Chapter: Jangan Mengejekku, LioraKereta kuda berhenti dengan sentakan mantap di depan gedung markas militer perbatasan Utara.Alistair turun terlebih dahulu, diikuti Liora yang merapatkan jubahnya dari tiupan angin yang membawa aroma mesiu dan besi.Mereka melangkah cepat melewati barisan prajurit yang memberikan hormat kaku, langsung menuju ruang kerja pribadi sang Duke yang terletak di lantai paling atas.Begitu pintu ek tebal itu tertutup rapat, Alistair langsung melempar mantel militernya ke atas sofa kulit.Pria tegap itu berjalan menuju meja kayu besar yang dipenuhi tumpukan berkas logistik, peta wilayah, dan dekret kementerian yang tersegel merah."Liora, kemari," panggil Alistair, suaranya bariton dan taktis tanpa basa-basi. Ia menarik sebuah kursi ke sisi mejanya."Duduklah di sini. Aku butuh kau memeriksa daftar anggaran pasokan medis dan pangan untuk distrik bawah. Louis tidak bisa menghandle ini sendirian di menara barat."Liora tidak langsung menuruti perintah itu. Ia melangkah perlahan mendekati meja ke
Last Updated: 2026-07-13
Chapter: Puncak Amarah IsabellaBrak! Prang!Isabella merenggut vas keramik antik dari atas meja konsol di lobi mansionnya dan menghantamkannya ke lantai marmer dengan kekuatan penuh.Pecahan porselen putih berhamburan, sebagian mengenai ujung sepatu satinnya yang mahal.Napasnya memburu cepat, wajahnya yang semula cantik kini memerah padam oleh perpaduan rasa malu, murka, dan penolakan yang membakar batinnya."Sialan! Bajingan kau, Alistair!" jerit Isabella, suaranya melengking tinggi menembus langit-langit lobi yang megah.Ia membalikkan tubuhnya dengan sentakan aksi yang agresif, lalu merenggut pajangan dinding dari perak dan melemparnya ke sembarang arah.Kemarahn wanita itu memancar dari sorot matanya yang liar; keangkuhannya sebagai putri menteri kini hancur berkeping-keping setelah dihina langsung di depan Liora, wanita yang selama ini ia anggap sebagai sampah klan utang."Ini semua pasti karena jalang miskin itu! Ini pasti ulah Liora!" maki Isabella lagi, jemarinya mencengkeram rambut pirangnya sendiri hingg
Last Updated: 2026-07-12
Chapter: Sudah Mengambil KeputusanKeesokan paginya, udara musim dingin yang menusuk tulang menyelimuti kereta kuda klan Von Drachen saat kendaraan itu berhenti dengan sentakan pelan di depan sebuah mansion mewah berpagar besi tempa.Liora menatap ke luar jendela, meremas saputangan di pangkuannya dengan jemari yang kaku. Jantungnya berdegup kencang, memancarkan rasa gugup yang teramat menonjol di dadanya.Alistair yang duduk di hadapannya justru tampak sangat santai. Pria itu dengan tenang mengenakan sarung tangan kulit militernya, lalu membuka pintu kereta dan turun terlebih dahulu, sebelum mengulurkan tangannya yang kokoh untuk membantu Liora."Jangan tegang, Liora. Kau adalah Duchess Blackwood yang sah di wilayah ini," bisik Alistair, suaranya bariton dan penuh penekanan pelindung saat mereka melangkah menuju teras mansion.Pintu ek besar rumah itu terbuka tak lama kemudian. Isabella melangkah keluar dengan gaun sutra merah muda yang indah, rambut pirangnya tertata rapi.Begitu matanya menangkap sosok tinggi tegap
Last Updated: 2026-07-11
