แชร์

BAB 3

ผู้เขียน: Gores pena
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-02-11 08:00:28

Alex meneguk kembali minuman beralkohol di tangannya. Entah sudah gelas keberapa yang dihabiskannya, tapi sama sekali belum mampu menghilangkan kesadaran pria itu. Hingar bingar musik yang berdentum pun tidak membuatnya merasa pusing, seolah kondisi seperti ini adalah hal yang biasa baginya.

Di samping kanannya, seorang wanita yang berpakaian kurang bahan bergelayut manja sambil mengelus dadanya yang entah sejak kapan terbuka. Dua kancing teratas kemejanya sudah terlepas. Sementara di sebelah kirinya, seorang wanita dengan pakaian yang tak kalah minim tengah menciumi telinga Alex sambil tangannya meraba paha pria itu.

Alex kembali meneguk minumannya. Di seberangnya, Reynald, teman yang datang bersamanya ke klub ini sudah asyik bercumbu dengan seorang wanita yang Alex yakini baru ditemui pria malam ini. Alex menggelengkan kepala melihat Reynald yang sudah tenggelam dalam pusaran gairah dengan gadis yang baru saja ditemuinya.

“Kamu nggak ingin seperti mereka, beib?” Wanita yang ada di sebelah kanan Alex bertanya. Bibir wanita itu sudah mulai menciumi pipi Alex dan nyaris menyentuh bibirnya. Sementara wanita yang di sebelah kiri, tangannya tanpa sungkan mengelus tonjolan di balik celana Alex.

Alex memajukan sedikit tubuhnya. Meletakkan gelas yang sedang tadi digenggamnya ke atas meja, membuat kedua wanita itu menghentikan kegiatannya. Tanpa mengatakan apapun, Alex bangkit. Menepuk pelan pundak Reynald yang belum berhenti dengan kegiatannya lalu keluar dari sana.

Di dalam mobil, Alex mencengkeram kemudinya dengan erat. Wajahnya tampak mengeras, rasa marah sama sekali tidak bisa dia tutupi.

“Aarrghh…” Merasa frustasi, Alex memukul kuat setir mobil. Kemudian bahunya merosot seketika.

Bukan tanpa sebab Alex seperti ini. Alex hampir frustasi dan hampir gila saat mendapati kenyataan yang lagi-lagi dia dapati. Kepalanya menunduk kebawah, memperhatikan alat reproduksi miliknya sendiri yang sialnya tetap tertidur lelap meskipun digoda oleh dua wanita sekaligus. Entah apa yang salah pada dirinya. Anggota tubuh miliknya yang seharusnya menjadi kebanggaan setiap laki-laki justru seakan tidak memiliki fungsi selain untuk mengeluarkan air seni.

Seingatnya dia tidak seperti ini sebelumnya. Dulu dia adalah lelaki normal yang sangat bangga akan anggota tubuh miliknya yang digilai para wanita itu. Bagaimana tidak, ukurannya yang besar, panjang dan berurat seharusnya mampu membuat wanita manapun bertekuk lutut padanya. Seharusnya. Tapi dia sendiri lupa kapan terakhir kali melihat anggota tubuhnya itu berfungsi dengan baik seperti itu.

Yang membuat miris adalah bahkan usianya baru akan memasuki kepala tiga tahun depan, tapi dia sudah seperti kakek-kakek jompo yang tidak berdaya. Untung saja tidak ada seorangpun yang mengetahui kelemahannya itu. Hal itu pula yang membuat Alex hingga saat ini menghindari menjalin hubungan dengan lawan jenis.

Kepala Alex diletakkan di atas setir. Matanya memejam. Apa dia harus menerima takdirnya yang seperti ini atau dia harus berani untuk memeriksakan dirinya ke dokter? Karena tidak mungkin dia akan melajang seumur hidupnya.

Alex mencoba mengingat-ingat kembali kapan pastinya dia kehilangan kemampuannya itu. Karena bisa dipastikan kalau dia juga bukanlah seorang perjaka. Alex tersentak. Bayangan saat dirinya terjebak dengan seorang gadis bertahun-tahun yang lalu kembali menyeruak ke dalam ingatannya.

Alex mengerang. Sekarang dia bisa mengingat sumber masalahnya. Kejadian bertahun-tahun lalu dengan seorang gadis asing yang tengah mabuk kembali berputar di kepalanya. Entah dia atau gadis itu yang memulai lebih dulu, yang jelas itu merupakan pengalaman pertama bagi keduanya.

