เข้าสู่ระบบAlex meneguk kembali minuman beralkohol di tangannya. Entah sudah gelas keberapa yang dihabiskannya, tapi sama sekali belum mampu menghilangkan kesadaran pria itu. Hingar bingar musik yang berdentum pun tidak membuatnya merasa pusing, seolah kondisi seperti ini adalah hal yang biasa baginya.
Di samping kanannya, seorang wanita yang berpakaian kurang bahan bergelayut manja sambil mengelus dadanya yang entah sejak kapan terbuka. Dua kancing teratas kemejanya sudah terlepas. Sementara di sebelah kirinya, seorang wanita dengan pakaian yang tak kalah minim tengah menciumi telinga Alex sambil tangannya meraba paha pria itu. Alex kembali meneguk minumannya. Di seberangnya, Reynald, teman yang datang bersamanya ke klub ini sudah asyik bercumbu dengan seorang wanita yang Alex yakini baru ditemui pria malam ini. Alex menggelengkan kepala melihat Reynald yang sudah tenggelam dalam pusaran gairah dengan gadis yang baru saja ditemuinya. “Kamu nggak ingin seperti mereka, beib?” Wanita yang ada di sebelah kanan Alex bertanya. Bibir wanita itu sudah mulai menciumi pipi Alex dan nyaris menyentuh bibirnya. Sementara wanita yang di sebelah kiri, tangannya tanpa sungkan mengelus tonjolan di balik celana Alex. Alex memajukan sedikit tubuhnya. Meletakkan gelas yang sedang tadi digenggamnya ke atas meja, membuat kedua wanita itu menghentikan kegiatannya. Tanpa mengatakan apapun, Alex bangkit. Menepuk pelan pundak Reynald yang belum berhenti dengan kegiatannya lalu keluar dari sana. Di dalam mobil, Alex mencengkeram kemudinya dengan erat. Wajahnya tampak mengeras, rasa marah sama sekali tidak bisa dia tutupi. “Aarrghh…” Merasa frustasi, Alex memukul kuat setir mobil. Kemudian bahunya merosot seketika. Bukan tanpa sebab Alex seperti ini. Alex hampir frustasi dan hampir gila saat mendapati kenyataan yang lagi-lagi dia dapati. Kepalanya menunduk kebawah, memperhatikan alat reproduksi miliknya sendiri yang sialnya tetap tertidur lelap meskipun digoda oleh dua wanita sekaligus. Entah apa yang salah pada dirinya. Anggota tubuh miliknya yang seharusnya menjadi kebanggaan setiap laki-laki justru seakan tidak memiliki fungsi selain untuk mengeluarkan air seni. Seingatnya dia tidak seperti ini sebelumnya. Dulu dia adalah lelaki normal yang sangat bangga akan anggota tubuh miliknya yang digilai para wanita itu. Bagaimana tidak, ukurannya yang besar, panjang dan berurat seharusnya mampu membuat wanita manapun bertekuk lutut padanya. Seharusnya. Tapi dia sendiri lupa kapan terakhir kali melihat anggota tubuhnya itu berfungsi dengan baik seperti itu. Yang membuat miris adalah bahkan usianya baru akan memasuki kepala tiga tahun depan, tapi dia sudah seperti kakek-kakek jompo yang tidak berdaya. Untung saja tidak ada seorangpun yang mengetahui kelemahannya itu. Hal itu pula yang membuat Alex hingga saat ini menghindari menjalin hubungan dengan lawan jenis. Kepala Alex diletakkan di atas setir. Matanya memejam. Apa dia harus menerima takdirnya yang seperti ini atau dia harus berani untuk memeriksakan dirinya ke dokter? Karena tidak mungkin dia akan melajang seumur hidupnya. Alex mencoba mengingat-ingat kembali kapan pastinya dia kehilangan kemampuannya itu. Karena bisa dipastikan kalau dia juga bukanlah seorang perjaka. Alex tersentak. Bayangan saat dirinya terjebak dengan seorang gadis bertahun-tahun yang lalu kembali menyeruak ke dalam ingatannya. Alex