Chapter: Sudah Waktunya Mengakhiri Semuanya"Apa maksudmu, Louis?" tanya Liora sembari mengerutkan keningnya dalam-dalam.Ia kemudian melangkah maju satu tindak, menuntut kejelasan dari ucapan pria itu yang mendadak terasa rancu di telinganya.Namun, Louis hanya menyunggingkan seulas senyum tipis yang penuh rahasia. Ia membungkuk hormat, menolak memberikan jawaban lebih jauh."Saya rasa, akan jauh lebih baik jika Duke Alistair sendiri yang menjelaskan semuanya kepada Anda, Duchess. Saya mohon pamit terlebih dahulu karena masih banyak dokumen kementerian yang harus segera saya selesaikan di ruang sebelah.""Louis! Tunggu dulu, jangan pergi!" Liora memanggil Louis dengan setengah berseru, tangannya terulur hendak menahan ujung mantel pria itu.Namun, asisten pribadi suaminya itu mengabaikan panggilannya dengan langkah kaki yang sengaja dipercepat, menghilang di balik tikungan koridor menara barat.Liora menghentakkan kakinya kesal, lalu mendengus pelan karena selalu saja diperlakukan seperti ini oleh orang-orang di sekeliling Ali
Last Updated: 2026-07-10
Chapter: Tidak Sepenting itu di Hidup Alistair"Wanita yang tidak punya hati."Liora terperanjat kaget mendengar ucapan tajam tersebut yang tiba-tiba berbisik dekat di koridor menara barat. Jantungnya berdegup kencang akibat sentakan aksi yang mendadak itu.Ia segera membalikkan tubuhnya dengan cepat, tangannya refleks mencengkeram erat jubah wolnya di dada. Begitu matanya fokus, ia mendapati Louis sedang berdiri di belakangnya dengan setelan hitam formal yang rapi."Kau mengagetkanku saja, Louis," keluh Liora, mengembuskan napas panjang untuk meredakan keterkejutannya. Ia memukul pelan lengan asisten suaminya itu menggunakan jemarinya yang masih dingin.Louis terkekeh rendah, lalu menundukkan kepalanya sejenak dengan gestur sopan. "Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya, Duchess. Saya tidak bermaksud mengejutkan Anda di koridor sepi ini."Pria itu menegakkan tubuhnya kembali, menatap Liora dengan binar mata yang lebih hangat. "Saya hanya ingin bertanya, apakah liburan seminggu ini di semenanjung Selatan menyenangkan bagi Anda?"
Last Updated: 2026-07-09
Chapter: Wanita yang Hanya MemanfaatkanmuKereta kuda berlogo klan Von Drachen berhenti dengan sentakan pelan di depan pelataran utama Kastil Blackwood.Liora melangkah turun terlebih dahulu, merapatkan jubah wolnya karena embusan angin Utara yang langsung menusuk kulit. Namun, langkah kakinya seketika terhenti di ambang pintu masuk utama.Duchess Sophia sudah berdiri di sana, menghadang jalan dengan kedua tangan melipat di dada. Tatapan matanya menghunus tajam, memancarkan kebencian murni yang langsung diarahkan pada Liora."Kau akhirnya kembali, wanita pembawa sial," desis Sophia, suaranya melengking dingin memecah keheningan pelataran.Ia pun melangkah maju dua tindak dan menatap Liora dari atas ke bawah."Kau sudah membuang-buang waktu berharga Alistair dengan mengajaknya pergi ke tempat terkutuk itu selama tujuh hari! Kau tahu berapa banyak urusan kementerian yang terbengkalai karena ulah egomu?!"Liora menaikkan sebelah alisnya, tidak lagi menunjukkan tubuh yang gemetar seperti empat tahun lalu. Ia menegakkan bahu, mena
Last Updated: 2026-07-09
Chapter: Tamat!Cahaya senja membias di jendela kaca besar kantor pusat Felix Corporation.Di dalam ruangannya yang luas dan kini terasa jauh lebih tenang, Felix berdiri memandangi kota Meksiko yang tengah sibuk menjelang malam. Di tangan kirinya tergenggam selembar laporan penahanan atas nama Marsha Estrella Germain.Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan udara masuk perlahan ke dalam paru-parunya. Semua terasa nyata—dan berakhir. Setelah berbulan-bulan permainan kotor dan manipulasi, akhirnya satu per satu kepingan masalah itu runtuh.Di sisi lain kota, Marsha baru saja dibawa menuju ruang tahanan wanita dengan wajah kusut dan rambut berantakan.Tuduhan atas pemalsuan identitas, pencemaran nama baik, serta keterlibatannya dalam konspirasi pemalsuan hasil DNA, kini resmi menjatuhkan vonis yang akan lama membelenggunya.Saat pintu sel tertutup di belakang punggungnya, Marsha terduduk di lantai. Ia memeluk lutut, matanya menatap kosong ke arah jeruji besi yang dingin. Tak ada lagi senyum licik, tak ad
