LOGINSatu jam sebelumnya, Kyrran menghentikan langkahnya di sebelah sebuah supercar jingga yang terparkir di depan gerbang asrama putra.
Lantas cowok itu mengangkat pintu gunting perlahan, lalu masuk ke kursi penumpang sambil mengembuskan napas panjang. Di balik kemudi, Darell—kakak sepupunya—sudah menunggu sambil tersenyum jahil. "Aku sudah mendengar kalau semua kendaraanmu disita sementara oleh Papa Adriell." Darell terkekeh kecil sambil menyalakan"Kyrran?" gumam Andrea, suaranya bergetar tak menyangka. Tanpa membuang waktu, gadis itu memutar kunci, lalu menggeser pintu kaca balkonnya lebih lebar. Udara malam menerpa wajah Andrea ketika dia melangkah keluar. Jantung Andrea sendiri berdegup begitu kencang hingga hampir menyakitkan. Langkah gadis itu berhenti sekitar dua meter di belakang sosok tinggi yang berdiri memunggunginya itu. "Kyrran…" panggilnya, suaranya pecah. Cowok itu perlahan berbalik dan tampak wajahnya dihiasi senyum tipis khas yang Andrea sangat kenali. "Hai, Sayangku." Suara dalam yang selalu menggetarkan dadanya akhirnya terdengar lagi. Andrea membeku di tempatnya. Ia tidak bermimpi ataupun berhalusinasi karena terlalu merindukan seseorang. Itu benar-benar Kyrran. Kaca-kaca langsung memenuhi manik matanya. Tanpa berpikir panjang, Andrea berlari menghampiri lalu membenamkan dirinya ke dada bidang Kyrran. Pelukannya begitu erat, seolah takut Kyrran akan menghilang jika dia melepaskannya. "Ini beneran kam
Sudah tiga hari berlalu dan Andrea belum juga bisa bertemu dengan Kyrran. Informasi yang diterimanya selalu sama. Kyrran baik-baik saja. Kyrran masih menjalani perawatan dan membutuhkan waktu untuk memulihkan kondisinya.Awalnya Andrea berusaha mempercayai semua itu. Bagaimanapun juga, papa dan mama Kyrran sendiri yang mengatakannya.Tetapi semakin hari, rasanya banyak hal yang janggal. Kalau Kyrran memang baik-baik saja, setidaknya dia bisa menghubunginya, bukan?Mungkin melalui pesan, panggilan telepon atau sekadar video call selama beberapa menit.Andrea bahkan tidak akan memaksanya berbicara lama. Dia hanya ingin melihat wajah pacarnya. Memastikan sendiri bahwa Kyrran benar-benar baik-baik saja.Namun sampai detik ini…Tidak ada satu pun pesan, panggilan atau video ca dari Kyrran. Bahkan pesan terakhir Andrea hanya berakhir dengan tanda terkirim."Rea?"Suara di sampingnya membuat gadis itu tersadar dari lam
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Andrea menelan salivanya. Sosok yang berada di depannya adalah papa Kyrran. Pria itu mengenakan kemeja gelap dengan jas yang masih rapi, meski wajahnya tampak lelah. Tatapannya tidak marah, tetapi cukup serius untuk membuat Andrea merasa seperti anak sekolah yang baru saja ketahuan melakukan kesalahan. Mata gadis itu membulat. "O-om Adriell?" Andrea melirik ke arah lift, kemudian kembali menatap pria di hadapannya. "Saya…" Andrea menunduk. "Saya mencari Kyrran, Om." Om Adriell mengembuskan napas panjang. "Saya sudah menduga kamu akan melakukan ini, Andrea." Andrea mengangkat wajah. "Om tahu?" "Tentu saja." Pria itu memberi isyarat agar Andrea mengikutinya. Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di ruang tunggu privat yang suasananya jauh lebih tenang dibandingkan bagian rumah sakit lainnya. Andrea duduk di salah satu sofa dan Om Adriell duduk berhadapan dengannya. Andrea memainkan ujung lengan piyamanya. "Ada apa sebenarnya den