mengerang. Sekarang dia bisa mengingat sumber masalahnya. Kejadian bertahun-tahun lalu dengan seorang gadis asing yang tengah mabuk kembali berputar di kepalanya. Entah dia atau gadis itu yang memulai lebih dulu, yang jelas itu merupakan pengalaman pertama bagi keduanya. Mengingat gadis itu dan percintaan panas mereka saat itu, Alex mulai merasakan ada yang berbeda dengan ereksinya. Alex melirik ke bawah. Sial! Apa dia hanya bisa tertarik dengan gadis itu? *** Raya sampai di kostnya hampir tengah malam. Kondisi Aurel yang semakin mengkhawatirkan benar-benar membuatnya lemah dan kehilangan semangat. Tanpa membersihkan diri lebih dulu, Raya merebahkan dirinya di atas kasur usang tanpa dipan. Siapapun yang mengetahui di perusahaan mana Raya bekerja dan apa jabatannya, tidak akan percaya jika melihat kehidupannya yang semenyedihkan ini. Tinggal di kamar kost sepetak dengan kamar mandi dan dapur kecil di sudut ruangan. Dengan gajinya yang menyentuh angka dua digit, harusnya kehidupan Raya bisa lebih layak dari ini. Namun mengingat Aurel yang membutuhkan banyak biaya perawatan, dia harus menekan gaya hidupnya. Karena gajinya setiap bulan saja tidak cukup untuk memenuhi biaya perawatan Aurel. Raya berusaha memejamkan mata. Tubuhnya sudah sangat lelah, tapi pikirannya seakan tidak ingin beristirahat. Ucapan Alex mengenai Bagas kembali berputar di kepalanya. Raya kembali menegakkan tubuh, mengambil ponsel yang sempat dia letakkan di atas meja kecil disamping kasur. Tangannya mencari-cari kontak Bagaskara, dia perlu menghubungi pria itu. Bunyi nada dering yang terdengar di telinga Raya menandakan panggilannya pada Bagas tersambung. Tapi pria itu tidak menjawab panggilannya. Raya tidak ingin menyerah, dia kembali menghubungi pria itu. Dia ingin mengetahui kalau pria itu baik-baik saja. Ataupun kalau semua yang dibilang Alex tadi padanya benar, Raya ingin mendengar secara langsung dari mulut Bagas sendiri. Panggilan kedua, ketiga dan keempat yang Raya lakukan hasilnya nihil. Tak ingin menyerah, Raya tetap mencoba menghubungi Bagas. Omong kosong dengan sopan santun. Raya ingin memastikan semuanya malam ini juga. Selain khawatir dengan keadaan Bagas dia juga harus mengkhawatirkan dirinya sendiri bukan? Seperti yang dikatakan Alex, kalau dia juga akan terseret kalau ada satu saja bukti mengarah kepadanya. Dan sudah sewajarnya Raya merasa khawatir mengingat betapa murah hatinya Bagas dalam membantunya setahun ini. Nada panggilan sudah hampir berakhir saat akhirnya suara seseorang terdengar di seberang sana. “Raya…” Panggil suara di seberang sana. “Kenapa menghubungiku selarut ini? Maaf aku tidak bisa membantumu bulan ini.” Tubuh Raya menegang. Suara Alex yang terdengar lirih membuat Raya yakin apa yang diucapkan Alex tadi sore benar. “Jangan pikirkan itu, Gas. Kamu baik-baik saja, kan? Sudah seminggu ini aku tidak mendengar kabarmu. Aku khawatir.” Raya membuat suara terdengar senormal mungkin. “Sedang ada masalah di kantor yang kupegang. Apa kamu tidak mendengarnya?” “Masalah apa? Aku sama sekali belum mendengar apapun. Kau tahu sendiri aku tidak memiliki teman di kantor.” Raya berusaha berpura-pura tidak mengetahui apapun masalah yang menimpa Bagas. “Aku terlibat penggelapan dana perusahaan, Ray.” Bagas berucap lirih. “Kenapa bisa terjadi, Gas?” “Aku khilaf, Ray. Maafkan aku. Sebaiknya kamu jangan menghubungiku lagi.” Bagas