Last Updated: 2025-06-23
Chapter: Sabotase yang TerencanaPagi yang biasanya penuh ketenangan di rumah besar keluarga Felix berubah menjadi hiruk-pikuk.Berita di layar televisi menampilkan laporan mendesak tentang proyek konstruksi milik Felix yang tiba-tiba dihentikan oleh pihak berwenang karena tuduhan pemalsuan dokumen legal dan ketidaksesuaian struktur bangunan.Emily yang tengah menyusui bayi mereka, Oliver, langsung menoleh pada Felix dengan wajah penuh tanya.“Ada apa ini, Lex?” tanyanya, suaranya serak karena cemas.Felix berdiri di tengah ruang keluarga, wajahnya tegang, jemarinya menggenggam ponsel erat.“Ini ulah Harland,” gumamnya lirih, namun penuh keyakinan.Emily berdiri perlahan, menggendong bayi mereka. “Dia belum selesai juga, ya?”Felix mengangguk, matanya penuh bara. “Dia tahu dia kalah dalam permainan sebelumnya. Sekarang dia mengincar reputasiku di mata publik.”Tak berselang lama, Axl masuk tergesa-gesa membawa se
Last Updated: 2025-06-23
Chapter: Malam yang MembaraPagi itu, udara Meksiko berhembus sejuk ke halaman depan rumah Felix dan Emily. Burung-burung bernyanyi di kejauhan, dan aroma kopi segar memenuhi ruang makan tempat Emily duduk santai sambil memandangi halaman dari jendela kaca.Baru saja ia akan menyeruput minuman hangatnya, suara ketukan keras terdengar dari arah depan. Tak seperti biasanya—suara itu terdengar menantang, kasar, dan tidak sabar.Salah satu pelayan berlari masuk dan berkata pelan, “Nyonya... ada tamu di gerbang depan. Seorang wanita... menyebut namanya Marsha.”Emily meletakkan cangkir dengan tenang. Matanya menajam.Ia bangkit dan berjalan ke arah pintu depan. Tak lama, pintu utama terbuka, dan sosok yang sudah sangat dikenalnya berdiri di sana dengan senyum mengejek di wajahnya.Marsha mengenakan gaun putih elegan yang terlalu mencolok untuk pagi hari. Di gendongannya, seorang anak laki-laki duduk tenang, tak tahu apa-apa tentang badai yang sedang bergulir di a
Last Updated: 2025-06-23
Chapter: Kebenaran yang Akhirnya TerungkapHujan turun lembut membasahi atap kantor Felix malam itu. Di dalam ruang kerjanya yang gelap dan hening, Felix menatap jendela kaca besar dengan pandangan kosong.Sudah lima hari sejak hasil tes DNA pertama keluar—dan ia masih tidak bisa mempercayainya. Ada yang janggal. Ada yang tidak bisa ia terima begitu saja.Namun di balik semua itu, ada seseorang yang bekerja diam-diam: Noah.Tanpa sepengetahuan siapapun, bahkan Felix, Noah telah membawa sampel DNA yang sama ke laboratorium independen lain. Ia tahu, kakaknya tidak akan pernah bisa tenang bila tidak menemukan kebenaran sejati.Dan sore itu, hasilnya datang.Noah langsung menjemput berkasnya sendiri, mengamankannya seperti harta karun.Ia membuka amplop itu dengan tangan dingin, membaca isinya cepat namun teliti. Begitu selesai, ia menghela napas panjang—antara lega dan marah.Hasilnya negatif. Anak itu bukan darah daging Felix.Di tempat lain, di sebuah apartemen mewah yang disediakan Harland, Marsha duduk bersandar di sofa denga
Last Updated: 2025-06-22
