Share

4. Rahasia Demi Rahasia

Hari itu tanpa ada peringatan sebelumnya, Rissa batal bertemu sang CEO. Pesan itu disampaikan Marissa selepas Pak CEO selesai bertemu Direktur.

“Maaf, Miss Rissa. Sepertinya Pak CEO sedang tidak berkenan untuk ditemui,” katanya. Ekspresi wajahnya saat itu terlihat agak khawatir. Dia tidak memberi tahu alasannya lebih jauh pada Rissa karena itu bukan urusannya. Dia juga tidak tahu lebih jauh alasan Pak Jona tidak mau bertemu dengan Rissa.

Rissa mengangguk.

“Oh, baik Miss. Lalu kapan saya akan bertemu dengan Pak Jona? Sepertinya semua karyawan baru harus bertemu dengan beliau,” katanya. Dia takut bahwa bertemu dengan Pak Jona adalah suatu keharusan bagi karyawan baru dan bisa berabe jika dia tak kunjung juga bertemu dengan sang CEO. Dia takut akan disuruh resign atau semacamnya. Padahal dia masih karyawan kontrak selama tiga bulan.

Pertamanya Marissa mengangguk, lalu tiba-tiba dia menggeleng.

“Ya, memang begitu peraturannya, Miss. Tapi untuk saat ini, Pak CEO tidak berkenan untuk ditemui. Nanti akan kami informasikan lebih jauh saa beliau siap untuk ditemui,” katanya. Keanggunannya agakhilang karena dia kembali terlihat khawatir. Mengapa Marissa khawatir dengan Pak Jona? Atau dia khawatir dengan dia dan anaknya? Karena sepertinya tadi Pak Jona dan Pak Aidan bertengkar ...

Pertengkaran itu juga sepertinya sangat panas. Setelah kata-kata buruk yang didengarnya, terdengar gebrakan meja, lalu pintu dibuka dengan keras, dan pintu yang menutup dengan debam yang keras. Sepertinya Pak Aidan meninggalkan Pak Jona dalam kondisi marah. Kenapa mereka bertengkar sampai seperti itu di kantor?

Tapi sudahlah, itu bukan urusannya. Dia lalu kembali ke ruangan divisinya, yang anehnya, terlihat ditutup tirai semua. Memang, sejak beberapa pekan lalu, jendela-jendela tak pernah dibuka lagi dan ruangan diterangi dengan lampu. Padahal ada banyak jendela-jendela besar. Tapi tidak, ruangan justru diterangi dengan lampu dan AC dinyalakan tanpa henti.

“Aku nggak suka cahaya matahari,” kata Miss Dewinta. Dia bekerja di ruangan yang sama dengan rekan-rekan di bawah divisinya, jadi mereka biasanya menuruti kemauannya. Lagipula teman-temannya juga anehnya tidak mengeluhkan hal itu.

“Pantas Miss Dewinta pucet banget. Dia jarang kena sinar matahari, apalagi kerja di dalem ruangan terus,” kata Rissa pada Ifan.

Ifan tersenyum lemah. Dia tampak kurang sehat hari ini karena dia pucat sekali. Hal itu menjadikan dia kurang aktif dari biasanya. Rissa menggeser kursinya hingga ke bilik Ifan.  

“Iya emang. Eh tahu nggak peraturan kantor diubah. Bakalan nggak ada shift pagi lagi di semua divisi. Pemasaran, media sosial, bahkan buat pemotretan model pun bisanya sore dan malam aja. Shift pagi khusus buat divisi produksi di perusahaan lain,” katanya.

Rissa terkejut.

“Iyakah?”

Biasanya jam mulai kerja kantor adalah jam 8 sampai jam 4 sore. Dia sudah biasa berangkat mulai jam 6 untuk menghindari macet sehingga dia sampai di kantor biasanya jam 8 kurang.

“Iya. Jadi mulai minggu depan kita kerja mulai jam 4 sampai jam 10 malam atau jam 12 malam sampai jam 4 pagi. Jam kerjanya lebih singkat. Katanya lebih menguntungkan kita.”

“Kamu nggak pernah baca grup kantor ya?” Ifan lalu tertawa kecil.

Rissa menepuk jidatnya.

“Iya! Aku emang jarang buka medsos kantor,” katanya.

“Oh iya kamu belum ketemu Pak Jona ya?” tanya Ifan tiba-tiba. Dia memperhatikan Rissa dengan saksama.

Rissa menggeleng.