langsung memutus panggilan mereka. Tubuh Raya mematung. Tangannya gemetar. Apa yang ditakutkan Raya menjadi kenyataan. Bagas mengakui perbuatannya sendiri pada Raya malam ini. Matilah dia. Alex pasti akan mengusut tuntas kasus ini hingga ke akarnya. Semua jejak arus keluar masuk uang di rekening Bagaskara pasti akan ditelusuri oleh pria itu. Dan sudah pasti bukti riwayat transfer yang dilakukan Bagas kepadanya selama satu tahun ini akan turut diperiksa. Apalagi nominal yang diberikan Bagas padanya tidak bisa dikatakan sedikit. *** Pagi ini Raya tiba di kantor dengan wajah yang sembab. Penampilannya yang setiap harinya sudah tidak menarik semakin tidak menarik hari ini. Bagaimana tidak, matanya tampak sembab. Efek menangisi keadaan Aurel dan begadang semalaman meratapi masa depannya yang terancam. Tapi Raya tidak peduli dengan penampilannya. Dia juga merasa tidak perlu repot-repot untuk menutupi itu dengan make up yang bisa dipastikan dia sendiri tidak memilikinya. “Pagi, Tuan.” Raya berdiri dan membungkukkan sedikit badannya saat Alex melewati meja kerjanya. Begitu Alex menghilang di balik pintu ruangannya Raya segera bergegas ke pantry, membuatkan minuman untuk atasannya tersebut. Begitu selesai membuat kopi, Raya mengantarkan minuman itu pada Alex. “Permisi, Tuan.” Raya memasuki ruangan dan meletakkan kopi milik Alex dengan perlahan di atas meja pria itu. ”Apa Theo belum datang?” Tanya Alex tanpa perlu repot mengalihkan pandangan dari layar monitor. “Belum, Tuan.” Alex mengangguk. “Aku sudah tidak sabar menunggu kabar pasti mengenai kasus di cabang Bali dari dia. Apa kau juga seperti itu?” Alex menatap Raya yang masih berdiri dihadapannya. Matanya meneliti penampilan Raya yang hari ini tampak sangat kacau. Matanya juga sembab. Apa gadis itu menangisi nasib pacarnya? Raya hanya diam. Dia tahu kalau Alex sedang mengetesnya. Mungkin pria itu juga ingin menguji mentalnya. Dan tampaknya memang berhasil. Karena dibalik diam dan sikap tenang yang Raya tunjukkan padanya, gadis itu sesungguhnya sedang merapalkan semua doa yang sekiranya bisa membantunya di dalam hati. “Pacarmu tak mengabarimu?” Alex kembali bertanya. “Apa ada hal lain yang Anda butuhkan, Tuan?” Tanya Raya mencoba mengabaikan penekanan yang Alex berikan. “Apa saja jadwalku hari ini?” Balas Alex. “Jam sepuluh akan ada rapat dengan para investor. Jam satu Anda punya janji makan siang dengan klien di Top Restaurant dan jam lima sore nanti penerbangan Anda ke Singapura.” Mendengar penuturan sekretarisnya Alex mengerang dalam hati. Rapat dengan para pemegang saham mungkin tidak akan dia lewatkan. Tapi makan siang dengan klien dan keberangkatannya menuju Singapura mungkin tidak sepenting itu untuk dilakukan saat ini. Terlebih dia masih menunggu kabar dari Theo. “Tolong reschedule jadwal makan siang ku dengan Tuan Blake dan batalkan penerbangan ke Singapura.” “Baik, akan saya lakukan. Apa ada hal lain yang Anda ingin saya lakukan, Tuan?” Alex menggeleng. “Tidak, Raya.” Senyum menyeringai yang ditujukan pada Raya terpasang di wajahnya. “Kita hanya tinggal menunggu kabar selengkapnya dari Theo. Mungkin saat dia datang membawa informasi itu kau tidak akan bisa bersantai lagi. Jadi silahkan nikmati dulu waktumu untuk sementara.” Ucapan Alex membuat tubuh Raya menggigil. Dia sama sekali tidak tahu menahu apa yang dilakukan Bagaskara disana. Hanya karena dia menerima