Chapter: Hasil yang MenyesakkanLangit Meksiko tampak cerah pagi itu, tetapi hati Emily sebaliknya—gelap, suram, dan penuh keraguan. Ia duduk diam di ruang kerja rumah mereka, menatap amplop putih di atas meja. Di sana tertulis dengan huruf tebal:“Hasil Pemeriksaan DNA – Confidential.”Jantungnya berdetak keras. Tangan Emily gemetar saat membuka amplop itu, dan begitu matanya membaca isi laporan laboratorium, tubuhnya seketika kaku.“Kecocokan DNA antara subjek A (Felix Ricardo) dan subjek B (anak laki-laki bernama Mateo): 99,98%. Kemungkinan sebagai ayah biologis: Sangat Tinggi.”Emily menatap lembaran itu lama. Satu per satu kata seakan membakar matanya. Sangat tinggi. Kata-kata itu menghujam seperti paku ke dalam hatinya.Saat Felix pulang tak lama kemudian, ia langsung menghampiri Emily yang masih duduk terpaku.“Sudah datang?” tanyanya sambil menunjuk amplop yang digenggam Emily.Emily mengangguk pelan. “Kau ingin membacanya sendiri?” tanyanya tanpa intonasi.Felix mengambil lembaran itu, membacanya cepat, lal
Last Updated: 2025-06-22
Chapter: Baru Saja DimulaiDunia bisnis tidak pernah tidur. Begitu pula dengan ancaman yang bersembunyi di balik senyuman formal dan jabat tangan hangat. Hari itu, ruang rapat Ricardo Corporation lebih sunyi dari biasanya.Felix duduk di ujung meja besar berlapis kaca hitam, matanya menatap dokumen pembatalan kerja sama dari dua perusahaan Eropa yang selama ini menjadi klien utama.Felix mengernyit, lalu meletakkan kertas itu di atas meja dengan suara pelan namun tegas. “Ini yang kedua minggu ini,” gumamnya pelan.Noah, yang duduk di sebelahnya, menatap Felix dengan wajah tegang. “Kita dapat kabar bahwa beberapa mitra merasa reputasimu mulai dipertanyakan, Lex. Rumor di luar... menyebar cepat.”Felix mengangkat wajahnya, rahangnya mengeras. “Mereka bilang apa?” tanyanya ingin tahu.Noah menunduk sesaat sebelum berkata, “Bahwa kau telah menelantarkan anakmu, darah dagingmu sendiri. Bahwa kau tidak bertanggung jawab dengan apa yang telah kau lakukan pada Marsha.”Brak!Felix menghantam meja itu dengan keras. Ia k
Last Updated: 2025-06-21
Chapter: Akhir Cerita Kita - TamatBeberapa minggu telah berlalu sejak malam persalinan yang menegangkan itu. Kini, suasana Kastil Blackwood telah kembali tenang, dilingkupi oleh kebahagiaan yang lengkap dan murni.Sisa-sisa perancah kayu di sayap timur telah dibongkar sepenuhnya, menampilkan detail arsitektur lanskap Utara yang damai dengan dinding-dinding batu granit yang kokoh, kini bertengger megah di bawah hamparan salju putih yang berkilauan bagai jutaan berlian diterpa cahaya fajar.Di dalam ruangan yang hangat oleh kertak kayu ek di perapian itu, Sienna sedang duduk dengan anggun di atas sofa kulit besar. Jubah sutra bepergiannya yang kaku telah digantikan oleh gaun rumah berbahan wol lembut sewarna madu.Dengan dekapan yang teramat mendekap penuh naluri keibuan, ia sedang menyusui Sophia kecil yang perlahan-lahan mulai tertidur lelap, menyisakan suara hisapan kecil yang teramat damai.Di atas lantai karpet beruang kutub yang tebal di dekat kaki sofa, Edward duduk bersila. Tangan mungilnya memegang sebuah maina
Last Updated: 2026-06-26
Chapter: Hadirnya Shopia VanceOEKKK… OEKKK… OEKKK…Tangisan bayi perempuan yang begitu bersih, nyaring, dan sehat itu terus menggema indah di bawah kubah menara barat. Suara itu bertindak bagai hembusan angin suci yang menyapu bersih seluruh residu ketegangan, bau obat bius, dan ketakutan ekstrem yang sempat menjajah seisi Kastil Blackwood selama berjam-jam.Badai hujan musim gugur di luar jendela seolah mereda, menyisakan desau angin malam yang tenang untuk menyambut sang pewaris baru.Dokter utama klan Blackwood bergerak dengan cekatan yang terlatih. Mengikuti praktik medis modern awal abad ke-20, ia memotong tali pusat menggunakan gunting perak steril, membersihkan sisa cairan ketuban dari tubuh mungil itu dengan kain linen hangat, lalu membungkusnya ke dalam selimut wol halus berbordir lambang elang ganda klan."Ini dia, Yang Mulia Duchess. Putri kecil Anda," ucap dokter dengan suara baritonnya yang bergetar haru.Dengan gerakan yang teramat lembut, dokter meletakkan bayi merah itu di atas dada Sienna. Sang Du
