih dulu mati. Raya mengerang saat melihat jam yang menunjukkan hampir pukul setengah sembilan malam. Kedua tangannya memukul pelan kepala, merutuki kecerobohannya. Seingatnya, tadi sebelum tidur dia baru keluar dari ruangan atasannya. Astaga! Apa bosnya sudah pulang? Kalau melihat situasi kantor yang sudah gelap dan sepi, pastilah bosnya itu sudah tidak berada di ruangannya. Apa bosnya itu melihatnya tertidur? Berapa lama dia tertidur? Kenapa bosnya tidak membangunkannya? Tega sekali pria itu. Dan apa petugas yang menjaga gedung hari ini tidak melaksanakan tugasnya? Kenapa dia dibiarkan begitu saja? Apa mereka tidak memeriksa keamanan setiap lantai lebih dulu sebelum mematikan lampu? Dengan tergesa Raya merapikan mejanya. Dengan bantuan senter seadanya dari ponsel, Raya menuruni tangga darurat dari lantai tujuh gedung kantornya menuju ke lantai satu. Melihat lampu yang sudah padam bisa dipastikan kalau lift juga sudah tidak beroperasi. Jadi hanya tangga satu-satunya akses bagi Raya untuk sampai ke bawah. Semoga saja semua pintu akses tangga darurat belum dikunci. Begitu tiba di lantai satu, Raya menghembuskan nafas lega. Meskipun sudah tidak ada orang yang dia temui, setidaknya lantai ini masih terang. Di pintu masuk gedung Raya berpapasan dengan dua orang petugas keamanan yang berjaga malam ini. “Loh, Mbak Raya baru pulang?” Sapa Pak Mamat, salah satu petugas keamanan senior di gedung ini. “Iya, Pak.” Jawab Raya singkat. “Lantai tujuh lampunya sudah dipadamkan sejak sore atas perintah Tuan Alex, kami pikir sudah kosong, kami tidak memeriksanya lagi tadi.” Jelas Pak Mamat. Raya meringis. Dalam hati dia mengumpat, merutuki Alex. Pantas saja tidak ada satupun yang membangunkannya, ternyata bosnya itu sengaja memberi perintah untuk memadamkan lebih dulu lampu di lantai ruangan mereka. “Mbak Raya nggak pa-pa, kan?” Pak Mamat menggerakkan tangannya di depan wajah Raya yang tiba-tiba diam. Raya tersentak. Sambil tersenyum gadis itu menjawab. “Nggak pa-pa, kok Pak. Saya ketiduran tadi di atas. Saya balik dulu ya, Pak, mumpung masih ada bus jam segini.” Pamit Raya. Raya berjalan pelan menuju shelter bus yang untungnya tidak jauh dari gedung kantornya. Sampai di shelter, suasana sudah sepi. Hanya ada beberapa orang yang tampak sedang menunggu bus, sama seperti dirinya. Tak menunggu lama, bus yang ditunggu Raya tiba. Suasana di bus pun sama sepinya seperti di shelter. Hanya ada beberapa orang di dalamnya yang membuat Raya bernapas lega karena bisa kebagian tempat duduk saat ini. Kalau jam pulang kantor, dia lebih sering berdiri, sangat jarang bisa mendapat tempat duduk di dalam bus di jam-jam sibuk seperti itu. Raya membuka ponsel yang sejak sore diabaikannya. Bahkan di kantor setelah bangun tidur tadi dia tidak sempat mengecek notifikasi ponselnya. Saat mendapati banyak panggilan tidak terjawab dari Tere, tubuhnya menegang seketika. Apa ada kabar buruk? Dengan segera Raya menghubungi kembali Tere. Namun sial, hingga panggilan yang kelima, Tere belum juga menjawabnya. Rasa khawatir sama sekali tidak bisa Raya tutupi. Dia sama sekali tidak bisa tenang. Sesekali kepalanya mendongak untuk melihat jalanan di depan sana, berharap dirinya cepat sampai ke tujuan. Raya semakin merutuki tindakannya yang ketiduran di kantor sejak sore. Seandainya dia tidak tidur, mungkin dia tidak akan ketinggalan kabar apapun. Begitu bus yang ditumpanginya hampir tiba di shelter tujuan, gadis itu cepat-cepat berjalan menuju pintu bus. Tak sabar rasanya Raya ingin segera keluar dari bus ini. Begitu turun, Raya setengah berlari melanjutkan langkahnya. Rumah sakit yang masih seratus meter lagi di depannya membuat langkahnya semakin cepat. Namun Raya memelankan langkahnya begitu memasuki gedung