Mengingat gadis itu dan percintaan panas mereka saat itu, Alex mulai merasakan ada yang berbeda dengan ereksinya. Alex melirik ke bawah. Sial! Apa dia hanya bisa tertarik dengan gadis itu?

***

Raya sampai di kostnya hampir tengah malam. Kondisi Aurel yang semakin mengkhawatirkan benar-benar membuatnya lemah dan kehilangan semangat. Tanpa membersihkan diri lebih dulu, Raya merebahkan dirinya di atas kasur usang tanpa dipan.

Siapapun yang mengetahui di perusahaan mana Raya bekerja dan apa jabatannya, tidak akan percaya jika melihat kehidupannya yang semenyedihkan ini. Tinggal di kamar kost sepetak dengan kamar mandi dan dapur kecil di sudut ruangan. Dengan gajinya yang menyentuh angka dua digit, harusnya kehidupan Raya bisa lebih layak dari ini. Namun mengingat Aurel yang membutuhkan banyak biaya perawatan, dia harus menekan gaya hidupnya. Karena gajinya setiap bulan saja tidak cukup untuk memenuhi biaya perawatan Aurel.

Raya berusaha memejamkan mata. Tubuhnya sudah sangat lelah, tapi pikirannya seakan tidak ingin beristirahat. Ucapan Alex mengenai Bagas kembali berputar di kepalanya.

Raya kembali menegakkan tubuh, mengambil ponsel yang sempat dia letakkan di atas meja kecil disamping kasur. Tangannya mencari-cari kontak Bagaskara, dia perlu menghubungi pria itu.

Bunyi nada dering yang terdengar di telinga Raya menandakan panggilannya pada Bagas tersambung. Tapi pria itu tidak menjawab panggilannya. Raya tidak ingin menyerah, dia kembali menghubungi pria itu. Dia ingin mengetahui kalau pria itu baik-baik saja. Ataupun kalau semua yang dibilang Alex tadi padanya benar, Raya ingin mendengar secara langsung dari mulut Bagas sendiri.

Panggilan kedua, ketiga dan keempat yang Raya lakukan hasilnya nihil. Tak ingin menyerah, Raya tetap mencoba menghubungi Bagas. Omong kosong dengan sopan santun. Raya ingin memastikan semuanya malam ini juga. Selain khawatir dengan keadaan Bagas dia juga harus mengkhawatirkan dirinya sendiri bukan? Seperti yang dikatakan Alex, kalau dia juga akan terseret kalau ada satu saja bukti mengarah kepadanya. Dan sudah sewajarnya Raya merasa khawatir mengingat betapa murah hatinya Bagas dalam membantunya setahun ini.

Nada panggilan sudah hampir berakhir saat akhirnya suara seseorang terdengar di seberang sana.

“Raya…” Panggil suara di seberang sana. “Kenapa menghubungiku selarut ini? Maaf aku tidak bisa membantumu bulan ini.”

Tubuh Raya menegang. Suara Alex yang terdengar lirih membuat Raya yakin apa yang diucapkan Alex tadi sore benar.

“Jangan pikirkan itu, Gas. Kamu baik-baik saja, kan? Sudah seminggu ini aku tidak mendengar kabarmu. Aku khawatir.” Raya membuat suara terdengar senormal mungkin. “Sedang ada masalah di kantor yang kupegang. Apa kamu tidak mendengarnya?”

“Masalah apa? Aku sama sekali belum mendengar apapun. Kau tahu sendiri aku tidak memiliki teman di kantor.” Raya berusaha berpura-pura tidak mengetahui apapun masalah yang menimpa Bagas.

“Aku terlibat penggelapan dana perusahaan, Ray.” Bagas berucap lirih.

“Kenapa bisa terjadi, Gas?”

“Aku khilaf, Ray. Maafkan aku. Sebaiknya kamu jangan menghubungiku lagi.” Bagas langsung memutus panggilan mereka.

Tubuh Raya mematung. Tangannya gemetar. Apa yang ditakutkan Raya menjadi kenyataan. Bagas mengakui perbuatannya sendiri pada Raya malam ini.

Matilah dia. Alex pasti akan mengusut tuntas kasus ini hingga ke akarnya. Semua jejak arus keluar masuk uang di rekening Bagaskara pasti akan ditelusuri oleh pria itu. Dan sudah pasti bukti riwayat transfer yang dilakukan Bagas kepadanya selama satu tahun ini akan turut diperiksa. Apalagi nominal yang diberikan Bagas padanya tidak bisa dikatakan sedikit.