Last Updated: 2026-06-26
Chapter: Tangisan Bayi di KastilHujan badai di luar menara barat kian menggila, menghantam kaca-kaca jendela yang bergetar hebat. Di dalam kamar bersalin, suasananya tak kalah mencekam. Udara pekat dipenuhi oleh aroma tajam uap antiseptik karbol dan uap air panas yang membubung dari baskom-baskom tembaga.Proses persalinan itu telah berjalan selama berjam-jam, berubah menjadi drama psikologis dan fisik yang teramat melelahkan bagi semua orang yang berada di dalam ruangan.Sienna terbaring di tengah ranjang besar, gaun tidurnya telah basah kuyup oleh keringat dingin. Setiap beberapa menit sekali, gelombang kontraksi yang mengerikan datang menggulung rahimnya, memaksanya berjuang di antara hidup dan mati. Rambut hitamnya menempel kusut di dahi, dan wajah cantiknya pias menahan rasa sakit yang teramat primitif.SREEEKKK!Sienna meremas seprai katun Mesir hingga kain mahal itu koyak di beberapa bagian. Tangan kanannya mencengkeram jemari tangan Lucien yang berdiri setia di sisi kepala ranjang.Cengkeraman Sienna begitu
Last Updated: 2026-06-26
Chapter: Kontraksi Pertama SiennaPetir menyambar hebat membelah langit Utara yang kelabu, disusul deru badai hujan musim gugur yang menghantam kaca-kaca jendela tinggi Kastil Blackwood dengan bising yang konstan. Sore itu, bulan kesembilan kehamilan Sienna akhirnya digenapi.Di dalam ruang duduk menara barat yang hangat, Sienna sedang mencoba memfokuskan pikirannya dengan menyulam saputangan linen di dekat perapian. Jari-jarinya yang lentik bergerak ritmis di antara benang sutra emas, mencoba mengabaikan pegal ringan yang menggelayuti pinggangnya sejak pagi.Namun, ketenangan domestik itu hancur berantakan dalam hitungan detik.JLEB!Sebuah gelombang kontraksi asli yang teramat hebat dan mendadak menghantam dinding rahim Sienna tanpa ampun. Rasanya bagai sebilah belati panas yang diputar paksa di dalam perut bawahnya. Sentakan rasa sakit yang luar biasa itu membuat cengkeraman tangannya lepas seketika; pemidang dan benang sulamnya jatuh tergelincir ke atas karpet wol.Sienna terkesiap, tubuhnya melengkung menahan per
Last Updated: 2026-06-26
Chapter: Bayang-Bayang Kelam Masa LaluKeheningan yang mencekam menyelimuti kamar utama klan Blackwood, hanya diinterupsi oleh kertak kayu pinus yang terbakar di dalam perapian. Di bawah temaram pendar lampu minyak karbida yang bergoyang pelan, atmosfer kamar terasa begitu sarat akan beban emosional yang pekat.Kemarahan Sienna yang semula berkobar bagai api perang, mendadak membeku, lalu mencair sepenuhnya melihat sang Serigala Utara berlutut pasrah dengan tubuh yang bergetar di pangkuannya.Sienna perlahan menurunkan jemarinya, menyusup di antara helaian rambut perak Lucien yang biasanya tertata rapi namun kini berantakan. Ia bisa merasakan kehangatan napas Lucien yang memburu di balik lipatan sutra jubah tidurnya."Lucien... tatap aku," bisik Sienna, suaranya melunak, kehilangan seluruh ketajaman hukumnya.Dengan perlahan, Lucien mengangkat kepalanya. Sepasang mata kelabu yang biasanya memancarkan kilat intimidasi militer yang mematikan, kini tampak begitu rapuh, diselimuti oleh kabut luka lama yang teramat kelam.Topen
Last Updated: 2026-06-26