rumah sakit. Nafasnya terasa memburu, efek jalan cepat yang baru saja dilakukannya. Tujuan Raya jelas, ruang PICU (Pediatric Intensive Care Unit). Tempat dimana keponakannya dirawat. Sampai di depan ruang PICU, Tere, perawat rumah sakit yang sudah menjadi teman Raya dua tahun belakangan baru saja keluar dari ruangan. Raya langsung menghampiri Tere yang selama ini membantunya menjaga Aurel. “Maaf aku tidak sempat mengangkat teleponmu, apa terjadi sesuatu padanya?” Raya yang baru saja tiba langsung bertanya, membuat Tere sedikit terperanjat karena terkejut. “Kamu lembur?” Tere memperhatikan Raya. Penampilan gadis itu tampak berantakan. Raya menggeleng. “Aku ketiduran di kantor, maaf.” Jawabnya pelan. Tere menghela nafas. Dia tahu betul bagaimana Raya selama ini. “Kenapa harus minta maaf hanya karena ketiduran Raya? Itu hal yang wajar. Jangan selalu mengutamakan orang lain sampai kamu abai pada dirimu sendiri. Tere melangkahkan kaki menuju nurse station. Raya yang sudah akrab dengan semua perawat yang bertugas di ruang PICU mengikutinya. “Aurel bukan orang lain, Re. Dia satu-satunya keluarga yang kumiliki saat ini.” Tere berdecak. “Aku tahu. Tapi kau juga harus memperhatikan kondisimu.” Tidak ingin mendebat Tere, Raya kembali bertanya. “Jadi, kenapa kau menelponku sejak sore tadi, apa terjadi sesuatu padanya?” Tere menggeleng. “Tidak terlalu banyak hal penting dari perkembangan kondisi Aurel. Hanya saja dokter tadi ingin berbicara denganmu.” “Tentang apa?” “Kondisi Aurel yang semakin hari semakin menurun, Raya.” Ucapan Tere membuat tubuh Raya menegang. Apa dia harus benar-benar kehilangan gadis kecil itu sekarang? Tidak. Tentu saja dia tidak sanggup. Kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan saat Raya masih berumur dua tahun. Sejak saat itu, hanya kakaknya satu-satunya keluarga yang Raya miliki. Usia Raya dengan sang kakak yang terpaut lima belas tahun membuat kakaknya mengambil alih semua peran orang tua mereka saat itu. Tapi sayang, lima tahun yang lalu kakaknya meninggalkan Raya, menyusul kedua orang tua mereka saat melahirkan Aurel. Kakaknya meninggalkan Raya dengan bayi cantik yang menggantungkan hidup padanya sejak saat itu. Jangan tanya soal ayahnya, Raya sendiri tidak pernah tahu siapa ayah dari bayi cantik itu karena kakaknya hamil setelah mengalami kecelakaan tanpa pernah memberi tahu siapa pelakunya. Dan kini, satu-satunya keluarganya yang tersisa sedang berada dalam keadaan yang sangat mengkhawatirkan. Raya belum siap kalau harus benar-benar menjadi manusia yang sebatang kara di dunia. Tidak. Dia tidak sanggup membayangkan kalau sampai itu terjadi. “Raya.” Tepukan pelan pada pundaknya mengembalikan kesadaran Raya. “Pulanglah! Lima hari kedepan aku yang giliran shift malam. Kamu tidak perlu mengkhawatirkannya.” Raya menggeleng lemah. Rasanya dia tidak sanggup kalau harus meninggalkan Aurel sendirian di sana. Bukan dia tidak percaya pada Tere atau perawat lainnya, hanya saja dia benar-benar tidak ingin jauh dari gadis kecil yang sudah dia anggap seperti putrinya sendiri. Sejak Aurel dilahirkan, dokter dan perawat sudah memberi tahu keadaan gadis kecil itu. Lahir dengan penyakit jantung bawaan membuat Aurel kerap keluar masuk rumah sakit sejak bayi. Bahkan dua tahun belakangan, gadis kecil itu lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit daripada bersamanya. “Boleh aku melihatnya?” Raya bertanya dengan suara yang parau. Mendengar keadaan Aurel yang semakin lemah membuat Raya tidak mampu menahan kesedihannya. Tere menatap Raya penuh iba, tapi tetap mengangguk untuk memenuhi permintaan Raya. Tere kembali melangkah ke ruang PICU diikuti oleh Raya yang berjalan pelan di belakangnya. Sampai di depan pintu ruangan, Tere masuk ke