bantuan dari pria itu, mau tak mau dia harus terlibat dengan ini semua. Dan tentu saja Alex tidak akan semudah itu untuk percaya padanya dan melepaskannya begitu saja. “Kenapa masih disini? Apa kamu sudah tidak ingin melakukan apa yang aku katakan?” Suara Alex sedikit meninggi. Raya tersentak. “Ah, maaf. Sa,,, saya permisi, Tuan.” Raya balik badan. Dengan setengah berlari dia keluar dari ruangan Alex. Melihat kegugupan Raya, Alex tersenyum puas. Hanya sedikit lagi. Sedikit lagi dia akan tahu apa penyebab gadis itu terlihat sangat membencinya selama ini.Alex duduk di balkon penthouse miliknya. Di tangannya tab miliknya sedang terbuka, menampilkan email yang baru saja dia terima dari Theo.Alex membaca dengan seksama file yang berisi informasi tentang Raya yang tadi dimintanya pada Theo. Sama sekali tidak ada hal yang spesial di sana.Isinya sama persis seperti yang Theo ceritakan tentang gadis itu sebelumnya. Tinggal di kamar kost kumuh yang jauh dari pusat kota tanpa memiliki satu pun kerabat yang masih hidup. Rasanya Alex tidak percaya ada orang dengan kehidupan semalang itu.Membaca file itu benar-benar membosankan bagi Alex. Dia sempat berpikir, apa gadis itu tidak bisa menikmati hidup? Jadwal kesehariannya benar-benar hanya kantor dan kost. Apa dia sama sekali tidak punya teman? Miris sekali hidupnya.Baru sedetik yang lalu Alex mengasihani hidup Raya, pemikiran pria itu berubah seketika saat mengingat kalau hidup Raya tidak semenyedihkan itu. Alex lupa kalau Raya mungkin terbiasa bersama Bagaskara.Meski t
Raya mengetuk pelan pintu ruangan dokter Andrew. Saat terdengar suara yang mempersilahkannya untuk masuk, Raya membuka pintu dan mendorongnya pelan.“Duduk, Raya.” Dokter Andrew mempersilahkan Raya untuk duduk di depannya.Tatapan dokter Andrew tertuju pada kertas-kertas di tangannya yang Raya yakini rekam medis milik Aurel. Raya memperhatikan mimik dokter Andrew yang tampak serius. Seketika rasa khawatir menyergap Raya. Apa sesuatu yang buruk telah terjadi.Dokter Andrew menutup lembaran kertas di tangannya, atensinya kini terfokus pada Raya. Sebelum berbicara, dokter Andrew berdehem sesaat.“Begini, Raya…” Dokter Andrew menjeda kalimatnya. “Seperti yang kita tahu, kardiomiopati yang diderita Aurel merupakan kardiomiopati dilatasi. Dan itu merupakan jenis kardiomiopati yang terparah. Dimana bilik kiri jantung membesar sehingga kemampuan jantung memompa darah menjadi berkurang yang berpotensi menyebabkan gagal jantung, gangguan katup jantung, penggumpalan darah di ja
Di dalam toilet Raya membersihkan dirinya dari sisa-sisa cairan yang tadi dia keluarkan. Rasa lengket di bagian bawah sana membuatnya merasa tidak nyaman. Setelah selesai Raya merapikan kembali pakaiannya.Raya menatap wajahnya pada pantulan cermin. Dia baru menyadari lipstiknya berantakan. Matanya juga sembab. Pantas saja tadi Theo memandangnya dengan penuh kebingungan. Kemudian dia mencuci wajahnya dan memoleskan lipstik kembali agar tidak tampak pucat. Raya menatap cermin sekali lagi. Memastikan penampilannya sudah tidak kacau seperti sebelumnya.Raya menarik nafas pelan sebelum keluar dari toilet. Berharap dirinya tidak akan kembali berpapasan dengan Theo di depan lift. Terlebih Alex. Dia belum siap untuk bertemu pria itu. Bukan karena dia takut atau lemah. Bukan. Tapi karena dia masih muak dengan atasannya itu.Raya berjanji pada dirinya sendiri tidak merutuki kebodohannya lagi. Dia juga tidak akan menangisi kejadian tadi lagi. Tidak akan. Apalagi setelah dia berhas
