로그인Sore mulai merambat turun menjadi malam ketika roda-roda mobil mewah Axel melintas mulus melintasi gerbang utama.Axel sengaja mempercepat kepulangannya, menyelesaikan rentetan urusan bisnis lebih awal hanya untuk kembali ke rumah ini.Langkah tegapnya bergema kaku di koridor utama yang hening. Mengikuti dorongan nalurinya, Axel memilih melintasi area dapur di lantai dasar guna memeriksa persiapan jamuan lusa.Namun, tepat di ambang pintu dapur yang terbuka separuh, langkah Axel terhenti mati.Pandangan mata elangnya seketika mengunci satu pemandangan yang menyengat dadanya.Di dekat meja marmer racik, Freya sedang berdiri sangat dekat di samping seorang pria muda berapron putih.Freya sedang tertawa lepas, sebuah tawa ceria yang amat leluasa dan belum pernah Axel saksikan seumur hidupnya, saat jemari Thomas terangkat halus, mengusap sedikit noda putih tepung di pipi mulus istrinya.Mata Axel menyipit tajam. Gelombang kejengkolan yang amat pekat, rasa terancam, dan amarah posesif seke
"Nyonya Freya, hidangan utama kita sudah selesai," ujar Thomas dengan nada suara yang begitu renyah.“Bagaimana kalau sekarang kita menangani bagian terbaik dari seluruh jamuan ini? Saya ingin mengajari Anda membuat sajian penutup favorit keluarga besar Leonardo."Freya mendongak, matanya yang semula redup oleh sisa-sisa kecemasan mendadak berbinar tertarik. "Sajian penutup favorit? Apa itu, Thomas?""Mousse cokelat hitam dengan sentuhan ektrak lavender," jawab Thomas seraya memindahkan mangkuk-mangkuk kaca dan batangan cokelat belgia kualitas tertinggi ke atas meja kerja mereka."Hidangan ini adalah tradisi wajib di meja makan keluarga Leonardo. Teksturnya harus sehalus sutra, dan perpaduan rasa pahit manisnya harus seimbang sempurna. Mau mencobanya?""Tentu saja! Tolong ajari aku," sahut Freya antusias, melangkah makin mendekat ke sisi Thomas tanpa ragu sedikit pun.Interaksi di antara mereka terjalin sangat erat dan penuh canda tawa di sore yang hangat itu.Thomas dengan telaten da
Di pagi harinya di kediaman Leonardo.Freya menarik napas sejenak untuk memulai persiapan menyambut keluarga besar Axel yang akan datang besok.Langkah kakinya terhenti sejenak di ambang pintu dapur ketika aroma harum kaldu gurih dan irisan rempah segar menyambut penciumannya.Di tengah kesibukan beberapa asisten dapur yang berlalu-lalang, sosok pria asing berpostur tegap membelakanginya, sibuk menata bahan-bahan makanan segar di atas meja racik.Pria itu memutar tubuhnya saat mendengar derak halus langkah Freya, mengungkapkan paras tampan berusia sekitar tiga puluh tahun dengan garis wajah yang tegas namun dibingkai oleh senyuman yang amat hangat.Dialah Thomas, koki pribadi baru yang khusus disewa oleh manajemen kediaman Leonardo untuk mengeksekusi jamuan makan malam resmi lusa nanti."Maaf, apakah aku mengganggu aktivitas di sini?" sela Freya lembut, sambil menyatukan kedua tangannya di depan tubuh dengan canggung.Thomas sempat mematung sejenak, matanya mengerjap kaget menatap sos
Sementara di tempat pertemuan.Langkah kaki Axel yang mantap bergema kaku di atas lantai kayu ruang VIP sebuah restoran privat bergaya klasik di pusat kota tujuan bisnisnya.Di ujung ruangan yang temaram oleh pendar lampu gantung kristal, sosok Juan—pria paruh baya berwibawa tinggi dengan stelan jas buatan penjahit ternama London, duduk tenang di kursi kebesarannya.Di samping Juan, Verrel duduk bersedekap dengan gaun silk elegan, mengangguk tipis menyambut kedatangan sang kakak.Dinamika keluarga Leonardo yang dingin, formal, dan sarat akan dominasi seketika menyelimuti udara, membekukan setiap jengkal atmosfer di ruangan tersebut.Axel menarik kursi kayu di seberang ayahnya, lalu mendudukkan tubuh tegapnya tanpa mengumbar senyum sedikit pun."Semua dokumen pemindahtangan aset dan akuisisi enam puluh persen saham konsorsium sudah ditandatangani. Pihak lawan menyetujui seluruh klausul penalti yang kita ajukan tanpa syarat," buka Axel langsung pada intinya.Juan menyesap wiski di gelas
Suara langkah kaki Freya terdengar beradu halus dengan permukaan marmer dingin saat ia menyusuri koridor utama kediaman Leonardo."Apakah aku hanya sebuah tempat pelampiasan gairah baginya?" bisik Freya pelan pada dirinya sendiri, sembari meremas ujung gaunnya seraya menatap deretan lukisan megah di dinding koridor.Di tengah usahanya menata kembali puing-puing kewarasan dan menenangkan pergolakan batin yang kian menyiksa, denta nyaring telepon rumah di atas meja konsol ruang tengah mendadak memecah keheningan.Bunyi itu berdering berulang kali, terdengar menuntut dan memicu firasat buruk. Freya menghentikan langkahnya, menelan ludah dengan susah payah sebelum melangkah mendekat dan mengangkat gagang telepon hitam berukir emas tersebut."Halo, selamat pagi. Kediaman Leonardo di sini," ucap Freya mencoba menjaga intonasi suaranya agar tetap tenang dan teratur."Freya? Baguslah kalau kau sudah bangun," suara dari ujung saluran menyapa tanpa jeda.Suara itu terpatri dengan intonasi yang
Sinar matahari pagi menyusup tipis melalui celah tirai kamar utama, membiaskan pendar cahaya hangat di atas permukaan ranjang king-size.Freya bergerak perlahan di balik selimut tebal, mencoba membuka matanya yang berat.Kelopak matanya terasa mengantuk, sementara seluruh persendian, pangkal paha, dan tulang belakangnya menjerit lemas akibat gempuran gairah intens tanpa henti sepanjang malam lalu.Freya memutar tubuhnya yang kaku, menoleh ke sisi ranjang di sampingnya. Tempat itu sudah kosong.Bekas lekukan tubuh Axel masih terlihat di atas seprai sutra, namun permukaan kain tersebut sudah terasa dingin ketika tersentuh oleh jemari Freya.Pria itu sudah tidak berada di sana.Pandangan Freya yang masih sedikit buram kemudian tertuju pada meja nakas di samping tempat tidur.Di sana, tepat di sebelah gelas air putih, terletak selembar kertas catatan kecil (notes) berwarna putih. Freya mengulurkan tangannya yang lemas, meraih kertas tersebut.Di atas kertas itu, terukir goresan tinta hita