Chapter: Rasa Muak sang DuchessCEKLEK!Pintu jati besar kamar utama bergaya Edwardian itu bergetar pelan saat Lucien memutar kunci cadangan kuningan dari luar. Drama proteksi yang berlebihan ini akhirnya mencapai titik puncaknya malam ini.Setelah Lucien bertindak teramat diktator dengan membatalkan kunjungan sosial Sienna ke toko buku Emma di distrik bawah, serta melarangnya membaca katalog fiksi terlalu lama dengan dalih medis kuno bahwa aktivitas mental yang intens dapat "membebani pikiran" dan merusak temperamen sang jabang bayi, Sienna memilih jalannya sendiri.Sang Duchess mengunci diri, menolak turun untuk makan malam, dan melancarkan aksi mogok bicara yang sukses membuat seisi kastil dilingkupi atmosfer horor yang mencekam.Aksi mogok bicara Sienna terbukti jauh lebih mematikan bagi Lucien ketimbang kepungan artileri faksi kerajaan di Ibu Kota. Sang Duke yang biasanya berwibawa mutlak itu kini melangkah masuk dengan guratan kepanikan domestik yang nyata di wajah tampannya.Di dalam kamar yang temaram, Sienn
Last Updated: 2026-06-25
Chapter: Akhir yang Abadi (Tamat)Matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden ruang makan, memantulkan cahaya pada peralatan makan perak yang tertata rapi.Aroma wafel hangat dan sirup mapel memenuhi ruangan, namun suasana pagi itu terasa sedikit berbeda. Liam dan Aleena duduk berdampingan, saling bertukar pandang penuh rahasia yang membuat Aiden menghentikan kegiatannya mengoles selai cokelat.“Mami, Papi, kenapa kalian senyum-senyum terus sejak tadi?” tanya Aiden dengan nada detektifnya yang khas. “Apa ada mainan baru lagi yang datang?”Eve ikut mendongak, mulutnya masih penuh dengan potongan buah stroberi. “Atau kita mau pergi ke kebun binatang lagi?”Liam berdeham, mencoba mengatur nada suaranya agar terdengar tenang namun tetap menyimpan kejutan. Ia meraih tangan Aleena di bawah meja, meremasnya lembut sebelum akhirnya angkat bicara.“Bukan mainan, Aiden. Dan bukan sekadar jalan-jalan, Eve. Papi dan Mami punya kabar yang jauh lebih besar.”Aleena tersenyum, mata
Last Updated: 2026-04-13
Chapter: Berkah di Tengah KebahagiaanPagi buta masih menyisakan embun di jendela kamar mandi saat Aleena terbangun dengan perasaan yang tidak menentu. Ia membiarkan Liam tetap terlelap di balik selimut tebal, napas suaminya itu terdengar teratur dan damai.Dengan langkah berjinjit yang sangat hati-hati, Aleena mengunci pintu kamar mandi dan meraih sebuah kotak kecil yang ia beli secara sembunyi-sembunyi saat pergi ke apotek kemarin sore.Tangannya gemetar hebat. Ada rasa takut yang menyeruak, takut jika ia hanya terlalu berharap, atau takut jika keadaan yang sudah sempurna ini akan berubah kembali.Namun, di balik itu, ada binar kebahagiaan yang mulai mekar di sudut hatinya. Ia menunggu dalam keheningan yang mencekam, hanya ditemani detak jarum jam dinding dan degup jantungnya sendiri yang kian memburu.Dua garis merah.Aleena menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan pekikan yang hampir lolos. Air mata seketika jatuh membasahi pipinya.Dua garis itu tampak sangat jelas, ti
Last Updated: 2026-04-13
Chapter: Labirin Kebahagiaan di Rumah BaruEnam bulan telah berlalu sejak janji suci diucapkan di kapel sunyi itu, dan kehidupan Aleena kini terasa seperti lembaran buku dongeng yang menjadi nyata.Mereka telah pindah ke mansion baru di kawasan perbukitan yang dibeli Liam sebagai kado pernikahan.Rumah itu bukan sekadar bangunan megah dari beton dan kaca; ia adalah benteng kebahagiaan yang dipenuhi cahaya matahari setiap paginya.Aroma kopi yang baru diseduh dan wangi roti panggang kini menjadi latar suara alami di dapur mereka yang luas.Aleena berdiri di dekat meja marmer, memperhatikan melalui jendela besar ke arah halaman belakang.Di sana, di atas hamparan rumput hijau yang dipangkas rapi, ia melihat pemandangan yang dulu hanya berani ia impikan dalam khayalan paling liar.Liam sedang berlutut di atas tanah, mengenakan kaos santai yang kini sedikit kotor oleh rumput. Di sampingnya, Aiden sedang serius memegang obeng kecil, mencoba memperbaiki bagian roda pada robot penj