Alex menatap takjub wajah Raya saat gadis itu tengah diliputi kepuasaan. Kepalanya yang mendongak dengan bibir yang terbuka, entah kenapa tampak sangat menakjubkan di mata Alex. Nafas Raya masih memburu, dadanya naik turun. Menambah kesan seksi gadis itu di mata Alex.Alex tahu, sejak dulu dibalik dandanan cupu gadis itu tersimpan kecantikannya yang luar biasa. Tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau kecantikan Raya bisa meningkat berkali-kali lipat saat gadis itu tengah dilanda gelombang orgasme.Alex menelan ludah. Rasanya dia ingin kembali menciumi seluruh bagian wajah Raya sekarang. Melanjutkan permainan mereka lebih dari ini. Dia membayangkan akan seperti apa rasanya miliknya yang setelah sekian lama tertidur menemukan kembali tempat untuk dimasuki. Akan seperti apa rasanya jika dia terbenam di dalam pusat Raya? Pasti akan luar biasa. Dia akan membisikkan di telinga gadis itu betapa cantiknya dia saat berada di tengah gelombang kepuasan usai mereka selesai melakukann
Pegangan Alex pada rambut Raya terlepas, berganti dengan menahan tengkuk gadis itu untuk memperdalam ciuman mereka. Sebelah tangannya lagi menahan punggung gadis itu, membuat tubuh mereka semakin menempel.Raya yang diperlakukan seperti ini oleh Alex terus berontak, mencoba melepaskan diri dari atasannya yang entah sedang kerasukan apa. Tapi tenaganya yang tidak sebanding dengan Alex membuat semua gerakannya seolah sia-sia. Bukannya melepaskan Raya, Alex justru memperdalam ciuman mereka.Ciuman Alex kasar, penuh tuntutan dan emosi. Digigitnya kasar bibir bawah Raya yang membuat gadis itu melenguh. Kesempatan itu digunakan Alex untuk memasukan lidahnya ke mulut gadis itu untuk memperdalam ciuman mereka. Lidah Alex menjelajahi mulut Raya, mengabsen deretan gigi gadis itu tanpa memberi kesempatan baginya itu untuk bernapas.Tubuh Raya yang semula memberontak pun sekarang melemas. Dia menyerah dengan semua perlakuan Alex padanya. Ditambah dengan nafasnya yang hampir habis, m
Di kamar yang baru saja ditinggalkan Alex, Bianca berteriak kencang. Selalu saja seperti ini. Seharusnya dia tidak perlu percaya pada Alex yang meminta maaf padanya. Seharusnya sejak awal pria itu mengangkat tubuhnya ke atas pangkuannya dia menampar pria itu. Tapi bukannya marah dia malah dengan murahannya menuruti perintah Alex.“Bajingan!” Desisnya.Sampai kapanpun dia tidak akan pernah melupakan kejadian ini. Selama ini dia memang mengejar Alex, tapi baru kali ini dia bertingkah seperti jalang di hadapan pria itu. Hanya karena Alex meminta maaf dan tiba-tiba melakukan kontak fisik dengannya dia langsung bergerak liar. Memalukan!Dia memang bukan gadis perawan. Tapi merendahkan diri dihadapan pria seperti tadi tidak pernah Bianca lakukan sebelumnya. Justru para pria lah yang mengejar-ngejarnya selama ini. Tapi tidak ada satupun dari pria-pria itu yang bisa membuat Bianca menginginkan mereka selama ini. Selain kepuasan yang mereka berikan tentu saja.Mengingat kepua
Raya dan Alex masih berdiri di tempat masing-masing. Lumayan lama mereka berada diposisi seperti itu, mungkin sekitar lima belas menit. Dan anehnya, yang mereka lakukan hanya diam dan saling pandang. Tapi siapapun tahu kalau tatapan mata mereka memancarkan emosi yang tidak dapat diucapkan. Teruta