“Belum. Aku penasaran. Katanya dia cakep banget. Udah berumur tapi kelihatan muda,” katanya.

Ifan mengangguk.

“Emang. Btw pantes kamu belum berubah,” katanya tiba-tiba.

Rissa mengernyitkan dahi. Apa kata Ifan tadi?

“Hah berubah? Apa maksudnya?” tanyanya bingung.

Ifan langsung kelihatan salah tingkah seperti tadi dia salah bicara.

“Ah, enggak. Enggak apa-apa. Aura kamu, maksudnya. Setelah ketemu Pak Jona biasanya aura orang jadi berubah. Mungkin karena kecakepannya kali ya, ha ha ha!” Ifan lalu tertawa kikuk. Dia langsung buru-buru balik ke biliknya dan menghilang dalam pekerjaannya.

***

Sore itu, selepas bekerja Miss Dewinta menraktir mereka ke sebuah restoran terkenal. Restoran itu terkenal dengan sajian steaknya. Katanya restoran itu sering menangani masakan untuk perusahaan jadi dia membawa mereka ke sana.

“Wah ada apa Miss kok traktir-traktir segala?” kata Jovanka. Dia terlihat senang dan memandang sekeliling restoran dengan antusias. Restoran saat itu tidak terlalu ramai.

“Salute! Untuk merayakan perubahan dalam divisi kita!” kata Dewinta lalu mengangkat gelasnya.

Semua orang mengikutinya. Pesanan segera berdatangan. Rissa melihat semua pesanan teman-temannya.

“Serius kalian pesan rare dan medium rare?” katanya. Dia melihat tingkat kematangan daging teman-temannya. Dia langsung mual manakala Gita mengiris steaknya dan ada darah yang mengalir. Bukankah itu steak rare? Dia paham tingkat kematangan steak dan kaget melihat penampakan steak Gita.  

“Medium rare itu enak, Ris,” kata Miss Dewinta. Dia lalu mengiris steaknya sendiri, yang sepertinya tak sabar ingin dimakannya dengan segera. 

Semua temannya segera makan dengan penuh kenikmatan. Rissa menelan ludah. Dia sendiri memesan steak welldone. Dia selalu memesan steak matang, karena dia benar-benar tidak bisa makan steak yang masih mentah. Dia heran pada orang yang bisa makan steak mentah hingga setengah mentah.

“Enak, lho Ris,” kata Jovanka segera. Dia lalu menyuap daging besar yang masih berwarna merah terang. Potongan yang masuk ke mulutnya sangat besar seakan dia tak sabar untuk makan dalam potongan-potongan kecil.

“Juicy dan mmm ... nggak terbayangkan rasanya!” katanya sambil mencecap penuh kenikmatan.

Ah biarlah, kenapa aku ngurusin hal itu? pikir Rissa. Mereka lalu minum wine yang berwarna merah darah. Sementara dia sendiri meminum jus. Dia tidak bisa minum wine.

Ifan mencecap winenya dengan penuh kenikmatan, begitu juga dengan teman-teman lainnya.

“Nanti kamu juga bakal berubah dan suka minum wine sama steak rare, Miss,” kata Ifan kemayu ketika Rissa memperhatikannya dengan serius.

“Selera orang berubah mengikuti selera pasar, hi hi hi,” lanjutnya dan meneruskan minum winenya.

Rissa mengernyit. Apakah ini maksudnya menyesuaikan dengan selera orang kantor? Tapi Ifan benar juga. Di kantornya yang lama, Rissa biasa berpakaian biasa saja dan memakan makanan yang biasa saja. Tapi kini, di kantor elite macam JW Company, selera dia menjadi lebih “mahal”. Dia menjadi lebih melek mode, begitu juga teman-temannya yang selalu memakai pakaian bergaya saat di kantor. Mereka juga kerap makan di restoran mewah seperti restoran ini.

“Ssst, Miss, hati-hati,” kata Miss Dewinta sambil memperingatkan Ifan. Ifan lalu buru-buru melihat Rissa dan berkata.

“Ups, maaf Miss saya tidak tahan, hi hi hi,” katanya segera dan terkikik.

Rissa kembali mengernyitkan dahinya. Apa maksud Miss Dewinta? Kenapa dia menyuruh Ifan untuk berhati-hati? Apakah ada yang salah dengan kalimat-kalimat Ifan tadi?

Tapi Miss Dewinta lalu memandang Rissa dan bulu kuduk Rissa langsung berdiri ...

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status