Last Updated: 2026-04-13
Chapter: Malam Pengantin yang LiarPintu kamar penthouse mewah itu tertutup dengan debuman halus yang seolah memutus seluruh hubungan mereka dengan dunia luar.Di dalam ruangan luas yang kini telah disulap menjadi kamar pengantin, aroma lilin aromaterapi beraroma sandalwood dan mawar merah merebak, menciptakan suasana yang intim sekaligus menggoda.Kelopak bunga mawar merah berceceran di atas lantai marmer hingga menuju ranjang king size yang sudah dihias dengan sprei sutra berwarna putih bersih.Namun, perhatian Liam tidak tertuju pada dekorasi mahal tersebut. Matanya terkunci sepenuhnya pada sosok wanita yang kini resmi menyandang namanya.Aleena berdiri di tengah ruangan, membelakangi Liam, mencoba melepaskan kancing-kancing rumit pada bagian punggung gaun pengantinnya dengan jemari yang gemetar.Tanpa suara, Liam melangkah mendekat. Bayangannya yang besar menyelimuti tubuh mungil Aleena.Ia menyingkirkan jemari Aleena yang kikuk, menggantikannya dengan tangannya yang besar dan hangat. Satu per satu, kancing itu ter
Last Updated: 2026-04-12
Chapter: Janji Suci di AltarPagi itu, kediaman keluarga Liam dan Aleena tidak dipenuhi oleh hiruk-pikuk ratusan tamu atau deru musik yang memekakkan telinga.Sesuai keinginan mereka, pernikahan ini dirancang sebagai sebuah oase ketenangan, sebuah upacara sakral yang hanya disaksikan oleh mereka yang benar-benar memahami beratnya perjuangan dua jiwa ini untuk kembali bersatu.Udara musim semi yang sejuk merayap masuk melalui jendela besar kapel privat di pinggiran kota, membawa aroma rumput basah dan bunga melati yang baru saja mekar.Di ruang rias, Aleena duduk diam di depan cermin besar berbingkai emas. Jenny, sahabat setianya sejak masa-masa tersulit, berdiri di belakangnya sambil memegang sisir berlapis mutiara. Jenny tidak bisa menahan senyum haru yang terus mengembang di bibirnya.“Kau terlihat sangat bercahaya, Aleena. Bukan hanya karena riasan ini, tapi karena matamu akhirnya menemukan kembali binar yang hilang tujuh tahun lalu,” bisik Jenny lembut.Aleena menatap pantulannya. Tata riasnya sengaja dibuat
Last Updated: 2026-04-12
Chapter: Pemutusan Rantai TerakhirLayar ponsel di genggaman Aleena seolah membakar telapak tangannya. Pesan-pesan John bukan sekadar ancaman bunuh diri; itu adalah jerat emosional yang dirancang untuk menariknya kembali ke dalam pusaran kegelapan.Namun, Aleena tidak sadar bahwa Liam, dengan ketajaman instingnya yang telah terasah di dunia bisnis yang kejam, sudah memperhatikan perubahan drastis pada raut wajah tunangannya sejak di dalam butik.Begitu mereka masuk ke dalam mobil, Liam tidak langsung menjalankan mesin. Ia meraih ponsel Aleena dengan gerakan yang tenang namun tak bisa dibantah. Matanya menyapu barisan teks penuh kegilaan dari John.Rahang Liam mengeras, urat-urat di lehernya menegang, namun ia tidak meledak. Ia justru memberikan ponsel itu kepada Rendra yang duduk di kursi kemudi.“Bawa Mami pulang. Pastikan dia tidak keluar rumah dan jaga anak-anak dengan ketat,” perintah Liam, suaranya sedingin es di kutub utara.“Liam, apa yang akan kau lakukan? Dia bilang dia akan...” suara Aleena bergetar, ia menco
Last Updated: 2026-04-12