Davin bersih keras meminta Andrea istirahat dan pada akhirnya Andrea menurut. Setidaknya di depan sahabatnya itu.Namun begitu Davin berpamitan untuk kembali ke sekolah dan pintu kamar tertutup, Andrea terus menoleh ke arah jam dinding. Sepuluh menit berlalu hingga tiga puluh menit, perasaan tidak enak di dadanya semakin besar."Aku cuma mau memastikan Kyrran baik-baik saja," gumamnya.Dengan hati-hati, Andrea melepaskan plester yang menahan selang infus di punggung tangannya. Sedikit perih, tetapi bisa gadis itu tahan.Setelahnya, Andrea turun dari ranjang pelan-pelan. Tubuhnya memang masih lemas dan kepalanya masih berat. Namun rasa khawatir Andrea pada Kyrran mengalahkan semua itu.Dengan piama rumah sakit berwarna pucat dan sandal pasien, Andrea keluar dari kamar rawat VIPnya. Beberapa helai rambut hitam panjangnya sengaja ia bawa ke depan agar menutupi sebagian wajahnya.Beruntung, koridor rumah sakit tampak cukup sepi. Namu
"Mmm…"Kesadaran Andrea kembali perlahan. Hal pertama yang dilihatnya adalah langit-langit putih yang asing.Kelopak mata gadis itu berkedip beberapa kali sebelum pandangannya benar-benar fokus. Aroma antiseptik memenuhi indra penciuman Andrea.Ia di rumah sakit ya?Jantung Andrea berdegup kencang. Refleks gadis itu bangun terduduk."Kyrran—"Kepalanya langsung berdenyut hebat. "Ah…"Tangan Andrea terangkat memegangi pelipisnya. Seluruh tubuh gadis itu terasa nyeri, seolah setiap otot dipaksa bekerja melebihi batasnya.Saat hendak turun dari ranjang, pandangannya jatuh pada selang infus yang menempel di punggung tangannya.Baru saat itulah ingatannya kembali sedikit demi sedikit.Andrea ingat ingin menyusul Kyrran ke rumah sakit bersama dengan para sahabatnya. Namun pandangannya mendadak kabur lalu menghitam.Pintu kamar rawatnya tiba-tiba terbuka. Andrea menoleh cepat ke arah Davin ya
"Baby Ran..."Andrea menepuk pelan pipi cowoknya dan tidak ada reaksi sama sekali dari Kyrran."Baby Ran, dengerin aku."Suara Andrea bergetar. Ia berusaha mengendalikan napasnya yang semakin tidak beraturan, tetapi kepanikannya justru semakin menjadi-jadi.Andrea menggenggam kedua sisi wajah Kyrran dan mengangkatnya sedikit dari pundaknya."Baby Ran, buka mata kamu, please..."Tetap tidak ada jawaban dari Kyrran. Air mata mulai merebak ke pipi Andrea."Kamu jangan bikin aku takut seperti ini..."Andrea menelan ludah dengan susah payah. Tangannya berpindah ke dada Kyrran, seolah ingin memastikan cowoknya itu masih bernapas.Andrea mengembuskan napas lega, merasakan dada Kyrran bergerak pelan, meskipun rasa takutnya belum juga menghilang.Andrea menggigit bibir bawahnya. Dia tidak tahu harus melakukan apa sekarang."Baby Ran..."Beruntung suara beberapa langkah kaki tiba-tiba t
"Rea! Aku punya berita penting!" Teriakan heboh Noela membuat Andrea terkejut. Dia tidak mengenakan headphone dan pintu kamarnya memang terbuka lebar, sehingga suara melengking sahabatnya itu langsung menyerang pendengarannya. Andrea menoleh, iris kecokelatannya yang bening beralih dari layar l
Setelah kelas selesai, satu per satu siswa keluar dari kelas. Biasanya, Andrea juara satu siswa yang meninggalkan kelas paling cepat. Tapi, kali ini gadis itu menahan diri.Setelah melihat Kyrran beranjak dari kursi, gadis itu ikut bangkit dan langsung menghampiri cowok itu."Kyrran," kata Andrea.
Apa kata Noela kalau melihat Andrea cuma pakai handuk dan berduaan dengan cowok di kamarnya. Andrea buru-buru mendorong Kyrran keluar dari kamar. Cowok tinggi itu sendiri tidak ada perlawanan, membiarkan punggungnya didesak pergi. Dia menggeser pintu balkon dan menarik tirai dengan sekali gerakan
Lampu taman mulai menyala satu per satu dan para siswa Alveroz High mulai kembali ke asrama masing-masing. Di kamar mandi sebuah unit kamar 207 lantai dua di asrama putri, Andrea berendam dalam bathtub. Air di bathtub bergerak pelan saat gadis itu bersandar, bahunya tenggelam setengah dan rambut h