***

Pagi ini Raya tiba di kantor dengan wajah yang sembab. Penampilannya yang setiap harinya sudah tidak menarik semakin tidak menarik hari ini. Bagaimana tidak, matanya tampak sembab. Efek menangisi keadaan Aurel dan begadang semalaman meratapi masa depannya yang terancam. Tapi Raya tidak peduli dengan penampilannya. Dia juga merasa tidak perlu repot-repot untuk menutupi itu dengan make up yang bisa dipastikan dia sendiri tidak memilikinya.

“Pagi, Tuan.”

Raya berdiri dan membungkukkan sedikit badannya saat Alex melewati meja kerjanya. Begitu Alex menghilang di balik pintu ruangannya Raya segera bergegas ke pantry, membuatkan minuman untuk atasannya tersebut.

Begitu selesai membuat kopi, Raya mengantarkan minuman itu pada Alex.

“Permisi, Tuan.” Raya memasuki ruangan dan meletakkan kopi milik Alex dengan perlahan di atas meja pria itu.

”Apa Theo belum datang?” Tanya Alex tanpa perlu repot mengalihkan pandangan dari layar monitor.

“Belum, Tuan.”

Alex mengangguk. “Aku sudah tidak sabar menunggu kabar pasti mengenai kasus di cabang Bali dari dia. Apa kau juga seperti itu?”

Alex menatap Raya yang masih berdiri dihadapannya. Matanya meneliti penampilan Raya yang hari ini tampak sangat kacau. Matanya juga sembab. Apa gadis itu menangisi nasib pacarnya?

Raya hanya diam. Dia tahu kalau Alex sedang mengetesnya. Mungkin pria itu juga ingin menguji mentalnya. Dan tampaknya memang berhasil. Karena dibalik diam dan sikap tenang yang Raya tunjukkan padanya, gadis itu sesungguhnya sedang merapalkan semua doa yang sekiranya bisa membantunya di dalam hati.

“Pacarmu tak mengabarimu?” Alex kembali bertanya.

“Apa ada hal lain yang Anda butuhkan, Tuan?” Tanya Raya mencoba mengabaikan penekanan yang Alex berikan.

“Apa saja jadwalku hari ini?” Balas Alex.

“Jam sepuluh akan ada rapat dengan para investor. Jam satu Anda punya janji makan siang dengan klien di Top Restaurant dan jam lima sore nanti penerbangan Anda ke Singapura.”

Mendengar penuturan sekretarisnya Alex mengerang dalam hati. Rapat dengan para pemegang saham mungkin tidak akan dia lewatkan. Tapi makan siang dengan klien dan keberangkatannya menuju Singapura mungkin tidak sepenting itu untuk dilakukan saat ini. Terlebih dia masih menunggu kabar dari Theo.

“Tolong reschedule jadwal makan siang ku dengan Tuan Blake dan batalkan penerbangan ke Singapura.”

“Baik, akan saya lakukan. Apa ada hal lain yang Anda ingin saya lakukan, Tuan?”

Alex menggeleng. “Tidak, Raya.” Senyum menyeringai yang ditujukan pada Raya terpasang di wajahnya. “Kita hanya tinggal menunggu kabar selengkapnya dari Theo. Mungkin saat dia datang membawa informasi itu kau tidak akan bisa bersantai lagi. Jadi silahkan nikmati dulu waktumu untuk sementara.”

Ucapan Alex membuat tubuh Raya menggigil. Dia sama sekali tidak tahu menahu apa yang dilakukan Bagaskara disana. Hanya karena dia menerima bantuan dari pria itu, mau tak mau dia harus terlibat dengan ini semua. Dan tentu saja Alex tidak akan semudah itu untuk percaya padanya dan melepaskannya begitu saja.

“Kenapa masih disini? Apa kamu sudah tidak ingin melakukan apa yang aku katakan?” Suara Alex sedikit meninggi.

Raya tersentak. “Ah, maaf. Sa,,, saya permisi, Tuan.” Raya balik badan. Dengan setengah berlari dia keluar dari ruangan Alex.