dalam sementara Raya berjalan ke arah jendela kaca besar. Jam besuk yang sudah habis membuat Raya harus puas melihat Aurel dengan cara seperti ini. Tirai yang disingkap dari dalam oleh Tere membuat Raya dapat melihat keadaan di dalam sana. Tangan Raya terulur menyentuh kaca jendela seolah gadis itu sedang menyentuh Aurel di dalam sana. Mata Raya berkaca-kaca. Hatinya memohon penuh harap agar ada mukjizat yang datang pada gadis kecilnya. Raya dapat melihat berbagai alat medis terpasang ke tubuh Aurel yang terhubung dengan layar monitor. Infus, selang oksigen, elektrokardiogram (perekam detak jantung), oksimeter (pengukur kadar oksigen), dan entah apa lagi yang Raya sendiri tidak tahu namanya. Raya dapat melihat gadis kecil itu hanya sendiri di dalam ruangan yang cukup besar. Aurel satu-satunya pasien yang saat ini dirawat di ruang PICU. Meskipun ada perawat jaga yang selalu bergantian membersamainya selama dua puluh empat jam, rasanya Raya tetap tidak tega melihat gadis kecilnya sendirian di dalam sana. “Sudah?” Gerakan bibir Tere dari dalam sana dapat Raya baca dengan jelas. Raya menganggukkan kepala sebagai jawaban. Kemudian tirai kembali menutup seperti sebelumnya. Raya membalikkan badannya. Langkah kaki membawanya untuk duduk di kursi tunggu yang disediakan bagi keluarga. Kepalanya menunduk dalam. Kelainan jantung yang dialami Aurel masuk ke dalam tingkat yang sangat parah menurut dokter. Kardiomiopati. Itu penyakit yang divonis oleh dokter selama dua tahun terakhir pada Aurel. Kelainan pada otot jantung yang menyebabkan otot jantung menebal, kaku, atau membesar, sehingga jantung melemah dan kesulitan memompa darah secara efektif. Meski Raya sudah tahu kalau Aurel terlahir dengan kelainan jantung, namun vonis dokter saat itu tetap saja membuatnya merasa semakin nelangsa. Raya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi Aurel. Gadis sekecil itu harus menderita penyakit seberat ini. Gadis kecil itu harusnya sedang menikmati masa bermain, mengeksplor semua kemampuan dasarnya, bukan malah terbaring dengan berbagai alat medis terpasang di badannya. Raya menghela napas. Ucapan dokter sebelumnya kembali terngiang di telinganya. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan Raya hanya dengan tindakan transplantasi jantung. Dan itu belum ada di negara ini. Kalaupun seandainya ada, Raya tetap saja tidak mampu untuk melakukannya. Untuk membayar semua pengobatan ini saja dia mengandalkan asuransi dari kantor dan uluran tangan Bagaskara. Kalau hanya mengandalkan gajinya saja, sudah pasti tidak cukup. Tanpa sadar air mata Raya menetes. Dia membayangkan bagaimana susahnya sang kakak dulu dalam membesarkannya. Dan kini, dia sama sekali tidak bisa melakukan hal yang sama pada putri kakaknya itu. Ah, betapa tidak bergunanya dia. “Kamu masih disini?” Suara serak seorang pria membuat Raya mendongakkan kepala yang sejak tadi tertunduk. Dokter Andrew, dokter yang selama ini menangani Aurel berdiri di hadapannya. “Dokter...” “Sudah malam, Raya. Pulanglah! Kamu juga butuh mengistirahatkan tubuhmu.” “Aurel…” Kalimat Raya tertahan. “Aku sedang berusaha mencari informasi mengenai donor jantung di beberapa rumah sakit luar negeri. Kalau sudah ada yang memberi kabar, kita bisa membawanya untuk melakukan operasi transplantasi disana.” “Tapi…” “Kamu tidak perlu risau soal biaya Raya, aku akan membantumu semampuku.” Kalimat terakhir yang diucapkan dokter Andrew membuat Raya bergidik. Dia tahu pasti balasan apa yang diinginkan oleh sang dokter sebagai imbalan atas bantuannya.Tepat jam makan siang rapat yang dilakukan bersama para pemegang saham akhirnya selesai. Di dalam ruangan Alex, Raya sudah mempersiapkan makan siang untuk atasannya itu sesuai dengan apa yang dia pesan sebelumnya.