INICIAR SESIÓN"Kenapa papa diam?" cecar Kyrran dengan nadanya yang seolah menyindir.
Papa Adriell menghela napas sambil menukik alisnya singkat. "Papa tidak diam, cuma pusing dengan tingkahmu.""Daripada memikirkan masalahku, kenapa papa tidak coba mengapresiasi aku yang sudah memecahkan rekor papa sebagai basket player Alveroz High?""Apa papa tau weekend ini aku ada pertandingan basket?""Tau," jawab Papa Adriell.Kyrran bersandar santai kemudian menyilangkaSatu jam sebelumnya, Kyrran menghentikan langkahnya di sebelah sebuah supercar jingga yang terparkir di depan gerbang asrama putra. Lantas cowok itu mengangkat pintu gunting perlahan, lalu masuk ke kursi penumpang sambil mengembuskan napas panjang. Di balik kemudi, Darell—kakak sepupunya—sudah menunggu sambil tersenyum jahil. "Aku sudah mendengar kalau semua kendaraanmu disita sementara oleh Papa Adriell." Darell terkekeh kecil sambil menyalakan mesin supercar. "Pantas saja kau mau nebeng." Kyrran mendesis pelan sambil memasang seatbelt. "Gak usah banyak omong. Jalan saja." "Ya, ya. Sensitif amat," timpal Darell. Mesin mobil meraung halus sebelum keluar dari lingkungan sekolah, menuju jalanan kota yang penuh lampu malam. Darell menyetir santai dengan satu tangan di kemudi sambil mengangguk-angguk mengikuti musik yang mengalun. Sementara itu, Kyrran sibuk denga
Andrea mondar-mandir di kamarnya sejak dua puluh menit terakhir. Jemari lentik gadis itu beberapa kali masuk ke rambutnya sendiri dengan frustrasi sambil terus memutar ulang detail yang baru saja Andrea sadari. Astaga. Bagaimana bisa dia melewatkan hal sepenting itu? Kenapa dia tidak curiga dari awal dengan tanda di telapak tangan sang Ketua Kyrran’s Guardian Angels malam itu? Ponsel Andrea di atas meja terus bergetar penuh notifikasi, tapi Andrea belum sempat membalas satu pun. Begitu suara ketukan terdengar yang ia yakini berasal dari Noela, Andrea membuka pintu cepat lalu menarik sahabatnya masuk. Noela mengernyit bingung. Wajar. Gadis berambut sebahu itu daritadi sibuk belajar membuat kue dan pasti belum cek grup. "Kenapa?" tanya Noela. Andrea menoleh dengan napas yang berat. "Aku sudah tau siapa Ketua grup KGA," ujarnya pelan dengan kilatan mata serius.
Sore harinya, Andrea menapaki tangga ke lantai tiga gedung seni sambil membawa paper bag. Di dalamnya ada kardigan milik Natasya yang sudah dicuci bersih. Setibanya di studio balet, alunan musik klasik memenuhi pendengaran Andrea. Lantas ia membawa langkahnya semakin ke dalam. Tepat di tengah ruangan yang dikelilingi oleh cermin besar, ada Natasya yang sedang menari sendirian dengan gerakan balet ringan dan anggun. Rok latihan hitamnya berputar lembut mengikuti tiap langkah pointe yang nyaris tanpa suara. Andrea terpaku beberapa jenak, memperhatikannya. Ketika musik akhirnya berhenti, Natasya menoleh ke arah pintu lalu tersenyum kecil saat menyadari keberadaan Andrea. Ia berjalan mendekat sambil menyeka peluh tipis di lehernya. "Aku membawa kardiganmu," kata Andrea, menyodorkan paper bag itu. "Padahal kamu tidak perlu buru-buru mengembalikannya," timpal Natasya. Senyum tipis
"Aku jalan dengan benar, kayaknya kamu yang sengaja menabrakku," cetus Andrea, bergantian memandangi noda besar di sweaternya dan orang yang menabraknya. Tak lain adalah Lara. Dari arah depan, dua kakak kelas lain menghampiri. Jessica dan Sandy—yang pernah ikut melabrak Andrea tempo hari. "Astaga, Ra, kamu gak apa-apa?" ucap Jessica memperhatikan pakaian Lara yang bersih tanpa noda. Sementara itu Sandy maju ke depan Andrea yang menepuk-nepuk bagian sweaternya yang basah sambil menahan rasa lengket tidak nyaman. "Hei, kau minta maaf dulu dengan Lara," titah Sandy dengan sorot matanya yang meruncing. Alis Andrea mengerut. "Kenapa harus aku yang minta maaf," ucap Andrea sinis. Tatapannya turun ke tray di lantai, lalu naik tajam ke netra Lara yang terlihat berapi-api. "Lara yang sengaja menabrak aku," ucap Andrea dingin. "Aku sempat lihat dia sengaja memiringkan food tray ke pakaian aku." Dengan wajah tersinggung, Lara menerobos lalu mendorong pundak Andrea sampai gadis
Di hari Minggu biasanya kafetaria tidak terlalu ramai. Kebanyakan siswa memilih bangun siang atau memesan makanan di luar. Namun siang itu, suasana ramai. Andrea melangkah masuk sambil merapatkan sweater rajut kuning mudanya. Rok pendek yang dipadukan stocking hitam transparan, membuat kaki jenjangnya terlindung dari udara bulan November yang mulai dingin. Di sudut ruangan, Noela, Derby dan Jolina tampak melambaikan tangan dari meja dekat jendela. Andrea membalas dengan senyum lebar. Sebelum menghampiri mereka, Andrea mengambil food tray lalu berjalan ke deretan menu buffet kafetaria. Ia mengambil penjepit makanan, lalu mulai mengamati menu yang tersedia dengan mata berbinar. "Wah… menu hari beda dan kelihatannya enak banget," gumamnya. Pintu area dapur terbuka dan Kyrran keluar dari sana. Andrea membeku sepersekian detik. Cowok itu mengenakan seragam koki hitam lengkap dengan apron gelap
"Kamu tidak bisa sembunyi, Andrea," sahut Kyrran lagi dengan suara beratnya yang dingin. Kedua tangan cowok itu kemudian terangkat membuka kepala maskot yang menghalangi wajah Andrea. "Siapa juga yang sembunyi dari kamu," ketus Andrea terengah-engah. Kyrran menahan tatapan ke arahnya dan Andrea jadi semakin sebal. "Kamu juga kenapa sih suka banget tiba-tiba narik, bikin kaget tau gak!?" gerutu Andrea sambil merebut kepala maskot itu dari tangan Kyrran. Gadis itu berbalik ingin keluar dari ruangan, tapi sebelum tangannya sempat menyentuh gagang pintu, Kyrran lebih dulu menahan pintu di samping kepala Andrea. Tubuh tinggi cowok itu kemudian mendesaknya pelan ke permukaan pintu hingga Andrea otomatis berhenti bergerak. Vibrasi jantungnya mulai tak beraturan. "Kamu bawahanku, Andrea, keputusanku mau menarikmu atau tidak, gak ada urusannya dengan kemauanmu," ucap Kyrran. Nadanya begitu rendah tapi penuh tekanan. "Dan jangan pergi ke mana-mana, aku masih mau kamu di sini," sambung Ky