Melihat kegugupan Raya, Alex tersenyum puas. Hanya sedikit lagi. Sedikit lagi dia akan tahu apa penyebab gadis itu terlihat sangat membencinya selama ini.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Jerat Cinta Sang Penggoda   BAB 4

    Tepat jam makan siang rapat yang dilakukan bersama para pemegang saham akhirnya selesai. Di dalam ruangan Alex, Raya sudah mempersiapkan makan siang untuk atasannya itu sesuai dengan apa yang dia pesan sebelumnya.“Siang, Tuan. Semua sudah tersedia sesuai dengan yang Anda pesan.” Raya melapor pada Alex saat pria itu melewati meja kerjanya untuk masuk ke dalam ruang kerjanya.“Bagus. Apa Theo belum ada kabar juga?” Tanya Alex serius.Ketegangan yang terjadi di ruang rapat membuat Alex enggan menguji mental sekretaris cupunya.“Baru saja tiba, Tuan. Dia sudah menunggu Anda di dalam.”Tanpa menjawab apapun Alex berjalan cepat menuju ruangan. Bahkan pria itu menutup pintu dengan setengah membanting saking sudah tidak sabarnya untuk mendengar berita yang akan disampaikan oleh asistennya itu. Raya yang masih berdiri di tempatnya hanya bisa mengelus dada.“Jadi, informasi apa yang kau bawa padaku Theo?”“Maaf atas keterlambatan saya, Tuan. Ini semua data yang An

  • Jerat Cinta Sang Penggoda   BAB 3

    Alex meneguk kembali minuman beralkohol di tangannya. Entah sudah gelas keberapa yang dihabiskannya, tapi sama sekali belum mampu menghilangkan kesadaran pria itu. Hingar bingar musik yang berdentum pun tidak membuatnya merasa pusing, seolah kondisi seperti ini adalah hal yang biasa baginya.Di samping kanannya, seorang wanita yang berpakaian kurang bahan bergelayut manja sambil mengelus dadanya yang entah sejak kapan terbuka. Dua kancing teratas kemejanya sudah terlepas. Sementara di sebelah kirinya, seorang wanita dengan pakaian yang tak kalah minim tengah menciumi telinga Alex sambil tangannya meraba paha pria itu.Alex kembali meneguk minumannya. Di seberangnya, Reynald, teman yang datang bersamanya ke klub ini sudah asyik bercumbu dengan seorang wanita yang Alex yakini baru ditemui pria malam ini. Alex menggelengkan kepala melihat Reynald yang sudah tenggelam dalam pusaran gairah dengan gadis yang baru saja ditemuinya.“Kamu nggak ingin seperti mereka, beib?” Wanita

  • Jerat Cinta Sang Penggoda   BAB 2

    Raya mengerjapkan mata perlahan. Kesadarannya belum sepenuhnya kembali. Suasana yang gelap membuatnya kesulitan untuk menyesuaikan penglihatan. Tangannya meraba-raba untuk mencari keberadaan ponsel. Saat tak juga menemukan benda pipih itu Raya menegakkan tubuhnya, memaksa kesadarannya untuk segera pulih. Suara getaran menjadi petunjuk baginya untuk menemukan keberadaan ponselnya. Tapi belum sempat Raya menerimanya, panggilan itu sudah lebih dulu mati. Raya mengerang saat melihat jam yang menunjukkan hampir pukul setengah sembilan malam. Kedua tangannya memukul pelan kepala, merutuki kecerobohannya. Seingatnya, tadi sebelum tidur dia baru keluar dari ruangan atasannya. Astaga! Apa bosnya sudah pulang? Kalau melihat situasi kantor yang sudah gelap dan sepi, pastilah bosnya itu sudah tidak berada di ruangannya. Apa bosnya itu melihatnya tertidur? Berapa lama dia tertidur? Kenapa bosnya tidak membangunkannya? Tega sekali pria itu. Dan apa petugas yang menjaga gedung ha

  • Jerat Cinta Sang Penggoda   BAB 1

    Alex berjalan cepat memasuki ruangannya. Asisten pribadinya, Theo, mengikuti langkahnya dengan tergesa di belakang. Begitu sampai di ruangan Alex menghempaskan tubuh ke kursi kebesarannya. “Apa penyebabnya?” Suara bariton Alex terdengar. “Kecurangan yang dilakukan orang dalam, Tuan. Ada selisih data yang besar di laporan yang mereka sampaikan. Tim audit baru saja memastikannya.” “Kurang ajar!” Ucap Alex. Rahangnya mengeras. Matanya tampak mengkilap, memancarkan kemarahannya yang begitu besar. Tangan Alex yang tadi memegang dagu kini mengepal kuat. Siapapun bisa melihat kalau pemilik sekaligus pemimpin Lexaya Group itu sedang marah. “Seberapa besar kerugian perusahaan?” Tambahnya. “Untuk saat ini tim audit melaporkan angka selisih sebesar satu setengah milyar rupiah.” Jawab asistennya cepat. “Namun mereka masih terus melakukan pengecekan untuk memastikan jumlah pastinya.” Satu setengah milyar? Dahi Alex berkerut heran. Bukan soal nominalnya. Alex bisa memastikan kalau per

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status