“Siang, Tuan. Semua sudah tersedia sesuai dengan yang Anda pesan.” Raya melapor pada Alex saat pria itu melewati meja kerjanya untuk masuk ke dalam ruang kerjanya.“Bagus. Apa Theo belum ada kabar juga?” Tanya Alex serius.Ketegangan yang terjadi di ruang rapat membuat Alex enggan menguji mental sekretaris cupunya.“Baru saja tiba, Tuan. Dia sudah menunggu Anda di dalam.”Tanpa menjawab apapun Alex berjalan cepat menuju ruangan. Bahkan pria itu menutup pintu dengan setengah membanting saking sudah tidak sabarnya untuk mendengar berita yang akan disampaikan oleh asistennya itu. Raya yang masih berdiri di tempatnya hanya bisa mengelus dada.“Jadi, informasi apa yang kau bawa padaku Theo?”“Maaf atas keterlambatan saya, Tuan. Ini semua data yang An
Alex meneguk kembali minuman beralkohol di tangannya. Entah sudah gelas keberapa yang dihabiskannya, tapi sama sekali belum mampu menghilangkan kesadaran pria itu. Hingar bingar musik yang berdentum pun tidak membuatnya merasa pusing, seolah kondisi seperti ini adalah hal yang biasa baginya.Di samping kanannya, seorang wanita yang berpakaian kurang bahan bergelayut manja sambil mengelus dadanya yang entah sejak kapan terbuka. Dua kancing teratas kemejanya sudah terlepas. Sementara di sebelah kirinya, seorang wanita dengan pakaian yang tak kalah minim tengah menciumi telinga Alex sambil tangannya meraba paha pria itu.Alex kembali meneguk minumannya. Di seberangnya, Reynald, teman yang datang bersamanya ke klub ini sudah asyik bercumbu dengan seorang wanita yang Alex yakini baru ditemui pria malam ini. Alex menggelengkan kepala melihat Reynald yang sudah tenggelam dalam pusaran gairah dengan gadis yang baru saja ditemuinya.“Kamu nggak ingin seperti mereka, beib?” Wanita
Raya mengerjapkan mata perlahan. Kesadarannya belum sepenuhnya kembali. Suasana yang gelap membuatnya kesulitan untuk menyesuaikan penglihatan. Tangannya meraba-raba untuk mencari keberadaan ponsel. Saat tak juga menemukan benda pipih itu Raya menegakkan tubuhnya, memaksa kesadarannya untuk segera pulih. Suara getaran menjadi petunjuk baginya untuk menemukan keberadaan ponselnya. Tapi belum sempat Raya menerimanya, panggilan itu sudah lebih dulu mati. Raya mengerang saat melihat jam yang menunjukkan hampir pukul setengah sembilan malam. Kedua tangannya memukul pelan kepala, merutuki kecerobohannya. Seingatnya, tadi sebelum tidur dia baru keluar dari ruangan atasannya. Astaga! Apa bosnya sudah pulang? Kalau melihat situasi kantor yang sudah gelap dan sepi, pastilah bosnya itu sudah tidak berada di ruangannya. Apa bosnya itu melihatnya tertidur? Berapa lama dia tertidur? Kenapa bosnya tidak membangunkannya? Tega sekali pria itu. Dan apa petugas yang menjaga gedung ha
Alex berjalan cepat memasuki ruangannya. Asisten pribadinya, Theo, mengikuti langkahnya dengan tergesa di belakang. Begitu sampai di ruangan Alex menghempaskan tubuh ke kursi kebesarannya. “Apa penyebabnya?” Suara bariton Alex terdengar. “Kecurangan yang dilakukan orang dalam, Tuan. Ada selisih data yang besar di laporan yang mereka sampaikan. Tim audit baru saja memastikannya.” “Kurang ajar!” Ucap Alex. Rahangnya mengeras. Matanya tampak mengkilap, memancarkan kemarahannya yang begitu besar. Tangan Alex yang tadi memegang dagu kini mengepal kuat. Siapapun bisa melihat kalau pemilik sekaligus pemimpin Lexaya Group itu sedang marah. “Seberapa besar kerugian perusahaan?” Tambahnya. “Untuk saat ini tim audit melaporkan angka selisih sebesar satu setengah milyar rupiah.” Jawab asistennya cepat. “Namun mereka masih terus melakukan pengecekan untuk memastikan jumlah pastinya.” Satu setengah milyar? Dahi Alex berkerut heran. Bukan soal nominalnya. Alex bisa memastikan kalau per







